Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakso bakar untuk pengantin baru
Beberapa menit kemudian, Elang kembali masuk dengan membawa plastik berisi beberapa tusuk bakso bakar dan mangkuk nasi. Aroma bakso yang hangat langsung memenuhi kamar kecil itu, membuat perut Arumi semakin berbunyi keras. Arumi cepat-cepat menekan perut dengan tangan, berharap bunyinya tidak terdengar olehnya.
"Ini, Arumi. Aku sudah hangatkan di kompor kecil. Maaf ya, cuma ini yang ada. Besok pagi kita belanja bareng ke pasar, ya?" katanya sambil meletakkan makanan di meja kecil yang sudah reyot.
Arumi mengangguk cepat, "Terima kasih banyak, Mas. Aku ... aku benar-benar malu. Harusnya aku tidak bikin Mas repot malam-malam begini."
Elang duduk di kursi seberang Arumi, matanya menatap Arumi dengan senyum yang tak pudar. "Repot apa? Kamu kan sekarang istriku. Kalau istri lapar, suami yang harusnya kasih makan. Lagian, aku juga senang kok bisa jagain kamu."
Kata-katanya itu seperti pukulan lembut di hati. Arumi merasa pipinya semakin memanas, sampai-sampai ia tak berani menatap mata Elang langsung.(" Istri ... Elang bilang istriku dengan begitu santai. Padahal kami baru nikah siri sore tadi di hadapan penghulu dan dua saksi. Aku masih belum terbiasa. Dan sekarang Elang mengatakan senang jagain aku ? Ya Tuhan, jantungku kok berdegup kencang sekali?") suara hati Arumi
Arumi mulai makan dengan pelan, nasi hangat dicampur bakso yang gurih itu terasa seperti surga di perut yang kosong. Tapi setiap suap, ia sadar Elang memperhatikannya. Ia tak makan, hanya duduk sambil menopang dagu dengan tangan, sesekali tersenyum kecil.
"Kenapa Mas lihat-lihat terus? Aku makanannya jelek ya?" tanya Arumi pelan, suara malu bercampur goda kecil yang tak sengaja keluar.
Elang tertawa pelan, "Bukan. Kamu lucu aja pas makan. Pipimu menggembung seperti tupai. Lagian, aku senang lihat kamu makan dengan lahap. Tadi katanya perut sakit, sekarang kayak orang yang baru nemu makanan enak setelah puasa setahun."
Arumi hampir tersedak karena malu. "Mas! Jangan goda terus dong. Aku kan sudah malu dari tadi. Kelaparan di malam pertama ... pasti Mas pikir aku aneh."
"Iya, aneh memang," Elang berkata sambil mengedipkan mata. "Tapi aneh yang menggemaskan. Siapa yang nyangka, gadis yang kabur dari rumah dan menarik penjual bakso bakar untuk menjadi suaminya karena nggak mau dijodohkan sama orang kaya itu, ternyata manis banget pas lagi lapar."
Arumi menutup mulut dengan tangan, tertawa kecil meski pipinya terasa seperti terbakar. "Mas Elang jahat! Aku cerita soal Aku yang mau jodohin aku sama Pak Dirga itu karena utang, malah dipakai buat goda aku sekarang."
Elang menggeleng sambil masih tersenyum, "Bukan jahat, cuma senang aja lihat kamu rileks. Tadi pas di depan pintu, wajahmu pucat banget. Aku takut beneran kamu sakit parah. Ternyata cuma kelaparan. Untung aku ada stok bakso."
Mereka terus mengobrol sambil Arumi menghabiskan makanan. Elang bercerita sedikit tentang hari-harinya berjualan bakso bakar, bagaimana ia berdagang dan bagaimana ia setuju menikahi Arumi karena melihat Arumi yang putus asa .
Setiap kali Elang bercerita, ada godaan kecil yang menyelinap.
Beberapa suap lagi, mangkuk nasi di depan Arumi sudah hampir kosong. ia menyeka bibir dengan punggung tangan, merasa perut yang tadinya keroncongan sekarang hangat dan penuh. Elang masih duduk di depannya matanya tak lepas dari wajah Arumi. Kali ini tatapannya lebih lembut, bukan lagi godaan nakal seperti tadi.
Arumi menarik napas pelan, lalu meletakkan sendok. “Mas … kita baru saja menikah sore tadi. Aku bahkan belum tahu banyak tentang Mas. Nama lengkap Mas siapa? Umur berapa? Keluarga Mas gimana? Aku … aku merasa seperti kita ini seperti orang yang baru berkenalan pertama kali, padahal sudah sah jadi suami istri.”
Elang tersenyum kecil, mengangguk pelan. Ia menggeser kursi reyotnya sedikit lebih dekat ke meja. “Kamu benar, Arumi. Kita memang baru kenal sebentar. Aku juga belum tahu banyak tentang kamu selain yang kamu ceritakan waktu di taman itu. Jadi, mari kita mulai dari awal, seperti orang berkenalan biasa. Namaku Elang Dirgantara. Putra tunggal dari Bapak Surya Dirgantara dan Ibu Ratih.Aku sekarang 28 tahun. Kerjaannya cuma jualan bakso bakar keliling, dari sore sampai malam,Rumah ini cuma kontrakan Nggak mewah, tapi cukup buat satu orang. Sekarang buat dua orang.”
Arumi mendengarkan dengan saksama, jantungnya masih berdegup pelan. Suaranya tenang, Arumi mengulurkan tangan pelan, menyentuh punggung tangannya sebentar. “Maaf ya, Mas … aku sudah merepotkan kamu ."
Elang menggeleng, senyumnya kembali muncul. “Aku tidak merasa direpotkan Sekarang giliran kamu. Cerita tentang Arumi.”
Arumi menunduk sebentar, memainkan ujung kain baju tidur yang ia pinjam dari elang tadi. “Namaku Arumi putri Wijaya. Putri tunggal dari Bapak Rahmad Wijaya dan almarhum Ratna dulu orang tuaku merupakan pengusaha tekstil di kawasan industri Bekasi. Umurku 22 tahun.
Ayah ingin menjodohkan aku dengan Pak Dirga rentenir botak yang sudah berumur 68 tahun. Katanya demi melunasi utang keluarga . Aku nggak mau makanya menolaknya ,Dan Saat Aku menengkan diri ditaman aku ketemu Mas. Aku sengaja meminta mas menikahiku agar aku terhindar dari perjodohan itu .
Elang tertawa pelan, menggaruk tengkuknya. “Waktu itu aku juga kaget ,lihat wanita cantik tiba tiba mengajak aku nikah ,tapi mungkin kita memang berjodoh ,jadi tidak ada salahnya kita saling mulai belajar menerima "
Elang dan Arumi saling diam sebentar, hanya suara jam dinding kecil di dinding yang berdetak pelan. Arumi mengangkat wajah, menatap mata elang langsung untuk pertama kalinya malam itu tanpa malu yang berlebihan.
“Mas Elang … aku tahu pernikahan ini dadakan. Kita nggak saling cinta dulu. Tapi aku janji, aku akan berusaha jadi istri yang baik. Aku nggak manja, aku bisa masak, cuci, beresin rumah. Aku mau belajar bantu jualan Mas juga, biar nggak cuma makan doang. Kita sama-sama bangun rumah tangga ini dari nol, ya? Meski cuma kontrakan kecil, aku mau kita jaga kebersamaan kita.”
Elang mengangguk pelan, tangannya kini genggam tanganku di atas meja. Telapak tangannya kasar karena kerja keras setiap hari, tapi hangat. “Aku juga janji, Arumi. Aku nggak kaya seperti calon suami yang Ayahmu siapkan. Aku cuma punya tangan ini, dagangan bakso, dan hati yang mau berusaha. Mulai besok, akan bersama dan kita akan cerita hari masing-masing. Kalau ada masalah, kita bicara baik-baik, nggak ada yang disembunyikan. Aku mau kita saling percaya, saling jaga. Meski pernikahan siri ini belum dicatat negara, di mata Tuhan dan hati kita, kita sudah suami istri dan aku akan melegalkan pernikahan kita ,karena aku mau kita menikah sekali seumur hidup."
Mata Arumi berkaca - kaca ia bisa melihat kesungguhan Dimata Elang ,tidak ada kebohongan .