NovelToon NovelToon
Poena

Poena

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

Jika London adalah sebuah panggung sandiwara, maka Nikolas Martinez adalah aktor yang menolak membaca naskah. Dia adalah pewaris tunggal Martinez Group, kekaisaran bisnis yang menguasai nadi mekanik London—mulai dari galangan kapal di Thames hingga pabrik komponen kedirgantaraan yang menyuplai setengah Eropa.

Ayahnya adalah pria tua yang hangat dengan tawa menggelegar dan tangan yang selalu kotor oleh oli, yang mengajarkan Nik bahwa nilai seorang pria tidak ditentukan oleh seberapa bersih setelannya, melainkan oleh seberapa kuat dia bisa memegang janjinya.

Di rumah Martinez, kebebasan bukanlah barang mewah, melainkan udara yang mereka hirup. Nik tumbuh besar dengan kunci bengkel di sakunya, diizinkan membongkar mesin vintage sejak usia sepuluh tahun, dan dibiarkan menjelajahi jalanan London dengan motornya selama dia pulang sebelum fajar. Kehangatan keluarganya adalah fondasi yang membuatnya berdiri tegak dengan penuh percaya diri, tanpa perlu berpura-pura menjadi orang lain. Baginya, The Vultures bukan sekadar geng, melainkan keluarga kedua yang dipilihnya di jalanan.

Sangat kontras dengan dunia Salene Lumiere.

Bagi dunia luar, Salene adalah putri mahkota Lumiere’s Elegance yang sempurna. Angkuh, sombong, dan meremehkan siapa pun yang tidak setara dengannya. Namun, realitanya jauh lebih kelam. Salene bukanlah seorang ratu; dia adalah seorang tahanan di istananya sendiri.

Pagi ini, seperti pagi-pagi lainnya, kehidupan Salene dimulai di bawah tatapan tajam Madame Lumiere.

"Timbangan, Salene," suara ibunya dingin, tidak menyisakan ruang untuk penolakan.

Salene melangkah ke atas timbangan digital di kamar mandinya yang luas. Angka merah menyala. Empat puluh delapan kilogram. Sama persis seperti kemarin, dan kemarin lusa.

"Pertahankan itu," ujar Madame, menatap pantulan putrinya di cermin. "Setiap ons kelebihan berat badan adalah kegagalan disiplin. Seorang Lumiere tidak pernah gagal. Tegakkan punggungmu. Dagumu kurang naik dua derajat."

Salene mengoreksi posturnya secara otomatis. Tubuhnya telah dilatih untuk patuh, layaknya anjing sirkus yang tahu kapan harus melompat. Cara bicaranya harus sopan dan terukur, layaknya putri bangsawan yang sedang membacakan dekrit, bahkan ketika dia sedang memesan kopi.

Setiap detak jantungnya diatur oleh jadwal yang ketat. Setelah sarapan minimalis setengah alpukat dan teh hijau, dia harus menghadiri kelas piano virtual dengan seorang maestro di Wina. Jarinya harus menari di atas tuts dengan presisi matematis, bukan dengan emosi. Satu-satunya pelarian yang dia miliki adalah hobinya: melukis.

Di sudut kamarnya yang tersembunyi, terdapat sebuah kanvas yang selalu ditutupi kain beludru. Di sana, Salene tidak melukis bunga atau pemandangan Mayfair yang membosankan. Dia melukis badai. Dia melukis langit London yang kelabu dengan goresan kuas yang liar dan penuh kemarahan. Itu adalah satu-satunya tempat di mana porselen rapuh itu diizinkan untuk retak sedikit saja.

"Mobil sudah siap, Mademoiselle. Madam mengingatkan bahwa Anda tidak boleh terlambat semenit pun ke sekolah hari ini," kata pelayan pribadinya, memecah lamunan Salene di depan kanvas.

Salene menghela napas, menutup kembali lukisan badainya, lalu melangkah keluar untuk menghadapi dunia yang menuntut kesempurnaan mutlak darinya.

Gerbang St. Jude’s High School adalah simbol status sosial. Hanya mobil-mobil mewah dengan sopir pribadi yang diizinkan menurunkan penumpangnya di lobi depan.

Salene turun dari Rolls-Royce ibunya dengan anggun, menyandang tas Hermès kustomnya dengan gerakan yang sudah dilatih ribuan kali.

Tepat saat dia melangkah ke area parkir khusus siswa, raungan bising yang familiar kembali memecah ketenangan pagi.

Dari kejauhan, formasi inti The Vultures memasuki gerbang sekolah. Tidak seperti siswa lain yang mengendarai mobil sportif, mereka adalah gerombolan raja jalanan. Nikolas memimpin di depan dengan Triumph Scrambler-nya yang beringas. Di belakangnya, mengikutinya empat motor besar lainnya yang tak kalah bising.

Mereka berhenti di barisan parkir, menciptakan pemandangan yang aneh di antara deretan Ferrari dan Lamborghini. Nikolas membuka helmnya, disusul oleh empat teman dekatnya.

Ada Leonard, pria jangkung dengan senyum jenaka yang selalu terlihat santai. Clark, si ahli IT berkacamata yang rumornya pernah meretas sistem Pentagon hanya untuk bersenang-senang, namun hari ini dia terlihat sibuk memeriksa tablet-nya. Kent, pria berotot diam yang terlihat mengintimidasi namun sebenarnya berhati lembut. Dan terakhir, Dion, si playboy bermata sipit yang selalu punya stok lelucon.

Mereka adalah orang-orang yang hangat dan pandai bercanda, jauh dari imej kriminal yang dibayangkan Salene. Mereka tertawa keras, saling mengejek satu sama lain saat turun dari motor.

Salene, yang kebetulan lewat di dekat tempat parkir mereka, menghentikan langkahnya. Dia menatap mereka dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupi.

"Hobi sampah seperti kalian sangat mengganggu," kata Salene dengan suara angkuh yang dingin, dagunya terangkat tinggi. "Apakah kalian tidak bisa pergi ke sekolah tanpa membuat kegaduhan yang tidak perlu?"

Geng Nikolas berhenti tertawa sejenak. Leonard mengangkat alisnya, lalu menatap Salene dengan pura-pura terkejut. "Ouchhh... Tajam sekali ucapan Nona Porselen pagi ini. Hati-hati, bibirmu bisa terluka kalau bicaranya terlalu runcing."

Dion terkekeh pelan. "Mungkin dia butuh kopi, Leo. Atau mungkin, dia hanya iri karena tidak bisa merasakan angin London langsung di wajahnya."

Nikolas hanya tersenyum tipis, bersandar di motornya sambil melipat tangan di dada. Matanya tajam menatap Salene, seolah sedang membedah lapisan demi lapisan pertahanan gadis itu. "Gangguan adalah hal yang relatif, Salene. Bagi kami, keheninganmu yang palsu itu jauh lebih mengganggu daripada suara mesin kami."

Tiba-tiba, Clark, yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, berteriak kecil. "Woah, bos! Lihat ini!" Dia mendekati Nikolas, menunjukkan layar ponselnya. "Surat cinta dari siapa lagi ini? Dari klub penggemar di sekolah sebelah!"

Tawa Nikolas langsung menggelar di tempat parkir, keras, lepas, dan penuh kehangatan yang asli. Leonard dan Dion ikut mendekat, ikut menertawakan isi pesan yang ada di ponsel Clark. Suara tawa mereka begitu tulus, begitu kontras dengan kesunyian yang mencekam di rumah Salene.

Salene mengepalkan tangannya di balik tas mewahnya. Tawa mereka terdengar seperti ejekan bagi hidupnya yang kaku. Dia membenci kebebasan mereka. Dia membenci kenyataan bahwa mereka bisa tertawa lepas di tempat umum, sementara dia harus menjaga setiap ekspresi wajahnya agar tetap terlihat sempurna.

Dia berbalik dan berjalan cepat menuju gedung sekolah, tidak ingin berlama-lama di dekat sumber kegaduhan itu. Namun, tawa Nikolas terus terngiang di telinganya, mengingatkannya pada retakan yang perlahan mulai menjalar di permukaan porselennya yang rapuh.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
winpar
thorrrrr update lgi plissssss
Ros🍂: Ashiappp kak🙏🥰
total 1 replies
ren_iren
sukaknya bikin huru hara dirimu kak.... 🤭😁😂
Ros🍂: Auuuw🥰🤣
total 1 replies
winpar
terus kk 💪💪💪💪
Ros🍂: Ma'aciww kak🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!