Lin Feng, seorang Kaisar Abadi yang tak tertandingi di generasinya, yang dikenal sebagai "Penguasa Abadi," tewas dalam sebuah pengkhianatan keji. Murid terdekat dan wanita yang paling dicintainya bersekongkol untuk merebut Kitab Suci Kekacauan Abadi miliknya, sebuah teknik kultivasi tertinggi, tepat saat ia mencoba naik ke Alam Dewa. Meskipun raganya hancur, seutas jiwa ilahinya berhasil lolos dan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang baru saja mati di dunia fana yang terpencil.
Tubuh baru ini, yang juga bernama Lin Feng, dianggap sebagai "sampah" dengan meridian yang hancur, dikucilkan oleh klannya sendiri, dan dihina oleh tunangannya. Berbekal ingatan dan pengetahuan dari kehidupan masa lalunya yang gemilang, Lin Feng harus memulai segalanya dari nol. Dia akan menggunakan pemahamannya yang tak tertandingi tentang Dao agung untuk menempa kembali takdirnya, menantang langit, dan menapaki jalan menuju puncak kekuasaan sekali lagi, sambil merencanakan balas dendam yang akan m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Satu Pukulan
Para peserta kompetisi, yang berjumlah lebih dari seratus orang, mulai maju satu per satu untuk menarik bola kayu dari kotak besar. Ada yang gugup, ada yang percaya diri, ada pula yang berdoa agar tidak bertemu dengan lawan yang terlalu kuat di babak pertama.
Lin Feng berjalan dengan tenang, memasukkan tangannya ke dalam kotak, dan mengambil satu bola kayu tanpa melihatnya. Dia kembali ke sudutnya dan membuka tangannya. Nomor yang terukir di atasnya adalah "Tujuh."
Di sisi lain arena, seorang pemuda kekar dan tinggi dengan wajah sombong tertawa terbahak-bahak. Dia mengangkat bola kayu di tangannya, yang juga bernomor "Tujuh."
"Hahaha! Keberuntunganku benar-benar bagus hari ini!" serunya dengan suara keras agar semua orang bisa mendengar. Pemuda ini adalah Lin Shan, seorang murid dari cabang sampingan dengan kultivasi di tingkat kelima Alam Penempaan Tubuh, dianggap cukup kuat di antara murid biasa.
Dia menunjuk ke arah Lin Feng dengan tatapan menghina. "Aku tidak percaya aku mendapatkan sampah nomor satu klan sebagai lawanku! Ini adalah kemenangan gratis!"
Tawanya disambut oleh gelak tawa dari teman-temannya.
"Selamat, Kakak Shan! Kau langsung lolos ke babak berikutnya!"
"Cepat selesaikan dia, jangan buang-buang waktu kita!"
Lin Wei dan ayahnya, Lin Hu, tersenyum sinis. Meskipun mereka lebih suka menghancurkan Lin Feng sendiri, melihatnya dipermalukan di babak pertama juga merupakan pemandangan yang menyenangkan.
Lin Tian bahkan tidak melirik. Baginya, pertarungan ini tidak lebih menarik daripada melihat semut berkelahi.
Hanya Liu Xue'er dan Tetua Ketiga, Lin Bao, yang menatap dengan penuh perhatian. Mereka ingin melihat apakah penampilan Lin Feng sebelumnya hanyalah kebetulan, atau apakah dia benar-benar memiliki sesuatu yang tersembunyi.
"Arena Nomor Tujuh! Lin Shan melawan Lin Feng!" suara diaken menggema.
Lin Feng membuka matanya dan berjalan santai menuju arena ketujuh. Lin Shan, dengan langkah angkuh, melompat ke atas panggung di seberangnya, membawa pedang besar di punggungnya.
"Sampah, aku akan memberimu kesempatan," kata Lin Shan dengan angkuh sambil menyilangkan tangan di dada. "Berlututlah sekarang, akui kekalahan, dan aku mungkin hanya akan melemparmu keluar dari panggung. Jika tidak, jangan salahkan pedangku jika ada anggota tubuhmu yang hilang!"
Lin Feng menatapnya dengan tenang, seolah sedang melihat orang bodoh. Dia bahkan tidak repot-repot menjawab. Dia hanya mengangkat tangan kanannya dan memberi isyarat "maju" dengan jari-jarinya.
Penghinaan total!
Wajah Lin Shan memerah karena marah. "Kau mencari mati!"
Dia menarik pedang besarnya dari punggung. Dengan raungan keras, dia menyalurkan seluruh energi spiritual tingkat kelimanya ke dalam pedang dan menyerbu maju.
"Tebasan Gunung Runtuh!"
Pedang besar itu menebas ke bawah dengan kekuatan yang dahsyat, menciptakan suara siulan di udara. Itu adalah serangan kekuatan penuhnya, yang cukup untuk membelah batu besar menjadi dua. Dia ingin mengakhiri pertarungan ini dengan satu tebasan yang spektakuler.
Menghadapi serangan yang begitu ganas, Lin Feng tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana dengan tenang.
Tepat saat pedang besar itu hanya berjarak satu meter dari kepalanya... dia akhirnya bergerak.
Gerakannya tidak cepat, tetapi sangat efisien. Dia mengambil satu langkah kecil ke samping, menghindari ujung pedang dengan selisih setipis rambut. Momentum dari tebasan yang gagal itu membuat Lin Shan sedikit kehilangan keseimbangan.
Pada saat itulah Lin Feng membalas.
Dia tidak menggunakan teknik yang rumit. Dia tidak menggunakan senjata. Dia hanya mengepalkan tangan kanannya dan melayangkan pukulan lurus yang sederhana ke arah dada Lin Shan yang terbuka.
Pukulan itu tampak biasa saja. Tidak ada aura yang menyilaukan, tidak ada suara yang menggelegar.
"BANG!"
Pukulan itu mendarat tepat di bilah pedang besar Lin Shan, yang ia coba gunakan untuk bertahan pada detik terakhir.
Pemandangan yang mengejutkan seluruh penonton terjadi.
Pedang besar yang terbuat dari baja murni itu, di bawah pukulan Lin Feng, membengkok dengan sudut yang tidak wajar sebelum hancur berkeping-keping seolah-olah terbuat dari kaca!
Kekuatan pukulan itu tidak berhenti di situ. Itu menembus pecahan pedang dan menghantam dada Lin Shan dengan keras.
Mata Lin Shan membelalak ngeri. Dia bahkan tidak sempat berteriak. Tubuhnya yang kekar terlempar ke belakang seperti layang-layang putus, terbang keluar dari arena dan mendarat dengan keras di tanah sekitar dua puluh meter jauhnya, langsung pingsan.
Keheningan.
Keheningan total menyelimuti seluruh arena.
Tawa dan cemoohan sebelumnya tiba-tiba berhenti. Semua orang menatap dengan mulut ternganga pada Lin Feng yang berdiri dengan tenang di atas panggung, lalu pada Lin Shan yang terbaring tak sadarkan diri jauh di luar arena.
Satu pukulan.
Hanya dengan satu pukulan biasa, dia menghancurkan pedang baja dan mengalahkan seorang ahli tingkat lima hingga pingsan.
Senyum sinis di wajah Lin Wei dan Lin Hu membeku.
Arogansi di wajah Lin Tian sedikit memudar, digantikan oleh kerutan tipis.
Mata indah Liu Xue'er bergetar, keterkejutan yang mendalam muncul di dalamnya.
Di panggung utama, Tetua Ketiga Lin Bao tanpa sadar mencengkeram janggutnya. "Kekuatan fisik murni... Kekuatan macam apa itu?!"
Diaken yang bertugas di Arena Nomor Tujuh menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya sadar dari keterkejutannya.
"Pemenang... Lin Feng!"