seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Malam itu, hujan gerimis membungkus Jakarta dengan hawa dingin yang menusuk. Di dalam kontrakan sempit yang biasanya terasa hangat oleh tawa, Dinda duduk di sudut ruangan, memandangi buku catatan pengeluaran yang angkanya masih jauh dari kata aman. Di sampingnya, Dita sudah terlelap dengan napas teratur, sementara Dika tampak mendengkur halus di balik tirai pembatas, kelelahan setelah seharian di sekolah dan membereskan rumah.
Tiba-tiba, ponsel Dinda bergetar hebat di atas tikar. Layarnya menyala, menampilkan nama "TUAN ALAN".
Jantung Dinda mencelos. Ia melirik ke arah Dika, takut adiknya terbangun dan melihat nama itu. Dengan gerakan kilat, ia menyambar ponselnya dan menyelinap keluar ke teras kecil.
"Halo, Tuan?" bisik Dinda pelan, nyaris tak terdengar.
"Halo? Apakah ini sekretaris Tuan Allandra?" Suara di seberang sana bukan suara berat Alan yang dingin, melainkan suara musik yang berdentum keras dan suara pria asing yang terdengar panik.
"I-iya, saya sekretarisnya. Ini siapa?"
"Saya manajer klub di kawasan SCBD. Tuan Allandra... dia mabuk berat, Nona. Sangat berat. Dia terus menggumamkan nama Anda dan meminta kami menghubungi 'sekretarisnya'. Kami tidak berani memanggil polisi atau keluarganya karena reputasi beliau. Bisakah Anda kemari sekarang? Dia mulai tidak terkendali."
Dinda mematung. "Mabuk? Tapi saya... saya tidak bisa ke sana malam-malam begini."
"Tolong, Nona! Beliau sudah memecahkan beberapa botol mahal dan menolak pergi jika bukan Anda yang menjemput. Kami mohon bantuan Anda!"
Klik. Sambungan terputus.
Dinda berdiri mematung di kegelapan. Pikirannya berperang hebat. Ia membenci tempat seperti itu, namun ia juga sadar bahwa Alan adalah satu-satunya harapan bagi kesembuhan Dita. Jika sesuatu terjadi pada Alan malam ini, masa depan keluarganya ikut terancam.
Setelah memastikan Dika dan Dita benar-benar terlelap, Dinda memakai jaket lusuhnya dan menyelinap keluar. Ia memesan ojek daring dengan tangan gemetar, menuju kawasan elit yang belum pernah ia injak sebelumnya.
***
Sesampainya di depan kelab malam yang megah, Dinda merasa seperti butiran debu di tengah lautan kemewahan yang liar. Lampu neon berwarna ungu dan merah menyambar-nyambar, sementara dentuman bass terasa hingga ke tulang rusuknya.
Ia melangkah masuk dengan ragu. Bau alkohol dan asap rokok langsung menyengat indra penciumannya. Dinda menunduk, mencoba melewati kerumunan orang yang menari tanpa peduli sekitar.
"Hey, manis... sendirian saja?" seorang pria mabuk tiba-tiba merangkul bahunya, napasnya bau naga.
"Lepaskan! Saya sedang mencari seseorang!" Dinda menepis tangan pria itu dengan kasar, wajahnya pucat pasi karena ketakutan.
"Sombong sekali. Ayo, satu gelas saja," pria lain ikut menggoda, mencoba menarik ujung jaket Dinda.
Dinda nyaris menangis saat matanya menyapu setiap sudut ruangan. Hingga akhirnya, di sebuah sofa kulit di pojok ruang VIP yang sedikit lebih gelap, ia melihat sosok itu. Allandra Ryuga. Jas mewahnya sudah entah ke mana, kemeja putihnya terbuka di dua kancing teratas, dan rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan. Ia sedang menyandarkan kepala dengan mata terpejam, sementara beberapa botol kosong berserakan di depannya.
"Tuan Alan!" Dinda berlari mendekat, mengabaikan godaan orang-orang di sekitarnya.
Alan membuka matanya perlahan. Tatapannya sayu, jauh dari kesan tegas yang biasa ia tunjukkan. Saat melihat Dinda, sebuah senyuman miring muncul di wajahnya.
"Dinda... Anda datang juga," gumam Alan parau. Suaranya berat dan tidak jelas.
"Tuan, ayo pulang. Ini sudah hampir tengah malam," Dinda mencoba menarik lengan Alan, namun pria itu justru menarik Dinda hingga terduduk di sampingnya.
"Kenapa buru-buru? Temani saya dulu di sini," Alan menatap Dinda dengan intensitas yang menakutkan karena pengaruh alkohol.
Dinda segera merogoh ponselnya, mencoba menelpon Leo berkali-kali, namun nihil. Leo tidak mengangkat. Dalam kepanikan, ia mencari nomor supir pribadi Alan yang mengantarnya kemarin. Beruntung, supir itu langsung mengangkat dan berjanji akan tiba dalam lima menit.
***
Supir Alan tiba dan membantu Dinda memapah tubuh kekar Alan keluar dari kelab. Alan terus meracau, langkahnya gontai, berat tubuhnya hampir membuat Dinda jatuh tersungkur.
Saat mereka sampai di pinggir jalan menunggu mobil mendekat, Dinda hendak melepaskan pegangannya, namun Alan justru mencengkeram pergelangan tangan Dinda dengan kuat.
"Jangan pergi, Dinda," bisik Alan tepat di telinga Dinda. Hembusan napasnya yang panas membuat Dinda merinding.
"Tuan, saya harus pulang. Adik-adik saya sendirian di rumah," tolak Dinda dengan suara bergetar.
Alan menatap Dinda, matanya yang merah seolah sedang menimbang sesuatu. "Berapa? Berapa gaji Anda sebulan di kantor?"
"Tuan, jangan bicara soal itu sekarang..."
"Saya akan membayar sepuluh kali lipat dari bonus Anda semalam... jika Anda menemani saya malam ini. Saya tidak mau sendiri, Dinda. Jangan biarkan saya sendiri," suara Alan mendadak terdengar rapuh, seperti seorang anak kecil yang takut kegelapan, namun tetap dengan nada memerintah seorang penguasa.
Dinda tertegun. Sepuluh kali lipat? Angka itu berputar di kepalanya. Itu berarti biaya pengobatan Dita untuk satu tahun ke depan bisa tertutup dalam semalam. Hutang budinya pada Alan, kebutuhan Dika yang mulai besar... semuanya seolah mendesak Dinda untuk mengangguk.
"Hanya menemani sampai Tuan tenang? Tidak lebih?" tanya Dinda ragu.
Alan tidak menjawab, ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Dinda, memberikan isyarat bahwa ia tidak akan melepas cengkeramannya.
"Pak Sopir, jangan ke kediaman Ryuga," perintah Alan saat mereka sudah berada di dalam mobil. "Ke apartemen pribadi saya di Penthouse Sudirman."
Dinda hanya bisa terdiam, menatap jendela yang basah oleh sisa hujan. Ia tahu, langkah yang ia ambil malam ini adalah wilayah berbahaya yang bisa menghancurkan segalanya jika Dika sampai tahu.
**
Apartemen Alan begitu luas, dingin, dan minimalis. Dinding kacanya menampilkan pemandangan gemerlap Jakarta dari ketinggian lantai 50. Supir membantu Alan masuk ke dalam kamar utama, lalu pamit pergi setelah memberikan kunci cadangan pada Dinda.
"Nona, tolong jaga Tuan. Beliau sedang dalam tekanan besar karena masalah keluarga tadi siang," bisik sang supir sebelum pergi.
Dinda kini sendirian dengan Alan yang terbaring di ranjang king size. Ia segera menuju dapur, mengambil handuk kecil dan air hangat. Dengan telaten, ia menyeka wajah Alan dan tangan pria itu.
"Kenapa Tuan minum sebanyak ini? Tuan punya segalanya, tapi kenapa Tuan terlihat begitu menderita?" gumam Dinda saat membersihkan sisa alkohol di kemeja Alan.
Tiba-tiba, tangan Alan menangkap tangan Dinda yang sedang memegang handuk. Pria itu sudah sedikit lebih sadar, namun masih di bawah pengaruh sisa mabuk. Ia menarik Dinda hingga wanita itu terduduk di tepi ranjang.
"Mereka ingin menjodohkan saya, Dinda," Alan bicara dengan mata terpejam. "Mereka pikir saya adalah robot yang bisa mereka pasangkan dengan siapa saja demi saham."
Dinda terdiam. Jadi ini alasan Alan mabuk?
"Tuan bisa menolaknya," sahut Dinda pelan.
Alan membuka matanya, menatap langit-langit kamar yang mewah namun terasa hampa. "Saya sudah menolaknya. Saya bilang saya sudah punya kekasih."
Jantung Dinda berdegup kencang. "Kekasih? Siapa?"
Alan menoleh, menatap Dinda dengan tatapan yang membuat Dinda sesak napas. "Seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa dia sedang saya lindungi dari seluruh dunia. Seseorang yang membuat saya merasa bahwa menjadi orang kaya itu tidak ada gunanya jika tidak bisa melindungi satu orang yang dia sayangi."
Dinda tidak berani bertanya lebih lanjut. Ia takut jawabannya akan merusak dinding profesionalitas yang selama ini ia bangun.
"Tidurlah, Tuan. Saya akan di sini sampai pagi," ujar Dinda lembut.
Alan tidak melepaskan tangan Dinda. Ia menggenggamnya erat, seolah Dinda adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut. Dinda akhirnya terduduk di kursi samping ranjang, menyandarkan kepalanya di tepi kasur sambil terus membiarkan tangannya digenggam oleh Alan.
Malam itu, di dalam apartemen yang sunyi, dua jiwa dari dunia yang berbeda terikat dalam sebuah kebisuan yang penuh rahasia. Dinda tidak tahu bahwa besok pagi, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kebohongannya pada Dika akan semakin sulit untuk dipertahankan, sementara Alan semakin bertekad untuk menjadikan Dinda miliknya, apapun harganya.
***
Bersambung ...