Pendekar Naga Pengembara

Pendekar Naga Pengembara

Bab 1: Reinkarnasi

𝗕𝗮𝗰𝗮 𝗻𝗼𝘃𝗲𝗹 𝗶𝗻𝗶 𝘀𝗮𝗷𝗮

𝗝𝗨𝗗𝗨𝗟𝗡𝗬𝗔 "𝗝𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗫𝗶𝗮𝗼 𝗖𝗵𝗲𝗻"

.

𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗕𝗔𝗖𝗔 𝗬𝗔 🙏🙏

...****************...

Kehidupan adalah tentang pilihan. Begitulah prinsip yang dipegang teguh oleh pria yang pernah mengguncang dunia, sosok yang dijuluki Legenda Naga, sang anomali yang berdiri di puncak kekuatan.

​Dahulu, ia melangkah di jalan lurus karena mandat gurunya. Namun, ironi takdir menghantamnya tepat di ulu hati: ia mampu menyelamatkan banyak nyawa asing, namun gagal melindungi beberapa orang yang paling berharga di hidupnya.

​Titik itulah yang mengubah segalanya. Tian Shan berhenti menjadi pahlawan.

Ia menjelma menjadi iblis yang rela membantai seluruh penghuni alam abadi demi menyempurnakan teknik terlarang: Memutar Balik Waktu.

Setelah memanen nyawa di alam atas dan mengorbankan setiap napas di dunia fana sebagai bahan bakar, ia berdiri di tengah kehampaan.

​"Inilah pilihanku!"

​Suaranya menggelegar, merobek keteraturan dunia. Tian Shan menyatukan paksa dua alam yang berbeda, menciptakan sebuah dunia baru yang lahir dari kekacauan.

Banyak hal yang akan berubah dalam realitas ini, namun baginya hanya satu yang penting: mereka yang ingin ia selamatkan kini memiliki kesempatan untuk bernapas kembali.

​Suasana di dalam kamar utama paviliun keluarga bangsawan Tian begitu mencekam. Bau amis darah dan keringat bercampur dengan aroma dupa penenang.

Di atas ranjang, seorang wanita cantik dengan wajah pucat pasi tengah berjuang di ambang batas kekuatannya.

​"Sedikit lagi, Nyonya Lin! Tarik napas dalam-dalam!" seru sang tabib wanita dengan nada mendesak.

​Lin Xia, istri dari pemimpin keluarga Tian, mencengkeram kain seprai hingga jemarinya memutih. "Aaakh! Sakit ... hnggh ... hancurkan saja tubuhku, tapi biarkan anak ini selamat!"

​Suaminya, Tian Zhen, berdiri mematung di luar pintu dengan kepalan tangan bergetar.

Tak lama kemudian, pekikan tajam Lin Xia memudar, digantikan oleh keheningan yang janggal. Tidak ada suara tangisan bayi.

​"Kenapa dia diam?" gumam Lin Xia lemah, matanya yang sayu menatap sosok bayi di pelukan tabib.

​Tabib itu menyerahkan sang bayi dengan ragu. Saat Tian Zhen masuk dan mendekat, ia terpaku. Bayi itu tidak menangis, tidak meronta. Ia hanya diam dengan mata terbuka lebar.

​"Sayang, kenapa mata anak kita tampak ... kosong? Apa dia baik-baik saja?" bisik Lin Xia, ada nada ngeri dalam suaranya.

Mata itu tidak seperti mata bayi; itu adalah sepasang lubang hitam yang seolah mampu menelan jiwa siapa pun yang menatapnya.

​"Tabib bilang fisiknya sempurna," jawab Tian Zhen, mencoba menenangkan diri meski hatinya diliputi kegelisahan yang tak dapat dijelaskan. "Mungkin dia hanya ... terlalu tenang."

​Namun, ketenangan itu adalah kutukan. Tian Shan, yang kini terperangkap dalam tubuh mungil itu, merasa asing.

Bukan hanya karena sifat Tian Shan yang dingin. Tapi saat ini jiwanya belum sepenuhnya pulih sehingga emosinya belum kembali.

Menghisap air susu dari wanita yang kini menjadi ibunya terasa canggung bagi jiwa yang telah berumur lebih dari dua abad.

Ia jarang bersuara hanya karena tidak ingin, tidak pernah merengek, dan hanya menatap langit-langit dengan pandangan datar.

Lambat laun, desas-desus tentang "Anak Tanpa Jiwa" menyebar, menjadi noda bagi reputasi keluarga Tian yang agung.

​Hari yang dinanti sekaligus ditakuti itu tiba. Tian Shan berdiri di belakang dua adiknya, Tian Feng dan Tian Mei, yang lahir dua tahun setelahnya.

Berbeda dengan Tian Shan, kedua adiknya tumbuh dengan keceriaan dan bakat yang tampak menonjol.

​"Letakkan tangan kalian di atas batu ini. Biarkan takdir memperlihatkan jalan kultivasi kalian," ucap seorang tetua dengan suara berat.

​Tian Feng melangkah maju terlebih dahulu, disusul Tian Mei. Begitu telapak tangan mereka menyentuh permukaan dingin monolit, cahaya keemasan meledak, menyilaukan mata semua orang yang hadir.

​"Luar biasa! Bakat Tingkat Surgawi! Dua sekaligus!" teriak sang tetua kegirangan.

​Tian Zhen dan Lin Xia tersenyum bangga, disambut tepuk tangan riuh dari anggota klan. Mereka sejenak melupakan keberadaan putra sulung mereka yang berdiri seperti bayangan di sudut area.

​"Sekarang, giliranmu. Majulah, Tian Shan," panggil Tian Zhen, nadanya mendingin.

​Dengan ekspresi yang tetap kosong, seolah dunia di sekitarnya hanyalah panggung sandiwara yang membosankan, Tian Shan melangkah maju. Ia meletakkan tangannya.

​Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik.

​Batu monolit itu tetap hitam legam. Tidak ada getaran Qi, tidak ada pendaran cahaya. Sunyi yang mematikan menyelimuti lapangan.

​"Kenapa? Apa batunya rusak?" tanya seseorang dari kerumunan.

​"Bukan batunya yang rusak!" seorang pemuda lain berteriak sinis. "Lihatlah anak aneh itu! Dia benar-benar sampah! Jangankan bakat, dia bahkan tidak memiliki pondasi untuk mengumpulkan energi alam!"

​Tatapan memuja dari kerumunan berubah menjadi hinaan dalam sekejap.

Tian Zhen membuang muka, sementara Lin Xia hanya bisa menunduk layu.

Di tengah badai cemoohan itu, Tian Shan hanya berdiri diam. Ia tidak terluka, tidak juga marah.

Ia tahu persis apa yang terjadi: tubuh ini tidak rusak, hanya saja energi di dunia baru ini terlalu kotor untuk beresonansi dengan jiwanya yang kompleks. Ia butuh waktu untuk memperbaikinya dari dalam.

​Waktu adalah sungai yang kejam bagi mereka yang dianggap tidak berguna. Di usia lima belas tahun, Tian Shan telah menjadi hantu di rumahnya sendiri.

Ia diasingkan ke paviliun belakang yang kumuh, hidup dalam kesunyian yang ia ciptakan sendiri.

​Sore itu, ia berdiri di tepi lapangan latihan, memperhatikan adik-adiknya yang kini telah menjadi jenius kebanggaan klan.

Pedang mereka bergerak lincah, membelah udara dengan aliran Qi yang stabil.

​"Hei, lihat siapa yang keluar dari lubangnya!" Sebuah suara kasar memecah konsentrasi. Itu adalah Tian Yu, sepupu jauh yang selalu mencari gara-gara. "Si sampah bisu sedang apa di sini? Belajar cara memegang pedang dengan mata?"

​Tian Shan tidak bergeming. Ia hanya menatap Tian Yu dengan pandangan datar yang biasanya membuat orang merasa tidak nyaman.

​"Ck, kau ini benar-benar aib! Sedari kecil sampai sekarang, kau bahkan tidak pernah bicara. Apa lidahmu sudah membusuk karena tidak pernah digunakan?" geram Tian Yu, merasa terhina karena diabaikan.

​Tanpa peringatan, Tian Yu melayangkan tinju yang dilapisi sedikit energi Qi. Tian Shan berniat menghindar, namun tubuh fisiknya yang belum terbangun tidak mampu mengikuti reaksi otaknya.

​BUGH!

​Tubuh Tian Shan terpental, punggungnya menghantam dinding batu hingga retak. Darah segar merembes dari sudut bibirnya, menetes ke tanah.

Tian Feng dan Tian Mei, yang berada tidak jauh dari sana, hanya melirik sekilas dengan tatapan jijik sebelum kembali berlatih.

Bagi mereka, pria yang bersandar di dinding itu bukan lagi kakak mereka.

​"Hahaha! Apa itu sakit? Apa kau ingin membalas dendam, hah?" tantang Tian Yu sombong.

​Perlahan, Tian Shan bangkit. Ia mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan.

Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, ia menatap langsung ke mata Tian Yu. Tekanan udara di sekitar mereka seolah menurun drastis.

​"Baiklah jika itu keinginanmu," ucap Tian Shan. Suaranya rendah, parau karena jarang digunakan, namun mengandung wibawa yang membuat bulu kuduk berdiri. "Jangan menyesal."

​Ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Semua orang di lapangan terdiam membatu.

Bukan karena ancamannya, tapi karena fakta bahwa "si bisu" itu akhirnya berbicara—dan kata-katanya tidak terdengar seperti ucapan seorang pecundang.

​Di dalam kamarnya yang dingin, Tian Shan duduk bersila. Cahaya bulan masuk melalui celah atap, menyinari wajahnya.

Jiwanya yang berasal dari masa depan terlalu besar untuk tubuh yang rapuh ini, menyebabkan kerusakan pada meridiannya.

​‘Energi di dunia ini memang kotor, tapi cukup untuk memulai,’ batinnya.

​Ia mulai membentuk segel tangan yang rumit. Gerakannya sangat cepat hingga menciptakan bayangan. Ia mulai menarik paksa energi alam yang liar, menyaringnya melalui proses pemurnian yang hanya diketahui oleh seorang Legenda Naga.

​KRETEK.

​Suara tulang yang bergeser terdengar menyakitkan. Keringat hitam berbau busuk—kotoran tubuh yang menghambat kultivasi—keluar dari pori-porinya.

Rasa sakitnya seperti disayat ribuan pisau, namun ekspresi wajahnya tetap sedatar permukaan air.

​Perlahan, transformasi itu terjadi. Rambut hitamnya mulai kehilangan pigmen, berubah menjadi seputih salju yang berkilau di bawah cahaya bulan.

Pupil matanya yang semula kosong kini memancarkan cahaya perak yang tajam.

Emosi manusianya yang selama ini ia tekan agar tidak gila dalam ketidaberdayaan, kini mulai stabil dan selaras dengan kekuatannya.

​Tian Shan membuka matanya. Tekanan energi di dalam kamarnya membuat meja kayu di dekatnya hancur menjadi abu.

Sambil tersenyum tipis Tian Shan bermata, "Sudah waktunya untuk siap-siap."

Terpopuler

Comments

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

alur cerita untuk novel ini di awal bagus👍

2026-04-16

0

septian arista

septian arista

setidaknya Buatlah salah satu anggota keluarganya yang mempedulikan sehingga hatinya tidak terlalu beku seperti sebelum reinkarnasi

2026-04-12

1

✞👁️👁️✞

✞👁️👁️✞

menarik

2026-04-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Reinkarnasi
2 Bab 2: Meninggalkan Klan
3 RANAH KULTIVASI DAN LAIN-LAIN
4 Bab 3: Hewan buas
5 Bab 4: Kau pikir aku bodoh
6 Bab 5: Sebuah Kecapi
7 Bab 6: Sebuah Naga kecil
8 Bab 7: Tanaman Langka?
9 Bab 8: Selamat Tidur Gu Han
10 Bab 9: Sungguh menyedihkan
11 Bab 10: Adu domba
12 Bab 11: Pilihlah
13 Bab 12: Guru Xinjiang
14 Bab 13: Pemikiran
15 Bab 14: Macam Kumbang kerak bumi
16 Bab 15: Sebuah rasa
17 Bab 16: Tuntun aku ke sana
18 Bab 17: Danau Bayangan
19 Bab 18: Hanya seorang pengembara
20 Bab 19: Harta karun langka
21 Bab 20: Seruling
22 Bab 21: Penasaran
23 Bab 22: Duel pedang
24 Bab 23: Tian Feng dan Tian Mei
25 Bab 24: Taruhan?
26 Bab 25: Hanya lukisan
27 Bab 26: Kota Teratai merah
28 Bab 27: Pengamat
29 Bab 28: Pembersihan
30 Bab 29: Harapan?
31 Bab 30: Siapa pemenangnya?
32 Bab 31: Jadi kau sudah tahu
33 Bab 32: Biarkan aku hidup sampai waktunya tiba
34 Bab 33: Sudah lama ya
35 Bab 34: Kebersamaan yang tulus
36 Bab 35: Pengakuan
37 Bab 36: Ajakan duel
38 Bab 37: Pak Tua
39 Bab 38: Hanya sebuah tulisan
40 Bab 39: Makhluk raksasa
41 Bab 40: Melindungi dan menyerang
42 Bab 41: Jadi begitu
43 Bab 42: Memulihkan
44 Bab 44: Beneran boleh?
45 Bab 45: Ceplas-ceplos
46 Bab 45: Ruang batin
47 Bab 46: Sedikit bercanda
48 Bab 47: Catur Go
49 Bab 48: Bicaralah
50 Bab 49: Di halangi
51 Bab 50: Kakak
52 Bab 51: Panggil ibu
53 Bab 52: Tidurlah
54 Bab 53: Mendinginkan kepala
55 Bab 54: Tian Zhen
56 Bab 55: Salah tuan muda
57 Bab 56: Hukuman
58 Bab 57: Teruslah berjalan
59 Bab 58: Kepergian
60 Bab 59: Pengintai
61 Bab 60: Kawah
62 Bab 61: Makanlah dulu
63 Bab 62: Wilayah Barat
64 Bab 63: Memeriksa sekitar
65 Bab 64: Baumu sedikit aneh
66 Bab 65: Berpura-pura
67 Bab 66: Pergilah
68 Bab 67: Mei Yan
69 Bab 68: Terus berdatangan
70 Bab 69: Kuburan
71 Bab 70: Kelebihan dan kekurangan
72 Bab 71: Kultivasi tertutup
73 Bab 72: Putar balik
74 Bab 73: Raja Iblis
75 Bab 74: Senyap
76 Bab 75: Bagaimana rasanya?
77 Bab 76: Apa kau takut?
78 Bab 77: Kiriman surat
79 Bab 78: Menemukan sesuatu
80 Bab 79: Seperti akan hujam
81 Bab 80: Acara penyambutan
82 Bab 81: Kedatangan Tian Shan
83 Bab 82: Bangkitnya sang Kaisar
84 Bab 83: Jangan lakukan itu!
85 Bab 84: Dasar menjijikkan
86 Bab 85: Keluarlah
87 Bab 86: Katak
88 Bab 87: Banyak urusan
89 Bab 88: Mencatat resep
90 Bab 89: Menuntut balas
91 Bab 90: 9 Gerbang kematian
92 Bab 91: Jangan menghalangi
93 Bab 92: Karma yang menumpuk
94 Bab 93: Saran nakal
95 Bab 94: Itulah hidup
96 Bab 95: Membantu
97 Bab 96: Kota teratai merah
98 Bab 97: Penasehat
99 Bab 98: Jejak
100 Bab 99: Dinginnya pedang
101 Bab 101: Dentingan
102 Bab 101: Jarak pedang
103 Bab 102: Death
104 Bab 103: Mungkin sedikit telat
105 Bab 105: Maaf
106 Bab 106: Getir
107 Bab 107: Melindungi
108 Bab 108: Senyuman
109 Bab109: Istirahat
110 Bab 110: Mentari
111 Bab 111: Kedai
112 Bab 112: Cerita
113 Bab 113: Ambil
114 Bab 114: Sudah dekat
115 Bab 115; Dunia yang hancur kembali
116 Bab 116: Rasa bersalah
117 Bab 117: Tolong jelaskan
118 Bab 118: Penjara
119 Bab 119: Sudah lama
120 Bab 120: Acungan tombak
121 Bab 121: Tidak ada jalan lain
122 Bab 122: Masa kecil
123 Bab 123: ^⁠_⁠^
124 Bab 124: Butuh bantuan?
125 Bab 125: Kewarasan
126 Bab 126: Kehancuran
127 Bab 127: Apa jalan yang akan kau pilih itu?
128 Bab 128: Inilah jalanku!
129 Bab 129: Mata yang tertutup
130 Side story: Pengembara tanpa nama
131 Side story: Keluarga
132 Side story: Zhao Tian
133 Side story: A-Lan dan Xuliuzi
134 Side story: Hadiah dari Tian Shan
Episodes

Updated 134 Episodes

1
Bab 1: Reinkarnasi
2
Bab 2: Meninggalkan Klan
3
RANAH KULTIVASI DAN LAIN-LAIN
4
Bab 3: Hewan buas
5
Bab 4: Kau pikir aku bodoh
6
Bab 5: Sebuah Kecapi
7
Bab 6: Sebuah Naga kecil
8
Bab 7: Tanaman Langka?
9
Bab 8: Selamat Tidur Gu Han
10
Bab 9: Sungguh menyedihkan
11
Bab 10: Adu domba
12
Bab 11: Pilihlah
13
Bab 12: Guru Xinjiang
14
Bab 13: Pemikiran
15
Bab 14: Macam Kumbang kerak bumi
16
Bab 15: Sebuah rasa
17
Bab 16: Tuntun aku ke sana
18
Bab 17: Danau Bayangan
19
Bab 18: Hanya seorang pengembara
20
Bab 19: Harta karun langka
21
Bab 20: Seruling
22
Bab 21: Penasaran
23
Bab 22: Duel pedang
24
Bab 23: Tian Feng dan Tian Mei
25
Bab 24: Taruhan?
26
Bab 25: Hanya lukisan
27
Bab 26: Kota Teratai merah
28
Bab 27: Pengamat
29
Bab 28: Pembersihan
30
Bab 29: Harapan?
31
Bab 30: Siapa pemenangnya?
32
Bab 31: Jadi kau sudah tahu
33
Bab 32: Biarkan aku hidup sampai waktunya tiba
34
Bab 33: Sudah lama ya
35
Bab 34: Kebersamaan yang tulus
36
Bab 35: Pengakuan
37
Bab 36: Ajakan duel
38
Bab 37: Pak Tua
39
Bab 38: Hanya sebuah tulisan
40
Bab 39: Makhluk raksasa
41
Bab 40: Melindungi dan menyerang
42
Bab 41: Jadi begitu
43
Bab 42: Memulihkan
44
Bab 44: Beneran boleh?
45
Bab 45: Ceplas-ceplos
46
Bab 45: Ruang batin
47
Bab 46: Sedikit bercanda
48
Bab 47: Catur Go
49
Bab 48: Bicaralah
50
Bab 49: Di halangi
51
Bab 50: Kakak
52
Bab 51: Panggil ibu
53
Bab 52: Tidurlah
54
Bab 53: Mendinginkan kepala
55
Bab 54: Tian Zhen
56
Bab 55: Salah tuan muda
57
Bab 56: Hukuman
58
Bab 57: Teruslah berjalan
59
Bab 58: Kepergian
60
Bab 59: Pengintai
61
Bab 60: Kawah
62
Bab 61: Makanlah dulu
63
Bab 62: Wilayah Barat
64
Bab 63: Memeriksa sekitar
65
Bab 64: Baumu sedikit aneh
66
Bab 65: Berpura-pura
67
Bab 66: Pergilah
68
Bab 67: Mei Yan
69
Bab 68: Terus berdatangan
70
Bab 69: Kuburan
71
Bab 70: Kelebihan dan kekurangan
72
Bab 71: Kultivasi tertutup
73
Bab 72: Putar balik
74
Bab 73: Raja Iblis
75
Bab 74: Senyap
76
Bab 75: Bagaimana rasanya?
77
Bab 76: Apa kau takut?
78
Bab 77: Kiriman surat
79
Bab 78: Menemukan sesuatu
80
Bab 79: Seperti akan hujam
81
Bab 80: Acara penyambutan
82
Bab 81: Kedatangan Tian Shan
83
Bab 82: Bangkitnya sang Kaisar
84
Bab 83: Jangan lakukan itu!
85
Bab 84: Dasar menjijikkan
86
Bab 85: Keluarlah
87
Bab 86: Katak
88
Bab 87: Banyak urusan
89
Bab 88: Mencatat resep
90
Bab 89: Menuntut balas
91
Bab 90: 9 Gerbang kematian
92
Bab 91: Jangan menghalangi
93
Bab 92: Karma yang menumpuk
94
Bab 93: Saran nakal
95
Bab 94: Itulah hidup
96
Bab 95: Membantu
97
Bab 96: Kota teratai merah
98
Bab 97: Penasehat
99
Bab 98: Jejak
100
Bab 99: Dinginnya pedang
101
Bab 101: Dentingan
102
Bab 101: Jarak pedang
103
Bab 102: Death
104
Bab 103: Mungkin sedikit telat
105
Bab 105: Maaf
106
Bab 106: Getir
107
Bab 107: Melindungi
108
Bab 108: Senyuman
109
Bab109: Istirahat
110
Bab 110: Mentari
111
Bab 111: Kedai
112
Bab 112: Cerita
113
Bab 113: Ambil
114
Bab 114: Sudah dekat
115
Bab 115; Dunia yang hancur kembali
116
Bab 116: Rasa bersalah
117
Bab 117: Tolong jelaskan
118
Bab 118: Penjara
119
Bab 119: Sudah lama
120
Bab 120: Acungan tombak
121
Bab 121: Tidak ada jalan lain
122
Bab 122: Masa kecil
123
Bab 123: ^⁠_⁠^
124
Bab 124: Butuh bantuan?
125
Bab 125: Kewarasan
126
Bab 126: Kehancuran
127
Bab 127: Apa jalan yang akan kau pilih itu?
128
Bab 128: Inilah jalanku!
129
Bab 129: Mata yang tertutup
130
Side story: Pengembara tanpa nama
131
Side story: Keluarga
132
Side story: Zhao Tian
133
Side story: A-Lan dan Xuliuzi
134
Side story: Hadiah dari Tian Shan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!