11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rahasia dibalik buku
Sisa-sisa api Phoenix yang membakar tanah perlahan meredup, menyisakan bara merah yang berkedip-kedip di tengah kegelapan malam. Panasnya masih terasa menggantung di udara, cukup untuk mengusir dinginnya kabut Lembah Hitam yang mulai merayap masuk dari celah-celah tebing. Ledakan energi dahsyat dari Cindy dan kondisi Yuse yang sempat kritis memaksa mereka menghentikan perjalanan menuju Goa Tengkorak. Tidak ada gunanya memaksakan diri masuk ke sarang musuh dalam keadaan lemah dan tidak siap.
Brisa bergerak cepat tanpa suara. Ia menyeret tubuh pria bertopeng yang terbaring pingsan dan sekarat ke balik semak berduri, lalu mengikatnya rapat dengan rantai besi bekas yang ia temukan di antara sisa-sisa perangkap tua. Setiap simpul ia ikat erat dan rumit, memastikan meskipun pria itu sadar, ia takkan bisa menggerakkan satu jari pun tanpa melukai tubuhnya sendiri. Setelah selesai, Brisa melirik ke arah Yuse dan Cindy yang kini berjalan tertatih menuju celah tebing di sebelah kiri.
“Ceruk itu cukup dalam dan tersembunyi. Aman untuk kita istirahat sampai fajar,” ucap Brisa singkat, lalu masuk lebih dulu sambil memeriksa setiap sudut gelap dengan ujung belatinya.
Di dalam ceruk tebing yang remang itu, bau tanah lembab dan batu tua terasa menyengat. Hanya ada satu celah kecil di langit-langit yang menjadi jalan masuk cahaya bulan tipis—cukup memberi penerangan tanpa membuat posisi mereka mudah diketahui orang luar.
Yuse duduk bersandar pada dinding batu yang dingin. Napasnya kini jauh lebih teratur. Rasa nyeri yang tadi mencabik dadanya hanya tersisa sedikit, seperti bekas luka lama yang digores pelan. Kehangatan sisa energi murni Phoenix milik Cindy secara ajaib telah menjahit kembali luka dalamnya yang sempat terbuka. Ia menatap telapak tangannya, mengepal dan membuka berulang kali, merasakan aliran tenaga yang kini kembali lancar ke seluruh tubuh.
Cindy duduk tepat di sebelahnya, lututnya ditarik rapat ke dada. Wajahnya masih pucat, bibirnya sedikit kering, dan tangannya masih gemetar hebat pasca-meledakkan kekuatan tadi. Ia memeluk erat buku Janma Manunggal di pangkuannya, seolah takut benda itu akan lenyap jika dilepaskan sedetik saja. Matanya sesekali melirik ke arah Yuse, memastikan pemuda itu benar-benar baik-baik saja.
Sementara itu, Brisa berdiri di dekat mulut ceruk sambil melipat tangan di dada, tatapannya lurus dan tajam tertuju pada buku tua itu. Di dalam kepalanya, potongan-potongan teka-teki yang selama lima tahun mengganggunya perlahan mulai tersusun menjadi satu kesatuan yang utuh.
Keheningan malam itu akhirnya pecah oleh suara lirih Cindy.
“Yuse… apa kamu benar-benar sudah merasa lebih baik?” tanyanya penuh kekhawatiran, suaranya pelan seolah takut akan melukai pemuda di sampingnya. Matanya menatap lekat wajah Yuse, mencari tanda-tanda kesakitan yang mungkin masih tersisa.
Yuse mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum tipis. Senyumnya tak secerah biasanya, tapi cukup hangat untuk membuat bahu Cindy sedikit rileks. “Aku baik-baik saja, Cindy. Rasanya aneh… hawa hangat dari apimu tadi seperti menyapu bersih seluruh rasa sakit dan menenangkan aliran darahku yang kacau. Luka di dalam dadaku sudah hilang sama sekali. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku. Kalau bukan karena kamu, mungkin sekarang aku sudah jadi tumpukan abu di luar sana.”
Wajah Cindy seketika merona merah, meski di bawah cahaya remang itu hanya samar terlihat. Ia segera menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di balik rambut yang berantakan, lalu tangannya perlahan mengelus sampul buku tua itu.
“Aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” gumamnya pelan. “Saat melihat jarum-jarum itu hampir menembusmu… tubuhku bergerak sendiri tanpa aku perintah. Rasanya ada sesuatu yang panas sekali meledak di dalam dadaku, seolah sesuatu yang sudah tidur ribuan tahun akhirnya bangun. Dan buku ini… tiba-tiba terasa sangat panas di tanganku, seolah ia mengenali aku sebagai pemilik sejatinya.”
Brisa mendengus pelan, lalu melangkah mendekat. Bayangannya memanjang di dinding batu, menari-nari diterangi cahaya api kecil yang mereka buat dari ranting kering.
“Itu karena buku yang kau bawa bukan sekadar panduan bela diri biasa,” sela Brisa dengan nada datar, memecah suasana hening di antara mereka. “Kalau isinya cuma teknik fisik biasa, mustahil bisa membangkitkan darah Phoenix yang tersembunyi di dalam dirimu hanya dalam hitungan detik.”
Ia berhenti tepat di depan Yuse, menatapnya tajam dan menuntut.
“Yuse, ceritamu tentang buku ini pasti belum lengkap. Kamu bilang cuma menemukannya di dalam gua, tapi Mpu Sandry menyebut nama sucinya: Janma Manunggal. Dan melihat betapa dahsyatnya kekuatan yang keluar darimu hanya dengan mempelajari bagian dasarnya, buku ini jelas menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dan mengerikan daripada yang kita bayangkan.”
Yuse menghela napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak berusaha menyibak debu ingatan belasan tahun silam. Bayangan-bayangan samar mulai muncul: gua terdalam di belakang padepokan, udara yang lembab, bau lumut basah, dan cahaya redup dari tanaman yang berpendar di dinding batu.
“Aku jujur, Brisa. Aku sama sekali tidak menyembunyikan apa pun dari kalian,” jawab Yuse sambil membuka matanya kembali, tatapannya tulus dan serius. “Waktu aku menemukannya di bagian paling dalam gua, halaman pertamanya tertutup segel darah yang kuat. Aku mencoba membukanya berkali-kali, tapi darahku tidak bereaksi sama sekali. Karena tak bisa dibuka, aku cuma membaca bagian-bagian selanjutnya yang berisi teknik dasar—cara bernapas, cara menguatkan otot, dan cara mengalirkan energi. Tapi ada satu hal yang masih kuingat sampai sekarang… di bagian dalam sampul, tertulis tulisan kuno yang hampir pudar dimakan usia.”
“Tulisan apa itu?” tanya Cindy dan Brisa hampir bersamaan, nada mereka penuh harap sekaligus tegang.
“‘Janma Manunggal: Penyatuan Jiwa dan Alam’,” ujar Yuse perlahan dan jelas. “Konon buku ini ditulis oleh seorang pertapa suci zaman dahulu yang membagi esensi kekuatan alam menjadi tiga elemen utama: Api, Angin, dan satu elemen terakhir yang namanya tak pernah disebutkan oleh siapa pun. Salah satu bagiannya berisi tentang Api Keabadian, yang disimbolkan dengan burung Phoenix. Itulah sebabnya darahmu bereaksi, Cindy. Garis keturunan kerajaan Arpati memang memiliki percikan darah Phoenix yang diturunkan dari nenek moyang kalian.”
Yuse berhenti sejenak, menelan ludah seolah berat untuk melanjutkan kalimat berikutnya.
“Tapi… ada satu lembaran tersembunyi di bagian belakang yang tak sengaja kubaca sebelum aku menyerahkan buku ini padamu. Lembaran itu hampir terlepas, terselip rapat di antara halaman. Aku cuma sempat membaca beberapa baris sebelum kepalaku terasa sangat pusing dan mual, jadi aku segera menutupnya.”
Ia menatap Brisa lekat-lekat, seolah perkataan berikutnya akan mengubah seluruh jalan hidup mereka.
“Di lembaran itu tertulis tentang… Energi Angin Pembalik Takdir. Ilmu yang diajarkan di sana bukan untuk melindungi atau menyembuhkan, tapi untuk mencabut paksa nyawa makhluk hidup. Mengubah angin yang seharusnya membawa kesegaran menjadi kutukan kelaparan dan pembusukan. Angin yang memberi kehidupan, diubah menjadi senjata pemusnah massal.”
Deg!
Jantung Brisa berdetak sangat kencang hingga ia bisa merasakannya menekan tenggorokan. Wajahnya yang biasanya sedingin es kini penuh kejutan yang mendalam, bercampur rasa marah yang mulai membara.
“Angin Pembalik Takdir…? Kutukan kelaparan…?” gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. Pikiran gadis berambut perak itu seketika melayang ke masa lalu, teringat kondisi Desa Angin yang kini tandus dan menderita. Tanah yang dulunya subur makmur kini retak kering, tanaman layu sebelum berbuah, dan anak-anak menangis kelaparan setiap malam—semua itu bermula tepat setelah ia difitnah dan diusir lima tahun lalu.
“Tunggu… jadi maksudmu…” Cindy ikut mencerna perlahan, matanya terbelalak kaget. Tangannya mencengkeram sampul buku itu makin erat. “Orang asing yang datang menghasut warga Desa Angin waktu itu… mereka sebenarnya mengincar buku ini, kan? Mereka ingin menyempurnakan ilmu terlarang itu supaya bisa menghancurkan tempat lain seperti yang mereka lakukan di sana?”
“Kemungkinan besar begitu,” jawab Yuse tegas. Ia mencondongkan tubuh ke depan, suaranya pelan namun berat. “Mpu Sandry benar, buku ini sudah hilang dan dicari orang selama ratusan tahun. Alasan kenapa Padepokan Lintis Bumi dan pria bertopeng itu terus memburumu, Cindy, adalah karena bagian terakhir dari kitab ini memegang kunci untuk mengendalikan seluruh elemen alam sekaligus. Kalau jatuh ke tangan yang salah, mereka bisa menghancurkan satu kerajaan besar hanya dalam semalam. Tanpa butuh pasukan, tanpa butuh senjata. Cukup dengan satu hembusan angin yang salah, tanah subur bisa berubah menjadi gurun tandus selamanya.”
Brisa mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Kuku-kukunya hampir menembus kulit telapak tangannya. Kini semua potongan misteri yang selama ini menyiksanya akhirnya tersusun rapi.
“Pantas saja…” bisiknya penuh emosi. “Lima tahun lalu, orang asing itu terus-menerus menatap tanda Kumaliti di tanganku. Aku dulu kira itu tanda kutukan yang membuat warga desa membenciku. Ternyata…”
Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Di bawah cahaya api kecil itu, terlihat jelas sebuah tanda berbentuk ranting pohon yg terbelah samar di punggung tangannya.
“Tanda ini sama sekali bukan kutukan! Ini adalah tanda penanda bagi mereka yang memiliki aliran darah Angin Murni! Mereka tidak mau mengorbankanku demi keselamatan desa… mereka ingin mengambil darahku secara paksa hanya untuk membuka segel bagian Angin dari kitab ini!”
Suasana di dalam ceruk tebing mendadak menjadi sangat berat dan menekan. Rahasia besar yang selama ini menutupi penderitaan Brisa dan pengejaran terhadap Cindy akhirnya terkuak sepenuhnya. Musuh yang mereka hadapi bukan sekadar kelompok pendekar jahat atau pencuri biasa, melainkan sebuah persekongkolan besar aliran hitam yang mengincar kekuatan penciptaan dan kehancuran seluruh dunia.
Yuse memegang gagang pedangnya erat, lalu perlahan mencoba berdiri tegak untuk memastikan kekuatannya sudah pulih sepenuhnya. Kakinya sempat sedikit goyah, tapi kali ini ia tidak jatuh lagi.
“Sekarang kita tahu sebenarnya apa yang kita hadapi,” katanya tegas, matanya berkilat penuh tekad. “Lintis Bumi tidak akan pernah berhenti sebelum mereka mendapatkan buku ini dan menangkap kita semua. Mereka sudah tahu posisi kita. Kalau kita diam menunggu di sini, merekalah yang akan datang menjemput kita.”
Ia menatap Cindy dan Brisa bergantian.
“Istirahat kita sudah cukup. Kita harus segera membangunkan pria bertopeng yang terikat di luar. Dengan semua informasi baru ini, kita akan paksa dia bicara—siapa sebenarnya pemimpin tertinggi di Goa Tengkorak, dan apa rencana mereka selanjutnya. Kita tidak punya banyak waktu, sebelum mereka sadar bahwa utusan pembunuh mereka telah gagal total.”
Cindy mengangguk mantap, lalu menyeka sisa air mata di pipinya. “Aku siap ikut apa pun keputusanmu.”
Sudut bibir Brisa terangkat membentuk senyum tipis—dingin, namun penuh janji pembalasan.
“Bagus sekali,” ujarnya pelan. “Karena aku sudah lama ingin bertanya langsung pada orang seperti dia… tentang semua kejahatan yang terjadi di Desa Angin.”
Di luar ceruk, angin kembali berhembus lembut. Kali ini tak membawa kabut beracun, melainkan pertanda bahwa langkah mereka selanjutnya akan mengguncang seluruh penjuru Lembah Hitam.