NovelToon NovelToon
Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumling

Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.

Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Bekerja

"Saya tidak tahu orang itu siapa. Sa_saya tidak kenal sama sekali," lanjut Carla tetap mengelak dan semakin bergetar takut.

"Benarkah kau tidak mengenal nya?" tanya Alex sekali lagi.

"Be_benar."

"Baiklah."

DOR!

"Akh!"

Tanpa babibu Alex langsung menembak cepat pada kepala Botak yang langsung terbujur lemas dan tak bernyawa. 

Carla menjerit takut dengan apa yang baru saja dia lihat. Botak langsung mati seketika, sekarang giliran Clara. Alex segera mengarahkan pistolnya pada wanita yang hampir setengah baya itu.

"Ampun, jangan bunuh saya. Saya benar-benar tidak mengenal orang itu."

Carla langsung bersujud dan memohon untuk di ampuni. Pikiran nya tengah kacau, sudah pasti selanjutnya adalah dirinya yang akan mati.

"Cepat bicara siapa yang menyuruhmu," cerca Alex tidak mau berbasa-basi. Pistol nya juga langsung Ia arahkan tepat pada kepala Carla.

"Ampun Tuan. Ampun."

Carla terus memohon tanpa mau mengatakan yang sebenarnya.

Dor!

"Masih ingin menyembunyikan nya. Sekali tembakan lagi akan langsung menembus kepalamu!"

Alex kesal dengan Carla yang sangat suka bertele-tele dan mengulur waktu. Jika meladeni wanita seperti Carla ini memang sangat menjengkelkan.

"Saya bicara! Saya tidak tahu siapa orangnya, Tuan. Saya sungguh tidak tahu," kata Carla cepat.

Dengan cepat Ia mengeluarkan handphone nya untuk menunjukkan bukti bahwa dirinya sungguh tidak tahu siapa orang itu.

Carla yang mata duitan tidak bisa mengendalikan diri saat dijanjikan akan imbalan yang tidak sedikit. Tentu saja dirinya sangat senang dan tanpa berpikir panjang langsung mengikuti arahan orang yang mengirimi nya pesan.

"Bos."

Alex segera menyerahkan handphone Carla pada Marsel untuk dilihat. Tampaknya kedua orang itu memang tidak tahu siapa orang di balik semua ini, mereka hanya mendapatkan perintah untuk melakukan tugas tersebut.

"Nomornya sudah tidak aktif, Bos," kata Alex lagi yang segera melacak nomor yang mengirimi Carla perintah, tapi sayangnya nomor tersebut tidak terpakai lagi.

Marsel mengepalkan tangannya, Ia tidak bisa menebak siapa orang di balik semua ini. Yang pasti, orang tersebut sudah tahu jika Rayya adalah kelemahan Marsel. Rayyanya sudah tidak aman lagi. Memikirkan semua itu membuat Marsel cemas.

Marsel segera bangkit untuk pergi, dan di panggil oleh Alex,

"Mau diapakan, Bos?"

Alex bertanya tentang Carla. Marsel hanya memberi isyarat dengan tangan melewati leher, seperti di penggal yang artinya habisi.

"Tidak, ampuni saya!"

Carla menjerit setelah mengetahui bahwa dirinya dalam bahaya.

DOR!

Tanpa ampun Alex langsung menembak kepala Carla, jika wanita itu di biarkan hidup, pasti akan menjadi bumerang untuk Rayya lagi di kemudian hari nanti. Untuk antisipasi demi keamanan Rayya adalah langsung menghilangkan nya, dengan demikian akan berkurang satu masalah.

____________________

Beberapa waktu berlalu, pagi ini Marsel berangkat ke suatu tempat tanpa sarapan karena ada hal penting yang menunggu dirinya. Rayya hanya memandangi kepergian pria itu yang bahkan tidak melihat nya sama sekali. 

Tentu Rayya tidak masalah dengan hal tersebut, apalagi sekarang Ia sedang bahagia. Marsel mengizinkan dirinya untuk kembali bekerja di rumah sakit, wanita itu sangat senang, walau di rumah besar itu Ia tetap bisa hidup, tapi menghasilkan uang sendiri memiliki kepuasan tersendiri bagi Rayya.

______________

Beberapa saat sebelumnya saat Rayya mengatakan ingin pergi bekerja.

"Ada yang ingin Rayyaku katakan?" tanya Marsel, karena melihat Rayya terus melihat dirinya dan seperti ingin berbicara sesuatu.

Semenjak Marsel menyelamatkan diri nya tempo hari, Rayya mulai bersikap agak baik pada pria itu namun tetap belum terima harus menjadi istri Marsel.

"Bolehkah aku pergi bekerja," kata Rayya mengingat ini adalah pertama kali Ia akan keluar dari rumah besar bak kastil itu, tentu saja tidak dihitung saat Ia keluar bersama Lily dan Mona, karena itu dua hal yang berbeda.

"Ingin uang berapa? Tinggal bilang saja," kata Marsel sambil mengeluarkan sebuah kartu hitam tak terbatas. 

Marsel mengulurkan benda tersebut untuk Rayya ambil namun wanita itu hanya mengabaikannya.

'Apa dia kira aku sangat suka dengan uang yang di milikinya. Jijik sekali kalau harus mengambil uang haramnya' batin Rayya sambil memaksakan senyum.

"Tidak perlu," katanya sambil mendorong pelan tangan Marsel yang memegang kartu tersebut.

"Suami mu ini tidak kekurangan, tidak perlu bekerja, tinggal di rumah saja menunggu ku pulang," kata Marsel lembut.

Rayya yang mendengar perkataan Marsel rasanya ingin muntah berton-ton, alay sekali. 

Padahal Marsel itu jika di depan orang lain tidak akan bersikap begitu, tapi mengapa Rayya tetap tidak mau juga menerima nya. 

Yaps, biar bagaimana pun Marsel adalah seorang Mafia, dan Mafia itu sudah pasti bermain dengan hal-hal yang tidak baik, melanggar hukum. Siapa juga wanita yang mau dengan pria seperti Marsel? Mungkin orang tersebut sudah dikuasai oleh cinta, barulah bisa dimaklumi. Tapi tidak dengan Rayya, Ia tidak mungkin cinta sama orang seperti Marsel.

"Aku bosan jika di rumah terus. Kalau kau masih melarang ku untuk pergi bekerja aku akan_"

"Cukup."

Marsel segera memotong perkataan Rayya, Ia pikir Rayya akan mengancam Marsel dengan Nyawanya. Padahal Rayya berniat akan marah pada pria itu, dia tidak bodoh sampai harus berlagak bunuh diri.

Tapi melihat gaya perkataan Rayya tadi, siapapun akan beranggapan seperti Marsel.

"Rayyaku boleh bekerja, tapi aku tidak akan mengizinkan mu dekat-dekat dengan pria manapun. Untuk satu ini tidak ada pengecualian," kata Marsel menatap tajam Rayya seakan memperingati wanita itu.

Cup

"Makasih."

Sejujurnya Rayya masih mual mendengar kata Rayyaku keluar dari mulut Marsel.

Rayya mengecup pipi Marsel, membuat pria itu terdiam sejenak dan dengan semangat ingin memberikan ciuman pada istrinya, tapi ternyata Rayya malah mundur menjauh dari Marsel.

Air muka Marsel berubah melihat tingkah Rayya yang masih tetap menolaknya.

"Bukannya kamu akan pergi bekerja? Ayo pergilah."

Rayya mengalihkan perhatian dan berbicara tanpa melihat Marsel yang sudah berwajah dingin.

"Aku memang mau pergi, tapi belum sekarang."

Dengan kasar Marsel menarik tengkuk wanita itu. Rayya tidak sempat menghindar karena gerakan Marsel yang sangat cepat.

Seperti biasanya, pria itu memberikan ciuman brutal.

"Marsel!"

Rayya mendorong dada Marsel dengan nafas tersengal dan menatap nyalang pria itu.

"Jangan memancing ku jika tidak mau," kata Marsel dingin dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Rayya yang berdiri mematung.

Begitulah ceritanya mengapa Marsel tidak sarapan pagi ini, pria dewasa dan menakutkan itu langsung pergi dengan wajah yang tidak bersahabat.

'Dasar! Kau saja yang memang memaksa pengen mencium ku' batin Rayya.

Ia mengecup Marsel tadi hanya sebagai ungkapan terimakasih, Marsel saja yang menganggap nya berlebihan.

"Waktunya pergi bekerja," gumam Rayya senang, tidak peduli dengan Marsel yang nampak kesal.

Kini Rayya sudah sampai di rumah sakit dan langsung di sambut oleh Riko yang sudah lama menunggu kedatangannya.

"Rayya, akhirnya aku melihatmu. Apa Marsel kasar padamu?"

Tanpa meminta persetujuan Rayya, Riko langsung menggenggam kedua tangan Rayya dengan wajah yang tampak lega karena akhirnya bisa berbicara secara langsung dengan Rayya.

"Riko, lepaskan tanganku."

Rayya berusaha melepaskan tangannya, tapi Riko tidak mau melepaskan.

Bukan apa-apa, Rayya takut Marsel tahu tentang ini dan malah melarang nya lagi untuk keluar dan bekerja.

Mereka tidak tahu ada sepasang mata yang menatap inteks pergerakan Rayya dan segera mengirim pesan.

"Bos Rayya di ganggu oleh mantan nya, Bos."

Begitulah isi pesan yang dikirim untuk Marsel.

1
Ruth Berliana
bagus ceritanya tp msh sepi yg baca nya
Jumli: Terimakasih sudah mampir, kak. Saya sangat senang jika cerita nya kakak suka🥰

mungkin sepi karena tidak ada yang tahu kalau ceritanya bagus😁😁😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!