Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Moonlight Shadow Guild
Desa Jianxin
Sementara itu, jauh dari pertemuan para kaisar, kehidupan di Desa Jianxin berjalan seperti biasa.
Di tengah pasar desa, Cang Li dan Dao Yan masih berdiri di depan papan pengumuman besar yang baru saja dipasang.
Tatapan Dao Yan penuh semangat.
Sementara Cang Li masih menatap tulisan itu dalam diam.
“Dua bulan lagi...” gumam Dao Yan, lalu wajahnya langsung bersinar. “Aku benar-benar tidak sabar!”
Ia menoleh ke arah Cang Li dengan mata berbinar.
“Bayangkan saja! Ribuan orang akan menonton! Para jenius dari sepuluh dinasti akan datang! Ini pasti akan jadi turnamen terbesar yang pernah kita lihat!”
Cang Li meliriknya sekilas.
“Kau terlalu bersemangat.”
Dao Yan justru tertawa.
“Tentu saja! Ini mimpi sejak kecil, tahu!”
Namun sebelum suasana di antara mereka berubah lebih ringan, sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar dari belakang.
“Kau bermimpi terlalu tinggi, Dao Yan.”
Keduanya langsung menoleh.
Seorang pemuda berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
Tatapannya tajam.
Ekspresinya dingin.
Dan cara ia memandang Cang Li jelas menunjukkan bahwa ia datang bukan untuk berbasa-basi.
Itu adalah Zuo Cangtian.
Murid ketiga yang selamat dari tragedi kebakaran Sword Academy.
Namun berbeda dengan Dao Yan, hubungan Zuo Cangtian dengan Cang Li selama ini selalu dipenuhi ketegangan.
“Zuo Cangtian...” gumam Cang Li pelan.
Pemuda itu melangkah mendekat tanpa sedikit pun berusaha menyembunyikan tatapan merendahkannya.
Lalu ia berhenti tepat di depan Cang Li.
“Kalau aku jadi kau,” katanya datar, “aku bahkan tidak akan berani mendaftarkan nama untuk turnamen itu.”
Dao Yan langsung mengernyit.
“Dan kenapa begitu?”
Zuo Cangtian tidak menjawab Dao Yan.
Ia tetap menatap Cang Li.
“Kau terlalu lemah.”
Kalimat itu diucapkan dengan begitu langsung, tanpa belas kasihan sedikit pun.
“Ingat rekam jejakmu?” lanjutnya. “Kita sudah bertarung delapan belas kali.”
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Dan delapan belas kali pula kau kalah.”
Dao Yan langsung maju selangkah.
“Hei, jaga ucapanmu—”
Namun Zuo Cangtian tetap melanjutkan, seolah Dao Yan tidak ada di sana.
“Kau hanyalah beban, Cang Li.”
Tangan Cang Li perlahan mengepal.
Namun wajahnya tetap tenang.
Setidaknya di luar.
“Aku tidak butuh penilaianmu,” jawab Cang Li dingin. “Kalau kita bertemu di turnamen nanti, aku akan mengalahkanmu.”
Ucapan itu membuat Zuo Cangtian tertawa pendek.
Bukan tawa senang.
Melainkan tawa penuh ejekan.
“Mengalahkanku?” katanya sinis. “Jangan membuatku tertawa.”
Ia menatap Cang Li dari ujung kepala sampai kaki, seolah sedang melihat sesuatu yang tidak layak diperhitungkan.
“Kau tahu apa masalah terbesarmu?” tanyanya.
Cang Li tidak menjawab.
Namun Zuo Cangtian tetap melanjutkan.
“Kau terlalu lemah untuk menyelamatkan siapa pun.”
Suasana mendadak menjadi sunyi.
Tatapan Dao Yan langsung berubah.
Dan sebelum Cang Li sempat berkata apa-apa, Zuo Cangtian menambahkan kalimat yang jauh lebih kejam.
“Kalau saja saat kebakaran itu kau tidak menjadi beban... mungkin beberapa dari rekan kita masih hidup sampai sekarang.”
“CUKUP!”
Dao Yan langsung membentak.
Wajahnya memerah oleh amarah.
“Itu sudah keterlaluan, Zuo Cangtian!”
Namun Zuo Cangtian hanya menatap mereka dengan dingin, lalu berbalik tanpa sedikit pun merasa bersalah.
“Aku hanya mengatakan kenyataan,” katanya santai sebelum pergi.
Dao Yan menggertakkan gigi, jelas ingin mengejar dan menghajarnya saat itu juga.
Namun sebelum ia sempat bergerak, Cang Li menahan lengannya.
“Sudah.”
Suara Cang Li terdengar tenang.
Terlalu tenang.
Dan justru itulah yang membuat Dao Yan semakin khawatir.
Ia menoleh dan melihat wajah sahabatnya.
Cang Li tidak berteriak.
Tidak marah.
Tidak membantah.
Tetapi di balik tatapannya yang diam, ada sesuatu yang sedang terbakar perlahan.
Luka lama.
Rasa bersalah.
Dan kemarahan yang selama ini terkubur.
Dao Yan ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya memilih diam.
Karena ia tahu—
kadang luka terdalam adalah luka yang tidak bisa dijawab dengan kata-kata.
Namun satu hal pasti.
Mulai hari itu, tekad di dalam diri Cang Li telah berubah.
Bukan lagi sekadar ingin menjadi lebih kuat.
Kini, ia juga ingin membuktikan bahwa dirinya bukan beban seperti yang selalu dikatakan orang lain.
Dan turnamen dua bulan lagi...
akan menjadi tempat pertama untuk membuktikannya.
Hutan Perbatasan
Di tempat lain, jauh dari keramaian desa dan rapat para kaisar, malam telah menelan seluruh wilayah hutan perbatasan.
Kabut tipis menyelimuti pepohonan tinggi, sementara bau darah masih terasa samar di udara.
Di tengah kegelapan itu, seorang pria berdiri diam di atas tanah yang telah dipenuhi mayat.
Tubuh-tubuh yang tergeletak di sekitarnya masih mengenakan pakaian para kultivator pengembara.
Beberapa di antaranya bahkan belum benar-benar dingin.
Pria itu mengenakan seragam hitam legam dengan lambang bulan sabit gelap di bagian dadanya.
Tatapannya dingin.
Wajahnya tanpa emosi.
Namanya adalah Ling Han.
Salah satu anggota pemburu dari organisasi bayangan Moonlight Shadow Guild.
Di tangannya, darah segar masih menetes perlahan dari ujung bilah pendek yang baru saja digunakan.
Tak lama kemudian, bayangan hitam muncul di hadapannya tanpa suara.
Ling Han langsung berlutut.
“Lapor, Ketua.”
Suaranya datar, seolah pembunuhan barusan hanyalah tugas biasa.
“Aku telah mengeksekusi seorang kultivator liar di wilayah perbatasan.”
Bayangan itu tidak langsung menjawab.
Ling Han melanjutkan,
“Dia menunjukkan tanda-tanda energi Petir Kuning.”
Mendengar itu, sosok dalam bayangan tersebut mengangguk pelan.
“Bagus.”
Suaranya serak dan dingin.
“Jangan biarkan satu pun benih dari garis keturunan Leiting tetap bernapas di benua ini.”
Ling Han menundukkan kepala lebih dalam.
“Perintah diterima.”
Sosok itu menatap ke arah langit malam, lalu berkata dengan nada yang lebih gelap,
“Turnamen dua bulan lagi akan menjadi kesempatan yang sempurna.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu sebuah senyum tipis yang menyeramkan muncul di wajahnya yang masih tertutup bayangan.
“Tempat terbaik untuk memancing mereka keluar... dan membersihkan semuanya sekaligus.”
Di tengah hutan yang sunyi, angin malam berembus pelan melewati tumpukan mayat.
Dan tanpa disadari siapa pun—
sementara para kaisar berbicara tentang perdamaian, dan para pemuda bersiap mengejar mimpi mereka—
sebuah perang dalam bayang-bayang sebenarnya telah mulai bergerak.
End Chapter 16