Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Air Mata Terakhir dan Gaun Berdarah
Lampu rotator merah dan biru dari mobil polisi itu menembus pekatnya malam, perlahan menjauh, membawa separuh jiwaku pergi bersamanya.
Di lobi rumah sakit ini, kilatan flash kamera terus menyambar dari segala arah layaknya badai petir. Teriakan para jurnalis yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan terdengar hanya seperti dengungan statis di telingaku.
"Ibu Aruna! Apakah Anda akan memenjarakan suami Anda?!"
"Berapa lama beliau memeras Anda, Bu?!"
Aku berlutut di atas lantai pualam yang dingin. Gaun sifon putihku yang robek di bagian bawah dan ternoda oleh darah Bumi, membuatku terlihat persis seperti narasi yang baru saja diciptakan suamiku: seorang janda malang, korban pemerasan yang tak berdaya.
"Nyonya," suara berat Garda menembus dengungan di kepalaku.
Dua tangan besar yang dibalut sarung tangan taktis meraih bahuku, menarikku berdiri dengan paksa. Garda dan dua pengawalku membentuk dinding daging, melindungiku dari terjangan mikrofon dan kamera.
"Kita harus pergi sekarang, Nyonya Aruna. Media sudah lepas kendali. Polisi akan mengurus perimeter luar," bisik Garda setengah berteriak.
Garda setengah menyeretku berjalan menuju pintu samping rumah sakit, menembus barikade wartawan, lalu memasukkanku ke dalam kursi belakang mobil SUV antipeluru yang sudah menyala. Garda membanting pintu hingga tertutup, mengisolasi semua kebisingan dari luar.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan Bali yang sepi menuju bandara untuk penerbangan jet pribadi darurat kami kembali ke Jakarta.
Di dalam kabin yang gelap dan kedap suara ini, aku duduk mematung. Tanganku gemetar saat menyentuh noda darah yang sudah mengering di atas perutku. Darah pria itu. Darah suamiku.
“Hiduplah dengan baik, Ratuku.”
Kata-kata tanpa suara dari bibir Bumi sebelum ia masuk ke mobil tahanan itu kembali berputar bagai kaset rusak di kepalaku.
Dia menyerahkan dirinya. Dia membiarkan publik mencacinya sebagai penipu dan pemeras, membiarkan dirinya dirantai seperti binatang, hanya untuk memastikan posisiku sebagai CEO tetap aman. Jika ia mengakui bahwa pernikahan kami adalah sandiwara bersama, aku akan hancur malam ini juga. Dengan mengklaim bahwa itu adalah pemerasan sepihak, Bumi membersihkan namaku sepenuhnya.
"Nyonya..." panggil Garda dari kursi depan, melihatku dari kaca spion tengah. "Kita akan menyewa pengacara terbaik di Jakarta. Tuan Bumi tidak akan dibiarkan—"
"Tidak ada pengacara yang bisa membatalkan pengakuan tersangka di depan ratusan media siaran langsung, Garda," potongku parau, menatap kosong ke luar jendela.
Duniaku mendadak terasa sangat terang, namun menakutkan. Aku akhirnya menyadari kebesaran cinta pria itu. Cinta Bumi bukanlah jenis cinta yang menuntut balasan atau pembuktian. Cintanya adalah jenis pengorbanan berdarah yang siap menelan seluruh penderitaan dunia asalkan aku tetap berdiri tegak.
Jika aku menangis meratapi nasibnya dan membiarkan diriku hancur, maka darah yang menetes dari kepalanya, harga diri yang ia relakan, dan kebebasan yang ia gadaikan... semuanya akan menjadi sia-sia.
Aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan secara kasar. Air mata yang sedari tadi terus mengalir, kuhapus hingga tak bersisa.
Saat aku menurunkan tanganku, sesuatu di dalam diriku telah berubah. Ruang kosong di dadaku yang tadinya dipenuhi rasa sakit dan ketakutan, kini telah diisi penuh oleh lahar panas kemarahan.
"Jam berapa Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dimulai pagi ini?" tanyaku. Suaraku tak lagi bergetar. Keras, tajam, dan sedingin es.
Garda sedikit tersentak mendengar perubahan nadaku. Ia melirik jam tangannya. "Pukul sembilan pagi ini di kantor pusat Jakarta, Nyonya. Dewan Direksi mengagendakan pencopotan Anda secara tidak hormat karena skandal kontrak yang disebarkan Sarah. Tapi... dengan adanya pengakuan Tuan Bumi bahwa Anda adalah korban pemerasan, mereka pasti sedang kebingungan menyusun ulang agendanya."
"Bagus," desisku mematikan. "Arahkan jet pribadi kita langsung ke Halim Perdanakusuma. Kita tidak akan pulang ke penthouse. Kita langsung menuju kantor."
"Tapi Nyonya, Anda harus beristirahat! Pakaian Anda... ada darah di mana-mana. Biar saya bawakan pakaian ganti—"
"Tidak," tolakku mutlak. Mataku menatap pantulan diriku sendiri di kaca jendela mobil. Rambutku berantakan. Wajahku pucat tanpa riasan. Dan gaunku penuh noda darah kering. "Bumi telah membangun panggung untukku dengan nyawanya. Aku akan naik ke panggung itu, memainkan peran yang ia berikan, dan memastikan tidak ada satu pun pengkhianat di dewan direksi itu yang keluar dari ruang rapat dengan kepala tegak."
Pukul 09:15 WIB. Menara Wiratmadja Tech, Jakarta.
Ruang Rapat Utama di lantai lima puluh itu riuh rendah. Dua belas orang anggota Dewan Direksi dan lima Komisaris duduk mengelilingi meja pualam oval raksasa.
Proyektor di dinding menampilkan grafik pergerakan saham perusahaan yang masih terpuruk akibat email skandal pagi buta kemarin, meskipun berita penahanan Rendra dan pengakuan Bumi telah memutarbalikkan narasi publik.
"Kita tidak bisa membiarkan Aruna tetap memimpin!" seru Pak Hendra, salah satu direktur senior loyalis Rendra, sambil menggebrak meja. "Korban atau bukan, fakta bahwa dia bisa diperas oleh seorang staf IT bawahan membuktikan ketidakmampuannya dalam mengelola krisis! Perusahaan ini menjadi bahan tertawaan nasional!"
"Benar!" timpal direktur lainnya. "Rendra mungkin berakhir di penjara, tapi Aruna juga membawa aib. Kita jalankan voting pencopotan sekarang juga mumpung dia masih bersembunyi di Bali!"
Tepat saat Ketua Dewan Komisaris mengangkat palu sidangnya untuk memulai pemungutan suara...
BRAAAAK!
Pintu ganda ruang rapat itu ditendang terbuka dengan kekuatan brutal dari luar. Bunyi hantaman kayu mahoni ke dinding membuat seluruh peserta rapat terlonjak kaget di kursi masing-masing.
Keheningan seketika menyergap ruangan itu seolah waktu baru saja dihentikan paksa.
Aku melangkah masuk ke dalam ruang rapat. Garda dan dua pengawal bersenjata lengkap menyusul di belakangku, mengunci pintu dari dalam, dan berdiri tegak memblokir akses keluar.
Belasan pasang mata pria-pria berjas mahal itu membelalak ngeri melihat penampilanku.
Aku tidak mengenakan setelan jas eksekutif. Aku mengenakan gaun sifon putih yang robek dan berlumuran noda darah kecokelatan yang sangat mencolok. Rambutku kuikat asal, dan wajahku tidak menyembunyikan jejak kelelahan serta mata yang sembab.
Aku berjalan melangkah dengan pelan, diiringi bunyi ketukan stiletto-ku yang bergema mengancam di keheningan ruang pualam itu. Aku berjalan lurus menuju kursi utama di ujung meja—kursi CEO.
"S-selamat pagi, Aruna..." sapa Ketua Dewan Komisaris terbata-bata, wajahnya pucat pasi melihat noda darah di gaunku. "K-kami mengira Anda masih di rumah sakit—"
Aku tidak membalas sapaannya. Aku berdiri di depan kursiku, meletakkan kedua telapak tanganku yang masih menyisakan noda darah samar di atas permukaan meja, dan mencondongkan tubuhku ke depan, menatap tajam satu per satu pria-pria rakus di ruangan ini.
"Saya dengar," suaraku tidak berteriak, namun mengalun rendah dan mematikan bagai bisa ular, "ada yang ingin mengambil kursi saya di saat saya sedang mengurus suami yang nyaris mati tertusuk parang demi melindungi saya dari pembunuh bayaran kiriman Rendra."
Beberapa direktur menelan ludah dengan susah payah. Pak Hendra, yang tadi paling vokal, tiba-tiba terlihat seperti ingin tenggelam ke bawah meja.
"A-Aruna, kau harus mengerti," seorang direktur mencoba membela diri. "Skandal ini merugikan perusahaan. Dan pengakuan suamimu di TV semalam—"
"Pengakuan bahwa dia memeras saya?" potongku tajam. Aku menegakkan tubuhku. "Ya. Bumi Arkan memeras saya. Dan saya, sebagai wanita yang diancam, terpaksa menikahinya karena sistem keamanan yang kalian, para direksi IT, klaim sebagai 'yang terbaik di Asia', ternyata bisa dijebol oleh seorang anak kemarin sore!"
Aku menunjuk layar proyektor. "Kalian menyalahkan saya atas skandal ini? Rendra Daniswara, anggota dewan kalian sendiri, menggelapkan dana puluhan miliar dan menyewa pembunuh untuk menghabisi suami pertama saya, Adrian! Dia mengkhianati perusahaan ini, dan tidak ada satu pun dari kalian yang tahu?!"
Aku menggebrak meja dengan sangat keras hingga cangkir-cangkir kopi di atasnya berdenting hebat.
"Saya adalah korban di sini!" suaraku naik satu oktaf, menggema memekakkan telinga. Air mata buaya—senjata terbaruku—mulai menggenang di pelupuk mataku, menyempurnakan narasi yang Bumi berikan padaku. "Saya diancam oleh peretas, nyaris dibunuh oleh komplotan Rendra di Bali tadi malam, dan pakaian ini adalah saksi bisu darah yang tertumpah! Dan respons kalian sebagai pimpinan perusahaan adalah menusuk punggung saya dengan mengadakan rapat pemecatan?!"
Ruangan itu mati kutu. Narasi korban yang kubawakan sangat sempurna, tak terbantahkan, dan disokong oleh bukti visual darah di gaunku yang mengerikan. Jika mereka memecatku hari ini, media akan memanggang mereka hidup-hidup sebagai dewan direksi tak berhati nurani yang membuang janda korban pemerasan dan pembunuhan.
Ketua Dewan Komisaris berdeham pelan, merapikan dasinya dengan gugup. "K-kami... kami memahami posisi Anda yang sangat traumatis, Aruna. Tentu saja, agenda pemecatan ini bisa... ditinjau kembali."
"Ditinjau kembali?" Aku tertawa dingin. Aku membuka sebuah flash disk dari sakuku dan melemparkannya ke tengah meja. Flash disk yang berisi salinan data mutasi rekening rahasia Rendra dan kroni-kroninya.
"Di dalam flash disk itu," desisku, "terdapat catatan aliran dana dari rekening offshore Rendra kepada tiga orang direktur di ruangan ini untuk menyetujui pemecatan saya hari ini."
Wajah Pak Hendra dan dua direktur lainnya seketika berubah menjadi seputih kapas.
Aku menatap mereka dengan tatapan sang Ratu yang sedang menjatuhkan vonis mati. "Saya beri waktu lima menit. Serahkan surat pengunduran diri kalian ke meja saya sekarang juga, atau saya akan menyerahkan flash disk ini ke Bareskrim siang ini sebagai bukti persekongkolan korporat."
Kepanikan meledak dalam senyap. Tiga direktur pengkhianat itu nyaris tak bisa berdiri. Mereka saling pandang dengan keputusasaan absolut, mengetahui bahwa karir dan kebebasan mereka baru saja berakhir dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Aku mundur selangkah, menatap dewan yang kini tunduk sepenuhnya di bawah kekuasaanku. Mahkota Wiratmadja Tech kembali bertahta kuat di kepalaku. Tidak ada lagi yang berani melawanku.
Namun, saat aku berbalik untuk keluar dari ruangan itu dengan kemenangan mutlak, Garda mendekatiku. Wajahnya yang tegang terlihat semakin kaku.
"Nyonya," bisik Garda di dekat telingaku. Suaranya mengandung kehati-hatian yang luar biasa. "Kita harus segera turun ke lobi bawah."
"Ada apa, Garda? Polisi membutuhkan keterangan lebih lanjut dariku?" tanyaku dingin.
"Bukan polisi, Nyonya." Garda menelan ludah. "Hajah Fatimah... ibunda Tuan Bumi, baru saja tiba di lobi utama. Beliau menolak diajak ke ruang tunggu VIP. Beliau bersikeras ingin bertemu dengan Anda sekarang juga."
Langkahku terhenti seolah kakiku baru saja dipaku ke lantai marmer. Zirah kemarahan dan wibawa CEO yang baru saja kugunakan untuk menghancurkan ruang rapat ini seketika luruh tak bersisa. Hajah Fatimah. Wanita suci yang memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri. Wanita yang putranya kini membusuk di penjara dengan label pemeras karena melindungi kebohonganku. Udara di lorong kantor ini mendadak terasa mencekik. Aku bisa menghadapi selusin eksekutif rakus tanpa berkedip, namun membayangkan harus menatap sepasang mata penuh kekecewaan dari ibu suamiku... aku merasa nyaliku menciut hingga tak bersisa.
kenapa nama aruna binti baskara wiradmaja.itu menunjukkan itu warisan bapaknya.bukan peninggalan suaminya .pdahal awal bab bilangya aruna mertahankan perusahaan peninggalan suaminya.
ᴀʀᴜɴᴀ ɢᴋ ʙᴇʟᴀᴊᴀʀ ᴅʀ ᴋᴇsʟsʜᴀɴ sʙʟᴍ ɴʏᴀ 😭😭
viral di tipi tipi kemarin🤔
btw keinget jaman masih suka jemput anak pulang sekolah.. kalo keburu kelasnya pulang cukup daster dipakein jaket sama kerudung 😄
ᴅɪ ᴅᴀʟᴀᴍ ʜᴀʟ ᴀᴘᴀᴘᴜɴ ᴋᴏᴍᴜɴɪᴋᴀsɪ ᴀᴅᴀʟᴀʜ ᴋᴜɴᴄɪ, ʙᴀɪᴋ ʀᴛ, ᴘᴇʀᴜsᴀʜᴀᴀɴ ᴀᴛᴀᴜ ᴀᴘᴀᴘᴜɴ, ᴋʀɴ ᴋɪᴛᴀ ʙᴜᴋᴀɴ ᴄᴇɴᴀʏᴀɴɢ ʏɢ ʙɪsᴀ ᴍᴇɴɢᴇᴛᴀʜᴜɪ ᴊʟɴ ᴘɪᴋɪʀᴀɴ ᴏʀʟᴀ, ɪᴛᴜʟᴀʜ ᴋɴᴘ ʙɴʏᴋ ᴘᴇʀᴄᴇʀᴀɪᴀɴ ᴊᴍɴ sᴋʀɴɢ ᴋʀɴ ᴋᴜʀᴀɴɢ ᴋᴏᴍᴜɴɪᴋᴀsɪ ᴊɢ ʏɢ ᴀᴋʜɪʀɴʏᴀ ᴍᴇᴍɪᴄᴜ sʟʜ ᴘʜᴍ 😔😔😭😭