Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 35
Ruangan itu selama ini selalu terasa seperti tempat paling aman. Sekarang justru terasa paling mencurigakan. Ella mendorong pintunya pelan. Tidak dikunci.
Lampu dalam keadaan mati, hanya cahaya dari luar yang masuk samar. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu langsung menuju meja kerja ayahnya. Tangannya bergerak cepat, membuka laci demi laci, kertas, dokumen lama, map kosong. Tidak ada yang mencurigakan. Atau terlalu rapi.
Ella mengernyit. Ayahnya bukan tipe yang serapi ini. Ia berhenti. Menarik napas. Lalu mengingat sesuatu hari pertama penggeledahan. Cara polisi itu terus bertanya. Cara Bu Vero memperhatikan setiap sudut ruangan. Seolah ia tahu apa yang harus dicari.
Ella menoleh perlahan ke arah rak buku di sudut ruangan. Rak itu terlihat biasa, tapi ada satu bagian yang terasa… berbeda. Ia mendekat, menyentuh punggung buku-buku itu satu per satu.
Sampai, klik. Sebuah bunyi kecil. Rak itu sedikit bergeser. Jantung Ella langsung berdetak lebih cepat. Ia mendorongnya perlahan, dan sebuah celah kecil terbuka, cukup untuk memperlihatkan ruang tersembunyi di baliknya.
“Jadi… kamu akhirnya nemuin.” Suara itu datang dari belakang. Tenang. Terlalu tenang. Ella membeku. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Bu Vero.
Perlahan, Ella membalikkan tubuhnya. Bu Vero berdiri di dekat pintu, bersandar santai seolah ia sudah lama ada di sana. Wajahnya tidak marah. Tidak panik. Justru seperti seseorang yang menunggu.
“Kamu masuk ke sini tanpa izin,” katanya pelan.
Ella menelan ludah, tapi tidak mundur. “Ini ruang kerja ayahku.”
“Dulu,” balas Bu Vero singkat.
Beberapa detik yang terasa lebih berat dari sebelumnya. “Sejak kapan kamu tahu?” tanya Ella akhirnya.
Bu Vero tersenyum tipis. “Sejak kamu mulai terlalu sering berpikir.” Jawaban itu tidak menjawab. Tapi cukup.
Ella melirik sekilas ke arah celah di balik rak.
Bu Vero mengikuti arah pandangannya. “Silakan,” katanya ringan. “Kamu sudah sampai sejauh ini.” Nada itu tidak mengancam. Tapi justru itu yang membuatnya berbahaya.
Ella ragu sejenak, lalu berbalik kembali ke rak, membuka celah itu lebih lebar. Di dalamnya bukan sekadar ruang kosong melainkan panel kecil dengan beberapa slot… dan simbol. Simbol yang sama. Yang ia lihat di data sepatu kaca. Tangannya gemetar sedikit saat menyentuhnya. Ini bukan kebetulan. Ini bagian dari sistem.
“Sekarang kamu mengerti,” suara Bu Vero terdengar lagi, lebih dekat.
Ella menoleh cepat.
Bu Vero sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Pernikahan itu…” kata Ella pelan, mencoba menyusun kata-katanya, “…bukan kebetulan, ya?”
Bu Vero tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Ella, lama. Lalu berkata, “Tidak ada yang kebetulan di dunia yang kamu masuki sekarang.”
Ella menatapnya, mencoba membaca lebih jauh. “Kamu dikirim?” tanyanya langsung.
Untuk pertama kalinya Bu Vero tidak langsung tersenyum. Ada jeda kecil. Sangat kecil. Tapi cukup untuk menunjukkan pertanyaan itu tepat. “Aku ditempatkan,” jawabnya akhirnya. Bukan menyangkal. Bukan juga mengakui sepenuhnya.
“Untuk apa?” tanya Ella, suaranya sedikit lebih tajam sekarang.
Bu Vero melirik ke arah panel tersembunyi itu. Lalu kembali ke Ella. “Untuk memastikan sesuatu tetap di tempatnya,” katanya pelan.
“Dan sekarang?” desak Ella.
Bu Vero tersenyum tipis lagi. “Tergantung kamu.”
Kalimat itu terasa seperti peringatan. Atau tawaran. Atau keduanya. Ella menggenggam tangannya pelan, mencoba menahan emosi yang mulai naik. “Kamu tahu semuanya dari awal,” katanya.
“Tidak semuanya,” jawab Bu Vero. “Cukup untuk tidak kaget.” Lebih dalam dari sebelumnya.
“Kamu musuhku?” tanya Ella akhirnya. Pertanyaan paling jujur sejauh ini.
Bu Vero menatapnya lama. Lalu berkata, “Kalau aku mau jadi musuhmu… kamu tidak akan berdiri di sini sekarang.”
Kalimat itu dingin. Tapi jujur. Dan justru itu yang membuatnya semakin sulit dipercaya. Ella tidak menjawab lagi. Karena untuk pertama kalinya ia sadar satu hal yang jauh lebih berbahaya dari semua ini: Bu Vero bukan sekadar bagian dari permainan. Dia adalah penjaga. Dan mungkin pemain yang sudah jauh lebih dulu mengerti aturan permainan ini.
Hening yang tersisa setelah pengakuan itu tidak memberi ruang untuk merasa aman, justru sebaliknya, ia membuka lapisan baru yang lebih dalam dan lebih berbahaya. Ella masih berdiri di depan panel tersembunyi itu, matanya berpindah antara simbol-simbol yang dikenalnya dan sosok Bu Vero di belakangnya yang kini terasa seperti bagian dari teka-teki yang selama ini ia cari.
“Kalau kamu penjaga,” kata Ella pelan, akhirnya memecah diam, “berarti kamu tahu cara membukanya.”
Bu Vero tidak langsung menjawab. Ia melangkah lebih dekat, cukup untuk berdiri sejajar dengan Ella, lalu menatap panel itu dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya bisa dibaca, bukan kagum, bukan takut lebih seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihatnya. “Aku tahu cukup,” jawabnya.
“Cukup untuk apa?” tanya Ella.
“Untuk memastikan orang yang salah tidak membukanya,” balas Bu Vero.
Jawaban itu membuat Ella mengerutkan kening. “Dan aku?”
Bu Vero menoleh perlahan, menatapnya lurus. “Itu yang sedang aku nilai.”
Kalimat itu terasa seperti garis tipis antara hidup dan hancur.
Ella menghela napas pelan, lalu tanpa benar-benar meminta izin, ia mengeluarkan miniatur sepatu kaca dari saku bajunya. Benda kecil itu berkilau di bawah cahaya redup, tampak sederhana tapi kini terasa seperti sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.
Tatapan Bu Vero langsung berubah. Sangat halus. Tapi tidak bisa disembunyikan. “Jadi benar,” gumamnya pelan.
Ella memperhatikan reaksi itu. “Kamu tahu tentang ini.”
“Lebih dari yang kamu kira,” jawab Bu Vero.
“Dan kamu diam saja selama ini?” nada Ella mulai naik sedikit.
Bu Vero tidak tersinggung. Ia justru terlihat lebih serius sekarang. “Karena kamu belum siap,” katanya.
“Dan sekarang aku siap?” tantang Ella.
Bu Vero tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk sedikit ke arah panel. “Coba.”
Satu kata. Tapi penuh arti. Jantung Ella kembali berdetak lebih cepat. Ia menoleh ke panel itu, memperhatikan slot yang bentuknya hampir identik dengan sepatu kecil yang ia pegang. Tangannya sedikit gemetar saat mendekatkan benda itu. “Kalau ini jebakan?” bisiknya.
Bu Vero menjawab tanpa ragu. “Semua di dunia ini jebakan. Tinggal kamu cukup pintar atau tidak untuk keluar.”
Ella menatapnya sebentar, lalu kembali ke panel. Dan akhirnya ia memasukkan sepatu kaca itu ke dalam slot. Klik. Suara mekanik kecil terdengar. Panel itu menyala samar, simbol-simbol mulai bergerak, berubah, seolah hidup.
Ella menahan napas. Data. Kode. Lapisan demi lapisan muncul di permukaan kecil itu. Tapi tidak lengkap. Tidak stabil. Seolah sesuatu masih kurang. Layar itu berkedip, lalu berhenti.
Ella mundur setengah langkah. “Ini… nggak penuh.”
“Tentu saja tidak,” kata Bu Vero tenang.