"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Suami Seharga Seporsi Bakso
"Nikahi aku, atau aku akan kehilangan segalanya malam ini juga."
Airine Rubyjane berdiri tegak di depan sebuah gerobak bakso urat yang uapnya masih mengepul, menghalangi pandangan pria di baliknya. Napasnya memburu, kontras dengan udara malam yang dingin di depan RS Medika Utama. Gaun bedahnya yang tertutup jas putih dokter tampak sedikit kusut, dengan bercak noda yang entah darah atau kopi di ujung lengan bajunya.
Pria di balik gerobak itu—yang dikenal semua perawat sebagai "Bang Nata"—terhenti sejenak dari aktivitasnya mencuci mangkuk plastik. Ia tidak langsung mendongak. Ia menyelesaikan bilasan terakhirnya, meniriskan mangkuk itu, baru kemudian menatap Airine dengan pandangan datar.
"Maksud Dokter?" tanya Nata. Suara beratnya terdengar tenang, terlalu tenang untuk ukuran seorang pedagang kaki lima yang baru saja ditodong ajakan menikah oleh dokter bedah primadona di rumah sakit itu.
"Aku tidak sedang bercanda, Nata. Aku butuh suami sekarang. Bukan besok, bukan lusa. Detik ini juga," Airine merogoh saku jasnya dengan tangan yang sedikit gemetar, mengeluarkan selembar surat wasiat yang sudah agak lecek di bagian sudutnya.
Airine melanjutkan dengan suara tertahan, "Ayahku... bajingan itu membawa perempuan simpanannya ke rumah bahkan sebelum tanah makam Ibu kering. Dan kau tahu siapa yang dia bawa? Shena. Wanita yang selama ini mengaku sebagai asisten Ibu. Dia juga membawa anaknya, Renata, yang ternyata adalah kakak tiriku. Mereka ingin merebut semuanya."
Nata meletakkan mangkuknya ke rak kayu yang sudah mulai lapuk. Ia menyeka tangannya yang basah ke celemek hitam berminyak yang melilit pinggangnya. Matanya yang tajam menyapu sekeliling trotoar, memastikan tidak ada intel lain atau orang yang memperhatikan pembicaraan gila ini.
"Jika aku tidak menikah dalam minggu ini, seluruh RS ini dan perusahaan farmasi peninggalan Kakek akan jatuh ke tangan Ayah dan istri barunya berdasarkan klausul wasiat. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh satu rupiah pun milik Ibuku," Airine melangkah maju, aroma parfum mahalnya kini beradu dengan aroma kaldu sapi dari gerobak. "Tolong, Nata. Kamu orang yang paling 'aman' yang bisa kutemukan."
Nata mengambil centong kuah, kembali berpura-pura sibuk mengaduk panci besar yang mengepulkan uap panas. "Kenapa saya, Dok? Saya cuma tukang bakso urat. Di dalam sana, ada puluhan dokter spesialis, direktur muda, atau anak pemilik saham yang mengantre untuk kencan dengan Anda."
Airine tertawa getir, tawanya terdengar menyakitkan. "Justru karena kamu tukang bakso. Kamu tidak punya kepentingan politik di rumah sakit ini. Kamu rakyat biasa yang tidak punya koneksi ke musuh-musuhku. Kamu akan mudah dikendalikan. Aku beri kamu uang, tempat tinggal yang layak, dan status sosial. Kamu cukup jadi suamiku di atas kertas."
Nata terdiam. Di balik wajah "Bang Nata" yang lugu, sebuah perangkat komunikasi ultra-kecil yang tertanam di liang telinganya berdenging pelan.
"Komandan Arnold, target dari sindikat 'Black Cobra' terdeteksi memasuki lobi utama RS. Mereka mengincar jalur distribusi logistik farmasi Rubyjane untuk menyelundupkan bahan baku narkotika baru. Kita butuh akses internal segera."
Arnold Dexter—identitas asli Nata—mengetatkan rahangnya. Misi intelijen tingkat tingginya selama enam bulan ini menemui jalan buntu karena ketatnya keamanan keluarga Rubyjane. Dan sekarang, kunci menuju jantung perusahaan itu menyerahkan diri secara sukarela di depan gerobaknya.
"Baik," sahut Nata pendek. Ia mematikan kompor gas dengan gerakan sekali putar yang tegas.
"Kamu... setuju?" Airine tampak tidak percaya. Ia sudah menyiapkan argumen panjang lebar, bahkan cek kosong untuk merayu pria ini.
Nata tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melepas celemek hitamnya, menampakkan kaus oblong hitam yang melekat ketat di tubuh tegapnya. Otot lengan yang keras dan beberapa bekas luka kecil di punggung tangannya sempat membuat Airine terpaku sesaat. Ini bukan fisik seorang pria yang hanya menghabiskan waktu mendorong gerobak.
Pria itu berjalan keluar dari balik gerobak, berdiri menjulang di depan Airine. Tinggi Nata yang hampir 190 cm membuat dokter itu harus mendongak. Aura pria itu mendadak berubah; dingin, mengintimidasi, dan sangat dominan.
"Ayo ke KUA. Saya tahu satu yang buka layanan darurat untuk urusan mendesak seperti ini," ucap Nata. "Tapi ada satu syarat, Dokter Airine."
"Apa?"
"Jangan pernah mencoba mencari tahu apa yang kulakukan saat aku tidak sedang bersamamu. Dan jangan pernah menyesal setelah tahu siapa aku sebenarnya."
Airine baru saja akan memprotes kalimat yang terdengar seperti ancaman itu, ketika sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mendadak mengerem mendadak di depan mereka, menimbulkan suara decitan ban yang memekakkan telinga.
Pintu terbuka, dan Reo—mantan tunangan Airine yang juga seorang dokter eksekutif—keluar dengan wajah angkuh. Di sampingnya, Renata menggelayut manja di lengan Reo, mengenakan perhiasan yang Airine tahu persis itu milik almarhum ibunya.
"Airine? Jadi ini pelarianmu?" Reo tertawa meremehkan, matanya memandang rendah gerobak bakso di belakang mereka. "Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat karena depresi ya? Menjual harga dirimu pada tukang bakso urat hanya karena ingin melawan Ayahmu?"
Renata menimpali dengan suara cempreng yang dibuat-buat, "Kasihan sekali adikku. Kalau kamu butuh uang untuk makan, bilang saja pada Papa. Jangan mempermalukan nama keluarga dengan membawa sampah jalanan ini ke hadapan publik."
Airine merasakan sekujur tubuhnya bergetar karena amarah. Ia ingin berteriak, namun suaranya seolah tersangkut di tenggorokan.
Namun, tiba-tiba sebuah tangan besar dan kasar melingkar di bahu Airine, menariknya masuk ke dalam pelukan yang terasa sekeras baja. Airine bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan bau sabun antiseptik dari tubuh pria di sampingnya—bukan bau lemak bakso seperti yang ia bayangkan.
"Sampah?" Nata melangkah maju, membuat Reo secara insting mundur satu langkah karena merasa terancam oleh tatapan mata Nata yang setajam pisau bedah. "Jaga mulutmu, Tuan berdasi. Dokter Airine sekarang berada di bawah perlindunganku."
Nata menoleh ke arah Airine, suaranya melunak namun tetap penuh otoritas. "Ayo pergi, Sayang. Jangan biarkan lalat-lalat ini menghalangi jadwal pernikahan kita. Kita punya urusan yang lebih penting daripada meladeni orang yang bahkan tidak tahu cara memakai parfum dengan benar."
Airine terpaku, membiarkan dirinya dituntun menuju motor besar yang terparkir di balik pohon kamboja. Ia melirik profil samping wajah Nata yang tampak sangat maskulin di bawah lampu jalan.
Siapa sebenarnya pria yang baru saja ia pilih ini? Dan kenapa ia merasa bahwa keputusannya malam ini mungkin akan menjadi awal dari kekacauan yang jauh lebih besar daripada sekadar masalah warisan?
...****************...