Dengan langkah lemah, Farin mencoba pulang dan meninggalkan semua kenangan tentang lelaki yang pernah menyelamatkannya. Namun baru beberapa langkah menjauh dari pematang sawah, tiba-tiba sebuah suara lirih memanggil namanya dari balik hutan.
“Farin…”
Tubuhnya seketika membeku.
Suara itu… suara yang dulu menemaninya di saat gelap, saat luka dan ketakutan hampir merenggut hidupnya. Suara Althaf.
Jantung Farin berdegup tak karuan. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh cepat ke arah hutan lebat di seberang sawah, berharap menemukan sosok yang selama ini terus ia cari dalam doa-doanya.
Tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya angin, dedaunan yang bergoyang pelan, dan keheningan yang terasa begitu menyakitkan.
Air mata Farin jatuh tanpa bisa ditahan. Nama itu kembali menggema dalam hatinya, memenuhi dadanya dengan rindu yang selama ini ia kubur sendirian.
Di tengah sesak yang menghancurkan dadanya, tubuh Farin perlahan melemah. Pandangannya kabur, lututnya tak lagi mampu menopang luka dan rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosy_Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Dunia
Proses operasi berlangsung di balik pintu ruang bedah yang dingin dan tertutup rapat, lampu merah di atas pintu masih menyala, tanda bahwa Farin masih berada di dalam sana.
Di ruangan steril itu, udara terasa begitu sunyi hingga suara denting alat bedah terdengar jelas memecah keheningan. Tim dokter spesialis mata bekerja dengan penuh fokus. Tatapan mereka tak lepas sedikit pun dari mata Farin yang sedang ditangani.
Tubuh Farin terbaring lemah di bawah cahaya lampu operasi yang terang menusuk. Separuh wajahnya tertutup kain steril hijau, hanya bagian matanya yang terbuka untuk prosedur.
Efek anestesi membuatnya tertidur, namun jemarinya sesekali bergerak kecil, seolah tubuhnya masih menyimpan ketakutan yang tak sempat terucap.
“Kornea mulai dibersihkan.” Suara dokter terdengar pelan namun tegas.
Alat-alat kecil bergerak hati-hati di atas mata Farin yang mengalami kekeruhan akibat terlalu lama terpapar air laut kotor, satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal. Dan itu membuat suasana ruang operasi terasa semakin menegangkan.
Dokter bekerja sangat perlahan membersihkan jaringan yang rusak. Sesekali monitor di samping ranjang berbunyi pelan mengikuti detak jantung Farin yang stabil.
Namun waktu terasa berjalan sangat lambat, satu menit terasa seperti satu jam.
Di luar ruang operasi, suasana tak kalah menyesakkan, bu Halimah duduk dengan kedua tangan gemetar sambil menggenggam tasbih erat di pangkuannya. Bibirnya terus melafalkan doa tanpa henti, meski air mata berkali-kali jatuh tanpa suara. “Ya Allah… jangan ambil cahaya dari anakku…” bisiknya lirih.
Tak jauh darinya, Kakek Harun berdiri menunduk dengan tubuh renta yang tampak begitu rapuh kala itu, tasbih di tangannya terus bergerak, bibirnya bergetar dalam dzikir yang tak putus-putus.
Sementara ayah Farin mondar-mandir di lorong rumah sakit dengan wajah tegang. Sesekali beliau menatap pintu operasi lama sekali, seolah berharap pintu itu segera terbuka membawa kabar baik.
Namun lampu merah itu masih menyala, dan waktu terus berjalan lambat.
Sangat lambat, dua jam terasa seperti seumur hidup bagi keluarga Farin.
Hingga akhirnya, lampu merah di atas ruang operasi padam.
Deg.
Semua kepala langsung menoleh bersamaan, jantung mereka seolah berhenti berdetak.
Namun pintu itu belum juga terbuka, hanya sunyi, sunyi yang justru terasa lebih menegangkan.
Ibu Halimah tanpa sadar menggenggam ujung bajunya erat-erat sampai jemarinya memutih. Napasnya memburu.
Kakek Harun menunduk semakin dalam sambil terus berdoa dengan suara bergetar.
Lalu… Klik.
Gagang pintu bergerak pelan, pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter keluar dengan masker yang perlahan dilepas dari wajahnya.
Semua langsung berdiri bersamaan, tak ada yang berani bicara, tak ada yang berani bernapas lega lebih dulu.
Sampai akhirnya dokter itu tersenyum kecil. “Alhamdulillah… operasinya berjalan lancar.”
Kalimat itu membuat tubuh Ibu Halimah langsung lemas, tangis pecah seketika, beliau menutup wajahnya sambil terus mengucap syukur.
Ayah Farin mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya.
Sementara Kakek Harun memejamkan mata lama sekali, bibirnya bergetar mengucap, “Alhamdulillah… Alhamdulillah…”
Namun perjuangan Farin belum selesai, dokter menjelaskan bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi masa yang sangat penting untuk memastikan tidak ada infeksi atau komplikasi setelah operasi.
Dan kalimat itu kembali membuat kecemasan menyelinap pelan ke hati mereka.
Tak lama kemudian, ranjang dorong mulai keluar dari ruang operasi, Farin terlihat tertidur lemah di atasnya, wajahnya pucat, jedua matanya kini tertutup perban putih tebal.
Selang infus masih terpasang di tangannya, sementara suara roda ranjang bergema pelan di lorong rumah sakit yang sunyi.
“Farin…” suara ibunya pecah lirih, beliau langsung menghampiri sambil menggenggam tangan putrinya erat.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Alhamdulillah, Sayang… kamu kuat…”
Kakek Harun mendekat perlahan lalu mencium kening cucunya lama sekali. “Kamu hebat, cucu Kakek…” suara renta itu bergetar menahan tangis.
Farin kemudian dibawa menuju ruang pemulihan, ruangan itu terasa tenang, hanya suara monitor detak jantung yang berbunyi pelan menemani keheningan, efek bius masih membuat Farin tertidur panjang, napasnya teratur, namun wajahnya terlihat sangat lelah.
Bu Halimah duduk setia di sisi ranjang tanpa berpindah sedikit pun. Jemarinya terus membelai rambut Farin perlahan.
“Bunda di sini…” bisiknya lirih. “Bangun kalau sudah siap ya, Nak…”
Waktu kembali berjalan lambat, sangat lambat, sampai akhirnya, beberapa jam kemudian, jemari Farin bergerak kecil, kelopak matanya yang tertutup perban sedikit bergetar.
Ibunya langsung bangkit mendekat dengan napas tercekat. “Farin…?” panggilnya pelan.
Bibir Farin bergerak lemah. “Bu…”
Suara itu lirih sekali, nyaris seperti bisikan, namun cukup membuat air mata ibunya jatuh lagi.“Iya, Sayang… Bunda di sini.”
Farin mencoba menggerakkan kepalanya pelan. Napasnya sedikit berat.
Gelap, ia masih melihat gelap.
Kedua matanya masih tertutup perban tebal.
“Aku… belum bisa lihat…” bisiknya pelan dengan suara gemetar.
Ibunya langsung menggenggam tangannya erat. “Belum boleh dibuka, Nak… dokter bilang harus tunggu beberapa hari lagi.”
Farin terdiam, ada rasa takut yang kembali muncul di dadanya, bagaimana kalau setelah perban itu dibuka… semuanya tetap gelap pertanyaan itu menghantuinya diam-diam setiap malam.
Hari-hari setelah operasi berjalan penuh kehati-hatian, perban putih masih menutupi mata Farin. Dunia di sekelilingnya hanya bisa ia kenali lewat suara dan sentuhan.
Ia hanya menghafal langkah kaki ibunya, menghafal suara tongkat Kakek Harun saat mendekat, hafal suara pintu kamar yang dibuka pelan setiap pagi oleh perawat, dan di tengah gelap itu, Farin belajar bersabar.
Namun malam-malam terasa jauh lebih berat, kadang ia terbangun mendadak dengan napas memburu.
Takut, cemas.
Bagaimana kalau ia tak bisa melihat lagi?
Bagaimana kalau operasi itu gagal?
Tapi setiap kali ketakutan itu datang, ibunya selalu menggenggam tangannya erat sambil membacakan ayat-ayat Al-Qur’an di samping ranjangnya. “Allah nggak akan ninggalin kamu sejauh ini, Farin…”
Kalimat itu menjadi satu-satunya hal yang membuatnya bertahan.
Hari ketiga pasca operasi akhirnya tiba, suasana ruang rawat terasa jauh lebih menegangkan dari biasanya.
Aisha dan Zafran sudah datang sejak pagi, berdiri di sudut ruangan dengan wajah tegang namun penuh harap.
Kakek Harun duduk sambil menggenggam tasbih erat-erat, sementara Ibu Halimah terus memegang tangan Farin yang terasa dingin karena gugup.
Hari ini…
Perban itu akan dibuka, dan tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar siap menghadapi kemungkinan terburuk.
Perawat masuk perlahan membawa alat-alat kecil di atas nampan stainless. “Bismillah ya, Kak Farin…” ucapnya lembut.
Jantung Farin langsung berdetak cepat, tangannya refleks menggenggam tangan ibunya erat.
Lapisan perban mulai dibuka satu per satu, pelan, sangat pelan, setiap gulungan kain yang terlepas membuat napas semua orang ikut tertahan.
Hingga akhirnya tinggal satu lapisan terakhir.
“Siap ya…” bisik perawat.
Farin menelan ludah gugup, lalu lapisan terakhir itu dilepas, kelopak mata Farin bergerak perlahan.
Cahaya langsung menerpa matanya yang lama terkurung dalam gelap.
Perih.
Silau.
Ia langsung mengerjap berkali-kali sambil menahan napas.
Samar, semuanya masih samar, bayangan-bayangan kabur bergerak di depannya.
Namun… Ada cahaya, ada bentuk... Ada dunia.
Air mata Farin langsung jatuh.
“Aku…” suaranya bergetar. “Aku bisa lihat…”
Ibunya langsung menangis sambil memeluknya erat, kakek Harun menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat menahan haru.
Aisha ikut menangis sambil tertawa kecil lega, sementara Zafran mengembuskan napas panjang sambil menunduk penuh syukur.
“Masih buram…” bisik Farin lirih sambil mengerjap pelan.
Perawat tersenyum hangat. “Itu normal. Matanya masih menyesuaikan setelah operasi.”
Farin menatap sekeliling perlahan, siluet-siluet di hadapannya mulai membentuk wajah, dan saat pandangannya perlahan fokus, dua sosok di dekat pintu membuat matanya membesar.
“Aisha…? Mas Zafran…?”
Aisha langsung menghampiri sambil menangis dan memeluk sahabatnya erat. “Kami di sini…”
Tangis Farin pecah dalam pelukan itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Dunia yang sempat gelap kini perlahan kembali terang.
Dan di tengah cahaya yang masih samar itu, Farin menemukan sesuatu yang hampir hilang dari hidupnya.
Harapan.