Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.
Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.
Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Mampukah sang legenda menggapai impiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Sebuah Kecapi
Persimpangan jalan itu adalah urat nadi perdagangan yang kasar.
Debu beterbangan di bawah kaki-kaki kuda dan roda kereta kayu. Di sudut yang paling sepi, bersandar pada tembok bata yang retak, seorang pria tua duduk bersila dengan sebuah instrumen musik di pangkuannya.
Itu adalah sebuah Kecapi (Guzheng) tua. Kayunya sudah kusam, warnanya menghitam dimakan usia, dan beberapa senarnya tampak tegang seolah menyimpan beban ribuan tahun.
Namun, saat mata perak Tian Shan menatapnya, ia merasakan getaran halus di jiwanya. Ini bukan sekadar alat musik; ini adalah wadah yang sempurna untuk melatih resonansi jiwa di masa depan.
Tian Shan berhenti di depan pria tua itu. "Berapa?"
Pria tua itu mendongak, matanya yang lamur tampak terkejut melihat sosok berambut putih dengan aura setajam pedang. "Hanya ... hanya dua koin perak, Tuan muda. Kecapi ini sudah tidak bisa mengeluarkan suara merdu lagi."
Tian Shan merogoh kantongnya, mengeluarkan satu keping emas tael yang berkilau di bawah sinar matahari. Tanpa ragu, ia meletakkannya di atas kain kusam pria tua itu.
"Ini terlalu banyak, Tuan! Saya tidak punya kembalian—"
"Ambil saja," potong Tian Shan dingin sembari mengangkat kecapi itu dengan satu tangan. "Aku membayar untuk apa yang aku lihat, bukan apa yang kau tawarkan."
Namun, kilauan emas itu adalah magnet bagi lalat-lalat jalanan.
Di balik pilar-pilar kedai tuak, empat orang pria bertubuh kekar dengan tato kasar di lengan mereka saling bertukar pandang.
Mereka melihat kantong berat yang masih menggantung di pinggang Tian Shan. Bagi mereka, pemuda ini hanyalah "domba gemuk" yang kebetulan memiliki rambut aneh.
Tian Shan baru melangkah beberapa puluh meter menuju area yang lebih sepi ketika langkahnya terhenti.
Keempat pria itu sudah mengepungnya. Salah satu dari mereka, yang bermata satu, memegang sebilah parang Besi Hitam yang karatan.
"Hei, Anak Cantik. Rambut putihmu bagus, tapi kantong emasmu lebih bagus. Serahkan kantong itu dan kecapi butut itu, maka kami akan membiarkanmu pergi dengan kaki yang utuh," ancam pria bermata satu itu.
Tian Shan tidak menjawab. Ia perlahan meletakkan kecapi yang baru dibelinya ke tanah dengan hati-hati, memastikan instrumen itu tidak terkena debu.
"Kalian mengganggu pilihanku," ucap Tian Shan lirih.
WHOSH!
Pria bermata satu itu menyerang dengan tebasan vertikal yang kasar.
Tian Shan tidak menghindar jauh; ia hanya menggeser tumpuan kakinya satu inci ke samping. Parang itu membelah angin tepat di sisi telinganya.
Tanpa membuang momentum, Tian Shan menghantamkan telapak tangannya ke dada pria itu.
BRAK!
Gema tulang rusuk yang patah terdengar jelas. Tubuh pria itu terpental ke belakang, menabrak gerobak pedagang lain hingga hancur.
Belum sempat tiga rekan lainnya bereaksi, Tian Shan sudah melesat. Kecepatannya di ranah Pendekar Pemula tingkat puncak benar-benar melampaui nalar manusia biasa.
JLEB!
Belati hitam miliknya menembus tenggorokan pria kedua sebelum ia sempat mengangkat senjatanya. Darah hangat menyemprot ke wajah Tian Shan, namun ia tidak berkedip.
Dengan gerakan berputar, ia menendang lutut pria ketiga hingga hancur ke arah yang berlawanan, lalu menghujamkan sikunya ke ubun-ubun kepala pria itu.
KRETEK. Pria ketiga tewas seketika dengan posisi leher yang tertekuk aneh.
Pria terakhir, yang paling kecil dan lincah, mencoba melarikan diri sambil berteriak minta tolong.
Tian Shan tidak membiarkannya. Ia memungut parang karatan milik pria pertama dan melemparkannya seperti tombak.
SHUT! CRASH!
Parang itu menembus punggung pria tersebut hingga tembus ke jantung, memakukannya ke sebuah tiang kayu.
Suasana persimpangan yang tadinya bising mendadak sunyi senyap. Orang-orang di sekitar gemetar ketakutan, menutup pintu dan jendela mereka rapat-rapat.
Tian Shan berjalan mendekati mayat-mayat itu satu per satu. Dengan gerakan tenang, ia menggeledah kantong uang mereka.
Ia mengumpulkan setiap keping perunggu dan perak yang mereka miliki, lalu mengambil kembali kantong emasnya yang sempat terciprat darah.
Ia kembali ke arah pria tua penjual kecapi yang kini duduk menggigil, menyaksikan pembantaian itu dengan wajah pucat pasi.
Tian Shan melempar sebuah kantong kain berisi seluruh harta rampasan dari para preman tadi ke hadapan pria tua itu. Isinya jauh lebih banyak dari harga kecapi tadi.
"Ini ... ini apa, Tuan?" suara pria tua itu bergetar hebat.
"Harta mereka," jawab Tian Shan singkat sembari menggendong kecapinya kembali. "Gunakan untuk pergi dari tempat kotor ini."
"Tuan ... Anda sangat baik ... Anda menyelamatkan nyawa saya dari kemiskinan ..."
Tian Shan berhenti, menoleh sedikit dengan tatapan perak yang tidak memiliki kehangatan sama sekali.
"Jangan salah paham, Pak Tua. Aku membunuh mereka karena mereka menghalangi jalanku. Dan aku memberimu uang ini karena aku memilih untuk melakukannya, bukan karena aku peduli padamu. Di mataku, nyawamu dan nyawa mereka tidak ada bedanya. Hanya saja, hari ini aku memilih untuk membiarkanmu hidup."
Tanpa menunggu jawaban, Tian Shan melangkah pergi meninggalkan persimpangan yang kini berlumuran darah.
"Jika kita bertemu lagi, Mungkin saja aku akan membunuhmu karena pilihanku, Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan."
Di punggungnya, kecapi tua itu seolah berdengung pelan, selaras dengan langkah kaki Tian Shan.
lanjut thor💪