NovelToon NovelToon
Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.

Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.

Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.

Yang mengerikan bukan caranya membunuh.

Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.

Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Nama yang Terlupakan

Wei Mou Sha tidak langsung kembali ke penginapan setelah pertandingan terakhir hari itu.

Ia berjalan ke arah utara kota menjauhi distrik bawah. Wilayah itu lebih sepi, bangunannya sedikit, dan jalanan jalannya sempit. Ia tidak punya tujuan khusus.

Hanya saja, sejak pertandingannya dengan Lu Tian berakhir, ada sesuatu di dalam dadanya yang berdenyut tidak wajar.

Teknik meridian terbalik ternyata menguras segalanya lebih banyak dari yang ia perkirakan.

Bukan secara fisik, karena tubuhnya baik-baik saja. Tapi di dalam, di lapisan qi yang bersentuhan langsung dengan segel.

Wei Mou Sha berhenti di ujung jalan sempit yang buntu oleh tembok batu tua. Ia menutup matanya lalu memeriksa ke dalam.

Apa yang ia temukan membuat langkahnya terhenti.

Retakan itu.

Bukan hanya sedikit melebar seperti semalam. retakan itu berkembang dengan cara yang tidak wajar. Di sebagian besar bagian masih tipis, tapi di satu titik, tepat di tempat ia memusatkan qi paling kuat saat menggunakan teknik meridian terbalik, retakan itu bercabang.

Seperti akar yang menemukan celah di batu, lalu memecah ke dua arah.

Wei Mou Sha memusatkan perhatiannya ke percabangan itu.

Rembesan yang beberapa hari lalu hanya terasa samar kini lebih jelas.

Dan dari celah itu, untuk pertama kalinya Ia melihat sesuatu.

Bukan mimpi dan juga bukan halusinasi.

Lebih seperti ingatan… tapi bukan miliknya. Hanya saja terkunci di tempat yang tidak bisa ia jangkau.

Gambar itu datang dan hilang dalam hitungan detik.

Sepasang tangan lebih besar dan lebih tua memegang sesuatu yang bercahaya. Warnanya bukan putih, bukan emas, tapi sesuatu di antaranya yang tidak bisa ia namai.

Di sekelilingnya ada sesuatu seperti langit… tapi terlalu luas dan dalam. Bintang-bintang terlalu dekat dan terlalu banyak.

Lalu sebuah suara datang.

Satu kata.

Dalam bahasa yang tidak ia kenal, tapi terasa ia kenal. Seperti kata dari bahasa ibu yang terlupakan sebelum sempat diingat.

Lalu semuanya hilang.

Wei Mou Sha membuka matanya.

Tembok batu tua kembali di depannya. Jalan sempit. Udara malam yang mulai dingin.

Ia berdiri diam cukup lama, membiarkan kesadarannya kembali sepenuhnya ke tubuhnya. Tidak ada perubahan secara fisik.

Tapi sesuatu di lapisan paling dalam segel itu kini terasa lebih dekat ke permukaan. Masih belum bisa disentuh. Masih tidak merespons.

Namun jaraknya terasa semakin pendek.

Wei Mou Sha menarik napas pelan.

Ia berbalik dan kembali ke penginapan dengan langkah yang lebih teratur.

Lian Zhu Yue duduk di anak tangga depan penginapan.

Wei Mou Sha berhenti tiga langkah sebelum mencapainya, ia tidak mengerti kenapa Lian Zhu Yue ada di sini, malam ini.

Lian Zhu Yue mendongak.

"Kamu lama, kemana?."

"Jalan jalan."

"Ke utara."

"Kamu mengikutiku?"

"Tidak." Lian Zhu Yue berdiri dan menepuk ringan roknya. "Aku menunggu di sini. Ini penginapan mu, bukan?" Ia menatap Wei Mou Sha langsung, tanpa menyembunyikan apa pun. "Tapi kamu berjalan seperti orang yang tidak beres."

"Perutku baik-baik saja."

"Bukan itu maksudku." Ia sedikit memiringkan kepalanya. "Qi-mu tidak stabil. Dari tadi kamu sudah di depanku, tapi baru sekarang terasa… utuh."

Wei Mou Sha menatapnya.

Kemampuan kultivasi jiwa seperti ini bisa membaca stabilitas qi dari jarak itu, lebih tajam dari yang ia perkirakan.

"Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Wei Mou Sha.

Lian Zhu Yue tidak langsung menjawab. Ia mengambil sesuatu dari lengan bajunya, sebuah bungkusan kecil dari kain yang dilipat rapi. Ia menahannya sebentar sebelum mengulurkannya.

"Dari Bibi Yao, Dia titip ini. Katanya kamu akan butuh sebelum besok."

Wei Mou Sha menatap bungkusan itu.

"Bagaimana dia tahu aku akan butuh sesuatu?"

"Bibi Yao sering tahu hal seperti itu." Lian Zhu Yue mengangkat bahu tipis. "Aku sudah lama berhenti mempertanyakan."

Wei Mou Sha menerima bungkusan itu. Aromanya hangat.

"Kamu yang mengantarnya."

"Aku kebetulan lewat."

"Penginapanku tidak ada di jalur orang lewat."

Lian Zhu Yue diam sebentar.

"Baik, aku jujur," katanya akhirnya. "Aku ingin tahu kondisimu setelah pertandingan tadi."

Wei Mou Sha menatapnya. "Kenapa?"

"Karena saat kamu melawan Lu Tian, qi-mu berfluktuasi dengan cara yang tidak seharusnya." Nadanya sedikit berubah dan lebih serius. "Aku di tribun baris ketiga. Cukup dekat untuk merasakannya. Ada sesuatu di dalam dirimu yang bereaksi saat kamu menggunakan teknik itu. Sesuatu yang lebih dalam dari qi biasa."

"Itu tidak mempengaruhi pertarungan."

"Aku tahu." Lian Zhu Yue menatapnya tanpa berkedip. "Tapi bukan itu yang aku khawatirkan."

Wei Mou Sha terdiam.

Khawatir.

Kata itu jarang ditujukan padanya. Di laboratorium dulu, tidak ada yang khawatir. Mereka hanya mengamati, mencatat, dan melaporkan.

"Kondisiku baik," katanya akhirnya.

"Sekarang mungkin," jawab Lian Zhu Yue pelan. "Tapi kalau sesuatu di dalam dirimu bereaksi terhadap penggunaan qi yang intens, dan kamu belum tahu apa itu, terus memakainya lagi besok tanpa persiapan adalah risiko yang tidak perlu."

Analisis yang tepat.

Wei Mou Sha menatap bungkusan di tangannya. "Apa isinya?"

"Aku tidak tahu pasti. Tapi Bibi Yao tidak pernah memberi sesuatu yang berbahaya." Lian Zhu Yue berhenti sejenak. "Sepertinya untuk menstabilkan aliran qi dari dalam. Bukan seperti pil kultivasi biasa, lebih untuk menyeimbangkan daripada memperkuat."

"Kamu bisa membaca ramuan?"

"Sekte Bunga Abadi banyak menggunakan ramuan untuk kultivasi jiwa. Aku belajar dasarnya sejak kecil." Ada sedikit lengkungan di sudut matanya, humor tipis yang nyaris tak terlihat.

"Tidak sehebat Bibi Yao. Tapi cukup untuk tahu ini bukan racun."

Wei Mou Sha membuka bungkusan itu.

Di dalamnya ada empat lembar daun kering yang sudah diproses, serta satu batu kecil berwarna biru kehijauan, batu qi dengan pola ukiran halus. Bukan untuk diseduh, tapi untuk digenggam saat meditasi.

"Cara pakainya?"

"Daunnya diseduh air panas, diminum sebelum tidur. Batunya digenggam saat meditasi." Lian Zhu Yue sudah setengah berbalik, seolah siap pergi. "Istirahat yang cukup. Besok pertarunganmu tidak akan mudah."

"Xue Han Ye."

"Ya." Ia berhenti sejenak. "Aku tidak tahu banyak tentang dia. Tapi dari caranya bertarung di kualifikasi, dia terlalu rapi, terlalu efisien. Orang seperti itu biasanya punya tujuan lain, bukan sekadar menang turnamen."

Wei Mou Sha menyimpan catatan itu, bersama semua pengamatan Lian Zhu Yue lainnya yang jumlahnya semakin bertambah.

"Lian Zhu Yue."

Ia sudah menuruni dua anak tangga saat namanya dipanggil. Ia akhirnya menoleh.

"Terima kasih."

Lian Zhu Yue menatapnya beberapa saat. Ekspresinya sulit dibaca, selalu ada sesuatu di baliknya yang tidak langsung terlihat.

"Jangan mati besok," katanya.

Lalu ia pergi tanpa menoleh lagi.

Di kamarnya, Wei Mou Sha menyeduh daun-daun itu dengan air panas. Ia menunggu sampai warnanya berubah menjadi hijau keabuan, lalu meminumnya.

Rasanya seperti tanah yang bersih, dengan pahit tipis di akhir.

Ia duduk bersila di atas ranjang, menggenggam batu biru kehijauan itu di tangan kanan, lalu mulai bermeditasi.

Efeknya terasa dalam beberapa menit.

Bukan seperti pil kultivasi yang langsung mendorong qi mengalir deras, tapi lebih seperti sesuatu yang meresap perlahan, menyentuh meridian dari dalam, mengarahkannya kembali tanpa paksaan.

Getaran yang tadi terasa seperti senar yang dipetik terlalu keras perlahan mereda.

Tekanan dari retakan di dalam segel mulai melonggar. Lebih tenang dan lebih terkendali.

Wei Mou Sha memperdalam meditasinya.

Retakan itu lebih mudah ia temukan sekarang, mungkin karena jalur persepsinya lebih jernih, atau karena retakan itu sendiri sudah cukup besar untuk tidak bisa lagi disembunyikan.

Percabangan baru itu masih ada.

Dua arah dari satu titik, masing-masing menjalar ke bagian yang berbeda dalam segel.

Ia tidak mencoba memperlebarnya. Tidak memaksa.

Ia hanya mendekat dan duduk di sekitarnya, dalam cara yang hanya bisa dijelaskan di dalam meditasi mendalam.

Dan mendengarkan.

Gambar itu datang lagi.

Sepasang tangan yang sama, tua, dengan ruas menonjol dan garis yang dalam memegang cahaya itu dengan cara yang terasa seperti perpisahan. Bukan karena ingin melepaskan, tapi karena harus.

Langit yang terlalu luas itu kembali muncul.

Dan kali ini ada sesuatu yang baru.

Di bawah tangan itu sebuah sosok, lebih kecil. Wajahnya tidak terlihat.

Tapi cara ia berdiri, Terasa sangat familiar.

Begitu familiar sampai dada Wei Mou Sha menegang tanpa ia sadari.

Sebelum ia bisa melihat lebih jauh, gambar itu hilang.

Wei Mou Sha membuka mata perlahan.

Kamar yang sama. Langit-langit kayu. Lampu minyak yang hampir habis, cahayanya bergetar pelan.

Ia menatap tangannya sendiri.

Lebih muda dari tangan dalam bayangan tadi. Tangan yang tidak pernah memegang cahaya seperti itu.

Tapi entah kenapa terasa akrab.

Seperti sesuatu yang pernah ia lakukan berkali-kali, sampai tubuhnya mengingatnya… meski pikirannya tidak.

Ingatan yang bukan miliknya.

Atau justru miliknya, dari waktu yang tidak bisa ia jangkau.

Wei Mou Sha berbaring.

Batu biru kehijauan itu masih di tangannya, raaa hangat mengikuti suhu tubuhnya.

Besok, Xue Han Ye. Seseorang yang datang bukan sekadar untuk bertarung, tapi untuk memastikan sesuatu tentang dirinya.

Malam itu, dengan bantuan ramuan Bibi Yao, tidurnya lebih nyenyak dari biasanya.

Dan untuk pertama kalinya, ia bermimpi.

Biasanya segel memutus semua itu sebelum sempat terbentuk. Tapi malam ini… sesuatu berhasil lolos.

Langit yang terlalu luas.

Bintang-bintang yang terlalu dekat.

Dan suara, yang tidak datang dari telinga.

Satu kata. Dalam bahasa yang tidak ia kenal… tapi terasa seperti miliknya.

Seperti namanya.

Bukan Wei Mou Sha.

Nama yang lain.

Ia terbangun sebelum bisa mendengarnya dengan jelas.

Berbaring dalam gelap, menatap langit-langit dengan satu kepastian baru yang belum bisa ia genggam sepenuhnya.

Ada nama lain.

Dan suatu hari, ia akan mendengarnya.

1
Romansah Langgu
Cerita tentang apa nhe??? Novel yg pelik pula nhe..
Budi Xiao
Luar Biasa
Green Boy
ditunggu up nya thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!