NovelToon NovelToon
Penjahat Kelas Tertinggi

Penjahat Kelas Tertinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:815
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9.Riak Hukum di Atas Punggungan Salju

Di bawah bentangan langit Pegunungan Leluhur Suci yang pucat, Punggungan Angin-Salju membentang bagai naga putih yang tertidur. Di salah satu tebingnya yang curam, embusan angin sedingin es meliuk tajam, menerbangkan jubah dua manusia yang tengah berdiri saling berhadapan. Atmosfer di sekitar mereka begitu tipis dan sunyi, hanya diisi oleh deru napas yang teratur dan riak Kekuatan Jiwa yang bergolak rendah.

Tanpa peringatan, Xiao Xuan mengambil inisiatif. Langkah kakinya menghentak tanah berbatu yang membeku, melesat maju membelah badai salju dengan kecepatan yang mengagumkan.

Di seberangnya, Ye Mo berdiri dengan ketenangan seorang maestro. Ia telah menekan fluktuasi kultivasinya secara sukarela hingga berada di tingkat Perak Bintang 4—setara dengan Xiao Xuan—untuk melakukan latih tanding yang adil. Menghadapi terjangan badai dari sang junior, Ye Mo tidak terburu-buru membalas; ia bergerak anggun, mengalir mundur dan membiarkan setiap pukulan Xiao Xuan membentur ruang kosong. Pengalaman bertarungnya yang matang mendikte bahwa ia hanya perlu menguras stamina sang pemuda sebelum menjatuhkannya dalam satu serangan telak.

Namun, perhitungan sang legenda kali ini meleset dari perkiraan.

Xiao Xuan bukan lagi sekadar pemuda berbakat biasa. Dengan dukungan kapasitas pemulihan fisiknya yang luar biasa, pria dewasa ini terus merangsek maju tanpa menunjukkan tanda-tanda kelelahan, bergerak taktis bagai badai yang konstan. Usia dan stamina fisik murni memang tidak pernah berbohong; di bawah tekanan konfrontasi jarak dekat yang tanpa henti, ritme pertahanan Ye Mo perlahan mulai terkikis.

Melihat celah kecil yang tercipta saat jubah putih Ye Mo sedikit tersangkut embusan angin gunung, mata tajam Xiao Xuan berkilat. Dengan satu sapuan Tombak Naga Suci yang presisi dan terkendali, ia berhasil mengunci pergerakan sang sesepuh, memenangkan pertarungan dalam satu gerakan tipis yang bersih.

"Kakek Ye Mo, Senior telah banyak mengalah padaku," ucap Xiao Xuan ramah. Sembari menyunggingkan senyum tipis yang tulus, ia segera menurunkan senjatanya dan mengulurkan tangan yang kokoh untuk membantu sang legenda berdiri.

Ye Mo menerima uluran tangan tersebut, menepuk-nepuk butiran salju yang menempel di jubahnya sambil menggelengkan kepala dalam kekaguman yang mendalam.

"Xiao muda, kau benar-benar seekor monster," gurau Ye Mo, suaranya yang bariton terdengar sarat akan rasa bangga yang tak mampu disembunyikan. "Orang tua ini terkadang benar-benar ingin membelah isi kepalamu untuk melihat bagaimana struktur berpikirmu terbentuk. Rasanya aku sudah tidak punya apa-apa lagi yang bisa kuajarkan padamu. Ah! Sungguh, jika muridnya secerdas ini, gurunya bisa mati kelaparan karena kehilangan panggung. Dalam batas alam kultivasi yang sama, kemampuan adaptasimu jauh melampaui masa mudaku dulu."

"Senior terlalu memuji, Junior tidak berani menerima predikat seangkuh itu," sahut Xiao Xuan segera. Ia melangkah mendekat ke balik punggung Ye Mo dengan gestur yang santun, jemarinya yang kuat mulai memijat bahu sang tetua dengan tekanan yang pas untuk meredakan ketegangan otot setelah bertarung. "Tanpa kemurahan hati Senior yang membimbingku memahami taktik medan laga selama beberapa hari ini, bagaimana mungkin Junior bisa mencapai titik ini? Senior masih berada di puncak kejayaan, dan Junior masih ingin terus menikmati keteduhan di bawah naungan pohon besar seperti Anda."

"Ha! Kau ini, mulutmu selalu saja tahu bagaimana cara menenangkan hati orang tua," Ye Mo terkekeh pelan, menikmati pijatan santai di pundaknya. "Tenang saja, aku tidak sepicik itu hingga harus mendendam pada kekalahan dari muridku sendiri."

Selama beberapa hari perjalanan melintasi jalur pegunungan yang berbahaya, Xiao Xuan memang terus melekat pada Ye Mo. Pria dewasa itu menyerap setiap rekam jejak pengalaman bertarung sang legenda, mempelajari esensi teknik prasasti kuno, hingga mendalami sastra sejarah dunia ini dengan ketekunan yang luar biasa.

Di sisi lain, setiap kali ada waktu luang di tenda peristirahatan, Xiao Xuan diam-dim membuka lembaran Kitab Roh Iblis Temporal yang berada dalam otoritas jiwanya. Dengan sokongan kemampuan pemahaman super dari fisik spiritualnya yang telah ditingkatkan, ia membedah setiap untaian pengetahuan kuno itu dengan intuisi yang tajam. Itulah alasan mengapa dalam waktu sesingkat ini, Ye Mo sampai merasa telah kehabisan materi untuk diajarkan kepada sang pemuda.

Hubungan di antara keduanya kini telah bergeser dari sekadar penolong dan korban, menjadi ikatan emosional yang hangat seumpama keluarga sejati di tengah dinginnya belantara purba.

"Kakek Ye Mo, jika perhitungan jarakku tidak keliru, setelah kita melewati Punggungan Angin-Salju ini, gerbang Kota Glory seharusnya sudah berada di depan mata. Mengapa kita justru menghentikan langkah di tebing tandus ini?" tanya Xiao Xuan, menyuarakan gurat kebingungan yang matang dari balik wajah tegasnya.

Ye Mo berbalik, memasang raut wajah gusar yang dibuat-buat. "Memangnya orang tua ini punya waktu luang untuk mencelakaimu?"

Ia mengayunkan lengannya, menunjuk ke arah jalan setapak yang menanjak terjal menuju puncak tertinggi punggungan gunung. "Ikuti aku ke puncak. Orang tua ini ingin memberimu sebuah peluang besar sebelum kita memasuki hiruk-pikuk kota. Mengenai seberapa banyak esensi yang bisa kau serap, semuanya kembali pada ketajaman intuitismu sendiri."

"Tentu, Senior. Aku akan mengikuti langkahmu," jawab Xiao Xuan taktis.

Keduanya mendaki dalam keheningan yang penuh konsentrasi, hingga akhirnya menapakkan kaki di dataran tertinggi Punggungan Angin-Salju, di mana angin badai berputar membentuk pusaran raksasa yang statis di atas langit.

"Kemarilah, Xiao Muda. Berdirilah di sisiku," tutur Ye Mo, suaranya mendadak berubah menjadi teramat khusyuk dan berat. "Tenangkan gejolak jiwamu, tutup matamu, dan rasakan aliran atmosfer di sekitarmu. Tempat ini adalah titik temu di mana kekuatan Hukum Angin dan Salju bermanifestasi dengan sangat pekat di alam bebas."

Ye Mo menatap lurus ke depan, janggut putihnya berkibar ditiup angin. "Berdasarkan pemahaman yang kuraih selama ratusan tahun, setelah seorang kultivator berhasil menembus belenggu menuju peringkat Legenda, manusia tidak lagi sekadar mengandalkan Kekuatan Jiwa murni, melainkan mulai meminjam kekuatan Hukum Alam untuk bertarung. Membiarkan indramu menyentuh riak ini lebih awal akan membuka jalan yang jauh lebih lebar bagimu di masa depan. Ingatlah, Xiao Muda, peringkat Legenda bukanlah akhir dari segalanya. Kau tidak boleh berpuas diri; tataplah langit yang lebih tinggi."

Xiao Xuan mengangguk dalam diam, meresapi setiap petuah dewasa dari sang sesepuh. Di dunia yang kejam ini, kultivasi memang seumpama berlayar melawan arus yang deras; sekali kau lengah dan berhenti mendayung, kau akan hanyut dan hancur. Kerendahan hati untuk terus belajar adalah perisai terbaik.

Namun, urusan kekuatan Hukum memiliki sudut pandang yang berbeda di mata Xiao Xuan. Memiliki pemahaman mendalam tentang struktur dunia ini, ia tahu betul bahwa esensi mendasar dari kekuatan Hukum sebenarnya terbentuk dari jalinan susunan prasasti kuno yang rumit—sebuah rahasia fundamental yang belum disadari oleh kebanyakan kultivator zaman ini.

Dengan tingkat kemahiran pembuatan prasasti milik Xiao Xuan saat ini yang telah mencapai taraf paripurna, mengurai kembali jalinan Hukum Alam bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan dengan logika dan intuisinya.

Ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya merambat keluar menembus dinginnya udara gunung. Pikirannya mulai bekerja bagai algoritma yang dingin namun manusiawi, membedah setiap partikel energi yang bergesekan di sekitarnya.

Hanya butuh beberapa tarikan napas pendek bagi Xiao Xuan untuk menemukan simpul pertamanya. Di atas telapak tangan kanannya yang terbalik, seberkas percikan api kecil sewarna merah jingga mendadak menyala di tengah badai es, perlahan memadat membentuk pusaran padat yang memancarkan hawa panas yang kontras—**Hukum Api**.

Tak berhenti di situ, dengan lambaian tangan kirinya yang tenang, partikel salju di sekelilingnya berputar patuh, mengkristal menjadi untaian kelopak bunga es yang melayang anggun di atas jemarinya—**Hukum Angin dan Salju**.

Seandainya Xiao Xuan tidak memikirkan perasaan dan kesehatan mental Kakek Ye Mo yang berada di sisinya, ia bahkan bisa saja memanifestasikan beberapa jenis elemen Hukum lainnya dalam satu kedipan mata tanpa kesulitan berarti.

Xiao Xuan membuka matanya, menatap kedua gumpalan energi Hukum di tangannya dengan selero humor tipisnya yang mencuat ke permukaan. Ia menoleh ke arah Ye Mo dengan tatapan agak angkuh yang sengaja dibuat-buat untuk mencairkan suasana yang terlalu kaku.

"Kakek Ye Mo, sepertinya metode ini tidak terlalu rumit. Malah... rasanya terlalu sederhana," ucap Xiao Xuan santai, sengaja memamerkan manifestasi Hukum Api serta Hukum Angin-Salju yang menari-nari mesra di antara kedua telapak tangannya.

Ye Mo yang tengah bersiap memberikan wejangan panjang mendadak membeku di tempatnya. Sepasang matanya membelalak lebar, menatap tak percaya pada jalinan Hukum murni yang tercipta dari seorang remaja peringkat Perak. Mulutnya sedikit terbuka, kehilangan seluruh kosakata yang telah ia siapkan dengan matang.

"N-Nak... sebagai anak muda, kau tidak boleh terlalu sombong di depan kekuatan alam..." ucap Ye Mo terbata-bata, mencoba menyelamatkan sisa-sisa wibawanya sebagai ahli peringkat Legenda.

"Jika seorang pemuda tidak memiliki sedikit pun rasa bangga dan keangkuhan atas kekuatannya sendiri, apakah ia masih layak disebut sebagai darah muda, Senior?" balas Xiao Xuan, kali ini melepaskan seluruh formalitas kaku dan menatap sang tetua dengan binar mata penuh tantangan jantan.

Ye Mo ingin membuka suara kembali untuk membantah, namun melihat betapa stabilnya jalinan Hukum yang berputar di sekeliling jemari Xiao Xuan—sesuatu yang bahkan membutuhkan waktu puluhan tahun bagi kultivator biasa untuk sekadar merasakannya—sang legenda hanya bisa mengembus napas panjang di dalam batinnya.

*Ah, ternyata pada akhirnya, badut yang sebenarnya di sini adalah diriku sendiri,* ratap Ye Mo dalam hati, merasakan ironi yang teramat dalam namun bercampur dengan rasa takjub yang tak terbendung.

Demi menjaga raut wajah tuanya agar tidak runtuh seutuhnya di depan sang junior, Ye Mo buru-buru membalikkan badan dengan ekspresi kaku yang dipaksakan untuk tetap terlihat tegas.

"Sudahlah! Berhenti pamer di depan orang tua ini, bocah nakal," sergah Ye Mo, nadanya bersungut-sungut namun menyimpan senyuman tersembunyi. "Kemasi barang-barangmu, saatnya kita kembali ke Kota Glory!"

Dengan lambaian lengan bajunya yang lebar, Ye Mo memanggil Roh Iblis Burung Bersayap Merah miliknya. Burung raksasa berselimut api spiritual itu mengepakkan sayapnya agung, membelah badai salju. Ye Mo melompat ke atas punggungnya, diikuti oleh Xiao Xuan yang bergerak dengan seringai tipis penuh kemenangan. Mereka melesat menembus awan, terbang cepat menuju benteng terakhir umat manusia yang telah menanti di balik cakrawala.

1
HiaTus
amazing
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!