NovelToon NovelToon
Sovereign Asura

Sovereign Asura

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilfar Aksara

‎"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."

‎Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
‎Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
‎Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.

‎Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
‎Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
‎Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
‎Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.

‎Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
‎Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.

‎Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
‎Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.

‎Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.

‎"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 - Situasi Pulau Emberwind

‎Angin malam berembus perlahan di atas Pulau Emberwind. Tidak lagi membawa aroma dedaunan yang segar.

‎Yang tersisa hanyalah bau darah, kayu terbakar, dan abu peperangan.

‎Api kecil masih menyala di sela-sela reruntuhan aula kerajaan. Suara tangisan terdengar dari berbagai penjuru pulau.

‎Beberapa elf memeluk keluarga mereka yang gugur. Sebagian lainnya berlutut di samping rekan seperjuangan yang tidak lagi bernapas.

‎Disana terlihat Fletcher berlutut perlahan.

‎Ia membaringkan Raja Eldrin di atas hamparan rumput yang masih tersisa.

‎Jubah kerajaan Sang Raja telah koyak. Darah mengalir dari kedua matanya.

‎Tubuhnya masih dipenuhi luka akibat menggunakan dua Senjata Yggradasil secara bersamaan.

‎Leafa segera berlari menghampiri. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kepanikan.

‎"Apa yang terjadi...?" Leafa bertanya.

‎Fletcher hanya menundukkan kepala dan berkata.

‎"Yang Mulia memaksakan diri."

‎Leafa menggigit bibirnya. Mana berwarna hijau yang dipenuhi kehangatan itu mengalir dari kedua telapak tangannya.

‎Cahaya hijau lembut menyelimuti tubuh Raja Eldrin. Namun beberapa saat kemudian, wajah Leafa berubah pucat.

‎"Mana Yang Mulia... Hampir habis."

‎Keheningan kembali menyelimuti mereka.

‎Di sisi lain, Zilda masih belum sadarkan diri.

‎Busur Arcus telah kembali ke bentuk semula. Tidak lagi menyatu dengan tubuhnya. Dadanya naik turun perlahan.

‎Setiap tarikan napas terdengar berat.

‎Fletcher mengepalkan tangan.

‎"Aku gagal..."

‎Leafa menggeleng pelan.

‎"Tidak. Kita masih hidup. Itu sudah cukup."

‎Kalimat sederhana itu justru membuat Fletcher semakin menyesal.

‎Di kejauhan...

‎Seseorang berdiri sendirian di tengah alun-alun. Jubah hitamnya berkibar pelan diterpa angin.

‎Noctis. Sosok itu menatap semuanya dengan tenang. Ia tidak bergerak sedikit pun. Tatapannya menyapu seluruh pulau.

‎Mayat elf.

‎Reruntuhan.

‎Darah.

‎Tangisan.

‎Semuanya terlihat seperti pemandangan yang sudah biasa baginya.

‎Di tengah hamparan kehancuran itu, Noctis melayang beberapa meter di atas tanah.

‎Jubahnya berkibar pelan. Mata merah darahnya menatap dingin ke arah tiga sosok yang berdiri menghadangnya. Disana ada Magus Magnus, Thalindra, dan Eustass Knight.

‎Senyum tipis iblis itu kembali terukir, “Jadi hanya kalian bertiga yang tersisa untuk menghalangiku?” suara Noctis bergema lirih, namun cukup untuk membuat bulu kuduk siapa pun meremang.

‎“Bagus... aku mulai bosan mengendalikan pasukan yang sangat lemah! Aku rasa diriku bisa mengendalikan kalian bertiga menggunakan Crimson Cursed Seal!”

‎Thalindra melangkah maju satu tapak. Pedang elf di tangannya masih meneteskan darah, napasnya berat, namun tatapannya tidak goyah sedikit pun.

‎“Selama aku masih berdiri disini, kau tidak akan menyentuh siapa pun lagi, Noctis!”

‎“Ucapan yang indah.” Noctis memiringkan kepalanya. “Akan lebih indah jika kau mengatakannya sambil berlutut dengan kepala terpisah dari tubuhmu.”

‎"Izinkan aku membantu, Senior Thalindra, Tuan Magus!" ujar Eustass Knight yang berdiri disamping Thalindra memegang tombak.

‎Noctis tersenyum menyeringai, "Majulah! Aku akan mengajarkan sebuah perbedaan yang nyata!"

‎Rahang Eustass Knight mengeras, matanya menatap tajam Noctis. Kemudian Eustass melepaskan energi sihir yang menyelimuti sekujur tubuhnya.

‎Mana meledak dari tubuh Eustass Knight.

‎Pria itu mengayunkan tombaknya ke tanah hingga batuan di bawah kakinya pecah. Otot-otot lengannya menegang, dan sorot matanya membara penuh amarah.

‎“Aku ingin melihat seberapa kuat diriku ini.” Eustass menyeringai kasar. “Aku akan menghancurkan tengkorak kepalamu itu!”

‎"Noctis..."Magus Magnus menatap Noctis cukup tajam dan berniat mengantisipasi serangan dadakan.

‎Thalindra mengangkat pedangnya.

‎Keduanya berdiri di depan Noctis.

‎Namun kali ini...

‎Mereka menyadari sesuatu. Noctis belum mengeluarkan seluruh kekuatannya.

‎Pria itu hanya menghela napas pelan.

‎"Aku berharap Edwin mampu bertahan lebih lama."

‎Ekspresi Noctis cukup datar saat mengetahui keberadaan Edwin dan Zagred telah lenyap.

‎"Lalu Zagred juga gagal. Benar-benar mengecewakan." Nada bicaranya tetap datar.

‎Tidak ada kesedihan.

‎Tidak ada kemarahan.

‎Seolah dua orang tersebut hanyalah bidak catur yang telah selesai digunakan.

‎Magus Magnus mengernyit. "Kau sama sekali tidak peduli pada mereka?"

‎Noctis pun tersenyum tipis. "Iblis tidak membutuhkan belas kasihan."

‎"Mereka mengetahui risiko saat memilih jalannya sendiri."

‎Kemudian ia melangkah satu langkah. Seluruh udara berubah berat. Tanah di bawah kaki para elf mulai retak.

‎Mana hitam memenuhi langit. Bulan merah seakan semakin dekat. Noctis memandang ke arah seorang gadis kecil yang memeluk tubuh Tuan Putri Elara.

‎Indi.

‎Tatapan merahnya memancarkan ketertarikan.

‎"Akhirnya..." Sebuah senyum simpul terukir di wajah Noctis.

‎"Aku akan membawa pergi mereka berdua!"

‎Kalimat itu membuat wajah Thalindra berubah.

‎"Jangan melihat ke arahnya."

‎Noctis tersenyum semakin lebar. Kemudian Noctis mengangkat satu tangannya ke arah langit.

‎Mana hitam membumbung tinggi. Bulan merah memancarkan cahaya yang jauh lebih pekat.

‎Langit di Pulau Emberwind pun mulai terbelah.

1
Protocetus
kirain llywelyn
Green Nord 1927
💪💪💪💪💪💪
Maung Bandung
👍👍
Green Nord 1927
👍
Green Nord 1927
lanjut
The Cigs
Baru baca chapter pertama udah merinding. Ashura pasti punya kekuatan tersembunyi yang lebih kuat dari Saga atau Ark!
Maung Bandung
Mantap Kang👍
Green Nord 1927
up cak
Republik Orange
Lanjut
Protocetus
Seperti air yang mengalir
Republik Orange
Lanjut Wal
Green Nord 1927
lanjut
Green Nord 1927
👍
Green Nord 1927
Kreen cak👍
Jakarta Stay High
Stay
Haikal Blues
Lanjut💪
Haikal Blues
Lanjut
Samarindans
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Haikal Blues
Paus Terbang/Joyful/
Maung Bandung
okeee💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!