Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap di Balik Kebebasan
Jakarta masih diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam. Saat Adnan berdiri di balkon lantai 22 di tangannya, sebuah tablet menampilkan profil media sosial Bagaskara Pradipta yang sudah ia hafal di luar kepala.
Adnan tidak terburu-buru. Baginya, kemarahan yang meledak adalah tanda kelemahan, dan ia tidak pernah membiarkan dirinya tampak lemah. Bahwa ia adalah seorang Arsitek yang selalu menghitung secara terperinci sebuah pondasi bangunan agar megah berdiri. Tetapi ia juga bisa sekejap mata merobohkannya tanpa sisa.
“Bima,” panggil Adnan tanpa menoleh saat asistennya itu masuk ke ruangan.
“Ya, Pak?”
“Undur jadwal kepulanganku ke Surabaya. Katakan pada pihak investor kita butuh dua hari lagi untuk finalisasi kontrak. Batalkan semua janji makan malam di rumah untuk lusa.”
Bima mengangguk patuh, “Baik, Pak. Apakah ada pesan khusus untuk Ibu Arini?”
Adnan menyesap kopinya yang sudah dingin. Matanya menyipit menatap garis cakrawala Jakarta yang penuh gedung pencakar langit. Tetap dingin, tetap tenang seperti sedia kala, “Tidak perlu. Biarkan dia menikmati kebebasannya. Aku ingin tahu seberapa jauh seekor burung akan terbang jika pintunya sengaja dibiarkan terbuka.”
Adnan sedang menyusun sebuah kejutan. Bukan tipe kejutan yang manis dengan pita merah dan makan malam romantis, melainkan sebuah situasi yang akan membuat Arini sadar bahwa setiap sudut hidupnya berada dalam genggaman Adnan. Ia ingin memberi Arini kesempatan atau lebih tepatnya. Tali yang cukup panjang untuk Arini gunakan menjerat lehernya sendiri.
“Siapkan kontrak kerja sama untuk pameran arsitektur bulan depan,” lanjut Adnan dingin.
“Aku ingin vendor dokumentasi visualnya adalah studio milik Bagaskara. Pastikan dia tidak bisa menolak nilainya.”
Adnan ingin musuhnya berada di depan mata. Ia ingin melihat bagaimana Bagas bersikap saat harus melayani pria yang istrinya baru saja ia peluk di tempat parkir basement. Bukan untuk langsung menghancurkanya tanpa ampun. Melainkan untuk sebuah peringatan akan kengerian. Sebuah sinyal dengan maksud halus, bahwa jangan bermain api dengannya. Akibatnya akan selalu mengerikan untuk dibayangkan.
Sementara itu di Surabaya di sebuah perumahan elite ternama. Arini terbangun dengan perasaan yang berbeda. Kamarnya yang luas tidak lagi terasa mencekam. Sebaliknya, ada binar kecil yang sulit ia jelaskan.
Kok belum ada kabar dari Adnan, getar bibirnya tipis, merah masih agak ranum lirih mengecap udara kosong. Namun kata-kata dan pertanyaan benaknya itu seketika buyar. Saat ponselnya di atas bantal bergetar.
Lekas ia mengambil ponsel yang ternyata satu pesan pertama dari Bagas. Bukan lagi dari suaminya yang selalu ia tunggu kehadirannya utuh sebagai suami sepenuhnya. Bukan hanya sekedar suami dengan predikat perkataan atau tulisan di atas lembar buku nikah semata.
“Baru bangun, ya? Jangan lupa sarapan. Aku ingat kamu dulu sering telat makan kalau sudah asyik sama pikiranmu sendiri.”
Arini tersenyum kecil, kembali mengembang senyum itu. Senyum yang tak seharusnya ada untuk lelaki lain selain suaminya. Jemarinya dengan lincah membalas pesan itu.
Percakapan mereka sejak semalam seolah tidak ada habisnya. Nostalgia masa lalu adalah candu yang paling berbahaya. Ia membuat segala kesalahan terasa seperti pembenaran atas kebahagiaan yang hilang.
“Masih ingat tidak waktu kita nekat makan bakso di pinggir jalan pas kamu lagi pakai daster karena baru bangun tidur?” tulis Bagas lagi, cat itu kini begitu cepat mendarat di layar ponsel Arini. Tanpa permisi, tanpa rasa canggung lagi, tanpa mengindahkan kalau Arini adalah wanita beristri.
Arini tertawa kecil, suara yang jarang terdengar di rumah itu. “Itu memalukan, Gas. Jangan diingat lagi.”
“Bagiku itu momen tercantikmu. Tanpa polesan, hanya kamu.”
Kalimat-kalimat manis itu mengalir seperti air di tanah yang kering. Arini merasa dirinya bukan lagi Istri Pak Adnan sang Arsitek. melainkan Arini yang dulu, yang bebas, yang dicintai karena dirinya sendiri, bukan karena status sosialnya.
Siang itu, Arini melewati harinya seperti di dalam mimpi. Ia bahkan tidak terlalu fokus saat Adnan mengirim pesan singkat bahwa ia akan memperpanjang masa tinggalnya di Jakarta. Alih-alih sedih, Arini justru merasa lega. Ada ruang bernapas yang lebih luas.
Sore harinya, saat Arini sedang menyesap teh di balkon, sebuah pesan masuk yang membuat jantungnya berdegup kencang. Sebuah pesan pengawalan untuk hari-hari ke depan Arini. Sebuah pesan pengawalan, apakah Arini akan sepenuhnya hancur atau bahkan bahagia menemukan cinta dan kebebasan yang ia damba-dambakan.
“Besok sore aku ada pemotretan di galeri seni dekat kantormu dulu. Setelah itu, aku ingin mengajakmu ke tempat rahasia kita. Kamu masih ingat halte tua di belakang kampus? Aku akan menunggumu di sana jam lima.”
Arini terdiam sejenak di otaknya berteriak Jangan. Logika di kepalanya berbisik ini sudah terlalu jauh.
Namun, jemarinya mengetik sesuatu yang berbeda. “Aku tidak janji, Gas.”
“Aku akan tetap menunggu. Sampai kamu datang, aku hanya ingin memastikan kalau senyummu semalam bukan sekadar lewat cat saja. Hanya sekedar memastikan senyumanmu bebas seperti dulu.”
Arini menutup matanya, ia mulai terjebak. Bukan karena paksaan Bagas, melainkan karena rasa haus akan perhatian yang selama ini sengaja ia kubur dalam-dalam di rumah ini. Sebuah perhatian kecil yang sesungguhnya ingin ia rasakan dari suaminya.
Malam kembali jatuh di rumah besar itu. Arini duduk di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Ia mengenakan kalung pemberian Adnan. Sebuah berlian mahal yang terasa berat dan dingin di lehernya.
Ia mengambil ponselnya sekali lagi, melihat foto-foto yang dikirim Bagas tentang studio barunya. Begitu hangat, begitu berwarna. Berbeda dengan rumah ini yang serba monokrom dan kaku.
Tanpa ia sadari, tangannya bergerak mengetik balasan terakhir untuk Bagas sebelum ia tidur. Sebuah balasan cat darinya yang berarti besok sudah akan jauh berbeda. Sudah bukan lagi Arini istri Adnan. Tetapi seekor burung dara yang bebas tanpa sangkar. Selayaknya dahulu kala saat ia masih memakai seragam putih abu-abu.
“Baik. Jam lima. Jangan terlambat.” Arini mematikan lampu kamar, tidak menyadari bahwa di luar pagar rumah, sebuah mobil hitam terparkir diam sejak satu jam yang lalu.
Dalam mobil itu, Bima sedang berbicara di telepon.
“Subjek sudah mengonfirmasi pertemuan besok jam lima sore, Pak. Atas izin Bapak, saya sudah meminta si Jo untuk menyadap cat-cat Bu Arini dengan Bagas.”
Sementara itu di seberang telepon, suara Adnan terdengar sangat tenang, bahkan nyaris seperti bisikan seorang sahabat yang hangat. Seolah ia seolah ahlinya ahli selalu tenang namun bertindak presisi tanpa kompromi.
“Bagus sekali, pastikan semuanya siap. Aku ingin kejutan ini menjadi sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.”
Adnan menutup telepon, lalu menatap jam tangannya. Hitung mundur menuju kehancuran yang ia susun dengan rapi baru saja dimulai.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...