Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Carisa baru saja kembali ke mejanya ketika ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk. Dari Yuda.
"Nenek meninggal. Aku ke Bandung sekarang. Kamu nyusul sendiri."
Carisa membaca sekali. Lalu sekali lagi.
Dahinya langsung mengernyit. “Nyusul sendiri?” gumamnya sambil mendengus pelan, hampir tidak percaya.
Ia berdiri tiba-tiba, kursinya sedikit terdorong ke belakang. Ponsel masih di tangannya, napasnya berubah cepat.
“Serius, Yuda?” bisiknya kesal. “Kamu nggak bisa jemput aku dulu?”
Ia mengusap wajahnya sebentar, mencoba menahan emosi yang sejak pagi sudah tidak stabil.
Tanpa banyak pikir, ia langsung berjalan ke ruang direktur. Pintu diketuk cepat.
“Masuk,” suara Nadya dari dalam.
Carisa membuka pintu. “Nad, aku izin pulang sekarang.”
Nadya langsung menoleh. “Kenapa?”
“Nenek Yuda meninggal. Aku harus ke Bandung.”
Ekspresi Nadya langsung berubah. “Oh… ya sudah. Kamu berangkat saja. Hati-hati di jalan.”
Carisa mengangguk cepat. “Makasih.”
Ia tidak menunggu lama. Langsung keluar, mengambil tasnya, dan bergegas meninggalkan kantor.
Mobilnya melaju keluar dari gedung. Hujan masih turun tipis, membuat jalanan licin dan sedikit lebih padat dari biasanya. Carisa menggenggam setir lebih kuat dari seharusnya.
“Bisa-bisanya dia pergi duluan…” gumamnya kesal.
Matanya fokus ke jalan, tapi pikirannya di penuhi kekesalan pada suaminya.
“Kita kan bisa berangkat bareng…” lanjutnya, suaranya makin terdengar emosi. “Aku juga kan keluarga, Yuda. Bukan orang lain.”
Ia mengembuskan napas kasar.
“Disuruh nyusul sendiri… gampang banget ngomongnya.”
Tangannya sempat meraih ponsel, menekan nama Yuda.
Panggilan pertama, tidak diangkat.
Carisa mengeraskan rahangnya. “Angkat, Yuda…”
Panggilan kedua. Tetap tidak diangkat.
“Ya ampun…” desahnya, kesal.
Ia melempar ponselnya ke kursi sebelah dengan sedikit kasar, lalu kembali fokus menyetir. Tapi pikirannya tidak berhenti.
“Kalau marah ya ngomong… bukan gini caranya…” gumamnya.
Mobil terus melaju masuk ke jalan tol. Hujan sedikit mereda, tapi langit masih gelap.
Carisa mencoba menenangkan diri, menarik napas panjang beberapa kali. Namun belum juga benar-benar tenang dan tiba-tiba ada suara aneh dari mesin.
“Kenapa lagi…” ia langsung waspada.
Mobil terasa berat. Tarikannya tidak seperti biasa.
“Jangan sekarang…” bisiknya pelan, mulai panik.
Beberapa detik kemudian mesin mati. Mobil melambat.
“Ya Tuhan…” Carisa langsung menepikan mobil ke bahu jalan tol dengan susah payah.
Akhirnya mobil benar-benar berhenti. Sunyi. Hanya suara kendaraan lain melintas cepat di sampingnya.
Carisa menatap ke depan, tidak bergerak beberapa detik. Lalu ia mengembuskan napas panjang, hampir seperti ingin menangis tapi ditahan.
“Lengkap sudah…” gumamnya lelah.
Ia langsung meraih ponsel. Menelpon Yuda lagi.
“Tolonglah, Yuda…” suaranya mulai bergetar, campuran kesal dan panik.
Tidak ada jawaban. Carisa menutup mata sebentar, menahan emosi yang semakin naik. Lalu ia membuka kembali, mencoba berpikir.
Ia mencari nomor bengkel terdekat.
“Pak, mobil saya mogok di tol…” suaranya berusaha stabil meski napasnya masih tidak beraturan.
Ia menjelaskan lokasi. Di ujung sana terdengar jawaban yang membuatnya semakin lelah.
“Sekitar satu jam ya, Bu. Kami kirim orang.”
Carisa menutup telepon perlahan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Menatap kosong ke depan.
Waktu berjalan pelan. Terlalu pelan. Mobil-mobil melintas cepat di sampingnya, sementara ia hanya diam di tempat, sendirian di tengah jalan tol dengan hujan yang sesekali turun lagi.
Beberapa kali ia mencoba menelpon Yuda lagi. Tidak diangkat. Tidak sekali pun.
Hampir satu jam ia menunggu. Lelah mulai terasa di seluruh tubuhnya. Bukan hanya fisik tapi juga dari semua yang terjadi sejak pagi.
Ia menunduk, mengusap wajahnya pelan.
“Kenapa jadi begini…” bisiknya lirih.
Tepat saat itu sebuah mobil melambat dari arah belakang.
Carisa tidak langsung menyadari. Sampai akhirnya mobil itu berhenti tidak jauh dari mobilnya.
Ia mengangkat kepala. Alisnya sedikit berkerut. Pintu mobil itu terbuka. Dan saat sosok yang turun terlihat jelas. Carisa langsung membeku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak