Follow Ig : @panda.sweety10
Kanaya mengetahui dirinya hamil seminggu sebelum acara pernikahannya, dan ayah dari calon anaknya dia pun tidak tau hingga pernikahan dengan kekasihnya harus batal karena kehamilannya.
Apakah Kanaya akan bersama dengan ayah dari anak? Dan siapa pri itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panda Sweety, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADARA DAN KAVIN.
Kanaya kembali bertanya kepada putrinya "Kemari sayang, kak Kavin melakukan apa sehingga putri cantik bunda marah?" Kanaya melirik Kavin yang masih diam di tempatnya berdiri.
"Adara memiliki teman namanya Kira, dia hanya ingin memperkenalkanku dengan paman besarnya tapi kak malah marah dengan kira dan paman besarnya."
"Karena dia orang asing Adara." Ucap Kavin dengan tatapan dinginnya.
"Baiklah Kalian tidak boleh marahan seperti ini, bunda tidak pernah mengajarkan kalian." Ucap Kanaya.
Adara dan Kavin mengangguk bersamaan "Kalian tunggu bunda disana, nanti kita pulang bersama." Adara nengangguk sedangkan Kavin hanya diam menatap adiknya.
Kanaya kembali melayani pelanggang, di tersenyum melihat putranya yang bisa melindungi adiknya.
"Apa Adara dan Kavin bertengkar lagi?"
"Iya, karena sifat mereka bertolak belakang pemikiran mereka pun berbeda. Jen aku pulang cepet ya, hari ini aku mau ajak anak-anak jalan-jalan."
"Oke."
Hari ini Kanaya ingin membawa anak-anaknya ke mall, setiap wekeend dia akan meluangkan waktu bersama.
***
Sore ini mereka sudah berada di mall, Adara berlari dia terlihat bahagia tanpa sengaja Adara menabrak seseorang "Aduh." Wanita itu merintih.
"Maaf tante."
"Anak dari mana ini, kamu tau siapa aku."
"Adara tidak sengaja menabrak tante."
"Dasar anak nakal." Evelyn pun ingin memukul Adara tapi Alex tiba-tiba datang.
"Apa yang terjadi." Alex menghampiri mereka.
Kanaya dan Kavin pun menghampiri Adara yang masih berdiri di depan Evelyn.
"Adara." Teriak Kavin.
"Kakak."
"Apa kau ibunya anak ini?" Evelyn menatap Kanaya."
"Iya nona, maaf apa yang terjadi."
Evelyn menatap Kanaya dari atas sampai bawa, dia tertawa melihat pakaian Kanaya yang tidak terlalu terbuka.
"Pantas saja anaknya lari sana sini dan menabrak orang ternyata dari kampung."
"Kau harus mengganti pak-."
"Cukup Evelyn." Ucap Alex.
"Kak anak ini menabrakku dan membuat pakaianku kotor."
"Anak ini tidak sengaja, Kau sebagai orang dewasa tidak perlu membesar-besarkan masalah kecil ini."
"Adara minta maaf sama tante." Kanaya mendekati putrinya.
"Adara sudah meminta maaf bunda, tapi tante ini malah memarahi Adara."
"Anak manis, om minta maaf atas perilaku teman om." Adara mengangguk.
Alex menatap Kanaya pandangan mereka bertemu membuat hati Alex berdetak lebih cepat Kanaya mengakhiri tatapannya, Alex yang sedikit kecewa karena Kanaya mengalihkan pandangannya diapun pamit lalu menarik tangan Evelyn dan membawanya pergi, Kavin menatap tak suka padan dua orang tersebut yang sudah pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Bunda itu paman Kira." Ucap Adara.
"Benarkah? Kelihatannya dia orang baik ya." Kanaya melirik Kavin yang masih menahan marahnya.
"Hanya kakak yang berfikir om itu orang jahat."
Kavin menatap Adara dengan tatapan dingin, Kanaya tau putranya saat ini sedang marah sehingga diapun mengakhiri masalah itu dan mengajak mereka untuk berkeliling dan berbelanja.
Alex menghempaskan tangan Evelyn saat mereka sudah sampai di parkiran "Kamu pulang sendiri." Alex berjalan meninggalkan Evelyn.
"Apa? Aku mau pulang bersama kamu kak." Teriak Evelyn.
Alex tak menghiraukan teriakan Evelyn dan masuk kedalam mobilnya lalu pergi, Evelyn mengepalkan telapak tangannya "Akan aku buat perhitungan dengan anak nakal itu." Gumam Evelyn.
Kanaya tersenyum memperhatikan wajah putranya yang masih di tekuk "Apa kamu tidak suka kita jalan-jalan ke mall sayang?"
"Senang bunda."
"Lalu kenapa dengan wajah putra tampan bunda yang masih tidak ceria." Kavin tak menjawab, Kanaya tau saat ini putranya masih kesal dengan dua orang tadi.
"Baiklah, sekarang kamu panggil Adara dan kita pulang." Kavin pun mengangguk dan pergi menemui Adara yang masih asyik bermain disalah satu arena bermain.
Sesampainya mereka di rumah, Adara yang masih polos menatap Kanaya dengan mata sendunya...
"Bunda kenapa ayah tidak bersama kita?" Tanya Adara dengan polosnya.
DEG...
Hal yang membuat Kanaya takut akhirnya terjadi, putrinya menanyakan keberadaan ayah kandungnya sedangkan dia sendiri tidak tau. Kanaya menatap anak-anaknya dengan tatapan bingung harus menjawab apa.
"Ayah kalian." Kanaya berfikir keras apa yang akan ia katakan pada putrinya.
Kavin yang menyadari bundanya kesulitan menjawab pertanyaan adiknya langsung mengalihkan pembicaraan "Adara sekarang masuk lah kekamarmu bukannya besok kau mau pergi dengan Kira."
"Kakak mengijinkanku pergi dengan Kira?" Kavin mengangguk.
"Bunda Adara akan ke kamar."
"Kavin bunda berterima kasih."
"Aku juga ingin tau yang sebenarnya bunda, ayah kemana kenapa tidak pernah datang menemui kita."
Air mata jatuh di wajah cantik Kanaya dia duduk di sofa, dia menatap putranya yang masih berdiri di depannya.
"Jika kalian sudah dewasa dan bisa mengerti keadaan bunda akan menceritakan semuanya."
"Aku sudah dewasa bunda, aku berbeda dari Adara. Aku tidak akan menceritakannya pada siapapun termasuk Adara."
Kanaya terdiam sesaat, kenangan pahit yang tidak ingin dia ingat akhirnya teringat kembali, Kanaya mulai menceritakan kisah hidupnya dari awal dia diperkosa, batal menikah hingga melahirkan anak kembar.
"Bunda jangan menangis, aku pastikan Adara tidak akan menanyakan pertanyaan itu lagi yang membuat bunda bersedih." Kanaya tersenyum mendengar ucapan putranya, pemikiran Kavin sudah seperti orang dewasa tapi tetap saja dia masih anak-anak.
***
Pagi ini Adara akan kerumah Kira, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah Kanaya, Adara berlari keluar dan menghampiri sahabatnya.
"Kira aku akan memperkenalkanmu dengan bundaku."
"Siapa Adara." Kanaya tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
"Bunda dia adalah Kira Sahabatku."
"Anak yang manis." Kanaya tersenyum.
"Tante perkenalkan aku Kira Putri Handoko." Kira pun memperkenalkan diri.
Kanaya mengajak Kira sarapan bersama, mereka berempat pun makan Adara dan Kira mengingatkannya dengan dirinya dan Jenni sedangkan Kavin hanya diam menyantap makanannya.
Adara dan Kira pamit kepada Kanaya, Kanaya pun menyetujuinya. Adara dan Kira pun pergi bersama "Hari ini kita kerumah utama dulu, aku akan memperkenalkanmu juga dengan oma dan opaku." Ucap Kira.
"Aku juga memiliki nenek dan kakek." Ucap Adara.
"Lain kali kau juga harus memperkenalkan nenek dan kakekmu kepadaku."
"Iya, kalau nenek dan kakekku ke kota A aku akan memperkenalkanmu pada mereka."
Mereka asyik bercerita di dalam mobil sampai-sampai mereka tidak menyadari kalau sudah sampai di depan rumah utama Keluarga Handoko.
"Nona muda kita sudah sampai." Ucap sopir.
"Ah! Adara ayo, kita sudah sampai."
Adara pun keluar dari mobil dan kagum melihat rumah yang begitu besar, dia melihat sekeliling ada taman yang luas dan indah.
"Adara." Panggil Kira.
Adara pun menyusul Kira yang sudah berdiri di depan pintu rumah utama.
"Selamat datang nona muda." Ucap pelayan.
"Opa dan oma dimana." Tanya Kira kepada kepala pelayan.
"Tuan besar dan nyonya ada di taman belakang."
Kira menarik tangan Adara menuju taman belakang "Opa, oma." Teriak Kira.
Tuan Handoko dan nyonya Handoko berbalik dan tersenyum melihat cucunya datang, Kira berlari menghampiri mereka.
"Opa, oma aku mau memperkenalkan sahabatku, dia Adara sahabat Kira."
Nyonya Handoko menatap Adara "Sayang kemari." Nyonya Handoko tersenyum. Adara menghampiri mereka dan mulai berbaur bersama keluarga Handoko.
Bersambung.....
Maaf Telat Update Karena Authornya Akhir-Akhir Ini Lagi Ada Pekerjaan...
Semoga Suka Dengan Cerita Author yang Masih Berantakan..
Jangan Lupa Likenya dan Votenya...
dah bertahun2 ....
dad Al..kenapa lom ktmu jg..