Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Batas segel
Siang itu terasa lebih hangat dari biasanya, namun ketenangan desa justru terasa menipu. Matahari berada tepat di atas kepala, menyinari jalan-jalan kecil yang lengang, sementara angin berhembus pelan membawa aroma hutan yang samar.
Edward berdiri beberapa langkah dari rumah kakek, tatapannya tenang namun pikirannya bergerak cepat. Pertemuan singkatnya dengan Arlan sebelumnya meninggalkan kesan yang tidak bisa ia abaikan. Cara Arlan memandangnya—tajam, penuh curiga, dan seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi—membuat Edward menyadari satu hal.
Anak itu bukan sekadar penasaran Ia sedang mencari kebenaran dan itu berbahaya.
Edward menghela napas pelan, lalu melangkah mendekati pintu rumah kakek. Ia tidak mengetuk.
Pintu itu terbuka dengan sendirinya seolah seseorang di dalam sudah tahu ia akan datang.
“Kau terlambat,” suara kakek terdengar dari dalam, tenang seperti biasa.
Edward masuk tanpa ragu. Ruangan itu masih sama—hangat, penuh dengan buku-buku tua, dan dipenuhi aroma kayu yang khas. Kakek duduk di kursinya, menatap lurus ke arah Edward, seolah sudah menunggu sejak lama.
“Kau sudah bertemu dengannya,” ujar kakek tanpa basa-basi.
Edward mengangguk pelan.
“Arlan.”
Nama itu terasa berat di udara.
“Kau sudah tahu dia akan mencari ku,” kata Edward.
“Itu tidak sulit ditebak,” jawab kakek tenang. “Anak itu terlalu mirip dengan ayahnya. Jika ia merasa ada yang tidak beres, ia tidak akan berhenti sampai menemukan jawabannya.”
Edward melangkah mendekat, berdiri beberapa langkah dari kakek.
“Dia mulai mencurigai.”
Kakek tidak terlihat terkejut.
“Sejak kapan?”
“Sejak ia melihatku terlalu dekat dengan Alana.”
Keheningan sejenak.
Kakek menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya.
“Cepat juga,” gumamnya.
Edward menatapnya tajam. “Dia tidak boleh tahu siapa aku.”
Nada suaranya tidak tinggi, namun tegas.
Kakek mengangguk pelan. “Aku sudah menduganya.”
“Bukan hanya itu,” lanjut Edward. “Dia berniat mencariku. Dia akan mencoba bertemu langsung.”
“Dan kau menghindarinya.”
“Untuk saat ini.”
Kakek tersenyum tipis. “Pilihan yang bijak.”
Edward tidak membalas senyum itu. Tatapannya justru semakin dalam.
“Jika dia mengetahui kebenarannya, semuanya akan berubah.”
Kakek terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Bukan hanya dia.”
Mereka saling menatap.
Ada pemahaman yang tidak perlu diucapkan.
Jika Arlan tahu, maka rahasia desa ini tidak akan bertahan lama.
Dan jika itu terjadi…
bukan hanya manusia yang akan terlibat.
“Kita harus menjaganya tetap dalam kegelapan,” kata Edward akhirnya.
“Selama mungkin,” tambah kakek.
Namun pembicaraan mereka tidak berhenti di situ.
Kakek berdiri perlahan, berjalan menuju jendela, lalu menatap ke arah hutan yang tampak tenang di kejauhan.
“Masalah kita bukan hanya Arlan.”
Edward mengikuti arah pandangannya.
“Aku tahu.”
“Kau merasakannya?”
Edward mengangguk pelan.
“Pergerakan mereka semakin dekat.”
Kakek menyipitkan mata. “Raja serigala tidak akan tinggal diam.”
“Dia sudah mulai mengirim bawahannya.”
Kata-kata itu membuat suasana berubah lebih berat lebih berbahaya.
“Kita kehabisan waktu,” gumam kakek.
Edward tidak menyangkal.
“Alana adalah target utama.”
“Dan dia tidak tahu apa-apa,” lanjut kakek.
“Itu justru yang membuatnya rentan.”
Keheningan kembali jatuh, namun kali ini terasa lebih menekan.
Mereka berdua memahami satu hal yang sama.
Keselamatan Alana tidak bisa lagi dianggap sepele.
“Kita harus membuat rencana,” kata kakek akhirnya.
Edward mengangguk.
“Dia tidak boleh keluar dari desa.”
“Itu langkah pertama,” sahut kakek.
“Langkah kedua,” lanjut Edward, “kita harus memastikan tidak ada yang mencurigakan di sekitarnya.”
“Termasuk Arlan.”
Edward menatap kakek.
“Dia bukan musuh.”
“Tapi dia bisa menjadi masalah.”
Kakek tidak membantah.
“Kalau perlu… alihkan perhatiannya.”
“Aku akan melakukannya.”
Percakapan mereka berlanjut.
Lebih dalam lebih serius.
Mereka membahas kemungkinan terburuk, jalur keluar, dan cara melindungi Alana jika sesuatu terjadi. Setiap detail dipikirkan dengan matang, tanpa celah.
Waktu berlalu tanpa mereka sadari.
Matahari mulai bergerak turun, bayangan pohon di luar jendela semakin panjang.
Namun fokus mereka tidak pernah teralihkan.
Hingga…
mereka benar-benar lengah.
—
Di sisi lain desa, suasana terasa jauh lebih ringan.
Arlan berdiri di depan rumah, menatap ke arah jalan setapak yang mengarah ke hutan. Wajahnya terlihat lebih santai dibanding pagi tadi, namun pikirannya masih dipenuhi rasa penasaran.
Ia sudah mengambil keputusan.
Jika tidak bisa mendapatkan jawaban dari orang lain…
maka ia akan mencarinya dengan caranya sendiri.
“Alana!”
Ia memanggil dari luar.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Alana muncul dengan wajah sedikit heran.
“Ada apa?”
Arlan tersenyum tipis. “Ikut aku.”
“Kemana?”
“Ke tempat lama.”
Alana terdiam sejenak, lalu ekspresinya berubah.
Ia tahu maksud Arlan
Tepi hutan tempat mereka dulu sering bermain saat kecil.
Kenangan itu muncul begitu saja, membuatnya tanpa sadar tersenyum.
“Tiba-tiba sekali.”
“Tidak apa-apa, kan?”
Alana ragu sesaat, namun akhirnya mengangguk.
“Baiklah.”
Ia berbalik masuk sebentar.
Tanpa Arlan tahu, Alana berjalan ke kamarnya, membuka laci kecil di samping tempat tidurnya, lalu menatap kalung yang selama ini tidak pernah ia lepaskan.
Kalung itu berkilau samar.
Seolah hidup.
Alana menatapnya beberapa detik.
“Akan lebih aman kalau tidak dipakai,” gumamnya pelan.
Ia tahu satu hal.
Jika kalung itu sampai jatuh atau hilang di hutan…
ia tidak akan bisa menemukannya lagi.
Dengan hati-hati, ia melepas kalung itu dan meletakkannya di dalam laci, lalu menutupnya rapat.
Ia tidak menyadari…
bahwa keputusan kecil itu akan mengubah banyak hal.
—
Perjalanan mereka menuju tepi hutan terasa ringan.
Mereka berbicara tentang masa kecil, tentang kenangan lama yang sederhana, dan tertawa tanpa beban Untuk sesaat, semuanya terasa normal Seolah tidak ada rahasia.
Tidak ada bahaya Tidak ada dunia lain yang mengintai mereka sampai di batas desa.Tempat di mana pepohonan mulai lebih rapat.
Tempat yang seharusnya menjadi batas.Namun bagi Arlan, itu hanya tempat biasa.Ia melangkah melewatinya tanpa ragu.
Alana mengikutinya tanpa menyadari…mereka telah melewati sesuatu yang tidak terlihat.
Segel.
Perlindungan yang selama ini menjaga desa dari ancaman luar.Dan kini…mereka berada di luar jangkauan itu.
—
Di tengah hutan, Alana dan Arlan berjalan lebih jauh dari yang mereka rencanakan.
Tawa mereka perlahan mereda Digantikan oleh suara angin dan dedaunan.
Alana mulai merasa sesuatu yang aneh.
“Lan… kita sudah terlalu jauh.”
Arlan berhenti, menoleh.
“Tidak apa-apa. Kita dulu sering sampai sini.”
“Itu dulu.”
Nada suara Alana berubah.
Lebih pelan.lebih ragu Namun Arlan hanya tersenyum.
“Tenang saja.”
Alana tidak membalas Karena perasaannya mengatakan sesuatu yang berbeda.
—
Di balik pepohonan, jauh dari pandangan mereka…beberapa pasang mata mengawasi diam tanpa suara.
Gerakan mereka hampir tidak terlihat Namun tatapan mereka tajam terarah pada satu orang Alana.
Bawahan raja serigala.Mereka telah menyebar di seluruh hutan.
Dan kini…mereka menemukan sesuatu yang sangat berharga.
—