Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 Belanja Bersama Polisi
Nandini tergopoh-gopoh berlari ke kamarnya dan Santaka. Ia menyambar kerudung segiempat berwarna hitam. Buru-buru ia tusukkan jarum pentul ke bagian di bawah dagu.
Nandini tak peduli hasilnya kurang rapi. Ia khawatir Sarah akan menyalak semakin kencang. Perjalanan masih panjang. Bahkan berangkat belanja pun belum.
Di dalam mobil yang disupiri abdi ndalem, suasananya terasa lebih horor daripada berjalan seorang diri di lorong Ndalem, di tengah malam. Sarah mulai memberikan "kuliah subuh" di sepanjang perjalanan, mengenai tanggung jawab sebagai istri gus. Bagus sebenarnya, hanya kata-katanya membuat merinding.
“Mbak, jadi istri gus itu bukan cuma soal mendampingi, tapi juga mengimbangi. Suami kita itu punya tanggung jawab yang besar bagi umat.
Kalau kita ndak bisa ngimbangi, kasian suami kita. Ndak ada tempat bersandar. Tapi karna Gus Taka ndak ngambil tanggung jawab itu sepenuhnya, susah juga ya buat Mbak Dini mahamin omongan saya,” sindir Sarah.
Nandini mengepalkan tangannya, tak suka Santaka kembali disudutkan namanya. Ia berusaha meredamnya, teringat nasihat sang suami untuk menghindari keributan.
Istri Santaka itu akhirnya hanya bisa manggut-manggut sambil mengelus dada. Berusaha mengambil sisi positif perkataan sang kakak ipar.
"Hhmm... Ning Sarah dulu nikah sama Gus Yasa, umur berapa?" Nandini berniat mengakrabkan diri pada sang kakak ipar. Siapa tahu nanti agak jinak.
Sarah memandangi Nandini. "Kenapa nanya-nanya?"
"Yaa... Ndak apa-apa Ning, Dini mau tanya saja. Kita ngobrol kayak Dini sama Ning Husna." Nandini tersenyum pada Sarah yang berwajah bak beton, kaku.
"Saya nikah umur 19." Sarah melihat keluar jendela.
"Wow, muda banget. Kebelet ya Ning?" Nandini cengar-cengir. Ia senang menggoda Sarah, biar makin meledak sang Ning Polisi itu.
Sarah mendelik pada adik ipar menyebalkannya itu. "Enak saja! Ya karna jodohnya sudah ada." Enak saja Nandini menuduhnya tak pantas, walaupun bercanda. Tak boleh bercanda seperti itu.
"Ta'aruf juga?" Nandini memiringkan kepalanya.
"Ya iya, Mbak. Semua juga lewat proses perkenalan yang sesuai syariat." Sarah membersihkan ujung kukunya.
Nandini manggut-manggut. "Gus Yasa enak rasanya, eh orangnya?"
Sarah mengerutkan alisnya. Benar-benar harus ditatar memang adik iparnya ini. "Mbak Dini, jaga ucapannya!"
Nandini mesem. "Maksud Dini, kan sekarang keliatannya Gus Yasa kaku gitu. Mukanya kaya mules, eh datar maksudnya. Apa dari dulu gitu? Aduh dari tadi Dini salah ngomong mulu. Tegang nih deket Ning Sarah." Nandini menjulurkan lidahnya.
Sarah menggelengkan kepala. Adik iparnya ini begitu absurd. Heran bisa lihai menjadi montir.
"Ya, kalau sama saya ya laen dong, Mbak. Cair lah kalau sama saya." Sarah tersenyum tipis. Mulai menjinak.
"Oh gitu, Ning. Aslinya Gus Yasa manja-manja gitu ya?" Nandini iseng bertanya. Padahal sih tak peduli Abyasa seperti apa. Santaka saja belum juga dicoba olehnya.
"Kepo deh, Mbak Dini!" Sarah melengos. Heran montir kok suka berghibah, pikir Sarah.
"Tapi, Ning Sarah hebat. Dini umur 19 masih hahahehe, maen saja taunya. Itu kan kita baru lulus SMA ya? Ning Sarah ndak merasa keilangan masa muda?" Nandini mode wartawan Ndalem.
Sarah terdiam. Ia melihat ke luar jendela. Mengingat masa itu. "Sudah takdirnya. Saya nikah masih muda. Ndak apa-apa, anak-anak nanti besar, saya masih muda."
"Eh, berarti sekarang Ning Sarah umurnya berapa?" Urat kepo Nandini belum putus.
Sarah menipiskan bibir. "Taun ini 28. Nanya-nanya, ngasih kado ndak, ntar?!" Mata Sarah mendelik.
"Hah! Jadi Ning Sarah seumuran sama Gus Taka? Cuma beda empat taun sama Dini?" Nandini membelalakkan matanya.
"Mbak Dini, mau bilang saya lebih tua dari umur saya?!" Sarah menyipitkan matanya. Seperti ada kobaran api di belakang tubuh Sarah. Wanita mana yang mau dibilang lebih tua dari umurnya?
Nandini terkekeh. "Ya... Kirain udah di atas 30 gitu. Abis... Boros..."
Napas Sarah lebih cepat dari biasanya. Nandini ini benar-benar menguji kesabarannya. Menghina kecantikan salihah Sarah.
"Boros ilmunya, Ning. Dewasa maksudnya... Sudah mau marah ya, kirain Dini bilang boros mukanya? Padahal bener, ups, maksudnya bener-bener pas sama umur, hahaha...." Nandini tergelak puas. Kapan lagi mengerjai kakak iparnya.
Sarah memilih kembali diam. Makin menanggapi Nandini, makin istri Santaka itu membalas tak jelas. Nandini menyudahi aksi sok akrabnya. Yang jadi sasaran, tak seru.
Begitu sampai di pusat perkulakan, Nandini langsung berinisiatif. Ia menarik troli besar dengan sigap.
Seorang abdi ndalem, perempuan muda, juga ikut membantu belanja. Ia yang mengangkat barang yang menjadi pilihan Sarah.
Nandini tak banyak komentar mengenai jumlah belanjaan ataupun pilihan merek Sarah. Ia sadar diri, pendatang baru. Belum mengetahui kebutuhan dan kebiasaan Ndalem. Ia pasrah hanya sebagai pendorong troli.
Ketika berada di bagian persabunan, sebelah alis Nandini mengangkat ketika melihat Sarah mengangkut berbotol-botol besar deterjen cair.
“Kenapa ndak yang bubuk saja, Ning?” Ternyata mulut Nandini kembali gatal. Sebenarnya ini pertanyaan iseng saja. Nandini hanya mencari bahan pembicaraan lagi. Belum kapok ternyata.
“Memangnya Mbak Dini ndak pernah pake mesin cuci bukaan depan?” Sarah meminta sang abdi ndalem menambah dua botol deterjen lagi.
Nandini mengangguk. “Iya Ning, di rumah Bapak pake bukaan depan.”
Sarah memiringkan bibirnya. “Ya, berarti tau dong kalau nyuci pake deterjen cair itu lebih bagus. Kalau di rumah Mbak Dini, nyucinya dikit. Kalau di Ndalem kan banyak. Jadi butuh banyak deterjen. Kalau deterjen bubuk dipakai banyak, rawan ngerak di mesin cuci.”
Sebelah alis Nandini kembali terangkat. Ia mengambil satu kemasan deterjen bubuk, lalu menunjuk label kandungannya. “Ini tulisannya buat front load, Ning.”
Nandini tahu jika ia memperpanjang pembicaraan ini sama saja mencari masalah. Tapi ia perlu menunjukkan bahwa ia juga punya ilmu. Tidak kosong sekali, seperti anggapan Sarah selama ini.
“Kalau pakai yang ini, busanya sedikit, justru lebih aman buat sensor elektroniknya. Lagian, kalau beli yang cair sebanyak ini, jatuhnya lebih boros di kantong, Ning.”
Sarah terdiam. Nandini menatap kakak iparnya. “Soal kerak, nanti biar saya yang servis mesin cucinya tiap bulan. Beres kan? Ndalem bisa lebih hemat, mesin awet.”
Sarah mencebikkan bibir. “Jangan suka sok tau, Mbak. Ngacak-ngacak kebiasaan yang ada.” Wanita itu lalu membalikkan badannya. Menjauhi Nandini. Kebiasan yang telah berjalan, jika terbukti baik, kenapa harus diubah-ubah?
Angel angel... Susah memang kalau merasa pinter sendiri. Mana ilmu tawadhunya Ning, katanya harus rendah hati??
Akhirnya belanja bulanan ini usai. Petugas kasir menghitung belanjaan Sarah. Mata Nandini menyipit, ia menyadari sesuatu. Kesalahan yang menurutnya tak bisa ditoleransi.
"Mbak, sebentar, di rak tadi tulisannya promo beli dua, diskon, berlaku kelipatan. Kok di layar ini harganya masih normal? Selisihnya lima belas ribu lho. Ini kakak saya beli empat. Jadi beda tiga puluh ribu," protes Nandini lantang.
Kasir itu gelagapan. "Maaf Kak, promonya sudah habis per jam sepuluh tadi."
"Lho, kalau sudah habis ya labelnya dicopot. Jangan jebak pembeli dong! Saya ndak mau bayar kalau harganya segini," balas Nandini tegas. Antrean di belakang mulai berbisik-bisik.
Beberapa orang mengenali Sarah sebagai menantu Mansur karena pernah mengikuti kajian di Al Fatih. Lagipula keluarga Ndalem memang cukup populer di Solo.
Sarah mendekati Nandini dengan wajah merah padam. "Mbak Dini, sudah, kita bayar saja. Cuma tiga puluh ribu, jangan bikin ribut di sini. Malu dilihat orang!" bisik Sarah tajam.
"Bukan soal nominalnya, Ning, tapi soal kejujuran tokonya. Kalau seribu orang dijebak begini, berapa untung haram mereka?" Nandini tetap pada pendiriannya.
Sarah mencekal tangan istri Santaka itu. “Mbak, kamu mau buat malu Ndalem? Perkara tiga puluh ribu, sampeyan sampai menjatuhkan marwah Al Fatih. Lihat saja, habis sampeyan disidang Gus Yasa nanti malem! Keterlaluan!”
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭