"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
♦♦
"Gimana keadaannya?" tanya Galvin, begitu dia tiba di depan pintu kamar rumah sakit, di mana Ezar dirawat.
"Dokter barusan bilang kalau dia masih ga sadar," jawab Fardan, yang sejak awal membawa Ezar ke rumah sakit itu bersama teman-temannya yang lain.
Dafa yang semula duduk di kursi tunggu, kini bangkit dan membiarkan Galvin duduk di sana, berbicara bersama Fardan.
Fardan adalah salah satu sahabat Galvin, tetapi mereka berbeda sekolah. Di antara sahabat Galvin, hanya Dafa yang satu sekolah dengannya.
"Siapa yang ngelakuin?" Galvin kembali bertanya.
"Kita ga tau. Pas kita sampe sana, Ezar udah dikerumunin warga yang melintas di jalan itu." Kali ini yang menjawab bukanlah Fardan, melainkan Dafa.
"Kita mau nyelidikin siapa pelakunya. Barusan gue udah suruh anak-anak buat ke TKP, siapa tau mereka dapet bukti." Fardan melanjutkan.
Yang berada di rumah sakit saat ini, hanyalah Fardan dan Dafa, sementara sahabat dan teman-temannya yang lain diperintahkan oleh Fardan untuk tetap di TKP.
"Di mana kejadiannya?" tanya Galvin kembali.
"Jalan anggrek. Kayanya dia baru pulang kerja dari perpustakaan lo," jawab Dafa.
Mereka sudah tahu jika Ezar bekerja part time di perpustakaan Galvin.
Perpustakaan itu berada tidak jauh dari jalan di mana Ezar tiba-tiba diserang oleh sekelompok orang.
"Sialan! Tadi juga gue ke sana." Galvin menyesali itu.
Andaikan dia bertemu dengan Ezar, kemungkinan besar kondisi Ezar tidak akan seperti ini.
Saat dia menjemput Khaira di perpustakaan, keadaan perpustakaan sudah sangat sepi, yang tersisa hanyalah kepala perpustakaan yang bertugas.
Dia tidak bertemu dengan karyawan lain di perpustakaan itu, termasuk Ezar. Hal itu dikarenakan jam kerja sudah selesai, sehingga para karyawan sudah pulang.
"Lo ga ketemu dia?" tanya Dafa.
Galvin menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Gue ke sana pas karyawan udah pada pulang." Dia menjelaskan.
Dia tidak bisa hanya berdiam diri seperti itu. Dia harus melakukan sesuatu.
"Eh, mau ke mana lo?" tanya Dafa, saat Galvin tiba-tiba bangkit dari kursi tunggu itu.
"TKP." Galvin menjawab, sambil berlalu pergi dari sana.
"Gue ikut," sahut Dafa tiba-tiba.
"Kalian tunggu di sini. Kabarin kalau dia udah siuman," perintahnya kepada Dafa dan Fardan.
"Oke. Kalau gitu, lo hati-hati." Dafa mengatakan itu sebelum Galvin benar-benar menghilang dari pandangan mereka.
"Non Khaira, belum tidur?" tanya Bi Narti, begitu melihat Khaira yang saat ini berada di dapur.
Khaira menggeleng pelan, sambil tersenyum kecil di balik cadar. "Belum, Bi. Aku tiba-tiba haus dan ini mau ambil air," jawabnya, sambil menunjukkan sebuah gelas putih yang dia bawa dari kamarnya.
"Padahal bisa panggil bibi aja, Non. Non Khaira ga perlu turun ke dapur," ucap Bi Narti, yang merasa tidak enak hati, karena Khaira sampai harus turun ke dapur untuk mengambil minum.
"Ga papa, Bi. Lagi pula ini sudah malam. Sudah waktunya bibi istirahat," ucap Khaira dengan tenang.
Selama ini Khaira sudah terbiasa untuk mengerjakan hal-hal seperti itu sendirian. Sejak kecil, dia sudah dididik oleh almarhumah ibunya untuk hidup mandiri, tidak bergantung kepada orang lain.
Kebiasaan itu masih terbawa sampai sekarang. Sehingga dia merasa lebih nyaman melakukan apa pun sendirian, selagi dia mampu untuk melakukannya.
"Bibi jadi merasa tidak enak, Non. Bibi merasa kalau bibi tidak bekerja dengan baik," ucap Bi Narti, sambil melihat Khaira dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Khaira langsung menggeleng pelan. "Jangan merasa seperti itu, Bi. Walaupun aku baru mengenal bibi beberapa hari ini, tapi aku yakin, kalau selama ini bibi bekerja dengan baik," ucapnya, mencoba menghilangkan rasa bersalah yang Bi Narti rasakan.
Bi Narti langsung mengangguk, sambil tersenyum lega. "Makasih, Non. Non Khaira baik sekali."
"Bibi jauh lebih baik," sahut Khaira.
Bi Narti tersenyum sekaligus tertawa pelan melihat tingkah nyonya mudanya itu yang pandai membuat orang-orang di sekitarnya merasa senang dan nyaman.
"Mau cemilan juga, Non? Biar bibi siapkan," tawar Bi Narti.
Bi Narti masih berusaha menawarkan sesuatu, setidaknya sampai dia merasakan ada hal yang bisa dia lakukan untuk nyonya mudanya itu.
Khaira yang merasa tidak enak jika terus menolak niat baik Bi Narti, membuat Khaira berpikir untuk menerima tawaran itu kali ini.
"Kalau Bibi tidak keberatan, Khaira mau buah-buahan kering. Apa boleh, Bi?" tanyanya, dengan sopan.
Bi Narti langsung tersenyum bahagia, karena Khaira mau meminta tolong sesuatu padanya. "Tentu saja boleh, Non. Biar bibi siapin, ya," ucapnya dengan semangat.
Khaira mengangguk pelan. "Makasih, Bi."
Dia melihat aktivitas Bi Narti yang sedang mempersiapkan cemilan buah kering untuknya.
Dalam diamnya itu, tanpa sengaja dia teringat kembali kepada almarhumah ibunya, yang sepertinya seusia dengan Bi Narti.
'Semoga Allah selalu menempatkan ibu di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin...,' batin Khaira.
"Ini, Non. Cemilan buah keringnya," ucap Bi Narti, sambil menyerahkan cemilan itu yang sudah dia simpan rapih di atas mangkuk bening.
"Non," sahut Bi Narti, karena Khaira hanya diam dengan tatapannya yang kosong.
"Non, Khaira tidak papa?" tanya Bi Narti kembali. Dia mulai khawatir, karena Khaira hanya diam saja.
"I-iya, Bi? Maaf aku tidak dengar. Barusan Bibi bilang apa?" tanya Khaira, setelah kembali tersadar dari lamunannya.
"Ini cemilan buah keringnya sudah siap, Non." Bi Narti kembali menyerahkan semangkuk buah kering itu yang sudah diletakkan di atas nampan bulat kecil.
"Makasih, Bi." Khaira langsung meraihnya.
"Apa ada lagi yang perlu bibi bantu?" tawar Bi Narti.
Khaira menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak, Bi. Sudah cukup," jawabnya.
Bi Narti langsung mengangguk paham.
"Kalau begitu, bibi permisi, ya." Bi Narti pamit untuk meninggalkan dapur.
"Bi," sahut Asya, menghentikan Bi Narti yang baru saja membalikkan badan.
"Iya, Non?" tanya Bi Narti, kembali menghadap lurus ke arah Khaira.
"Aku boleh tanya sesuatu sama bibi?" tanya Khaira dengan ragu.
"Tentu boleh, Non. Mau tanya apa?" tanya Bi Narti, penasaran.
Khaira berpikir sejak. Haruskah dia menanyakan hal itu?
"Em, tadi Galvin pamit ke luar, katanya sebentar," ucapnya dengan ragu.
"Non Khaira khawatir?" tanya Bi Narti.
Dia langsung paham ke mana arah tujuan Khaira, sebelum Khaira mengatakan seluruhnya.
Khaira tidak menjawab. Dia bingung harus menjawab seperti apa.
Bi Narti tersenyum samar. "Tenang aja, Non. Den Galvin pasti baik-baik saja," ucapnya, mencoba menenangkan dan menghilangkan rasa khawatir yang Khaira rasakan.
Bi Narti tentu saja paham bagaimana perasaan nyonya mudanya itu. Khaira baru tinggal di sana dan pastinya belum terbiasa bahkan belum tahu bagaimana kebiasaan Galvin sehari-hari.
Berbeda dengannya yang sudah lama tinggal di rumah itu dan sudah tahu aktivitas tentang tuan mudanya.
"Den Galvin sudah biasa keluar di malam hari. Jadi Non Khaira tidak perlu khawatir," sambungnya kembali, memberikan penjelasan lebih, supaya Khaira benar-benar merasa tenang.
"Biasa? Artinya ini bukan pertama kali Galvin keluar malam?" tanya Khaira, yang tiba-tiba difokuskan oleh satu kata di awal kalimat.
Bi Narti langsung mengangguk, sebagai respon atas pertanyaan Khaira. "Hampir tiap hari Den Galvin keluar malam," sambungnya kembali.
"Apa Bibi tau, Galvin selalu pulang jam berapa?" tanya Khaira, menjadi lebih penasaran dari sebelumnya.
"Biasanya tengah malam atau dini hari," jawab Bi Narti dan langsung membuat Khaira mengangguk paham.
"Memangnya kenapa, Non?"
Khaira menggeleng pelan. "Tidak, Bi. Aku hanya ingin tau saja."
"Baiklah kalau begitu," sahut Bi Narti sambil mengangguk sekaligus tersenyum.
"Sekali lagi, makasih, Bi," ucap Khaira, kembali berterimakasih.
Dia mengatakan itu sambil tersenyum, hingga Bi Narti bisa melihat senyuman itu di garis matanya, tepat di atas cadar yang dia kenakan.
"Sama-sama, Non. Apa ada yang mau Non tanya lagi?" tanya Bi Narti, benar-benar ingin memastikan, sebelum dia pergi.
Khaira kembali menggelengkan kepalanya
"Sudah cukup, Bi. Lebih baik Bibi segera istirahat," jawab Khaira.
"Baik, Non. Kalau begitu bibi permisi."
"Silahkan, Bi."
Khaira mempersilahkan Bi Narti untuk meninggalkan dapur lebih dulu, karena dia belum sempat mengambil air minum, padahal itu adalah tujuan awalnya di ke dapur.
Di samping Khaira yang sedang mengkhawatirkan Galvin, Galvin baru saja tiba di TKP, lebih tepatnya di jalan Anggrek.
Begitu tiba di tempat itu, Galvin langsung bertemu dengan tiga sahabatnya yang lain, yaitu Daris, Faiz, dan Izzan.
"Gimana?" tanyanya, kepada mereka.
"Kita ga nemu apa-apa," jawab Daris, sambil menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Di sini?" tanya Galvin, sambil menunjuk ke atas aspal yang menyisakan bekas keributan.
"Iya, Gal. Mereka nyerang Ezar di sini," jawab Izzan.
"Ikut gue ke kantor pengawasan," pinta Galvin, kepada ketiga sahabatnya.
Kemudian dengan cepat, dia menaiki motornya untuk mendatangi kantor pengawasan.
"Buat apa ke sana?" tanya Daris, bingung.
"Ck! Otak lo delay banget. Buat cek CCTV-nya lah." Faiz selalu dibuat kesal oleh salah satu sahabatnya itu.
"Oh, iya." Sementara Daris hanya tertawa pelan, sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Iya-iya aja, lo! Cepetan kita susul mereka," sentak Faiz.
Galvin dan Izzan sudah melesatkan motor mereka lebih dulu, sementara mereka berdua malah berdebat seperti itu.
"Ya, ayo!" Daris langsung menaiki motor besarnya, begitu juga dengan Faiz.
Mereka berdua langsung menyusul Galvin dan Izzan ke kantor pengawasan yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana.
"Kami tidak bisa menunjukkan rekaman ini sembarangan," ucap kepala pengawas yang tengah bertugas di kantor pengawasan itu.
Dia tidak memberikan akses kepada Galvin dan rekan-rekannya untuk melihat CCTV itu.
Namun hal itu tidak membuat Galvin langsung pergi dari kantor. Mau bagaimanapun, mereka harus mendapatkan rekaman CCTV itu, supaya Ezar mendapat keadilan.
"Anda pasti tau, beberapa jam yang lalu terjadi pengeroyokan. Korban dari pengeroyokan itu adalah teman kami. Kami meminta kepada Anda untuk memperlihatkan rekaman itu, supaya kami tau siapa pelakunya."
Galvin mengatakan itu dengan serius. Dia memang benar-benar membutuhkan rekaman itu saat ini juga.
"Namun pihak—" ucap kepala pengawas, tidak tuntas.
"Apakah Anda ingin kami laporkan karena sudah menyembunyikan dan membiarkan aksi kejahatannya?" tanya Galvin, memotong ucapan kepala pengawas sebelumnya.
Galvin tahu tentang hukum yang berlaku, dan kepala pengawas juga mengakui kemampuan Galvin dalam hal itu.
"Baik, saya akan perlihatkan rekamannya," ucap kepala pengawas.
"Dari tadi, Kek. Susah amat, sampai harus muter-muter dulu," cibir Daris, yang sejak tadi hanya menjadi pengamat, selama Galvin melakukan negosiasi dengan kepala pengawas itu.
"Ngabisin waktu aja," cibir Daris kembali.
"Jangan berisik!" Faiz memukul tengkuk Daris, karena Daris mengganggu fokus mereka, padahal mereka hanya ingin melihat rekaman CCTV itu.
Daris tidak menjawab dan dia langsung diam.
Seluruh mata mereka kembali fokus kepada layar komputer. Mereka mencari rekaman CCTV kisaran waktu Ezar mengalami kejadian itu.
"Sialan! Ternyata mereka lagi. Dasar biang onar! Ga punya kerjaan lain selain nyusahin orang!"
Daris langsung mengumpat, begitu rekaman yang memperlihatkan sekelompok orang menggunakan jaket dan motor yang sangat mereka kenal.
"Ga kapok apa, bikin onar sama kita?" emosi Faiz.
Dia dan Daris tidak bisa menahan amarah mereka, sehingga mereka langsung mengumpat seperti itu.
Berbeda dengan Galvin dan Izzan yang masih fokus melihat rekaman CCTV itu sampai tuntas.
Derztt... Derztt... Derztt...
Getaran ponsel tiba-tiba Galvin rasakan di saku jaketnya. Dia meletakkan ponsel itu di bagian dalam saku jaketnya.
Galvin langsung meraih ponselnya kemudian memeriksa panggilan itu.
"Stop dulu pemutarannya," perintah Galvin, hingga rekaman CCTV ini mendadak terjeda.
"Siapa?" tanya Izzan.
"Fardan!" jawab Galvin, begitu melihat kontak nama di layar panggilannya.
Dia menjawab pertanyaan Izzan, sekaligus menerima panggilan Fardan.
"Kenapa?" tanya Galvin, begitu panggilan mereka terhubung.
"Ezar udah siuman. Kalian buruan balik ke sini," jawab Fardan, dari seberang sana.
"Alhamdulillah." Galvin refleks berucap syukur.
"Alhamdulillah," timpal Daris, ikut berucap syukur.
"Eh, alhamdulillah kenapa?" tanyanya, yang dia sendiri tidak tahu bersyukur karena apa. Dia hanya mengikuti ucapan Galvin saja.
"Ezar udah siuman." Galvin memberi tahu.
"Alhamdulillah." Daris kembali berucap syukur.
"Barusan lo udah ngucapin itu." Faiz protes, sambil memukul belakang kepala Daris dengan pelan.
"Tau! Gue sengaja ngucapin lagi, supaya pahalanya double." Daris mengatakan itu tanpa beban.
"Kita balik sekarang," ajak Galvin kepada Fardan.
Kemudian dia langsung memutuskan panggilan itu, tanpa menunggu respon dari seberang panggilan.
"Tolong kirim rekaman ini," pinta Galvin kepada kepala pengawas.
"Baik. Saya kirimkan sekarang."
Kepala pengawas langsung menyetujui hal itu tanpa banyak perdebatan seperti sebelumnya.
Dia tahu, walaupun awalnya enggan memberikan, tetapi akhirnya sudah jelas jika Galvin akan tetap mendapatkan rekaman itu, meski dia sudah berusaha untuk tidak memberikan rekamannya.
Hingga akhirnya rekaman CCTV itu benar-benar berhasil mereka dapatnya.
"Makasih atas kerja samanya!"
Galvin mengulurkan salah satu tangannya kepada kepala pengawas itu, dan kepala pengawas langsung meraih uluran tangannya itu. Jabat tangan itu berlangsung singkat.
Setelah itu, mereka langsung keluar dari kantor keamanan, begitu tujuan itu sudah mereka dapatkan.
"Keren banget lo bisa negosiasi sama kepala pengawas," ucap Faiz, sambil menggeleng kepalanya, karena tidak paham lagi dengan kemampuan yang Galvin miliki.
"Asli! Dia yang negosiasi, gue yang merasa keren," sambung Daris, ikut merasa bangga dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Galvin tidak menanggapi hal itu. Dia terus melangkah ke arah di mana motornya diparkirkan.
"Lewat jalan pintas," ucapnya kepada Izzan, yang sejak tadi berjalan beriringan dengannya.
"Siap." Izzan langsung setuju, tanpa menanyakan alasannya, karena dia sudah tahu akan hal itu.
Empat motor besar itu melesat sempurna melewati gerbang besi, meninggalkan halaman kantor pengawasan.