"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahagia itu mudah?
Malam selalu tahu cara paling kejam untuk menelanjangi kesepian seseorang. Di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter yang hanya diterangi oleh pendar redup lampu tidur dan cahaya dari layar ponsel, Evelyne Rochie duduk menekur.
Jam dinding di atas meja belajarnya yang berdebu sudah berdetak melewati angka dua dini hari, tetapi matanya enggan terpejam. Jempolnya bergerak lambat, menyapu permukaan layar kaca yang dingin, menggulir satu demi satu cerita yang dipamerkan dunia luar ke hadapannya.
Di layar itu, sebuah video pendek berdurasi lima belas detik berputar. Menampilkan tawa renyah Alice Sonya yang tengah memegang buket bunga mawar putih raksasa. Di sampingnya, Matthias berdiri dengan senyum lebar yang tulus, merangkul pinggang Alice dengan gestur protektif yang begitu alami. Keterangan unggahannya singkat namun menembus dada Evelyne seperti jarum halus: “Tiga tahun yang penuh tawa, dan selamanya yang menanti kita. Terima kasih sudah selalu menjadi rumah, Matthias.” Komentar-komentar penuh pujian dan doa baik membanjiri unggahan itu. Semua orang mengagumi betapa harmonis dan mapannya hubungan mereka. Mereka adalah definisi dari sebuah pencapaian hidup yang ideal.
Evelyne menghela napas, dadanya terasa menyempit. Sebelum rasa sesak itu menetap terlalu lama, jempolnya kembali bergerak, mencari pengalihan. Namun, algoritma media sosial tampaknya sedang bekerja sama dengan takdir untuk menyudutkannya malam ini. Unggahan berikutnya datang dari Azyla Amira. Foto beresolusi tinggi yang menampilkan Azyla di tengah-tengah perayaan pencapaian karier barunya.
Azyla tersenyum cemerlang, dikelilingi oleh belasan teman kerja dan kerabat yang tampak begitu memujanya. Di dunia nyata, Azyla adalah magnet. Ia cantik, cerdas, populer, dan seolah-olah seluruh dunia dengan sukarela bertekuk lutut untuk memberikan apa pun yang ia inginkan. Unggahan itu dipenuhi ratusan tanda suka dalam hitungan menit. Banyak yang mendamba untuk menjadi seperti dia, termasuk Evelyne yang hanya bisa menyaksikannya dari balik kegelapan kamar.
Seolah belum cukup, cerita berikutnya menampilkan Annie dan Samuel. Mereka sedang berada di sebuah kafe estetik di sudut kota, saling menyuapkan potongan kue dengan tatapan mata yang dipenuhi romansa pekat. Samuel tertawa mendengar sesuatu yang diucapkan Annie, lalu dengan lembut merapikan anak rambut yang jatuh di dahi kekasihnya. Sebuah interaksi kecil, sederhana, namun memancarkan jenis cinta yang begitu tulus dan tanpa cela. Jenis cinta yang membuat siapa pun yang melihatnya percaya bahwa dunia ini memang diciptakan dengan adil.
Evelyne menghentikan gerakan jempolnya. Layar ponselnya kini memantulkan wajahnya sendiri yang pucat di atas latar belakang video romantis Annie dan Samuel yang terus berputar tanpa suara. Wajah dengan mata yang lelah, kantung mata yang menghitam, dan gurat kesedihan yang telah terukir terlalu dalam untuk dihapus.
Ia meletakkan ponselnya dengan posisi menghadap ke bawah di atas kasur busanya yang mulai menipis. Seketika, kamar itu kembali dilemparkan ke dalam keheningan yang mencekam. Hanya ada suara dengung rendah dari kipas angin tua di sudut ruangan dan detak jantungnya sendiri yang terasa berat.
Evelyne memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya di antara lipatan kain celana rami yang longgar. Pertanyaan yang sama, yang selalu menghantuinya setiap kali malam mencapai puncak kulminasinya, kembali bangkit. Sebuah bisikan retoris yang tak pernah menemukan jawaban di udara.
“Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan?”
Suaranya tercekat di tenggorokan, hanya keluar berupa bisikan parau yang menyedihkan.
“Kenapa bagi mereka… bahagia itu terlihat begitu mudah? Seperti sesuatu yang memang sudah sewajarnya mereka miliki sejak lahir. Sementara bagiku, untuk mendapatkan satu kepingan kecil dari rasa tenang saja, rasanya teramat sulit? Apakah aku memang tidak diciptakan untuk menjadi bahagia?”
Lahir dengan nama Evelyne Rochie pada awalnya terasa seperti sebuah harapan besar. Nama yang terdengar anggun, indah, dan menjanjikan kehidupan yang dipenuhi oleh kelembutan. Namun, realitas adalah seorang pendusta yang ulung. Bagi Evelyne, nama itu kini tak lebih dari sebuah ironi pahit yang menertawakan kemalangannya setiap hari.
Jika ada sebuah kompetisi tentang siapa yang paling ahli dalam mengacaukan hidup, Evelyne merasa ia layak berdiri di podium tertinggi. Kehidupannya saat ini adalah sebuah monumen kegagalan yang kokoh, runtuh di setiap pilar penting yang menyangga eksistensi seorang manusia: keluarga, percintaan, dan masa depan.
Kegagalan pertamanya dimulai dari tempat yang seharusnya menjadi pelindung paling aman: rumah. Namun, kata "rumah" bagi Evelyne tidak pernah merujuk pada kehangatan. Rumah adalah sebuah medan perang tak kasat mata yang dipenuhi oleh ego, pecahan piring yang berserakan, dan teriakan-teriakan melengking yang memekakkan telinga. Orang tuanya berpisah dengan cara yang paling buruk saat ia baru menginjak usia remaja—usia di mana ia sangat membutuhkan figur untuk bersandar.
Perpisahan itu tidak menyisakan ruang untuk penyelesaian yang damai. Yang tersisa hanyalah saling tuduh, saling menyalahkan, dan Evelyne yang terjebak di tengah-tengah sebagai pion yang tidak diinginkan oleh kedua belah pihak. Ayahnya pergi membangun keluarga baru di kota lain, mengaburkan eksistensi Evelyne seolah-olah ia hanyalah kesalahan masa lalu yang harus dihapus dari memori. Sementara ibunya, yang tenggelam dalam kepahitan hidup, melimpahkan seluruh rasa frustrasi dan kegagalannya pada pundak Evelyne. Setiap kali tatapan ibunya jatuh padanya, Evelyne tahu apa yang dipikirkan wanita itu: Kau adalah pengingat hidup dari pria yang telah menghancurkan hidupku.
Di keluarga itu, Evelyne tidak pernah didengar. Ia tumbuh sebagai anak yang tidak memiliki akar. Ketika ia melihat teman-temannya kembali ke rumah untuk mengadu tentang kerasnya dunia, Evelyne justru harus mempersiapkan mentalnya setiap kali melangkah masuk ke pintu rumahnya sendiri, bersiap menghadapi badai emosi atau pengabaian yang dingin. Ia yatim piatu dalam arti yang paling menyakitkan—orang tuanya masih bernapas, tetapi pelukan mereka telah mati untuknya.
Pilar kedua yang runtuh dengan tragis adalah kehidupan percintaannya. Mengingat hal itu membuat ulu hati Evelyne berdenyut nyeri. Di masa lalu, di tengah kekacauan keluarganya, ia pernah berpikir telah menemukan sebuah sekoci penyelamat. Seorang pria yang menjanjikan dunia yang berbeda, yang menatap matanya dan berkata bahwa dia akan menjadi pelindung yang tidak pernah Evelyne miliki di rumah. Evelyne memberikan segalanya—waktu, perhatian, kepercayaannya yang rapuh, dan seluruh sisa cinta yang ia miliki di dalam hatinya yang terluka.
Namun, sekoci itu ternyata adalah sebuah fatamorgana yang dipenuhi paku. Pria itu tidak hanya menghancurkan sisa kepercayaannya, tetapi juga meninggalkan Evelyne dengan cara yang paling merendahkan martabatnya: berselingkuh dengan seseorang yang jauh lebih segalanya darinya, lalu berbalik menyalahkan rasa tidak aman (insecurity) Evelyne sebagai alasan kepergiannya. “Berada di dekatmu itu melelahkan, Evelyne. Kau terlalu penuh dengan luka, dan aku bukan seorang penyembuh,” kata-kata terakhir pria itu masih melekat erat di dinding kepalanya, bergaung setiap kali ia mencoba membuka hati untuk orang baru. Kegagalan itu meremukkan apa yang tersisa dari harga dirinya. Ia merasa dirinya adalah sebuah beban, barang cacat yang tidak akan pernah dipilih oleh siapa pun untuk dicintai dengan tulus seperti Matthias mencintai Alice, atau Samuel mencintai Annie.
Dan pilar terakhir, yang menyempurnakan penderitaannya, adalah kegagalan dalam kehidupan sosial dan kariernya. Di usianya yang sekarang, saat teman-teman sebayanya mulai menapaki tangga kesuksesan, membangun bisnis, atau mendapatkan posisi yang mapan di perusahaan-perusahaan besar, Evelyne justru terjebak dalam lingkaran setan ketidakpastian.
Pekerjaan paruh waktunya di sebuah toko buku tua di sudut kota hanya menghasilkan uang yang pas-pasan untuk membayar sewa kamar dan membeli makanan instan. Ia tidak memiliki pencapaian yang bisa dibanggakan. Setiap kali menghadiri pertemuan kelompok atau sekadar membaca grup obrolan, ia selalu memilih untuk menjadi pengamat yang tidak terlihat. Ia takut jika ia berbicara, orang-orang akan menyadari betapa tertinggalnya dia. Betapa kosongnya hidup yang ia jalani.
Evelyne berjalan mendekati jendela kamarnya, membuka gorden sedikit untuk melihat pemandangan luar. Kota di bawah sana tampak begitu tenang, diselimuti lampu-lampu jalan yang temaram. Di salah satu sudut kota itu, Alice mungkin sedang tertidur lelap dalam dekapan Matthias yang hangat. Di sudut lain, Azyla mungkin baru saja pulang dari pesta perayaan dengan senyum yang masih membekas di bibirnya. Dan Annie mungkin sedang bertukar pesan selamat tidur yang manis dengan Samuel.
Sementara di sini, di kamar yang sunyi ini, Evelyne Rochie sedang berjuang keras hanya untuk bernapas tanpa menangis.
"Kenapa dunia seolah-olah berjalan sangat cepat untuk orang lain, tapi berjalan sangat lambat dan menyiksa untukku?" tanyanya pada kegelapan malam.
Ia menyandarkan dahinya pada kaca jendela yang dingin. Rasa dingin itu menjalar ke kulitnya, namun tidak mampu membekukan rasa panas yang mulai mendesak di sudut matanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, mengalir lambat melewati pipinya, jatuh ke ambang jendela.
Evelyne merasa lelah. Bukan jenis lelah yang bisa disembuhkan dengan tidur delapan jam di atas kasur yang nyaman. Ini adalah kelelahan jiwa yang akut. Kelelahan karena harus berpura-pura baik-baik saja setiap kali ia berpapasan dengan teman-temannya di siang hari. Kelelahan karena harus melengkungkan bibirnya membentuk senyuman palsu saat mendengar cerita-cerita kebahagiaan mereka, seraya mengangguk dan berkata, "Wah, aku ikut bahagia untukmu!"
Kata-kata itu. "Aku bahagia."
Itu adalah kebohongan terbesar yang ia produksi setiap hari. Ia mengatakannya kepada Alice, kepada Azyla, kepada Annie, dan yang paling parah, ia mengatakannya pada dirinya sendiri di depan cermin setiap pagi sebelum melangkah keluar rumah. Ia memakai kata-kata itu sebagai topeng, sebuah perisai agar dunia tidak melihat betapa mengenaskannya isi di dalam kepalanya. Karena di dunia ini, tidak ada orang yang benar-benar peduli pada seseorang yang gagal. Orang-orang menyukai kesuksesan, mereka menyukai romansa yang indah, mereka menyukai kilau dari popularitas. Mereka tidak memiliki waktu untuk mendengarkan ratapan dari seorang wanita yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan dirinya sendiri.
Evelyne kembali berjalan ke kasurnya, merebahkan tubuhnya yang terasa seringkih ranting kering di musim gugur. Ia menarik selimut tipisnya hingga ke dada. Tangannya kembali meraih ponsel yang tergeletak pasrah. Layarnya menyala, menampilkan jam yang kini menunjukkan pukul 03.15 pagi.
Ia membuka kembali aplikasi media sosialnya, menatap foto profil teman-temannya satu per satu. Ada rasa cemburu yang bergejolak di dadanya, namun rasa cemburu itu segera digantikan oleh rasa bersalah yang luar biasa. Mereka adalah teman-temanku, batinnya mengutuk diri sendiri. Mereka baik padamu. Kenapa kau harus merasa iri atas kebahagiaan mereka? Kau adalah manusia yang mengerikan, Evelyne.
Penghakiman terhadap diri sendiri itu justru membuat lukanya semakin menganga. Ia terjebak dalam labirin emosi yang ia bangun sendiri. Ia membenci keadaannya, ia membenci kegagalannya, dan di atas segalanya, ia membenci kenyataan bahwa ia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk membandingkan hidupnya yang malang dengan hidup orang lain yang begitu sempurna.
Dalam keheningan malam yang kian larut, Evelyne memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa kantuk yang berat akhirnya mulai datang, menjemput kesadarannya yang perlahan memudar. Namun, tepat sebelum ia benar-benar tenggelam ke dalam dunia mimpi, sebuah sensasi aneh mendadak melingkupi kamarnya.
Suara dengung kipas angin tua di sudut ruangan perlahan-lahan lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mutlak—sejenis kesunyian yang tidak wajar, seolah-olah waktu di sekitarnya tiba-tiba berhenti berdetak. Udara di dalam kamar yang awalnya hangat dan pengap mendadak berubah menjadi sangat dingin, membawa aroma samar dari sesuatu yang tidak asing namun tak bisa ia kenali; aroma daun pinus yang basah oleh embun dan wewangian kuno yang pekat.
Evelyne ingin membuka matanya, ingin memastikan apakah ia sudah mulai bermimpi atau jika ada sesuatu yang salah dengan kamarnya. Namun, kelopak matanya terasa teramat berat, seolah dikunci oleh kekuatan tak kasat mata. Di balik kegelapan matanya yang terpejam, ia samar-samar bisa merasakan pendar cahaya yang bukan berasal dari ponselnya ataupun lampu tidur. Cahaya itu berwarna biru keperakan, bergetar lembut, menyelimuti seluruh tubuhnya yang kian lama terasa kian ringan, seakan-akan gravitasi bumi tidak lagi mengikatnya di atas kasur tua itu.
“Jika di sini tidak ada kebahagiaan untukmu…”
Sebuah bisikan tanpa wujud, entah berasal dari dalam kepalanya sendiri atau dari sudut terjauh kamarnya, terdengar bergaung lembut, membelai kesadarannya yang kian menipis sebelum akhirnya ia jatuh sepenuhnya ke dalam kegelapan yang pekat.
Evelyne Rochie tidak pernah tahu, bahwa malam itu adalah malam terakhirnya menjadi penonton bagi kebahagiaan orang lain. Di balik tirai kegelapan yang menjemput tidurnya, sebuah takdir baru yang megah, asing, dan penuh darah tengah bersiap memanggil namanya di seberang dimensi yang tak terjangkau oleh akal manusia.
Bersambung