Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Jeda dalam Sunyi dan Sebuah Nama yang Terpanggil
Tiga hari berlalu semenjak secarik kertas bergoreskan tinta hitam itu mendarat di atas meja Sinaca. Tiga hari pula pelataran SMA Bangsa terasa kehilangan sebuah epos. Jenawa Adraw menepati janjinya dengan tingkat kedisiplinan yang justru menyiksa dirinya sendiri. Pemuda itu menjelma layaknya bayangan; ia hadir, namun tak lagi menginvasi ruang.
Sang Panglima tak lagi terlihat berkerumun di teras belakang kelas maupun menjejakkan kaki di area taman bougenvil. Ia menghindari koridor lantai satu, mengambil jalur memutar hanya agar tak berpapasan dengan gadis itu. Di Kedai Pak Dirman, ia hanya duduk menyesap kopi dalam diam, tak lagi memimpin diskusi siasat, membuat Seno dan barisan anak-anak Bangsa dirundung kebingungan yang tak berujung.
Luka di lengan kirinya mulai mengering, berangsur menjadi keropeng yang kelak akan meninggalkan bekas luka permanen. Namun sayangnya, luka di rongga dadanya menolak untuk sembuh dengan kecepatan yang sama.
Di sisi lain, bagi Sinaca Tina, hari-hari tanpa presensi Jenawa rupanya tak membawa kedamaian yang ia harapkan. Ruang perpustakaan kini terasa teramat luas dan membekukan. Tak ada lagi sepasang netra kelam yang menatapnya lekat dari seberang meja. Tak ada lagi senyum miring yang jenaka, maupun deretan kalimat jujur yang selalu berhasil memporak-porandakan ritme jantungnya.
Surat permohonan maaf dari Jenawa itu kini tersimpan rapi di dalam halaman buku hariannya, dibaca berulang kali di kala malam hingga Sinaca hafal setiap lekuk huruf tegak bersambung di dalamnya. Gadis itu akhirnya menyadari sebuah kebenaran yang menohok batin: ketidakhadiran Jenawa jauh lebih menyiksa daripada rasa kecewa yang sempat ia rasakan. Pemuda itu telah membuktikan bahwa ia mampu mengendalikan diri, menahan hasrat untuk mendekat demi menghargai batasan yang Sinaca buat.
Jumat sore menjelang. Lonceng panjang bergaung, menandai berakhirnya pekan yang melelahkan. Langit tampak cerah, secerah semburat rindu yang tak lagi bisa ditampung oleh Sinaca.
Di pelataran parkir yang mulai lengang, Jenawa tengah menaiki sepeda motornya. Ia baru saja memasang helm saat matanya yang awas menangkap sebuah siluet yang berjalan mendekat. Gerakan tangan Jenawa terhenti seketika. Jantungnya, yang selama tiga hari ini berdetak dalam ritme yang monoton, tiba-tiba memalu rongga dadanya dengan keras.
Sinaca Tina berdiri tak jauh dari motornya. Seragamnya tetap rapi tanpa cela, dan buku-buku tebal masih setia berada di dekapannya. Gadis itu menatap Jenawa dengan sepasang mata kecokelatan yang tak lagi memancarkan kemarahan, melainkan sebuah kerinduan yang tertahan.
Jenawa buru-buru melepaskan helmnya, turun dari motor, dan berdiri tegak dengan sikap kikuk yang sama sekali tak mencerminkan julukan Sang Panglima. Ia menelan ludah, bingung harus merangkai kata, sebab ia telah berjanji tak akan mengusik sebelum gadis itu memanggil namanya.
Keheningan membentang di antara mereka, diselingi oleh deru kendaraan dari jalan raya di luar gerbang sekolah.
Sinaca mengambil satu langkah maju. Jemarinya mencengkeram erat pinggiran buku di dadanya.
"Apakah surat permohonan maafmu waktu itu sekaligus menjadi surat pengunduran diri sebagai seorang pengawal?" tanya Sinaca. Suaranya mengalun pelan, memecah kebisuan dengan bahasa bakunya yang khas.
Jenawa terkesiap. Napasnya seakan tertahan di tenggorokan. "Sinaca..."
"Kau menulis bahwa kau tak akan mengusik ketenanganku hingga aku sendiri yang berkenan memanggil namamu," lanjut Sinaca, ujung bibirnya perlahan tertarik membentuk sebuah senyuman tipis yang teramat manis. "Aku baru saja memanggil namamu di dalam hati sepanjang koridor tadi, Jenawa. Dan kurasa, sekarang aku tak keberatan mengucapkannya dengan lantang."
Beban berat berton-ton yang menghimpit dada Jenawa selama tiga hari terakhir seolah menguap begitu saja ke udara. Sepasang mata pemuda itu berbinar, memancarkan kelegaan dan kebahagiaan yang tak terbendung.
"Kau mencabut hukumanmu untukku?" tanya Jenawa, suaranya sedikit bergetar, memastikan bahwa ini bukanlah sebuah fatamorgana sore hari.
Sinaca menggeleng pelan. "Aku tidak pernah menghukummu, Jenawa. Aku hanya memberi kita jeda. Sebuah jeda untuk berpikir, apakah kau bersedia melepaskan kepalan tanganmu demi menggenggam hal lain yang lebih berharga."
Jenawa melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Ia tak berani menyentuh gadis itu, namun tatapannya menyelimuti Sinaca dengan kehangatan yang utuh.
"Tiga hari terkurung dalam sunyi tanpamu telah memberiku sebuah jawaban yang mutlak, Sinaca," ucap Jenawa dengan kesungguhan yang menggetarkan. "Aku tak butuh aspal untuk membuktikan diriku. Jika kau memberiku kesempatan kedua, aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi seseorang yang tak akan lagi membuatmu meneteskan air mata kecemasan."
Mendengar ikrar tersebut, senyum di wajah Sinaca kian mengembang. Mata kecokelatannya memancarkan pendar kelembutan yang menyihir.
"Sebuah ikrar yang teramat berat untuk dijaga," sahut Sinaca. "Namun, aku bersedia menjadi saksi atas usahamu, Jenawa. Nah, jalan utama sore ini agaknya akan cukup padat. Apakah kau masih bersedia memastikan perjalananku pulang bebas dari marabahaya?"
Jenawa tertawa pelan, sebuah tawa lepas yang menandakan kembalinya nyawa Sang Panglima yang sempat hilang. Ia meraih helm cadangan yang tergantung di jok motornya, mengusap debu khayalan di permukaannya, lalu menyodorkannya ke arah Sinaca.
"Dengan segala kehormatan yang kumiliki, Nona Sinaca. Jalanan sore ini mutlak berada di bawah penjagaanku."
Sore itu, di bawah langit Jumat yang benderang, deru mesin sepeda motor Jenawa kembali membelah jalanan kota. Namun kali ini, ia tidak melaju menuju arena perkelahian maupun markas perseteruan. Ia melaju dengan ritme yang pelan dan teratur, membawa serta seorang gadis yang telah berhasil meruntuhkan ego dan amarahnya. Di balik punggung Jenawa yang tegap, Sinaca Tina menyandarkan harapannya, percaya bahwa badai putih abu-abu ini perlahan akan mereda, digantikan oleh gita cinta yang mengalun syahdu hingga hari-hari berikutnya.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪