NovelToon NovelToon
Putri Tanpa Cahaya

Putri Tanpa Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dyana

Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25 Bertahan atau hancur

Pagi hari di Akademi Kerajaan Averion dingin.

Namun bukan karena cuaca.

Langit memang tertutup awan tipis, tapi udara yang menyelimuti lorong-lorong batu itu terasa lebih berat dari biasanya. Seolah ada sesuatu yang menekan halus, tak terlihat, namun nyata.

Sakura berjalan pelan di sepanjang lorong.

Langkahnya masih berat.

Namun lebih stabil dari sebelumnya.

Efek ramuan semalam masih tertinggal di dalam tubuhnya. Sensasi hangat yang samar mengalir di bawah kulitnya, namun di balik itu… ada nyeri yang belum sepenuhnya hilang. Seperti luka yang tidak terlihat, tapi terus mengingatkan keberadaannya.

Setiap langkah tetap terasa.

Namun tidak lagi membuatnya goyah.

“Lihat itu…”

Bisikan mulai terdengar.

“Dia masih hidup?”

“Padahal kemarin sudah babak belur…”

Suara-suara itu tidak lagi asing.

Sakura tidak menoleh.

Ia tetap berjalan.

Tidak mempercepat langkah.

Tidak memperlambat.

Seolah semua suara itu… tidak cukup penting untuk dihentikan.

Namun Langkahnya tiba-tiba terhenti.

Seseorang berdiri tepat di depannya.

Claudia.

Dengan senyum tipis yang sama.

Tenang.

Anggun.

Dan dingin.

“Menarik,” katanya pelan.

“Kau belum mati juga.”

Sakura diam.

Tatapannya tidak naik.

Tidak menantang.

Namun juga tidak menghindar.

Claudia melangkah mendekat.

Pelan.

Terukur.

Matanya menyapu tubuh Sakura dari atas ke bawah.

“Harusnya luka kemarin membuatmu tidak bisa berdiri hari ini…”

Ia berhenti tepat di depan Sakura.

Menyipitkan mata.

“…tapi kau masih jalan.”

Sakura menggenggam tangannya.

“…Aku baik-baik saja.”

Jawaban itu pelan.

Namun stabil.

Claudia tertawa kecil.

“Jangan bohong.”

Tiba-tiba

Tangannya bergerak.

Menarik lengan Sakura dengan kasar.

Tekanan itu tepat mengenai luka yang belum sepenuhnya pulih.

“AAH—!”

Sakura refleks meringis.

Tubuhnya menegang.

Napasnya terhenti sesaat.

Claudia tersenyum.

Tipis.

Puasa melihat reaksi itu.

“Lihat? Masih sakit.”

Ia mendekat sedikit.

Suaranya berubah lebih rendah.

Lebih tajam.

“Kau menyembunyikan sesuatu, ya?”

Sakura membeku.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Namun wajahnya tetap tenang.

Tidak menjawab.

Tidak bergerak.

Namun sebelum Claudia bisa menekan lebih jauh,langkah kaki terdengar.

Seorang instruktur melintas di lorong.

Claudia langsung melepaskan Sakura.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Ekspresinya kembali tenang.

Tanpa cela.

“Jangan mati dulu,” katanya pelan sebelum berbalik.

“Aku belum selesai denganmu.”

Langkahnya menjauh.

Diikuti Fuko dan Yuki yang tersenyum sinis.

Lorong kembali sunyi.

Sakura berdiri diam.

Tangannya masih sedikit gemetar.

Napasnya tidak stabil.

Namun perlahan ia mengendalikan diri.

“…Aku harus lebih cepat…”

Lebih kuat.

Lebih stabil.

Kalau tidak ia tidak akan bertahan.

Malam hari.

Ruang alkimia kembali menyala.

Cahaya lampu minyak memantul di dinding kayu tua, menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan.

Sakura datang lebih awal kali ini.

Namun Kaelen sudah ada di sana.

Seperti biasa.

“Lebih baik,” katanya singkat.

Tidak ada pujian.

Namun juga tidak ada kritik.

Sakura menunduk sedikit.

Tanpa banyak bicara—

Latihan dimulai.

“Ramuan hari ini,” ucap Kaelen sambil menunjuk bahan di meja, “penenang aliran energi.”

Sakura menatap bahan-bahan itu.

Lebih sulit.

Lebih kompleks.

Beberapa di antaranya bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Ramuan ini tidak menyembuhkan,” lanjut Kaelen.

“Hanya menenangkan.”

“Kalau gagal efeknya akan berbalik.”

Sakura mengangguk pelan.

Ia mengerti maksudnya.

Bukan hanya gagal

tapi bisa memperburuk kondisinya.

Namun ia tetap mulai bekerja.

Tangannya bergerak.

Lebih hati-hati dari sebelumnya.

Menghancurkan bahan.

Mengukur cairan.

Mengatur panas.

Namun Gagal.

Cairan berubah keruh.

Tidak stabil.

“Ulangi.”

Tidak ada nada emosi.

Sakura langsung mengulang.

Percobaan kedua

Gagal.

Percobaan ketiga

Lebih buruk.

Tangannya mulai terasa perih.

Gesekan berulang membuat kulitnya lecet.

Namun ia tidak berhenti.

Waktu berlalu.

Lampu minyak bergetar pelan.

Udara di dalam ruangan menjadi lebih hangat.

Napas Sakura mulai berat.

Namunn ia terus mencoba.

Sampai akhirnya Cairan di dalam wadah berubah.

Biru.

Jernih.

Tenang.

Tidak beriak.

Tidak berubah.

Hening.

Kaelen memperhatikannya.

Beberapa detik.

Lalu mengangguk tipis.

“Cukup.”

Sakura sedikit terkejut.

Namun tidak menunjukkan.

“Minum.”

Ia tidak ragu.

Sakura mengambil botol itu.

Dan meminumnya.

Beberapa detik

Tenang.

Hening.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun..

perlahan

sesuatu mulai berubah.

Rasa hangat muncul.

Lalu menyebar.

Namun berbeda dari sebelumnya.

Tidak langsung menyakitkan.

Lebih halus.

Lebih dalam.

Namun tiba-tiba

“UGHH—!”

Tubuh Sakura langsung bergetar.

Ia jatuh berlutut.

Tangannya mencengkeram lantai.

Napasnya kacau.

Seolah sesuatu di dalam tubuhnya

dipaksa bergerak.

Kaelen tidak bergerak.

Hanya berdiri.

Mengamati.

“Rasakan itu,” katanya dingin.

“Itulah aliran yang kacau dalam tubuhmu.”

Sakura menggertakkan gigi.

Rasa itu

tidak seperti sebelumnya.

Bukan hanya sakit.

Tapi

bertabrakan.

Seolah ada dua arus yang saling menekan.

Menarik.

Mendorong.

Tidak stabil.

“Kalau kau panik…” suara Kaelen tetap tenang, “alirannya akan semakin hancur.”

Napas Sakura tidak teratur.

Tubuhnya ingin bereaksi.

Ingin melawan.

Namun ia menahan.

Perlahan ia menarik napas.

Dalam.

Menahannya.

Lalu menghembuskan.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Getaran tubuhnya mulai berkurang.

Tidak hilang.

Namun lebih terkendali.

Kaelen memperhatikan.

Matanya tetap tenang.

“…Bagus.”

Namun latihan belum selesai.

“Sekarang berdiri.”

Sakura sedikit terkejut.

“…Dalam kondisi ini?”

“Di medan perang,” jawab Kaelen, “kau tidak punya pilihan.”

Hening.

Sakura menggertakkan gigi.

Ia mencoba bangkit.

Tubuhnya langsung goyah.

Hampir jatuh kembali.

Namun ia menahan.

Memaksa dirinya berdiri.

“Sekarang jalan.”

Langkah pertama goyah.

Langkah kedua

lebih buruk.

Tubuhnya hampir jatuh.

Namun ia tidak berhenti.

Langkah ketiga

lebih stabil.

Sedikit.

Namun cukup.

Kaelen mengangguk pelan.

“Tubuhmu mulai menyesuaikan.”

Namun tiba-tiba

Keseimbangan Sakura hilang.

BRUK

Ia jatuh.

Napasnya kacau.

Tubuhnya tidak mau bergerak.

Seolah seluruh energinya habis.

Hening.

Beberapa detik berlalu.

Kaelen tidak langsung membantu.

“Bangun.”

Sakura tidak bergerak.

“…Aku tidak bisa…”

Suaranya pelan.

Hampir tidak terdengar.

“Kalau kau berhenti di sini,” suara Kaelen tetap datar, “semua yang kau lakukan tidak ada artinya.”

Hening...

Kata-kata itu tidak keras.

Namun berat.

Perlahan

Jari Sakura bergerak.

Tangannya mencengkeram lantai.

Dengan sisa tenaga ia memaksa tubuhnya bangkit.

Napasnya gemuruh.

Tidak teratur.

Namun ia berdiri.

Kakinya gemetar.

Namun tetap bertahan.

Kaelen menatapnya.

Beberapa detik.

Untuk pertama kalinya

ada sedikit perubahan di matanya.

“…Kau keras kepala.”

Sakura tidak menjawab.

Namun matanya

tidak lagi kosong.

Tidak lagi lemah.

Ia bertahan.

“Cukup untuk hari ini,” kata Kaelen akhirnya.

Tubuh Sakura hampir jatuh lagi.

Namun kali ini

Kaelen menahannya.

Tidak lama.

Hanya cukup untuk menstabilkan.

“Jangan paksakan lebih dari batas tubuhmu.”

Sakura mengangguk lemah.

“…Terima kasih…”

Ia berjalan keluar.

Langkahnya tertatih.

Namun—

lebih kuat dari kemarin.

Di tempat lain…

Di balkon tinggi akademi—

Claudia berdiri.

Angin malam mengibaskan rambutnya pelan.

Matanya mengarah ke halaman.

Namun pikirannya bukan di sana.

“Dia berubah…”

Fuko di sampingnya sedikit mengernyit.

“Maksudmu Sakura?”

Claudia tersenyum tipis.

“Ya.”

Matanya menyipit.

Dingin.

“Perubahan kecil… tapi cukup jelas.”

Yuki melirik.

“Kau terlalu memikirkannya.”

Claudia menggeleng pelan.

“Justru karena kecil… itu berbahaya.”

Hening sejenak.

Angin berhembus.

“Kalau dia tetap seperti itu,” lanjut Claudia pelan, “dia tidak akan bertahan lama.”

Senyumnya perlahan berubah.

Lebih tipis.

Lebih tajam.

“Tapi kalau dia benar-benar mulai bangkit…”

Tatapannya mengeras.

“Aku akan menjatuhkannya lagi.”

Dan kali ini tidak akan ada ruang untuk bertahan.

1
Yarim Yovan
menarik
Kali a Mimir
padahal ceritanya bagus kok sepi
Kali a Mimir: siap🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!