NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang Kerumah Cantika

Setelah proses sakral yang mengubah statusnya selesai, dengan terpaksa Cantika mengajak Arka pulang ke rumahnya.

Mobil sedan mewah berwarna hitam metalik itu merayap pelan, seperti seekor macan kumbang yang tersesat di labirin sempit gang desa. Suara gesekan bodi mobil dengan tanaman liar di pinggir jalan membuat hati Arka meringis. Namun, rasa tidak nyaman itu tidak sebanding dengan kehancuran harga diri yang ia rasakan saat ini.("Sial,mimpi apa aku semalam ,sampai -sampai aku menikah dengan perempuan udik seperti ini,nyesel aku menolongnya tadi sore,kalau aku tidak berhenti dan menolongnya,aku tidak akan terperangkap ditempat ini." ) Arka berkata dalam hatinya

“Kiri, Tuan … eh, Mas … eh, Tuan Arka,” suara Cantika terdengar ragu-ragu di sampingnya. Ia bingung harus memanggil apa pada pria yang baru saja mengucapkan akad nikah untuknya.

“Panggil saya Mas Arka saja kalau di depan keluargamu. Jangan sampai mereka curiga,” sahut Arka tanpa menoleh. Wajahnya sekaku beton.

Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan dinding papan yang sebagian sudah lapuk. Cahaya lampu bohlam kuning remang-remang menyelinap dari celah-celah pintu. Arka mematikan mesin, tetapi ia tidak segera turun. Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya.

“Ini rumah saya,” cicit Cantika pelan.

Arka turun dari mobil, langsung disambut oleh aroma khas pedesaan: campuran bau tanah basah, tumpukan kayu bakar, dan aroma gorengan yang samar-samar. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung menjadi pusat perhatian.

Adik-adik Cantika yang sedang duduk di bangku kayu mendadak mematung. Ada tiga anak di sana. Yang paling besar, Gilang mungkin berusia sekitar empat belas tahun. Di sampingnya duduk dua bocah laki-laki dan perempuan yang terlihat lesu, Rara dan Dodi

“Mbak Cantika?” panggil Gilang dengan nada tidak percaya. Matanya beralih ke Arka yang berdiri menjulang dengan jas mahal yang kini sudah kusut dan tidak berbentuk lagi.

“Ini siapa, Mbak?”

Sebelum Cantika sempat menjawab, pintu kayu rumah itu terbuka dengan derit yang memilukan. Seorang wanita paruh baya dengan wajah pucat dan tubuh sangat kurus muncul di ambang pintu. Itu adalah Ibu Ratih , ibu Cantika yang selama ini sakit-sakitan.

“Cantika? Kamu akhirnya pulang, Nduk. Ibu sangat khawatir,” suara Ibu Ratih bergetar. “Tadi … tadi Pamanmu datang. Dia bilang … dia bilang hal yang tidak masuk akal.”

Arka bisa melihat tubuh Ibu Ratih limbung. Cantika dengan sigap berlari dan memeluk ibunya erat-erat. “Ibu … maafkan Cantika, Bu.”

Isakan pertama pecah. Gilang dan kedua adiknya, yang mulai merasakan suasana mencekam, ikut mendekat dan memegang ujung baju kakaknya.

“Jadi benar?” suara Ibu Ratih nyaris berupa bisikan. “Pamanmu bilang dia baru saja menikahkanmu di balai desa karena … karena kamu tertangkap basah dengan laki-laki?”

Mata Ibu Ratih kini tertuju pada Arka. Arka merasa seperti sedang dihakimi oleh seluruh dunia. Ia yang biasanya bisa membungkam lawan bicara dengan satu kalimat tajam, kini hanya bisa terdiam membisu di bawah tatapan seorang ibu yang hatinya hancur.

“Bu, ini tidak seperti yang Ibu pikirkan,” Cantika mencoba menjelaskan di sela-sela tangisnya. “Tuan ini … dia orang baik. Dia menolong Cantika. Warga saja yang salah paham.”

### Ruang Tamu yang Penuh Sesak

Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah. Arka harus menunduk sedikit agar kepalanya tidak terbentur kusen pintu yang rendah. Di dalam, hanya ada sebuah tikar pandan yang sudah robek di pinggirnya dan satu kursi kayu tua yang reyot. Cantika mempersilakan Arka duduk di kursi itu, sementara ia dan keluarganya duduk bersimpuh di atas tikar.

Ibu Ratih terus menangis. Tangisnya bukan yang meledak-ledak, melainkan isakan lirih yang terdengar jauh lebih menyakitkan.

“Ibu gagal menjaga kamu, Nduk,” ratap Ibu Ratih “Harusnya Ibu tidak membiarkanmu kerja keras sendirian sampai malam. Sekarang masa depanmu …”

“Ibu, jangan bicara begitu,” Cantika memeluk ibunya semakin erat. “Cantika tidak apa-apa. Tuan Arka sudah bertanggung jawab.”

Gilang adik tertua, menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan antara takut dan marah. “Mbak benar sudah nikah sama Om ini? Jadi, Om ini sekarang kakak ipar kami?”

Arka berdehem, berusaha menetralisir rasa canggung yang luar biasa. “Dengar, Bu … dan adik-adik semua. Nama saya Arka. Saya minta maaf karena kejadian hari ini sangat mendadak dan mungkin memalukan bagi keluarga ini. Tapi saya berjanji, saya tidak akan membiarkan Cantika menderita.”

Itu adalah kalimat paling diplomatis yang bisa Arka keluarkan. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia sedang merencanakan perpisahan di kemudian hari.

Mendengar suara Arka yang berat dan berwibawa, adik laki-laki Cantika yang bungsu Dodi, justru mulai menangis. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi melihat ibu dan kakak mereka menangis, ketakutan itu menular dengan cepat.

“Mbak Cantika jangan pergi! Jangan dibawa Om itu!” teriak Dodi sambil memeluk kaki Cantika.

Suasana berubah menjadi banjir air mata. Cantika menangis, ibunya lemas dalam pelukannya, dan ketiga adiknya meraung-raung. Arka yang terbiasa hidup di lingkungan korporat yang dingin dan tanpa emosi, merasa benar-benar kehilangan arah. Ia merasa seperti penjahat yang baru saja menculik pahlawan keluarga ini.

### Kenyataan yang Menohok

“Bu, tolong jangan menangis lagi,” mohon Cantika. “Nanti asma Ibu kambuh.”

Ibu Ratih mencoba mengatur napasnya. Ia menatap Arka dengan mata merah. “Tuan Arka … saya ini orang miskin. Anak saya cuma penjual keripik. Kenapa Tuan mau menikahi dia? Apa benar Tuan melakukannya karena cinta, atau cuma karena takut pada warga?”

Pertanyaan itu seperti tamparan keras bagi Arka. Cinta? Ia bahkan belum tahu warna kesukaan Cantika. Ia tidak tahu apa-apa tentang gadis ini selain namanya dan kenyataan bahwa ia sangat kurus.

Arka menatap ruangan sempit itu. Di sudut ruangan, ada tumpukan singkong yang belum dikupas. Di sudut lain, tergantung pakaian-pakaian lusuh yang sudah pudar warnanya. Kemiskinan di depan matanya begitu nyata, begitu menyesakkan dada.

“Saya menikahi Cantika karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan saat ini, Bu,” jawab Arka akhirnya, memilih kata-kata yang aman. “Saya tidak ingin nama baik Cantika hancur. Soal masa depan, biarkan kami yang menjalaninya.”

Cantika menatap Arka dengan pandangan berterima kasih, meski di matanya masih tersirat kesedihan yang mendalam. Ia tahu Arka sedang berbohong demi menenangkan ibunya.

“Nduk,” Ibu Ratih memegang tangan Cantika dengan lembut. “Ingat, pernikahan itu sakral. Sekali sudah sah, kamu adalah tanggung jawab suamimu. Kamu harus berbakti.”

Cantika hanya mengangguk pasrah. Air matanya jatuh lagi. Ia merasa seolah-olah baru saja menyerahkan seluruh hidupnya ke tangan seorang asing yang sebenarnya tidak menginginkannya

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!