Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsitek di Balik Labirin Besi
Di balik kemegahan rumah kolonial milik keluarga Darmawan yang berdiri kokoh di tengah rimbunnya pohon-pohon tanjung. Tersimpan sebuah rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh Ibu Farida maupun Arini.
Di balik deretan lemari buku jati yang memenuhi ruang kerja pribadi Pak Darmawan. Terdapat sebuah mekanisme kuno yang menggerakkan pintu baja tersembunyi. Pintu itu menuju ke bawah, masuk ke dalam sebuah bungker beton berlapis baja yang ditanam jauh di dalam tanah Surabaya.
Ruangan itu kedap suara, kedap sinyal, dan dirancang untuk bertahan dari guncangan apa pun. Di sinilah pusat komando sang Macan Tua berada. Dindingnya tidak dihiasi lukisan, melainkan deretan layar monitor yang memantau setiap jengkal properti keluarga.
Serta papan tulis besar yang berisi diagram jaringan orang-orang yang pernah ditangani Pak Darmawan selama puluhan tahun menjadi detektif swasta elite. Tak ada suara, tak ada kebisingan di dalamnya, sangat rahasia.
Adnan duduk di hadapan ayahnya. Cahaya lampu pendar di ruangan itu memberikan kesan steril dan dingin. Di atas meja metal di antara mereka, sebuah laptop terbuka menampilkan data-data forensik digital yang dikirimkan oleh Kapolres Reza melalui jalur terenkripsi.
"Semuanya ada di sini, Pa," suara Adnan terdengar berat, bergema di dinding bungker yang sunyi.
"Rekaman CCTV saat Bagas masuk ke kamar Arini di rumah sakit semalam, bukti transfer dari rekening bersama yang aku kelola untuk menyewa apartemen mewah atas nama Arini. Hingga potongan video siaran langsung yang sempat aku tonton sebelum mereka menghapusnya dari ponselku."
Adnan menarik napas panjang, matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang ia tekan sedalam mungkin. Sejak kecil, Adnan tidak pernah bisa menyimpan rahasia dari ayahnya. Pak Darmawan bukan sekadar orang tua bagi Adnan. Beliau adalah mentor, pelindung, dan kompas moralnya.
"Jo dan Bima tewas karena mereka memegang kunci ini, Pa. Bagas bukan hanya merusak rumah tanggaku. Dia telah menumpahkan darah orang-orang yang setia padaku," lanjut Adnan dengan nada yang bergetar hebat.
Pak Darmawan diam seribu bahasa. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kulit hitam. Jemarinya bertaut di depan dada. Matanya yang tajam menatap tajam setiap file yang disodorkan putranya.
Tidak ada keterkejutan di wajah tua itu. Hanya sebuah ketenangan yang mengerikan. Ketenangan seorang predator yang sedang menghitung jarak serang.
Sejenak, keheningan menyelimuti bungker itu. Hanya terdengar suara dengung halus dari mesin pendingin udara. Pak Darmawan kemudian menegakkan duduknya, menatap lurus ke dalam mata Adnan.
"Langkahmu berikutnya bagaimana, Nan?" tanya Pak Darmawan dengan nada bicara yang datar, namun menuntut jawaban pasti.
"Setelah semua kehinaan ini, setelah pengkhianatan yang dilakukan istrimu di atas ranjang rumah sakit yang aku bayar, apa rencanamu? Apakah kamu akan langsung menceraikannya, atau kamu tipe pria yang masih percaya pada kesempatan kedua?"
Adnan mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih, "Tidak ada kesempatan kedua untuk pengkhianatan yang berujung maut, Pa. Aku sudah memutuskan. Aku akan menceraikan Arini. Aku akan membuangnya kembali ke jalanan tempat dia berasal sebelum aku menjadikannya seorang Nyonya."
Adnan berhenti sejenak, matanya berkilat gelap, "Tapi tidak sekarang, tidak hari ini. Jika aku menceraikannya sekarang, dia akan lari ke pelukan Bagaskara dan mereka akan merasa menang. Aku ingin menunggu, aku ingin melihat Bagaskara hancur sehancur-hancurnya terlebih dahulu. Aku ingin Arini menyaksikan pria yang dia puja sebagai pahlawan itu membusuk di penjara atau lebih buruk lagi. Aku ingin Arini merasakan kehilangan segalanya, harta, nama baik dan kekasih gelapnya. Sebelum aku melemparkan surat cerai itu ke wajahnya."
Pak Darmawan mengangguk pelan, seolah menyetujui strategi putranya. Namun, ekspresi wajahnya kemudian berubah menjadi sangat serius, jauh lebih gelap dari sebelumnya.
Ia berdiri, berjalan menuju salah satu brankas kecil di sudut ruangan dan mengeluarkan sebuah map merah kusam yang tampak sudah berusia puluhan tahun. Mencoba sedikit membersihkan debu yang menempel pada sampul. Lalu meniupnya agak keras, agar debunya hilang.
"Keputusanmu untuk menceraikannya adalah tepat, Nan. Arini sudah tidak layak berada di rumah ini," ucap Pak Darmawan sambil meletakkan map itu di depan Adnan.
"Tapi, ada sesuatu yang harus kamu sadari. Sesuatu yang bahkan Reza atau intelijen kepolisian belum sempat endus."
Pak Darmawan membuka map itu, memperlihatkan kliping koran lama, foto-foto buram dari kamera pengintai tahun 90-an dan beberapa dokumen kontrak konstruksi yang tampak janggal.
"Nan, dengarkan Papa baik-baik," suara Pak Darmawan merendah menjadi bisikan yang sangat intens.
"Dalam permainan ini, Arini bukanlah target utama. Perselingkuhan ini bukan sekadar urusan nafsu antara istrimu dan seorang fotografer oportunis."
Adnan mengerutkan dahi. "Apa maksud Papa?"
"Target mereka adalah keluarga Darmawan. Seluruh garis keturunanku, sampai ke anak cucumu kelak jika ada," tegas Pak Darmawan.
"Musuh yang kita hadapi kali ini bukanlah Bagaskara. Pria itu... dia hanya pion kecil. Dia hannyalah bidak murah yang digunakan oleh seorang Raja yang berada dalam bayang-bayang. Seseorang yang memiliki dendam masa lalu kepadaku dan seseorang yang menginginkan kehancuran imperium arsitektur yang sedang kamu bangun di Jakarta."
Adnan terkejut seketika. Kursinya sedikit berderit saat ia memajukan tubuhnya, "Siapa, Pa? Siapa yang sanggup merancang skenario sejahat ini hanya untuk menghancurkan kita?"
Pak Darmawan menunjuk ke sebuah nama di dokumen kontrak lama, "Ingat kasus kegagalan struktur Jembatan Merah dua puluh lima tahun lalu? Saat itu aku membongkar korupsi besar-besaran yang melibatkan konsorsium Garuda Hitam. Aku menjebloskan pimpinan mereka ke penjara. Sekarang, mereka sudah keluar. Mereka telah bermutasi menjadi entitas bisnis yang legal namun tetap berdarah dingin. Bagaskara hannyalah alat yang mereka sewa untuk masuk ke dalam rumahmu melalui titik terlemahmu yakni Arini."
Darmawan menatap putranya dengan iba namun penuh ketegasan, "Arini didekati Bagas bukan karena kebetulan. Bagas diperintahkan untuk merayu Arini. Membuat Arini bergantung padanya dan akhirnya menggunakan Arini untuk mengumpulkan informasi internal perusahaanmu dan melemahkan mentalmu. Penyerangan preman ke Papa pagi tadi? Itu adalah tes ombak. Mereka ingin melihat apakah Macan Tua ini masih punya taring."
Adnan merasa dunianya berputar. Ia mengira ini adalah drama rumah tangga yang tragis. Namun ternyata ia sedang berada di tengah-tengah konspirasi pembunuhan dan penghancuran keluarga.
"Jadi, Arini juga akan dihabisi?" tanya Adnan dengan suara tercekat.
"Begitu Arini tidak lagi berguna, atau begitu dia dianggap sebagai saksi yang membahayakan. Mereka akan melenyapkannya tanpa ragu. Persis seperti mereka melenyapkan Jo dan Bima," jawab Pak Darmawan.
“Mereka ingin menghapus jejak dan cara terbaik menghapus jejak adalah dengan memusnahkan semua orang yang terlibat dalam skenario ini."
Pak Darmawan memegang bahu Adnan dengan kuat, "Kita tidak lagi bicara tentang perceraian, Nan. Kita bicara tentang perang. Kamu harus tetap bersandiwara di depan Arini. Bukan hanya untuk menghancurkan hatinya, tapi untuk memancing Raja itu keluar dari persembunyiannya. Kita akan menggunakan Arini sebagai umpan, tanpa dia sadari."
Adnan menatap tangan ayahnya yang kokoh. Rasa takut yang sempat muncul kini berganti menjadi keberanian yang dingin. Jika ayahnya yang sudah berusia lanjut saja siap bertarung. Maka ia, sebagai putra mahkota keluarga Darmawan, tidak boleh gentar.
"Aku mengerti, Pa," ucap Adnan dengan suara yang mantap.
"Arsitektur pengkhianatan ini akan aku balas dengan arsitektur kehancuran bagi mereka. Jika mereka ingin menghapus garis keturunan kita. Maka aku akan memastikan garis keturunan mereka bahkan tidak akan diingat oleh sejarah."
Di dalam bungker besi yang tertanam di bawah tanah Surabaya itu. Sumpah pembalasan telah diucapkan. Sang putra dan sang ayah kini telah menyatu dalam satu frekuensi yang sama.
Di atas sana, Arini mungkin sedang bermimpi tentang kebahagiaan semu, tidak menyadari bahwa di bawah kakinya. Dua pria yang paling mengenalnya sedang merancang sebuah eksekusi yang akan mengubah seluruh peta hidupnya selamanya.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...