Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TABIR YANG MULAI TERSINGKAP.
"Hans, katakan padaku. Di mana biasanya kakakku menyimpan sesuatu yang paling rahasia?"
Suara Maheer terdengar berat, menggema di ruang kerja luas yang kini ia tempati. Matanya menatap tajam ke arah Hans yang sedang berdiri di dekat jendela. Rasa penasaran itu telah berubah menjadi obsesi yang membakar.
Hans terdiam sejenak, lalu menatap Maheer dengan pandangan datar. "Kenapa Tuan tidak bertanya langsung pada Nyonya Assel? Beliau pasti tahu segalanya tentang Tuan Muzammil."
Maheer mendengus, ia memutar kursi kebesarannya dengan kasar. "Aku malas berurusan dengan perempuan itu. Dia hanya akan mengabaikanku atau menjawab dengan kata-kata ketusnya. Katakan saja apa yang kau tahu."
Hans menghela napas, ia melangkah mendekati lemari buku besar yang menutupi salah satu sisi dinding. "Di balik rak buku ini ada sebuah ruangan rahasia. Tuan Muzammil sering menghabiskan waktu di sana saat lelah bekerja. Mungkin apa yang Tuan cari ada di dalam sana."
Hans menunjukkan sebuah tombol kecil yang tersembunyi di sela ukiran kayu rak tersebut. Maheer menekannya, dan dengan suara mesin halus, rak buku itu bergeser menyingkap sebuah pintu baja ringan. Maheer segera melangkah masuk, namun ia tertegun melihat isinya.
Bukan tumpukan dokumen rahasia yang ia temukan, melainkan sebuah ruang istirahat yang sangat nyaman. Ada ranjang besar yang tertata rapi, dan sebuah lemari kaca yang memperlihatkan deretan jas milik Muzammil bersanding dengan beberapa gamis dan hijab milik Assel.
"Kenapa ada baju Assel di kantor ini?" tanya Maheer heran.
"Nyonya sering datang ke kantor untuk menemani Tuan Muzammil lembur, Tuan," jawab Hans dengan nada yang sedikit memicu emosi Maheer. "Namanya juga pengantin baru yang saling mencintai. Sudah pasti mereka ingin selalu bermesraan dan berdekatan di mana pun berada."
Rahang Maheer mengeras. Rasa cemburu yang aneh tiba-tiba menyengat dadanya. Ia membayangkan kakaknya dan Assel berbagi tawa di ruangan sempit ini. "Cukup! Keluar kau dari sini, Hans!"
Meskipun Hans kini bekerja untuknya, Maheer tahu asisten itu selalu memihak Assel. Hans tidak seperti karyawan lain yang takut padanya, pria itu tahu betapa tulusnya Muzammil dan Assel memperlakukan bawahan, sangat berbeda dengan Maheer yang selalu memandang orang berdasarkan kasta. Setelah Hans keluar, Maheer menggeledah ruangan itu, namun tidak menemukan apa pun selain kenangan manis kakaknya.
Maheer kembali ke kursi kerjanya dengan tangan hampa, namun pikirannya tak bisa tenang. Sebuah ide muncul di kepalanya. Sumber keretakan hubungannya dengan Assel bermula di sekolah. Ia segera memanggil Hans kembali.
"Siapkan mobil. Kita ke SMA Pelita sekarang juga," perintah Maheer sambil menyambar jasnya.
Sesampainya di sekolah lamanya, Maheer langsung menuju ruang kontrol keamanan. Ia berharap teknologi masih menyimpan jejak masa lalu.
"Apakah masih ada rekaman CCTV dari tujuh tahun yang lalu?" tanya Maheer pada petugas jaga.
Petugas itu mengerutkan kening, lalu memeriksa data di komputer tua. "Maaf, Tuan. Data kami otomatis terhapus setiap dua tahun. Rekaman tujuh tahun lalu sudah tidak ada lagi."
Maheer keluar dari ruangan itu dengan bahu yang merosot. Kecewa. Namun, saat ia melintasi koridor utama, ia berpapasan dengan seorang wanita berpakaian rapi yang memakai tanda pengenal guru.
"Maheer? Benarkah itu kau?" tanya wanita itu ragu.
Maheer menoleh, mencoba mengingat wajah di hadapannya. "Sinta?"
Sinta, sahabat Assel saat sekolah dulu, menatap Maheer dengan tatapan yang mendadak berubah dingin. "Untuk apa kau ke sini?
"Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu, Sin," ujar Maheer membela diri.
Sinta tersenyum sinis." Mencari kebenaran setelah tujuh tahun berlalu? Untuk apalagi? Kayak sudah tidak penting lagi deh."
"Apakah itu artinya kau juga tahu? Kalau begitu katakan padaku apa yang kau ketahui?" tanya Maheer tampak sedikit mendesak.
Sinta tertawa sumbang, tawanya penuh dengan nada penghinaan. "Kenapa baru sekarang? Bukankah dulu kau lebih percaya pada teman-teman begajulmu itu daripada pada Assel? Kau membuat sahabatku menderita, Maheer! Dia kehilanganmu saat kau pergi tanpa pamit, dan di hari yang sama, dia kehilangan kedua orang tuanya untuk selamanya. Sekarang kau ingin tahu kebenarannya? Untuk apa? Dia sudah bahagia dengan orang lain!"
Sinta sepertinya belum tahu bahwa Muzammil telah meninggal dunia. Saat ia hendak pergi, Maheer menahan lengannya. "Ceritakan padaku, Sinta! Aku mohon."
Sinta menyentak tangannya. "Assel difitnah, Maheer! Kau yang buta karena egomu sendiri. Dia menangis di bandara mengejarmu, tapi kau terbang dengan rasa benci yang salah alamat. Saat itu juga, dia ditelepon bahwa orang tuanya kecelakaan. Jadi, lupakan saja niatmu. Kau tidak pantas mendapatkan maaf darinya!"
Sinta pergi begitu saja, meninggalkan Maheer yang mematung di tengah lorong sekolah yang sepi. Kata-kata Sinta menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke kantor, suasana terasa sangat berat. Maheer menatap kosong ke luar jendela.
"Hans, selidiki apa yang terjadi di hari keberangkatanku tujuh tahun lalu. Cari detail tentang kecelakaan orang tua Assel," perintah Maheer dengan suara serak.
Beberapa jam kemudian, saat Maheer berusaha menenggelamkan diri dalam tumpukan laporan kerja, Hans masuk membawa sebuah map coklat. Hans meletakkannya di meja dan mulai menjelaskan dengan suara tenang.
"Tuan Muda Muzammil baru saja kembali dari bandara setelah mengantar Anda saat itu. Di tengah jalan, beliau melihat kecelakaan hebat. Ternyata korbannya adalah orang tua Nyonya Assel. Karena luka mereka sangat parah dan tidak ada harapan lagi, sebelum meninggal, ayah Nyonya memohon agar Tuan Muzammil menjaga Assel dengan menikahinya. Tuan Muzammil setuju, dan pernikahan itu terjadi di depan orang tua Nyonya, sebelum almarhum meninggal Tuan."
Tangan Maheer gemetar saat membaca laporan medis dalam map tersebut. Penyesalan itu mulai merayap, mencekik lehernya hingga sesak. Wanita yang ia caci sebagai ular, ternyata adalah wanita yang hancur berkeping-keping di hari yang sama saat ia meninggalkannya dengan penuh hinaan.
Namun, bayangan foto Assel yang dipeluk pria lain di taman sekolah dulu kembali muncul. Maheer meremas tangannya sendiri. "Kalau dia difitnah, lalu apa maksud foto itu? Pasti ada buktinya."
Maheer berdiri dengan tergesa-gesa. Ia yakin sekarang. Jika rekaman CCTV sekolah sudah tidak ada, Muzammil pasti sudah menyalinnya. Kakaknya tidak mungkin menikahi Assel jika tidak memiliki bukti kuat bahwa Assel adalah wanita baik-baik.
"Hans, siapkan mobil lagi. Kita pulang sekarang," ujar Maheer tegas.
"Ada apa, Tuan?"
"Bukti itu pasti ada di ruang kerja rumah. Muzammil tidak pernah membuang barang berharga. Aku akan mencari kebenaran itu sampai ke liang lahat sekali pun!"
Maheer melangkah cepat menuju lift. Ada api baru yang menyala di matanya—bukan lagi api kebencian, melainkan api rasa bersalah yang memaksanya untuk menemukan fakta yang sebenarnya. Ia harus tahu, apakah selama ini ia telah membenci malaikat, ataukah ia hanya sedang berusaha mencari alasan untuk memaafkan dirinya sendiri.
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah