NovelToon NovelToon
Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Transmigrasi
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.

Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.

Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.

Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.

"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Shen Yu tidak ingin menunda. Mengingat ia tidak memiliki barang bawaan yang tertinggal di penginapan selain pakaian lama yang sudah ia buang, ia memutuskan untuk langsung menempati rumah barunya mulai malam ini.

"Kenapa harus bayar mahal di penginapan kalau rumah sendiri sudah siap?" gumamnya santai.

Namun, karena sudah lama tidak dihuni, rumah ini sedikit berdebu dan ada sarang laba-laba di sudut-sudut langit-langit. Shen Yu pun menyingsingkan lengan bajunya dengan semangat.

Dengan cepat ia membersihkan seluruh ruangan dalam waktu singkat. Debu-debu terbang terbawa angin keluar jendela, sarang laba-laba pun lenyap tanpa jejak. Rumah itu kembali bersih, segar, dan nyaman.

Setelah rumah bersih, saatnya mengisi perabotan.

Shen Yu berdiri di tengah ruang tamu yang kosong. Ia mengangkat tangannya dan melambaikannya pelan di udara.

Wush! Wush!

Satu per satu perabotan muncul dari dimensi penyimpanannya dan mendarat dengan rapi di tempat yang tepat:

- Ruang Tamu: Sebuah bangku panjang kayu berkualitas dan meja rendah kayu jati yang kokoh muncul, memberikan kesan hangat dan alami.

- Ruang Makan: Meja makan besar dengan beberapa bangku panjang tersusun rapi, siap untuk menerima hidangan lezat.

- Dapur: Rak-rak kayu, wajan, panci, dan peralatan masak lainnya muncul tertata rapi di atas meja dapur – semuanya terbuat dari bahan alami yang kuat dan awet.

Kemudian ia naik ke lantai dua menuju kamar utama.

Di sana, ia memanggil keluar sebuah ranjang besar yang empuk, meja rias dengan cermin perunggu yang bersinar, dan lemari pakaian yang sangat luas.

Dari dalam ruang penyimpanannya, Shen Yu mengeluarkan tumpukan pakaian baru. Berbagai jenis Hanfu dengan warna dan motif berbeda – biru tenang, putih bersih, hingga hitam elegan – semuanya baru dan berbau wangi harum.

Ia menggantungnya rapi di dalam lemari, merasa sangat puas melihat pakaiannya yang melimpah.

Kamar kedua yang ada di sebelahnya, Shen Yu ubah fungsinya menjadi Ruang Belajar dan Perpustakaan Pribadi.

Ia meletakkan sebuah meja belajar kayu besar di tengah ruangan yang menghadap jendela. Di atasnya, ia menata tumpukan kertas putih bersih, batu tinta berkualitas, dan puluhan kuas tulis berbagai ukuran.

"Tempat ini pas sekali buat aku menulis, membaca, atau sekadar melamun," bisiknya dengan senyum bahagia.

Kamar terakhir ia biarkan kosong dengan hanya sebuah kasur empuk di sudut – disiapkan sebagai kamar tamu jika sewaktu-waktu ada teman atau kenalan yang datang berkunjung.

Sekarang, rumah itu tidak lagi terlihat kosong dan sepi. Ia sudah berubah menjadi sebuah hunian yang lengkap, nyaman, dan siap dihuni oleh seorang tuan muda yang baru saja menjadi kaya raya!

Shen Yu berjalan mondar-mandir memeriksa setiap sudut rumahnya dengan wajah bangga.

"Sempurna! Dapur ada, kamar tidur ada, ruang baca ada... semuanya lengkap," gumamnya puas. "Mulai detik ini, aku resmi jadi warga tetap Ibu Kota!"

Shen Yu melangkah masuk ke dapur yang kini sudah bersih dan rapi. Ia membuka lemari penyimpanan dan tersenyum puas – di sana sudah terisi penuh oleh berbagai macam bumbu dapur yang lengkap.

Garam, merica, cabai kering, kecap, minyak wijen... semuanya ada. Bahkan untuk garam saja, di dunia ini harganya bisa sangat mahal dan kualitasnya seringkali masih kasar. Tapi bagi Shen Yu?

Dia punya garam halus murni sehalus butiran salju, jauh lebih bersih dan enak daripada apa pun yang dijual di pasar ibu kota.

"Hidup itu harus nyaman, kalau tidak untuk apa bekerja keras," gumamnya santai.

Ia mengambil potongan daging sapi segar yang ia dapatkan beberapa waktu lalu – yang juga ia simpan ajaibnya tetap segar di ruang penyimpanannya. Rencananya hari ini: Tumis Daging Sapi Pedas dicampur dengan sayuran hijau renyah, ditambah nasi putih hangat. Menu sederhana tapi pasti bikin bahagia.

Namun, saat matanya tertuju pada tungku tanah liat dan tumpukan kayu bakar di sudut dapur, wajah Shen Yu langsung masak.

"Ah iya... aku lupa. Di sini masaknya pakai api seperti ini?" Shen Yu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jujur saja... aku ini tipe orang yang kalau mau masak air tinggal pencet tombol. Menyalakan api pakai batu dan menunggu nasi matang berjam-jam? Maaf itu terlalu berat buat otakku."

Shen Yu menggeleng tegas. "Tidak bisa. Aku tidak mau repot."

Dengan snap jari, ia mulai bekerja.

Shen Yu mengeluarkan peralatan dapur modern favoritnya. Namun, demi menjaga penampilan agar tidak terlalu aneh, ia menggunakan kemampuannya untuk melapisi benda-benda itu dengan kulit atau penutup yang terlihat persis seperti kayu jati berukir indah:

- Sebuah benda besar berbentuk kotak muncul di sudut. Dari luar terlihat seperti lemari kayu biasa yang kokoh. Tapi saat pintunya dibuka...

BRRR! Itu adalah kulkas dan freezer berukuran besar yang dinginnya menusuk! Di sana ia menyimpan daging dan sayuran agar tidak busuk.

- Di sebelahnya, ada kotak lain yang tertutup rapat. Itu adalah Rice Cooker atau penanak nasi otomatis!

Shen Yu menuangkan beras dan air, menekan satu tombol, dan selesai – tidak perlu diaduk, tidak perlu takut gosong. Nanti dia sendiri yang matikan saat sudah matang.

Ia pun mulai mengiris bumbu dengan cepat, menyalakan kompor gas portabel yang jauh lebih bersih dan mudah dikontrol daripada kayu bakar.

Cesss!

Aroma harum tumisan bawang dan cabai segera menyebar ke seluruh rumah. Daging sapi dimasukkan, dibalur saus rahasianya, ditambah sayuran segar. Suaranya yang berdesir terdengar sangat menggugah selera.

Sambil menunggu masakan matang, Shen Yu bersandar santai di meja dapur dan menghela napas lega.

"Benar-benar beruntung aku punya 'supermarket ajaib' ini," bisiknya sambil menepuk dada. "Semua barang yang aku keluarkan dari sana seolah punya energi sendiri. Kulkas tidak butuh listrik, rice cooker tidak butuh colokan... mereka bekerja selamanya dengan sendirinya!"

Itu adalah keajaiban terbesar baginya. Ia bisa menikmati kemudahan hidup modern tanpa perlu repot mencari listrik atau mesin uap di dunia kuno ini.

"Jadi... tinggal makan enak, tidur nyenyak, dan hidup tenang. Sempurna!"

Di rumah barunya yang hangat dan nyaman, Shen Yu duduk santai di meja makan. Di hadapannya tersaji sepiring nasi putih mengepul, tumis daging sapi pedas yang berwarna merah menggoda, dan sayuran hijau yang renyah segar.

Ia menyendok nasi dan memasukkannya ke mulut, lalu mengunyah dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan murni.

"Hmm... enak!" gumamnya sambil mengangguk-angguk puas. "Rasanya pas, pedasnya pas dan dagingnya empuk. Memasak pakai alat modern memang beda rasanya dibanding bakar-bakar di tungku."

Shen Yu makan dengan lahap, sesekali menyesap teh hangat yang sudah disiapkan di sisi meja. Perut kenyang, hati senang, dan dompet (atau dimensi penyimpanannya) penuh emas. Hidup tidak bisa lebih baik dari ini.

Sementara itu, di kediaman megah Keluarga Li, pusat kota...

Suasana di sana justru terasa sangat mendung dan mencekam.

Li Huangfu duduk di ruang utama, memegang kotak kayu berisi Permata Matahari di pangkuannya. Ia sudah memandangi benda indah itu berkali-kali, dan memang... ia sangat menyukainya – cahayanya menenangkan hatinya.

Namun, rasa puas itu hanya separuh. Separuh lainnya dipenuhi oleh rasa frustrasi yang luar biasa.

Wajahnya gelap, alisnya terkulai rapat, dan tatapannya tajam menyiratkan kemarahan yang tertahan. Sejak kembali dari lelang tadi, ia belum pernah tersenyum sedikit pun.

"Dasar Tuan Zhao tidak berguna..." geramnya pelan dengan nada dingin yang mengerikan.".....Dia bilang dia menjaganya baik-baik, tapi nyatanya orang itu bisa hilang begitu saja di depan hidungnya!"

Pengawal dan pelayan di ruangan itu semua menunduk tak berani bernapas keras. Mereka tahu tuannya sedang marah besar – aura yang keluar dari tubuhnya cukup membuat semua orang merasa geli di punggung.

Li Huangfu menatap bola kristal itu lagi dengan pandangan yang penuh semangat tapi juga kemarahan.

"Aku ingin tahu siapa dia! Bagaimana caranya dia bisa punya benda ini? Siapa 'Tuan Shen' itu?!" Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya membuatnya pusing.

Terlebih lagi saat ia ingat penjelasan Tuan Zhao: "Saya juga tidak pernah melihat wajah aslinya, Tuan. Dia selalu pakai topeng dan sangat misterius."

Itu artinya, saat ini sosok itu bebas berkeliaran di mana saja di ibu kota ini! Bisa jadi dia orang kaya baru, bisa jadi dia ahli silat, atau bisa jadi dia adalah orang penting yang menyamar. Dan tidak ada satu pun orang yang tahu rupa aslinya!

"Bagus... bagus sekali," Li Huangfu mendengus kasar, tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memucat. "Kau pikir kau bisa menghilang selamanya? Ibu Kota ini tidak sebesar itu. Cepat atau lambat, aku pasti akan menemukanmu lagi, Tuan Rubah!"

Di satu sisi, ia memiliki harta termahal di kota, tapi di sisi lain, ia merasa seperti orang yang paling kalah karena gagal bertemu dengan penjualnya.

Berita tentang lelang yang heboh itu tidak hanya berhenti di sana. Seiring berlalunya waktu, topik pembicaraan di pasar, kedai teh, hingga di kediaman para bangsawan mulai bergeser – dari sekadar membahas harga yang fantastis dan keindahan Permata Matahari, kini orang-orang mulai membicarakan reaksi aneh dari si pembeli.

"Hei, kalian tahu tidak? Katanya Tuan Muda Li Huangfu itu sampai marah besar dan mengamuk di gedung lelang kemarin," bisik seorang pedagang kepada temannya sambil melihat sekeliling khawatir.

"Marah? Kenapa? Bukannya dia yang menang dan dapat barangnya?" tanya temannya bingung.

"Iya dapat! Tapi katanya dia marah karena gagal bertemu sama pemilik aslinya!" jawab yang pertama dengan mata berbinar. "Dia bahkan menyuruh anak buahnya mencari ke mana-mana, bahkan dia sampai malam dilelang berharap orang itu muncul lagi."

"Wah... serius? Padahal kan barang sudah di tangan."

"Katanya sih Tuan Muda Li itu orangnya keras dan perfeksionis. Dia tidak suka ada hal yang tidak dia ketahui.... pasti Tuan Li penasaran setengah mati ingin tahu siapa orang hebat itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!