"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Minggu 8 Januari 2022
Bintang terdiam sesaat, seolah-olah kata-kata "Love you too, Mas" dari bibir Afisa adalah melodi terindah yang pernah ia dengar dalam enam tahun ini. Ia meletakkan piring yang baru saja ia bilas, mengeringkan tangannya dengan cepat, lalu memutar tubuhnya untuk menghadapi istrinya sepenuhnya.
Suasana dapur yang hanya diterangi lampu kuning temaram terasa semakin sempit, namun meneduhkan. Bintang menatap Afisa lurus ke dalam matanya, tatapan yang begitu intens hingga Afisa bisa merasakan degup jantungnya sendiri yang menggila.
"Enam tahun, Fis," gumam Bintang dengan suara rendah yang sedikit serak. "Enam tahun aku belajar sabar, belajar nunggu di pinggir jalan hidup kamu, cuma buat mastiin kamu nggak sendirian saat duniamu lagi runtuh."
Ia meraih kedua tangan Afisa, menggenggamnya erat di depan dada. "Aku pernah lihat kamu nangis karena laki-laki lain. Aku pernah lihat kamu hampir menyerah sama skripsi kamu. Dan sekarang, ngelihat kamu berdiri di sini, manggil aku 'Mas' dan bilang 'Love you', rasanya semua penantian itu... lunas. Bahkan lebih dari lunas."
Afisa menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Ia ingat betul bagaimana Bintang selalu ada di masa-masa tergelapnya, menjadi sosok yang tak pernah menuntut, namun selalu menyediakan bahu.
"Maaf ya, Mas, kalau aku butuh waktu selama itu buat sadar kalau rumah aku beneran ada di kamu," bisik Afisa pelan.
Bintang menarik Afisa ke dalam pelukannya, melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu dengan penuh proteksi. Afisa menyandarkan kepalanya di dada bidang Bintang, menghirup aroma maskulin yang menenangkan dari kemeja koko suaminya.
"Kamu nggak telat, Fis. Kamu datang tepat waktu, saat hatimu sudah benar-benar selesai sama masa lalumu. Dan itu yang paling penting buat aku," Bintang mengecup puncak kepala Afisa dengan khidmat.
Ia melepaskan pelukannya sedikit, lalu mengangkat dagu Afisa agar mereka kembali bertatapan. "Januari 2022 ini... Semarang mungkin bakal ambil raga kamu buat sementara. Tapi setelah janji tadi pagi di depan Ayah, aku nggak takut lagi. Jarak ratusan kilometer itu cuma ujian kecil buat ekuilibrium kita."
Bintang tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan kepastian. "Sekarang, Nyonya Bintang, mending kita istirahat. Besok kita punya misi besar buat angkut barang-barang kamu ke 'Safe House' kita. Aku nggak mau kamu kurang tidur di hari pertama kita jadi tim pindahan."
Afisa tertawa kecil, rasa sesak tentang keberangkatan tanggal 15 nanti seolah menguap begitu saja. Benar kata Bintang, status baru ini adalah jangkar yang kuat.
"Siap, Kapten. Eh, maksud aku... siap, Mas Bintang," ralat Afisa sambil mengerlingkan mata jenaka.
Malam itu, di bawah atap rumah Jakarta Selatan yang menjadi saksi bisu transformasinya, Afisa tidur dengan hati yang tenang. Ia tidak lagi merasa seperti sampah yang dibuang; ia adalah berlian yang akhirnya ditemukan dan dijaga oleh pemilik yang tepat.
Udara pagi Jakarta Selatan masih terasa lembap oleh sisa hujan semalam. Di depan pintu rumah yang asri itu, Afisa sudah berdiri tegak. Ia mengenakan blazer charcoal yang senada dengan rok span selutut—penampilan "perang" andalannya setiap kali harus menghadapi meja hijau.
Meskipun semalam ia baru saja melewati momen mengharukan bersama Mas Bintang, dan subuh tadi ditinggal tugas mendadak, Afisa tahu profesionalitasnya tidak boleh goyah. Hari ini adalah salah satu sidang mediasi terberatnya sebelum ia menyerahkan seluruh berkas kasusnya ke tim Jakarta untuk persiapan pindah ke Semarang.
"Ayah, Bunda... Afisa berangkat sidang dulu ya," pamit Afisa sambil mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
Ayah menepuk bahu putrinya dengan bangga. "Hati-hati di jalan, Fis. Ingat, hari ini kamu bukan cuma berjuang buat klien, tapi juga buat masa depanmu sendiri sebagai seorang istri."
Bunda membetulkan kerah blazer Afisa dengan lembut. "Bunda selalu doakan yang terbaik. Menang atau kalah, kamu tetap berlian di mata Bunda. Jangan lupa kalau sudah selesai nanti, langsung kabari Mas Bintang ya."
"Iya, Bun. Doakan sidangnya lancar dan ekuilibrium argumenku nggak goyah di depan hakim," ucap Afisa dengan senyum tipis yang mulai kembali percaya diri.
Pukul 09.30 WIB — Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Suasana ruang sidang terasa mencekam. Suara ketukan palu hakim bergema, memutus kebisingan diskusi para pengacara. Afisa duduk di kursi kuasa hukum, jemarinya menari di atas tablet, menyusun poin-poin keberatan yang sangat teknis.
Namun, di tengah fokusnya yang tajam, bayangan Bintang yang sedang berjuang di IGD terus melintas. Ia teringat janji suaminya tadi subuh: "Tunggu aku di apartemen sore nanti."
Setiap kali ia merasa lelah atau tertekan oleh argumen lawan yang menyerang, Afisa menyentuh cincin di jari manisnya di bawah meja. Benda kecil itu seolah memberinya kekuatan magis. Ia bukan lagi Afisa yang dulu takut diabaikan; ia adalah wanita yang sudah memiliki pelabuhan tetap.
"Yang Mulia, berdasarkan bukti kontrak yang kami lampirkan, tidak ada klausul yang membenarkan adanya wanprestasi dari pihak klien kami..." Suara Afisa menggelegar di ruang sidang, tenang namun mematikan.
Sidang berlangsung alot selama hampir tiga jam. Namun, berkat ketelitiannya membedah literatur hukum, Afisa berhasil menekan pihak lawan hingga mereka bersedia melakukan mediasi damai.
Begitu keluar dari ruang sidang, Afisa mengembuskan napas lega. Ia melangkah menuju parkiran dengan langkah ringan. Ia segera merogoh ponselnya, berniat memberi kabar pada Bintang, namun ia terhenti saat melihat notifikasi dari Citra di Semarang:
"Fis, draf kasus buat Semarang sudah masuk ke sistem internal firma pagi ini. Lo beneran dapat kasus besar pas hari pertama masuk nanti. Siapkan mental, Partner!"
Afisa terdiam sejenak. Tanggal 15 Januari tinggal menghitung hari. Kemenangan di Jakarta hari ini adalah penutup babak yang manis, namun ia tahu, tantangan sesungguhnya baru saja menantinya di balik tiket kereta api menuju Jawa Tengah.
"Aku akan siap, Cit," gumamnya yakin.
Ia pun melajukan mobilnya menuju apartemennya. Sesuai janji, ia akan menunggu Bintang di sana. Menunggu pria yang telah menjadi ekuilibrium hatinya, sebelum jarak benar-benar datang menguji mereka.