Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: JEJAK YANG TERTINGGAL DI HOTEL KISMET
Malam di Jakarta selalu terasa lebih panjang bagi mereka yang hatinya sedang terbakar. Larasati berdiri di balkon kantornya yang berada di lantai 32. Angin malam menyapu wajahnya yang kini terlihat lebih tirus, namun sorot matanya setajam elang yang sedang mengincar mangsa. Di tangannya, sebuah foto buram hasil jepretan kamera pengintai menunjukkan seorang wanita yang sangat mirip dengan Maya, masuk ke sebuah kamar hotel mewah dengan seorang pria asing sekitar dua bulan yang lalu.
Saat itu, Baskara sedang berada di Singapura untuk urusan ekspansi bisnis selama dua minggu.
"Kamu pikir aku tidak tahu kebiasaan malammu, Maya?" bisik Larasati pada kegelapan. "Kamu pikir kehamilan ini adalah pelindungmu? Bagiku, ini adalah jebakan yang kamu gali sendiri."
Pintu ruangan terbuka. Aditama masuk dengan wajah yang tampak kurang tidur. Ia meletakkan sebuah map kuning di atas meja kerja Larasati.
"Laras, aku sudah mendapatkan data dari klinik kandungan tempat Maya memeriksakan diri kemarin. Dr. Handoko, spesialis kandungan itu, adalah teman lama ayah Maya. Ada indikasi manipulasi usia kandungan dalam laporan medisnya," ucap Aditama dengan nada serius.
Larasati membalikkan badan, matanya berkilat. "Berapa minggu selisihnya?"
"Dalam laporan resmi yang diberikan kepada Baskara, tertulis delapan minggu. Tapi menurut catatan asli yang berhasil kami retas dari server cadangan klinik, usia janin itu sebenarnya sudah sepuluh minggu. Ada selisih dua minggu yang sangat krusial, Laras," jelas Aditama.
Larasati terdiam sejenak, otaknya bekerja cepat menghitung tanggal. Sepuluh minggu yang lalu... itu adalah tepat di hari ketiga Baskara berada di Singapura. Mustahil Baskara adalah ayahnya.
"Siapa pria di foto itu, Adit?"
"Namanya Rian. Mantan kekasih Maya saat kuliah dulu. Dia baru kembali dari luar negeri dan mereka sering terlihat bersama di klub malam saat Baskara tidak ada di rumah. Rian adalah seorang pecandu judi yang terlilit hutang besar. Sepertinya Maya menggunakan uang Baskara untuk membiayai gaya hidup pria itu," jawab Aditama.
Larasati mengepalkan tangannya. Rasa jijik merayapi hatinya. Ia tidak menyangka Maya seberani itu—mengkhianati Baskara, lalu menggunakan hasil pengkhianatan itu untuk mengikat Baskara kembali saat posisinya terancam.
"Kumpulkan semua buktinya. Aku ingin rekaman CCTV hotel itu, saksi mata dari pelayan kamar, dan jika perlu, kita lakukan tes DNA pralahir secara diam-diam. Aku tidak akan membiarkan Baskara hidup dalam kebohongan yang sehina ini," perintah Larasati tegas.
Sementara itu, di rumah besar yang kini terasa seperti penjara, Baskara duduk di tepi ranjangnya. Ia menatap Maya yang sedang tidur dengan wajah yang tampak sangat tenang. Di atas nakas, terdapat berbagai macam vitamin kehamilan dan susu khusus ibu hamil yang ia beli tadi sore.
Hatinya hancur. Setiap kali ia melihat Maya, ia teringat pengkhianatan wanita itu terhadap ibunya. Namun setiap kali ia menatap perut Maya, rasa tanggung jawab sebagai seorang ayah membungkam amarahnya.
Tiba-tiba, ponsel Maya yang tergeletak di atas nakas bergetar. Sebuah pesan masuk. Baskara biasanya tidak pernah menyentuh privasi istrinya, namun rasa curiga yang selama ini ia tekan tiba-tiba membuncah. Ia mengambil ponsel itu. Layarnya terkunci, namun notifikasi pesan singkat terlihat jelas.
“Sayang, kenapa kamu tidak menjawab teleponku? Uang yang kamu kirim kemarin sudah habis untuk bayar hutang kasino. Aku butuh lagi. Ingat, aku tahu rahasia tentang 'hadiah' di perutmu itu. Jangan coba-coba membuangku.” — Dari: R.
Jantung Baskara seolah berhenti berdetak. Napasnya terasa sesak. Hadiah di perutmu? Apa maksudnya? Dan siapa R?
Ia mencoba membuka kunci ponsel itu, namun Maya tiba-tiba terbangun dan merampas ponselnya dengan wajah yang sangat panik.
"Mas! Apa yang kamu lakukan dengan ponselku?" teriak Maya, suaranya melengking tinggi karena takut.
Baskara menatap Maya dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang belum pernah Maya lihat sebelumnya. "Siapa R, Maya? Dan apa maksudnya dengan uang yang kamu kirim kemarin?"
Wajah Maya seketika berubah menjadi pucat pasi. Ia mencoba mencari alasan secepat mungkin. "I-itu... itu Rina! Teman kuliahku yang sedang kesulitan ekonomi. Dia meminjam uang padaku, tapi dia terus menagih lebih. Dia agak gila, Mas. Jangan dengarkan dia."
"Rina? Rina memanggilmu 'sayang' dan bicara soal 'hadiah' di perutmu?" suara Baskara meninggi, memenuhi kamar yang luas itu. "Maya, jangan bohongi aku lagi! Cukup satu kali kamu meracuni ibuku, jangan pernah kamu meracuni pikiranku dengan kebohongan lain!"
Maya mulai menangis histeris, taktik andalannya. "Mas! Kamu tega menuduhku saat aku sedang hamil? Kamu lebih percaya pada pesan singkat dari orang tidak dikenal daripada istrimu sendiri? Anak ini... dia bisa merasakan stres yang aku rasakan, Mas! Tolong, demi bayimu..."
Baskara memalingkan wajahnya. Ia merasa mual. Isakan Maya yang dulu terdengar pilu di telinganya, kini terdengar seperti suara kaset rusak yang memekakkan telinga. Ia melangkah keluar kamar, membanting pintu dengan sangat keras hingga bingkai foto pernikahan mereka jatuh dan kacanya pecah berantakan.
Baskara turun ke lantai bawah dan mendapati Ibu Rahayu sedang duduk di ruang tengah dengan Al-Qur'an di tangannya.
"Ada apa, Baskara? Kenapa berteriak malam-malam begini? Kasihan istrimu, dia sedang hamil muda," ucap Ibu Rahayu dengan nada menegur.
Baskara berlutut di depan ibunya, menyandarkan kepalanya di pangkuan wanita tua itu. "Ibu... aku lelah. Aku merasa rumah ini sudah tidak memiliki keberkahan lagi. Semuanya penuh dengan kepalsuan."
Ibu Rahayu mengusap rambut anaknya dengan lembut. "Sabar, Nak. Jika memang itu anakmu, maka itu adalah rezekimu. Tapi jika ada kebenaran yang tersembunyi, Allah pasti akan membukanya. Jangan terburu-buru mengambil keputusan saat hatimu sedang panas."
Esok harinya, Larasati mengundang Baskara untuk bertemu di sebuah taman kota yang sepi, tempat di mana mereka dulu sering menghabiskan waktu saat Larasati masih menyamar sebagai Gendis.
Baskara datang dengan wajah yang sangat kusam, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan betapa ia menderita. Saat ia melihat Larasati yang berdiri dengan anggun di bawah pohon beringin tua, air matanya hampir saja tumpah.
"Laras..." panggil Baskara lirih.
Larasati tidak menoleh. Ia menatap lurus ke depan, ke arah danau buatan yang tenang. "Aku memanggilmu ke sini bukan untuk bicara soal perusahaan, Baskara. Aku ke sini untuk memberikanmu satu kesempatan terakhir untuk menyelamatkan sisa harga dirimu."
"Apa maksudmu?"
Larasati berbalik dan menyerahkan sebuah amplop cokelat. "Baca ini. Ini adalah bukti kunjungan Maya ke Hotel Kismet bersama seorang pria bernama Rian selama kamu di Singapura. Dan ini..." Larasati menyodorkan salinan rekam medis asli, "...adalah usia kandungan janin itu yang sebenarnya."
Baskara membaca dokumen itu dengan tangan yang gemetar hebat. Setiap kata, setiap angka, seolah-olah menjadi paku yang menghujam jantungnya. Ia teringat pesan dari 'R' semalam. Semuanya menjadi sangat jelas sekarang. Kepingan puzzle yang tadinya berantakan kini membentuk gambaran pengkhianatan yang paling menjijikkan.
"Sepuluh minggu..." bisik Baskara. "Saat itu aku tidak ada di sini."
"Dia bukan anakmu, Baskara. Maya menggunakan janin orang lain untuk menahanmu, untuk menjebakmu dalam pernikahan yang sudah mati," ucap Larasati, suaranya bergetar karena rasa kasihan melihat kehancuran pria yang pernah ia cintai.
Baskara jatuh terduduk di bangku taman. Ia menangis tersedu-sedu, menutupi wajahnya dengan dokumen-dokumen itu. "Aku bodoh, Laras... aku sangat bodoh! Aku membiarkanmu pergi, aku membiarkanmu menderita, hanya untuk membela wanita yang bahkan tidak pernah setia padaku!"
Larasati mendekati Baskara, namun ia tidak menyentuhnya. Ia menjaga jarak yang tegas. "Aku tidak memintamu kembali padaku, Baskara. Luka di antara kita sudah terlalu dalam. Aku hanya ingin kamu berhenti menjadi boneka Maya. Kembalilah menjadi Baskara yang tegas, pria yang dulu aku kagumi karena integritasnya."
Baskara mendongak, matanya merah menyala. Kali ini bukan karena kesedihan, melainkan kemarahan yang suci. "Terima kasih, Laras. Kamu benar. Aku harus mengakhiri semua kegilaan ini sekarang juga."
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku akan membiarkan dia tinggal di rumah itu sampai besok. Aku ingin dia merasa aman di atas kemenangannya. Dan besok pagi, saat kamu menyita rumah itu secara hukum atas nama Hardianto Group, aku akan memastikan dia tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi," jawab Baskara dengan suara yang dingin dan tajam.
Larasati mengangguk. "Pasukan eksekusi asetku akan datang jam 9 pagi. Pastikan kamu sudah mengeluarkan ibumu dari sana."
Baskara berdiri, ia menatap Larasati dengan tatapan yang sangat dalam. "Laras... setelah semua ini selesai, apakah masih ada ruang untukku di hatimu? Meskipun hanya sebagai teman?"
Larasati menatap kejauhan, senyum tipis yang getir menghiasi bibirnya. "Waktu yang akan menjawab, Baskara. Sekarang, selesaikan urusanmu dengan ular itu. Aku tidak ingin melihat ada air mata pernikahan lagi yang jatuh karena kebohongan."
Larasati melangkah pergi, meninggalkan Baskara yang berdiri tegak dengan tekad yang membara. Di dalam mobilnya, Larasati menghela napas panjang. Ia tahu, esok pagi akan menjadi hari yang sangat berat. Penyitaan rumah itu bukan hanya soal harta, tapi soal harga diri keluarganya yang telah dirampas sepuluh tahun lalu.
Malam itu, Larasati berdoa di depan foto ayahnya. "Ayah, besok adalah babak terakhir dari rumah yang mereka curi. Aku akan mengembalikannya kepadamu."
Di sisi lain kota, Maya sedang merayakan kemenangannya dengan memesan perhiasan mewah secara online menggunakan kartu kredit Baskara. Ia mengusap perutnya sambil tersenyum licik. "Anak manis, kamu benar-benar pembawa keberuntungan. Berkat kamu, kita akan tetap menjadi ratu di rumah ini."