Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpilih
Pramudya Corp.
Xavero menatap bangunan pencakar langit yang menjulang tinggi di hadapannya. Pantulan cahaya dari kaca gedung itu terasa menyilaukan, seolah menunjukkan betapa besar dunia yang sedang ia hadapi.
Dalam diam, ia menarik napas panjang.
Ia berharap, ini adalah langkah pertamanya untuk bangkit dari keterpurukan.
Xavero turun dari motornya, lalu melangkah masuk ke dalam perusahaan dengan raut wajah yang berusaha tetap tenang, meski ada kegelisahan yang tersimpan di dalamnya.
Suasana lobi terlihat mewah dan ramai, dipenuhi para karyawan yang berlalu-lalang dengan pakaian rapi dan profesional.
Xavero berjalan menuju meja resepsionis.
“Ada yang bisa saya bantu?” ucap resepsionis dengan ramah.
“Saya ingin bertemu dengan Tuan Nathan,” balas Xavero dengan sopan.
Resepsionis terdiam sejenak, lalu menatap penampilan Xavero dari atas ke bawah.
“Anda sudah membuat janji sebelumnya?” tanyanya dengan nada profesional, meski sorot matanya masih menyimpan sedikit keraguan.
Xavero mengangguk pelan.
“Iya. Saya diminta datang pukul sembilan.”
Resepsionis itu kembali menatap layar komputernya, jemarinya bergerak cepat mengetik sesuatu.
Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah.
“Xavero… Ravindra?” ulangnya memastikan.
“Iya,” jawab Xavero singkat.
Resepsionis itu langsung berdiri sedikit lebih tegak.
“Baik, Pak. Anda sudah terdaftar.”
Nada bicaranya kini jauh lebih sopan dibanding sebelumnya.
“Silakan tunggu sebentar, saya akan menghubungi pihak terkait.”
Xavero mengangguk, lalu berdiri di samping dengan tenang.
Beberapa saat kemudian, seorang pria dengan setelan rapi berjalan mendekat. Tatapannya tajam dan langkahnya terukur.
“Xavero?” ucapnya singkat.
Xavero menoleh. “Iya.”
“Saya Adit, asisten Tuan Nathan. Silakan ikut saya.”
Tanpa banyak basa-basi, Adit berbalik dan mulai berjalan.
Xavero mengikutinya dari belakang.
Mereka melewati lorong panjang dengan dinding kaca dan ruangan-ruangan kerja yang sibuk. Suasana di dalam perusahaan itu terasa berbeda— lebih cepat, lebih tajam, dan penuh tekanan.
Lift terbuka.
Adit masuk lebih dulu, diikuti Xavero.
“Lantai atas,” ucap Adit singkat sambil menekan tombol.
Pintu lift tertutup.
Hening.
Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.
Adit melirik Xavero sekilas.
“Anda datang tepat waktu,” ucapnya datar.
Xavero hanya mengangguk. “Saya tidak ingin membuat Tuan Nathan menunggu.”
Adit mengangguk kecil, seolah mencatat sesuatu dalam pikirannya.
Ding.
Pintu lift terbuka.
Mereka melangkah keluar ke lantai paling atas, area yang jauh lebih tenang, tapi terasa jauh lebih menekan.
Adit berhenti di depan sebuah pintu besar.
“Tuan Nathan sudah menunggu,” ucapnya.
Ia membuka pintu itu perlahan.
Di dalam—
Nathan duduk di balik meja besarnya, tatapannya langsung mengarah pada Xavero sejak detik pertama ia masuk.
“Masuk,” ucapnya tenang.
“Adit, apa semuanya sudah siap?” tanya Nathan.
Adit mengangguk sopan. “Iya, Tuan. Semua sudah siap sesuai yang Anda minta.”
Nathan mengangguk pelan, lalu berdiri dari kursi kebesarannya. Tatapannya kemudian beralih pada Xavero yang berdiri tak jauh darinya.
“Ikut saya,” ucapnya singkat.
Xavero mengangguk, lalu mengikuti langkah Nathan dengan tenang, meski di dalam hatinya ada rasa tegang yang sulit dihindari.
Nathan berjalan menuju sebuah ruangan khusus, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam ruang assessment pribadinya.
Xavero melangkah masuk.
Ruangan itu berbeda.
Tidak terlalu luas, tapi terasa tertutup dan terkontrol dengan rapi. Dindingnya didominasi kaca gelap, dengan satu meja panjang di tengah ruangan. Di atasnya sudah tersedia beberapa berkas, laptop, dan layar monitor yang menyala.
Nathan berhenti di ujung meja.
“Duduk,” ucapnya singkat.
Xavero menurut tanpa banyak bicara. Ia menarik kursi dan duduk dengan posisi tegak, mencoba tetap tenang meski suasana terasa menekan.
Nathan tidak langsung duduk. Ia berdiri beberapa detik, memperhatikan Xavero dari atas ke bawah, seolah sedang menilai tanpa perlu bertanya.
Baru kemudian ia berjalan ke kursinya dan duduk.
Nathan menggeser sebuah berkas ke arah Xavero.
“Ini assessment kamu.”
Xavero menatap berkas itu.
“Di dalamnya ada beberapa skenario bisnis,” jelas Nathan. “Masalah nyata. Masalah yang bahkan tidak bisa diselesaikan oleh sebagian orang di perusahaan ini.”
Nada suaranya tetap tenang, tapi penuh tekanan.
“Kamu punya waktu satu jam.”
Nathan berhenti sejenak.
“Tidak ada bantuan. Tidak ada petunjuk.”
Tatapan mereka bertemu.
“Tunjukkan pada saya, apakah kamu layak berada di sini.”
Xavero akhirnya menarik berkas itu ke arahnya.
Ia membuka halaman pertama.
Matanya bergerak cepat membaca.
Dan untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah sedikit.
Bukan panik. Tapi… fokus.
Nathan memperhatikan itu.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Satu jam telah berlalu…
Xavero menyerahkan berkas tersebut kepada Nathan. Pria itu membacanya dengan saksama, lembar demi lembar. Wajahnya tetap datar, sulit ditebak, hingga akhirnya sebuah senyum tipis muncul di bibirnya.
“Kamu… lolos.”
Xavero mengembuskan napas lega yang sejak tadi ia tahan. “Terima kasih, Tuan.”
Nathan mengangguk, lalu beranjak dari duduknya. Xavero pun ikut berdiri.
Nathan mengulurkan tangannya. “Mulai hari ini, kamu bagian dari Pramudya Corp.”
Xavero tersenyum, lalu menyambut uluran tangan itu. “Terima kasih, Tuan.”
Nathan kembali mengangguk. “Mulai besok, kamu akan bekerja sebagai asisten Naura.”
Mata Xavero melebar, tubuhnya sedikit menegang.
“Asisten… Nona Naura?”
Nathan mengangguk mantap. “Iya.”
“Tuan… tidak salah memilih?” ucap Xavero pelan, masih sulit percaya.
Nathan menggeleng tanpa ragu. “Tidak. Kamu pantas berada di posisi itu.”
Hening sejenak.
Xavero masih berdiri di tempatnya, mencoba mencerna keputusan yang barusan ia dengar. Posisi itu, terlalu tinggi untuk seseorang seperti dirinya.
“Saya…” Xavero menahan ucapannya, lalu menarik napas pelan. “Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Tuan.”
Nathan menatapnya lurus.
“Jangan hanya berusaha,” ucapnya tenang, tapi tegas. “Saya tidak butuh orang yang ‘berusaha’. Saya butuh hasil.”
Kalimat itu jatuh tanpa nada tinggi, tapi cukup membuat suasana kembali menekan.
Xavero mengangguk pelan.
“Baik, Tuan.”
Nathan mengambil satu map tipis dari meja, lalu menyerahkannya pada Xavero.
“Ini detail pekerjaanmu,” ucapnya singkat. “Pelajari sebelum besok.”
Xavero menerimanya dengan hati-hati.
“Dan satu hal lagi,” lanjut Nathan.
Xavero menoleh.
Nathan menatapnya lebih dalam.
“Naura bukan orang yang mudah,” ucapnya. “Dia keras kepala, dan tidak suka orang asing terlalu dekat dengannya.”
Hening.
“Tapi kalau kamu bisa membuat dia menerima kamu,” lanjut Nathan, “itu berarti kamu memang pantas berada di sini.”
Xavero menggenggam map itu sedikit lebih erat.
“Baik, Tuan. Saya mengerti.”
Nathan mengangguk kecil.