NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03 Harus Nikah!

Solo baru saja hujan di Kamis sore, membuat suasana di malam Jum’at terasa lebih syahdu. Angin malam terasa lebih menusuk.

Waktu hampir menunjukkan pukul 10 malam. Anak-anak biasanya sudah pergi ke peraduan. Para lansia sudah ke alam mimpi. 

Yang muda? Bisa masih bertebaran di muka bumi atau turut terdampar di pulau kapuk.

Warga sekitar Ndalem, tempat tinggal Santaka, di area Pondok Pesantren Al-Fatih, masih menjalankan ronda untuk menjaga keamanan lingkungan. Seperti saat ini, giliran ketiga bapak, kita sebut sesuai ciri fisiknya, Pak Kumis, Pak Jenggot dan Pak Jambang.

Udara dingin, ketiga bapak itu berbagi rokok di pos ronda. Karena hujan sedari sore, suasana sekitar Ndalem menjadi agak sepi.

Pak Jenggot menyalakan rokoknya, ia melihat mobil abu tua melintas. “Wih, Gus Taka baru pulang.”

“Lah, ndak masuk ke Ndalem. Mau ke mana tho Gus Taka?” Pak Jambang menimpali.

“Ayo, kita periksa. Wedi aku, khawatir ada apa-apa.” Giliran Pak Kumis bicara.

Ketiga bapak itu berjalan menuju mobil Santaka. “Oh, mau ke rumah Bakti.” Pak Jambang manggut-manggut.

“Eh, apa sampeyan denger suara wedok jerit? Tiba-tiba Pak Jenggot mendengar suara yang tidak-tidak.

“Moso iya dari mobil Gus Taka?” Pak Kumis mengerutkan dahi. Kedua bapak yang lain menggelengkan kepala.

“Mbak Dini!” Ketiga bapak itu bergegas menghampiri mobil Santaka, begitu suara yang terdengar makin mencurigakan.

Lampu senter bak lampu konser mereka sorotkan ke dalam kaca jendela samping pengemudi. Mereka semua melongo. Ucapan yang kompak keluar dari bibir mereka adalah “astagfirullahaladziim.”

Mereka terperangah, tak percaya dengan penglihatan mereka. Santaka, putra bungsu Kyai Mansur Muttaqien Al-Fatih, pimpinan pondok pesantren besar sedang memangku seorang perempuan di dalam mobil.

Sebentar, mata ketiga bapak memicing, bukankah itu Nandini, anak Surbakti. Benar-benar gila!

Tok tok tok 

“Gus, ngapunten silakan keluar dulu.” Pak Jenggot berinisiatif.

Tubuh Nandini gemetar. Ia tahu ini adalah hal tabu dalam lingkungan tempat tinggal mereka. Ia panik.

“Mbak Dini, ayo cepet jangan diem terus. Ini makin bikin orang salah pengertian.” 

Santaka berusaha menekan emosinya. Suaranya sudah hampir menggeram. Ia juga panik, tahu bahaya besar sedang menantinya.

Nandini terkesiap. Ia bangkit dari duduk dan bertumpu di lututnya, kemudian memindahkan tubuhnya ke jok samping. Santaka memejamkan mata.

Suara istigfar kembali terdengar dari mulut bapak-bapak. Mereka tercengang melihat penampilan Nandini yang begitu menggoda iman.

Santaka keluar dengan perlahan. Kakinya menjejak tanah. Bau amis tercium dari celananya, mobil, bahkan Nandini. 

Ketiga bapak melihat riasan wajah Nandini yang agak kacau. Tak memakai alas kaki. Sangat mengindikasikan sesuatu yang amis telah terjadi, seamis cairan telur.

“Bapak-bapak, saya bisa jelaskan apa yang sebenernya terjadi.”

“Maaf Gus, kami bukan penanggung jawab di sini. Ini tanggung jawab Ndalem, karena kita ada di area Ndalem.” Pak Jambang menunduk, merasa sungkan.

Santaka memejamkan mata. “Ndak ada apa-apa. Ini murni salah paham.”

“Saya permisi ke Ndalem dulu, lapor sama Gus Yasa.” Pak Jambang setengah berlari menuju ke arah Ndalem. Santaka menggelengkan kepala mendengar nama kakak tertuanya disebut.

“Mari Gus Taka, Mbak Dini, kita ke Ndalem,” ujar Pak Jenggot.

Nandini tak mampu menggerakkan tubuhnya. Kepalanya tertunduk. Terbayang muka Surbakti. Insiden ini pasti mencorengkan noda di wajah ayah tercintanya.

“Mbak Dini, ayo. Sampeyan yang paling bertanggung jawab menjelaskan semua ini.” Santaka menekan suaranya, padahal emosinya ada di ubun-ubun. Terlebih melihat Nandini yang bak orang bingung.

“Gus, kenapa jadi begini?” Santaka tak menjawab pertanyaan Nandini. Gadis itu turun dan berjalan ke arah Santaka melewati bagian depan mobil.

“Mbak, mbok sepatunya dipake. Masa ke Ndalem nyeker?” tutur Santaka.

“Maaf Gus, kaki saya lecet. Ndak biasa pake sepatu hak.”

Santaka menggelengkan kepala. “Sebentar, Pak.” Sang Gus apes berjalan menuju bagasi dan mengeluarkan sandal jepitnya.

“Ini Mbak, dipake.” Nandini mengucapkan terima kasih dengan suara mencicit.

Setelah mengunci mobilnya, Santaka berjalan lunglai ke arah Ndalem bersama Nandini dan kedua bapak. Ia sedang memperhitungkan kemungkinan terburuk yang akan dihadapinya. Santaka sudah bisa menduganya dan tak bisa berkata apa-apa. Tak terbayangkan.

Wajah pertama yang menyambut mereka adalah milik Abyasa Muttaqa Al-Fatih, 34 tahun, anak tertua dari Kyai Mansur Muttaqien Al-Fatih, 58 tahun. Biasa dipanggil Gus Yasa. Raut dingin tercetak di wajah aristokratnya.

Mata Abyasa membelalak melihat penampilan Nandini. Ia kontan menunduk. Ia semakin merasa emosi dan kecewa pada Santaka.

“Pak Aji, katanya orang tua gadis ini tinggal di area Ndalem?” Abyasa bertanya pada Pak Jambang yang ternyata bernama Aji itu.

“Inggih Gus,” Aji menjawab benar untuk pertanyaan Abyasa.

“Tulung panggil ke sini.” Abyasa menatap Santaka yang menunduk.

“Nyuwun pangapunten, Gus.” Aji pamit pada Abyasa dan langsung melesat untuk memanggil Surbakti.

“Monggo semua ke aula.” Abyasa berjalan mendahului seluruh orang.

Di ruangan aula, Mansur beserta istrinya, Lastri Darsani, 53 tahun, telah menanti. Mereka didampingi Danendra Muttaqa Al-Fatih atau Gus Nendra, putra kedua Mansur, 31 tahun.

Ada dua wanita anggun turut hadir. Sarah Azzahra, 28 tahun, istri Abyasa. Lalu Husna Aulia, 25 tahun, istri Danendra.

Ucapan istigfar kembali terdengar ketika rombongan datang, bahkan serentak. Penyebabnya sama, penampilan Nandini.

“Husna, tulung ambil mukena ya, Nduk,” perintah Lastri pada menantu keduanya.

“Inggih, Umi.” Dengan langkah cepat Husna ke kamarnya dan mengambil mukena. Ia langsung mengangsurkannya pada Nandini.

Nandini gegas memakai mukena dari Husna. Ia sudah terlalu muak mendengar reaksi orang-orang terhadap penampilannya. Ia tahu ia salah, tapi ia merasa direndahkan.

“Assalammu’alaikum Yai, Gus.” Nandini membeku mendengar suara di belakangnya. Bapak...

Surbakti terkesiap melihat Nandini dalam keadaan memakai mukena. Ada apa sebenarnya?

Mereka semua duduk bersila di aula pondok. Abyasa membuka rapat pada malam Jum’at itu. 

Rahang Surbakti mengetat mendengar ucapan Abyasa bahwa diduga ada tindakan senonoh antara Santaka dan putrinya. Itu sesuatu yang mustahil. Ia percaya pada Nandini.

Santaka merasa pelipisnya berdenyut. Abyasa sudah mengambil kesimpulan sebelum mendengar penjelasannya, walau diperhalus dengan ucapan dugaan. Tetap saja,  itu mendiskreditkan namanya.

Abyasa meminta ketiga bapak saksi memulai cerita awal. Santaka kecewa, harusnya versinya dahulu. 

“Ngapunten Gus Yasa, tolong beri waktu Taka terlebih dahulu menjelaskan.” Santaka tahu, terkadang urutan cerita mempengaruhi persepsi.

“Sama saja Gus Taka, panjenengan biar ada dalam posisi tabayyun, klarifikasi.” Santaka menggelengkan kepala. Tangannya terkepal.   

Ketiga bapak ronda yang menjadi saksi mulai menggulirkan cerita. Semua terperangah. Percaya tak percaya.

“Ada bau amis. Tercium jelas. Mbak Dini, teriak seperti... ya begitu. Gus Taka seperti... menggeram...” Aji yang memulai cerita.

“Kami lihat tangan Mbak Dini ada di dada Gus Taka. Tangan Gus Taka di pundak Mbak Dini.” Pak Jenggot menambahkan.

Kedua cerita tadi memberatkan Santaka dan Nandini. Pak Kumis menyertakan cerita kalau mata Santaka terpejam saat mereka datang. 

Keterangan yang ambigu, bisa memberatkan atau meringankan. Tergantung sudut pandang.

Nandini ingin berteriak, mengatakan bahwa semua ini adalah salah paham. Ia menggigit bibir. Ia takut salah langkah jika marah membabi buta kepada ketiga bapak saksi sok tahu itu.

Wajah Mansur begitu dingin. Lastri terdengar mengucapkan istigfar terus menerus. Ia menatap sendu putra bungsu kesayangannya.

Abyasa memasang wajah datar. Danendra justru memandang prihatin pada adiknya. 

Kedua Ning hanya tertunduk. Hanya saja Sarah sempat menatap wajah Nandini, tepatnya memindai dengan seksama.

Giliran Santaka dan Nandini yang bertabayyun, memberikan klarifikasi. Santaka bicara pertama. Ia menceritakan dari awal kronologis ia dan Nandini bisa satu mobil. 

Cerita tentang ketakutan Nandini pada kecoa. Penjelasan bau amis itu berasal dari telur yang pecah ditendang Nandini.

Santaka mempersilakan semua untuk melihat dan mencium noda yang ada di celananya. Sangat jelas itu telur. Bukan cairan biologis.

Masalah Santaka memegang pundak Nandini adalah cara menjauhkan tubuhnya dari tubuh gadis itu, yang terlalu rapat pada dirinya. Ia memejamkan mata adalah upayanya untuk menjaga pandangan.

Santaka juga menjelaskan jika ia bukan menggeram tapi menegur keras tindakan Nandini karena saat diingatkan dengan suara normal, tak diindahkan. 

Giliran Nandini. Ia menguraikan bahwa ia memiliki fobia terhadap kecoa karena trauma di masa kecil. Hampir memakan kecoa. Kepalanya sudah hampir tertelan.

Ketakutannya kadang menjadi berlebihan apalagi jika kecoanya tipe yang terbang dan menempel ke tubuh. Sepertinya hampir semua orang jijik pada kecoa, terutama kecoa terbang.

Surbakti membenarkan ucapan putrinya. Fobia itu terjadi sejak lama, kira-kira saat SD kelas 2.

“Taka, kenapa sampeyan harus mengajak Mbak Dini pulang satu mobil, tho Le?” Mansur menatap tajam namun suaranya masih lembut.

“Karna sudah malam, Abi. Bahaya buat perempuan seperti Mbak Dini. Taka takut  menyesal kalau terjadi apa-apa pada Mbak Dini.” Santaka menatap Mansur, kemudian kembali menunduk.

“Gus Taka, bukannya ada jalan tengah, misalnya dipesankan taksi online atau menelpon Pak Bakti? 

Biar beliau yang jemput. Tak perlu Gus Taka melanggar satu aturan agama, yakni menjaga batasan dengan yang bukan mahrom, demi menjalankan kebaikan menolong sesama.” Abyasa menatap Santaka tajam.

Santaka memejamkan mata. Kenapa ia tidak terpikir seperti itu? Ia benar-benar alpa.

Nandini menggigit bibir dengan keras. Menekan segala emosi yang ada dalam hati. 

Gadis itu menoleh ke arah Surbakti yang menatap sedih ke arahnya. Ia melempar senyum tipis kepada sang ayah, setelah itu kembali menunduk.

“Apa Gus Taka memiliki motivasi yang lain?” Abyasa masih mengintimidasi Santaka.

“Wallahi tidak Gus Yasa. Taka akui tindakan Taka kurang bijak, kurang berpikir panjang namun semua murni karna tepo sliro, empati pada tetangga.” Santaka menatap tegas Abyasa. Sang kakak memiringkan bibir.

“Gus Taka, panjenengan itu wis terlalu terbiasa mengutamakan pemikiran sendiri, misal lebih memilih jadi chef pastry daripada aktif di pondok. 

Bisa jadi tho sekarang pun hasil pemikiran panjenengan yang terbiasa lebih memikirkan kebaikan versi diri sendiri daripada kepantasan yang ada.” 

Rahang Santaka mengetat mendengar perkataan Abyasa yang sudah tak objektif lagi. Sudah ke mana-mana. “Ngapunten Gus Yasa, itu tidak relevan dengan masalah ini.”

Lastri menggelengkan kepala. Matanya terpejam sesaat. Ia prihatin putra bungsunya harus mendapat tekanan sebesar ini karena niat baik sebenarnya.

“Abi, Yasa pikir apa yang terjadi malam ini, perlu dipertanggungjawabkan lebih dari sekedar tabayyun. Ada dua alasan.

Pertama, Gus Taka sudah melupakan kewajiban untuk menjaga marwah dirinya sendiri. Kedua, kita harus menjunjung tinggi marwah pondok dan nilai agama.

Jika dibiarkan, hal ini akan menjadi preseden buruk bagi pondok dan akan menjadi tolak ukur jika terjadi hal serupa.

Orang-orang akan menjadikan ini sebagai dasar untuk memudah-mudahkan berduaan dengan lawan jenis bukan mahromnya.” Abyasa menatap Mansur kemudian menunduk takzim.

Abyasa menatap tajam pada Santaka, melanjutkan uraiannya. “Sebagai penanggung jawab bagian kemaslahatan di pondok, Yasa menyarankan agar Gus Taka harus menikah dengan Mbak Dini.”

Santaka memejamkan mata. Benar saja dugaannya. Inilah kemungkinan terburuk bentuk pertanggungjawaban yang akan ia pikul.

Nandini membelalakkan mata. Ia menggelengkan kepala. Netranya bersirobok dengan mata ayahnya yang berkaca-kaca.

1
Nanik Arifin
jangan jatuh hati ma Syifa, Boy. sama Fiona aj. Syifa muna. Ning tapi suka munafik, bungkusnya doang yg baik. 11, 12, ma Gus Ahsan. cocok deh.
Inna Kurnia: kita jodohin aja apa ya, Syifa ama Ahsan 🤔🤔😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Biasanya klo orang ngomongnya ceplas ceplos itu emang lebih baik daripada yg terlihat kalem diem tapi menghanyutkan...
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
Inna Kurnia: kita liat ya Kaaaak 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
ya Ampunnn jangan canda yg aneh² ya Boy, Ucapan sama dg Doa.. hati² dalam berucap gemblung 🙄🙄🙄
Inna Kurnia: hahaha
total 7 replies
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄 bahasane dikitik kitik bikin geliii membayangkannn 🤣🤣🤣🤣
Aisyah Virendra: kakak mau dikitik 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketik kata dikitik aja aku terkikikk geliii loh inii ngakakkk 🤣
total 2 replies
Nanik Arifin
kau tunggu jandanya Dini ya Boy....🤭🤭
Inna Kurnia: ada aja yaaa kelakuan orang ya, Kak 🤭
total 1 replies
Jaojatun Ma'rup
Maasyaallaah.. Gus Taka Super Duper Sabaar... semangaaat Gus💪💪💪
Inna Kurnia: iya, Kak Jaojatun. kan sabar nama tengah Gus Taka 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Taka dan Dini memang bener² harus waspada yaa sama sepasang sejoli resek itu (Ahsan n Syifa), mereka merencanakan sesuatu yg sedikit ehem tapiii smg ada salah 1 dari Ning Sarah atau Ning Husna juga menyadari kejanggalan dan berpihak pada Taka dan Dini 🫠
Aisyah Virendra: hhuuuh
total 2 replies
Nadia Zalfa
syafakillah kak
Inna Kurnia: aaamiin ya Allah, jazaakillahu khoyr Kak Nadia ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
Syafakillah waa fii amanillah kakak sayang.. semoga dunia nyata kita baik² aja dan ga ada problem apapun, sehat² selalu.. kutunggu up nyaa bolak balik, tapi yasudahlah.. kesehatan itu lebih utama, segera membaik kakak 🤝😇🥰
Aisyah Virendra: Aamiin Allahumma Aamiin 🤲🥰
total 3 replies
Aisyah Virendra
Diiiiihhhh...ngapain lagi si Ahsan beluuuttt datang kekamar orang, yg sakit juga Nandini bulan Santaka, anehhh bgt.. Ustadz gajeee 😂🤣 lelepinn neeeehhh 🫳
Inna Kurnia: 🤭😂😂🤭😂
total 5 replies
Aisyah Virendra
marah.. tertatih, pelaku eh merasa korban 😂🤣 Nandini gemblung 🤣🤣🤣 mlm itu Santaka menang berkali lipat banyak dan dini ya ampunnn pasti malu banget setelahnya 😂😂 ky nya ntar jadi kembar 4 ehh 🤣🤣🤣
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣 subuhhhh
total 5 replies
Aisyah Virendra
gaskuy lagiiii 🤣🤣🤣🤣
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
Inna Kurnia: hahaha, saa-bar 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Inna Kurnia: hissss 😂😂😂😂
total 4 replies
Aisyah Virendra
Nandini salah ambil jamu, jamunya Taka diminumnya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mengandung perangsang herbal ini mah, duh bisa² ntar langsung hamil baby twins 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: gasss 😂😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
ko sur ? harusnya mud kan yaa 🤔🤔🤔
Inna Kurnia: typo, wkwkwk
total 1 replies
Aisyah Virendra
minta traktir banyak² yaa Din, jangan lupaaa alu dikasih jugaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Nanik Arifin
Dini salah minum jamu ?
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭
Inna Kurnia: pantengin bab besok ya Kak Naniiik 😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Gus Agam... ini sepeeti sosok pria yg kalau mencintai bisa sedalam dan sesetia ituu.. tapi skrg kondisinya berbeda, jadi lelaki yg tak punya perinsip hidup dalam berkomitmen. sudah punya pasangan masing² masih juga tak tahu diri ko malah tahu bakso 😂🤣🤣
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🏻🙏🏻
total 13 replies
Aisyah Virendra
huhhhh akhirnya nongol juga..
Inna Kurnia: sip, insyaa Allah malem ❤️❤️😘
total 3 replies
Nanik Arifin
baby blues ini Ning Rini. harusnya Gus Agam berperan agar baby blues g berlanjut, kasihan bayinya
Inna Kurnia: betul bgt Kak Nanik, ning rini depresi abis lahiran ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!