Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan yang Berbalik Arah
Matahari pagi menyinari atap-atap megah Sekte Langit Abadi, namun di koridor menuju Aula Pengawas Sekte Luar, atmosfer terasa begitu dingin dan menekan. Dua sosok pemuda berjalan dengan langkah konstan membelah kerumunan. Ling Yun berjalan di depan dengan tangan terlipat santai di balik punggung, sementara Lu Han mengikutinya dari belakang, memanggul Kapak Pembelah Bumi dengan tatapan mata yang kini jauh lebih tajam dan penuh percaya diri.
Kehadiran mereka berdua seketika memicu gelombang kehebohan yang masif. Para murid sekte luar yang sedang melintas mendadak menghentikan aktivitas mereka. Bisik-bisik riuh mulai menjalar bagai api yang tertiup angin topan.
"B-Bukankah itu Ling Yun dan Lu Han? Bagaimana mungkin mereka kembali?!"
"Dua hari lalu, aku sendiri yang melihat mereka mengambil gulungan Misi Wajib ke Lembah Tulang Putih dari Aula Pengawas! Itu adalah misi maut yang sengaja dirancang untuk melenyapkan mereka!"
"Lihat pakaian mereka... bersih tanpa noda! Tidak ada luka, tidak ada tanda-tanda kelelahan ekstrem. Apakah mereka benar-benar pergi ke lembah kematian itu, atau mereka hanya bersembunyi di kaki gunung?"
Rasa penasaran yang membuncah membuat puluhan, lalu dengan cepat membengkak menjadi ratusan murid sekte luar, mulai mengekor di belakang langkah Ling Yun. Mereka semua ingin menyaksikan apa yang akan terjadi ketika "dua orang mati" ini melangkah kembali ke sarang harimau yang mengirim mereka ke akhirat. Ling Yun mengabaikan tatapan-tatapan tersebut. Baginya, semakin banyak mata yang menyaksikan hari ini, maka pertunjukan serangan baliknya akan menjadi semakin sempurna.
BRAKK!
Pintu gerbang kayu jati Aula Pengawas yang kokoh didorong terbuka lebar oleh Lu Han. Langkah kaki Ling Yun bergema tegas saat dia memasuki aula utama yang luas.
Di ujung aula, di atas kursi kebesarannya, Tetua Mo sedang duduk dengan wajah selayu mayat. Di depannya masih berserakan serbuk jimat giok kehidupan dari pasukan pembunuh elite yang ia sewa, yang secara misterius hancur total tadi malam. Jantung Tetua Mo masih berdegup kencang oleh kecemasan yang belum terjawab, namun ketika dia mendongak dan melihat sosok Ling Yun serta Lu Han berdiri dengan utuh di tengah ruangan, seluruh darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir.
"K-Kalian..." Tetua Mo tergagap, matanya membelalak lebar, hampir melompat keluar dari rongganya. Sesaat, dia mengira dirinya sedang melihat dua hantu yang kembali untuk menuntut balas.
Namun, sebagai seorang rubah tua yang telah puluhan tahun menguasai birokrasi sekte luar, Tetua Mo dengan cepat menekan kepanikan di hatinya. Dia memeras otaknya. ‘Mustahil! Pasukan yang kukirim dipimpin oleh tiga master Pendirian Fondasi Tahap Akhir! Mengingat jimat giok mereka hancur, mereka pasti mati karena monster tingkat tinggi di inti lembah, bukan karena dua semut ini! Dua bajingan kecil ini pasti ketakutan dan melarikan diri sebelum sampai ke perbatasan!’
Menyimpulkan hal tersebut, wajah Tetua Mo yang tadinya pucat mendadak berubah menjadi merah padam oleh kemarahan dan arogansi yang dipaksakan. Dia menggebrak meja cendana di depannya hingga hancur berkeping-keping, lalu berdiri dan menunjuk Ling Yun dengan tangan bergetar.
"Lancang! Beraninya kalian kembali ke sini setelah melakukan pelanggaran berat terhadap hukum sekte?!" bentak Tetua Mo, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru aula, sengaja dikeraskan agar para murid yang berkerumun di luar pintu mendengar penegasannya.
"Ling Yun! Lu Han! Misi Wajib adalah perintah mutlak sekte yang tidak bisa diganggu gugat! Kalian dikirim untuk menelusuri perbatasan Lembah Tulang Putih, namun kalian justru melarikan diri dari tugas, bersembunyi seperti pengecut, dan sekarang kembali dengan berani ke Aula Pengawas untuk memalsukan laporan?! Berdasarkan hukum Sekte Langit Abadi, tindakan melarikan diri dari misi wajib adalah pengkhianatan, dan hukumannya adalah eksekusi di tempat!"
Mendengar tuduhan kejam dan sepihak tersebut, Lu Han menggeram rendah, tangannya refleks mencengkeram gagang kapaknya. Namun, Ling Yun menepuk-nepuk pelan pundak Lu Han, memberi isyarat pelan agar kakak angkatnya tetap tenang.
Ling Yun menatap Tetua Mo yang sedang berdiri tegak dengan jubah kebesarannya. Di sepasang mata pemuda itu, tidak ada rasa takut, tidak ada kemarahan. Yang ada hanyalah pandangan malas seolah-olah dia sedang melihat seorang badut yang sedang melakukan trik murahan di atas panggung.
"Tetua Mo," suara Ling Yun terdengar sangat tenang, namun keheningan yang dibawanya sanggup menembus gaung bentakan Tetua Mo tadi. "Apakah kau begitu yakin kami melarikan diri? Ataukah... kau sebenarnya merasa kecewa karena bukan mayat kami yang dibawa kembali ke aula ini?"
"Omong kosong! Jangan mencoba memutarbalikkan fakta, Bocah sia*an!" balas Tetua Mo, wajahnya kian bengis. "Tanpa bukti bahwa kalian menyelesaikan misi, kata-katamu tidak lebih dari angin lalu! Deputi Pengawas, tangkap kedua pengkhianat ini sekarang juga!"
Beberapa murid penegak hukum di dalam aula mulai menggeser posisi mereka dengan ragu, terintimidasi oleh ketenangan Ling Yun yang tidak biasa.
"Bukti?" Ling Yun terkekeh rendah, sebuah suara yang entah mengapa membuat bulu kuduk Tetua Mo meremang. "Jika kau menginginkan bukti, aku tentu saja membawakannya untukmu. Bahkan bukan hanya itu saja, aku juga membawa sebuah bukti yang sangat... istimewa."
Lu Han melangkah maju dan menyerahkan sebuah gulungan misi yang telah distempel kepada deputi pengawas. Sementara itu, Ling Yun mengeluarkan sebuah bola kristal kecil berwarna perak redup yang dipenuhi ukiran rune formasi kuno yang rumit—Kristal Perekam Suara Jiwa—ia lalu melemparkannya ke udara tengah aula. Jari telunjuknya menjentikkan seberkas kecil Qi murni, tepat mengenai inti rune formasi pada kristal.
WUSSH!
Kristal perak itu melayang di udara, mendadak memancarkan cahaya spiritual benderang yang membentuk tirai riak energi di tengah aula. Detik berikutnya, sebuah rekaman suara yang teramat jernih, lengkap dengan fluktuasi aura jiwa yang tidak bisa dipalsukan, meledak dan menggema di setiap sudut Aula Pengawas, bahkan terdengar jelas oleh ratusan murid yang berkumpul di luar gerbang.
"B-Bicaralah..." suara parau dan gemetar penuh ketakutan terdengar meratap histeris. "Tetua Mo... Tetua Mo dari Aula Pengawas Sekte Langit Abadi... Dialah yang menyewa faksi kami dan memberikan daftar Misi Wajib itu untuk memastikan kalian berdua tidak akan pernah kembali hidup-hidup ke sekte..."
"K-Kami sudah bicara... kumohon... akhiri ini... AAAKKKHHH!"
Rekaman suara itu berhenti seiring dengan meredupnya cahaya kristal, menyisakan keheningan yang teramat mencekam di dalam aula. Atmosfer di seluruh Aula Pengawas seketika membeku. Ratusan murid di luar gerbang terbelalak dengan napas tertahan. Tuduhan itu begitu gamblang, dan membawa nama Tetua Mo secara langsung dengan bukti fluktuasi jiwa yang diakui secara sah oleh hukum tertinggi sekte. Seorang kepala Aula Pengawas Sekte Luar, menyalahgunakan wewenang misinya untuk menyewa pembunuh bayaran demi melenyapkan murid baru sektenya sendiri!
"T-Tidak... Itu palsu! Itu sihir ilusi! Kau menjebakku, Ling Yun!!"
Tetua Mo berteriak histeris, seluruh wajahnya kini dipenuhi oleh keputusasaan yang teramat sangat. Rasa takut yang teramat sangat mengubah kepanikan Tetua Mo menjadi kegilaan. Alih-alih menyerang Ling Yun untuk merebut kristal tersebut, Tetua Mo menunjuk Ling Yun dengan tatapan mata yang merah dan benci, mencoba menggunakan kartu as terakhirnya untuk menakuti Ling Yun dan membungkam para murid yang menyaksikan.
"Beraninya kau menjebak ku, Bocah kepa*at! Kau pikir dengan benda kecil itu kau bisa menjatuhkan ku, hah?!" raung Tetua Mo, suaranya melengking tinggi, dipenuhi ancaman keputusasaan yang sarat akan tirani. "Aku adalah bagian dari jaringan Keluarga Zhao! Menyentuh seujung rambutku berarti kau secara terang-terangan menyatakan perang terhadap seluruh Keluarga Zhao! Kau dan keluarga angkatmu tidak akan pernah memiliki tempat tinggal di bawah kolong langit ini!"
Para murid di luar aula menelan ludah mendengar nama Keluarga Zhao. Itu adalah salah satu klan kuno terbesar yang memang mempunyai hubungan dengan sekte. Ancaman Tetua Mo tidak main-main; menyinggung Keluarga Zhao sering kali berujung pada konsekuensi mematikan. Tensi di dalam aula pun mencapai titik didihnya.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara ku.