NovelToon NovelToon
Gadis Kesayangan Langit

Gadis Kesayangan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ceriwis07

Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.

Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tas Peninggalan Ibuk

Yanto mencengkeram rambut Gadis dengan sekuat tenaga, menariknya paksa hingga leher Gadis tertekuk ke belakang dan kakinya nyaris tersandung lantai semen yang dingin. Tanpa ampun, ia menyeretnya masuk ke dalam kamar kost yang sempit dan berbau apek, lalu melepaskan cengkeramannya begitu saja dengan kasar. Gaya sentakan itu membuat tubuh Gadis yang tak seimbang terhuyung hebat, hingga kakinya terpeleset dan sisi kepalanya membentur keras sudut lemari pakaian kayu yang tua.

BRUK!

Suara benturan itu terdengar nyaring di ruangan sunyi. Rasa sakit yang tajam dan menyengat langsung menjalar dari pelipisnya, diikuti oleh sensasi berdenyut hebat yang membuat pandangannya seketika kabur. Tubuhnya yang memang sudah lemas akibat kelelahan fisik dan mental tak sanggup lagi menopang berat badannya lututnya lemas, lalu ia ambruk perlahan ke lantai, matanya terpejam dan kesadarannya lenyap dalam sekejap.

"Cih... lemah," gerutu Yanto dengan nada jijik, menatap tubuh tak bergerak di hadapannya dengan tatapan dingin. "Begitu saja sudah pingsan."

Tanpa mempedulikan kondisi anaknya apakah ia terluka parah atau hanya pingsan sementara Yanto berbalik badan, melangkah pergi dengan santai, dan membanting pintu kamar hingga bergemuruh. Ia kembali ke tempat yang selalu menjadi pelariannya tempat nongkrong yang bising dan penuh asap rokok, tak lain dan tak bukan adalah bar atau diskotik di ujung kota.

Namun, kedatangannya ke sana bukan untuk menyewa wanita penghibur atau menenggak minuman keras. Tujuannya cuma satu berjudi. Ia duduk di meja hijau yang dipenuhi tumpukan uang dan kartu, matanya menyala penuh ambisi dan khayalan liar. Di kepalanya terus berputar mimpi kosong bahwa suatu hari nanti ia akan mendadak kaya raya hanya dari keberuntungannya dalam berjudi, meski ia tak tahu sampai kapan mimpi itu harus ia genggam sementara kenyataan selalu menamparnya dengan kekalahan.

 ****

Perlahan, kelopak mata Gadis bergetar, berusaha terbuka meski terasa berat sekali. Pandangannya mula-mula buram, hanya melihat bayangan kabur dari plafon kamar yang menguning. Saat ia mencoba menggerakkan kepalanya, desisan kesakitan tak sengaja lolos dari bibirnya.

"Ssstt..."

Rasa pusing yang berdenyut kian terasa, seolah ada palu yang terus memukul-mukul bagian samping kepalanya. Ia meraba pelipisnya dengan tangan yang gemetar, dan merasakan benjolan kecil yang perih, serta sedikit rembesan darah yang sudah mulai mengering. Aroma apek kamar kost dan bau samar darahnya sendiri memenuhi hidungnya, sementara tubuhnya terasa kaku dan dingin karena terlalu lama terbaring di lantai semen. Napasnya terasa berat, dan ingatan tentang perlakuan kasar Yanto Bapak angkatnya kembali berputar di benaknya, membuat dadanya terasa sesak dan perih.

Perlahan-lahan ia memaksakan tubuhnya untuk bangun, lututnya masih terasa gemetar dan tak bertenaga. Tangannya terangkat perlahan, meraba pelipis dan keningnya yang masih terasa berdenyut nyeri. Jari-jarinya menyentuh permukaan kulit yang kasar dan lengket ternyata bercak darah dari benturan tadi sudah hampir mengering, membentuk kerak merah kecokelatan di sisi wajahnya.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia menyeret tubuhnya yang lunglai menuju kamar mandi di sudut ruangan. Air dingin ia alirkan membasahi seluruh tubuhnya, berusaha mengusap bersih bukan hanya debu dan keringat yang menempel seharian penuh karena bekerja keras, tetapi juga rasa perih dan lelah yang mendera jiwa dan raga. Belum lagi pertemuannya dengan Langit, seolah menjadi beban tambahan yang membuat bahunya terasa semakin berat untuk ditanggung.

Di bawah guyuran air, ia berharap rasa sakit dan kenangan buruk itu ikut larut dan terbawa bersama aliran air yang menghilang ke dalam lubang pembuangan.

****

Gadis mengambil teko air, tangannya sedikit gemetar saat ia menuangkan isinya hingga memenuhi gelas bening yang kosong. Ia meneguk air itu perlahan, berusaha menenangkan tenggorokannya yang kering dan dadanya yang sesak. Namun, seiring air yang masuk ke kerongkongannya, bayangan kedatangan Bapak angkatnya tadi sore kembali muncul begitu saja di benaknya, membuat jantungnya kembali berdegup kencang.

Tanpa membiarkan pikiran itu berlarut, ia buru-buru meletakkan gelas yang baru setengah habis itu, lalu melangkah cepat masuk ke dalam kamar. Napasnya mulai memburu saat ia langsung menghampiri lemari pakaiannya. Dengan kedua tangan yang bergerak gelisah, ia membuka pintu lemari satu per satu, meraba-raba di antara tumpukan baju, seolah ada sesuatu yang sangat berharga yang tersembunyi di sana.

Rasa panik mulai menyelimuti hatinya. Ia terus mencari, memindah-mindahkan pakaian, menarik-narik benda di dalamnya, hingga isi lemari itu berantakan tak karuhan. Namun, saat matanya akhirnya menangkap objek yang dicarinya terselip di sudut paling dalam, napasnya tertahan sejenak.

Senyum lega terukir di wajahnya saat ia segera meraih tas tua itu.

"Untung kamu nggak diambil Bapak," bisiknya pelan, jari-jarinya mengelus permukaan tas tersebut dengan penuh sayang. "Kalau sampai kamu diambil, aku nggak akan pernah tahu apa isi di dalam tas yang Ibuk kasih ke aku waktu Ibuk masih hidup."

Di akhir kalimatnya, suaranya terdengar parau, nyaris bergetar menahan isak tangis yang hendak meledak.

Pikirannya kembali melayang kepada sosok Sila. Meski hanya seorang ibu angkat, bagi Gadis, wanita itu jauh lebih berharga daripada siapa pun. Sila lah yang membesarkannya dengan tulus, melebihi seorang ibu kandung. Gadis bahkan pernah bertekad bulat, ia harus menjadi orang sukses agar bisa membalas budi, mengangkat derajat Sila, dan membahagiakan wanita itu di hari tuanya.

Namun, takdir berkata kejam. Sila harus pergi meninggalkannya selamanya saat penyakit kanker serviks yang dideritanya sudah memasuki stadium akhir. Hingga saat ini, Gadis masih sering bertanya-tanya dalam hati, dari mana penyakit itu bisa menimpa ibunya?

Sepengetahuan Gadis, Sila adalah wanita yang sangat menjaga harga diri dan kesuciannya. Ia lebih rela bekerja keras menjadi pemulung atau buruh cuci seharian penuh, keringat bercucuran membasahi baju, daripada harus melayani nafsu lelaki hidung belang yang hanya ingin mempermainkan wanita. Sila mengajarkannya bahwa kemiskinan bukan alasan untuk menjual harga diri.

Jari-jarinya gemetar hebat saat menarik kepala resleting tas tua itu perlahan. Suara krak-krak terdengar pelan seiring terbukanya mulut tas. Dari dalam kegelapan tas, terpancar kilatan cahaya yang memantulkan lampu kamar, menarik perhatiannya seketika.

Gadis mengulurkan tangan, meraih benda berkilau itu. Ternyata itu sebuah kalung dengan liontin berbentuk plat kecil yang terukir jelas nama besar WIGUNA.

Mata Gadis membulat, rasa penasarannya semakin memuncak. Tangannya kembali merogoh ke dasar tas, dan kali ini ia menarik sesuatu yang tebal dan terasa berat.

Jleb!

Segepok lembaran uang merah terhampar di hadapannya. Matanya terbelalak tak percaya melihat jumlah uang yang begitu banyak, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan ia miliki. Di antara tumpukan uang itu, terselip dua lembar kertas lusuh yang ikut tertarik keluar.

Tangannya bergetar saat membuka kertas yang pertama. Tulisan tangan yang halus dan sangat ia kenal terpampang di sana, tulisan tangan ibunya, Sila.

"Gladis Candra Winata,

Kamu adalah Gadis, bayi mungil yang aku temukan terbaring sendirian di taman kota. Meski hidupku dan suamiku penuh kekurangan, serba pas-pasan, tapi percayalah nak... cintaku padamu melebihi segalanya, melebihi harta dan dunia.

Maafkan Ibu yang belum sempat membahagiakanmu seperti anak lainnya. Oh iya, jika kamu sudah membaca tulisan ini, berarti kamu sudah dewasa sekarang. Di kertas yang satunya, tertulis siapa sebenarnya asal usulmu.

Pakai kalung itu ya nak... Pakai kalung itu, maka kamu akan tahu semuanya. Semua jawaban tentang dari mana dirimu berasal, siapa keluargamu yang sebenarnya.

Semoga kamu bahagia selalu, menjalani hidup dengan baik.

Dari ibumu yang selalu menyayangimu setulus hati,

Sila"

Apakah Gadis akan menemukan jawabannya?

1
Erna Riyanto
Anin dulu pacar langit... berarti langit sdh tua dong seumuran bahkan mungkin lebih tua dr Anin(ibunya gladis)
Ceriwis07: Benar sekali 🤭
total 1 replies
anggita
like iklan👍☝
Ceriwis07: Terimakasih sudah mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!