Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU KARENA BELINDA CANTIK
Dia sekali pernah menangkap sekilas tatapan salah seorang kaki tangannya, Julio, memandang tanpa kedip pada Belinda.
Itu membuatnya marah. Ia pukul Julio yang kedapatan melihat keindahan tubuh Belinda. Ia tidak rela gadisnya dipandangi begitu.
Kini dia menganggap Belinda adalah miliknya, dia merasa Belinda adalah gadisnya. Tidak ada yang berhak memandang keelokan wajah dan tubuh Belinda apalagi sampai ada yang menaruh perasaan pada Belinda. Tentu saja ia akan menyingkirkannya.
"Kak...kakak di sini?"
"Kak, aku kesepian sendiri di dalam dek kapal. Temani aku."
"Ada apa?" Bram menghembuskan asap rokoknya ke udara.Asap itu mengepul terbawa angin malam. Hasratnya terbit lagi saat melihat Belinda dibalut baju model sabrina mini berwarna hitam ini. Badannya indah, mukanya cantik, dia benar-benar mendapat hadiah jackpot dari Tuhan.
"Kak, ayo ke bawah."
Bram mengikuti kemauan Belinda, ia memasuki dek kapal, di bagian kapal yang memang diperuntukkan menjadi kamar yang berukuran sedang.
Ada sebuah tempat tidur sedang di sampingnya ada meja kecil. Tempat seteko air dan sepiring apel disajikan. "Kak, ayo sini, temani aku tidur."
"Kamu mengantuk?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku mau seperti kemarin kak." Bram mengernyitkan keningnya, berusaha mencerna maksud perkataan Belinda.
"Iyaa Kak, waktu kakak menekan badanku, dan bagian bawah ini jadi berdarah."
"Bukannya sakit?"
"Tidak kak, aku mau lagi kak."
Bram menggeleng, gadis ini tidak tahu apa yang dikatakannya.
"Kak ayo lakukan lagi!"
Bram seperti dipancing untuk melakukan perbuatan menodainya kembali. Belinda seperti menggodanya. Naluri kejantanannya terusik. Bram langsung menyerbu tubuhnya. Menindihnya dan merasuki tubuhnya dengan tubuh Bram.
Bram melucuti semua pakaiannya. Membuatnya menjadi polos seperti patung porselen. Bram membenamkan badan Belinda di dalam tubuhnya.
Bram seperti kerasukan. Ia menyetubuhi Belinda dengan ganas kali ini. Nikmat sekali rasanya baginya. Bram mencium lembut bibir Belinda.
"Terima kasih manis."
"Ini yang kedua kalinya, kak."
"hehee, tidak ini yang ketiga."
Belinda tidak tahu sejak lima hari, pertama kali dia digagahi oleh Bram dan tertidur dalam kesakitannya, Bram mengulanginya lagi secara pelan. Hanya Bram yang menikmati karena Bram memberi Belinda obat tidur dan obat penghilang nyeri. Makanya Belinda tidak tahu saat itu sedang pengaruh obat tidur.
"Apakah benar, kak?"
"Iya, sayang."
Dan malam itu keduanya tertidur lelap. Bram memeluk tubuh Belinda yang hangat. Benih-benih cinta sudah tumbuh dalam hati keduanya sejak awal mereka saling memadu kasih. Tanpa mereka sadari di setiap mereka menyatu, perasaan kasih tumbuh di hatiku masing-masing. Mereka kini bagaikan tidak bisa dilepaskan satu sama lain.
Sentuhan kulit satu sama lain bagaikan candu membuat mereka bagaikan dua pasang kekasih yang dimabuk asmara.
Setiap kali Belinda menatap kedua bola mata Bram, Bram bagai terhipnotis ingin segera menghampirinya dan menenggelamkan dalam tubuhnya. Belinda membuat Bram kecanduan melebihi kecanduan pada rokoknya.
Begitu juga Belinda, setiap dia membuka mata yang dia pikirkan langsung adalah bertemu Bram. Makanya setiap dia membuka mata maka yang ia cari pertama kali dalam Bram.
Entah bagaimana nanti takdir kedua anak muda itu, seakan rumit untuk dijalani jika dilihat background kehidupan keduanya. Namun, seakan indah melihat kesungguhan cinta keduanya.
Bram mungkin akan melepaskan kejayaan dan reputasinya sebagai seorang mafia demi Belinda dan Belinda mungkin akan melepaskan statusnya sebagai seorang puteri penguasa.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆