sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERMIN RETAK DAN KEBENARAN YANG PAHIT
Pagi itu, apartemen Kira terasa lebih dingin dari biasanya, meski matahari Jakarta sudah mulai memanaskan kaca-kaca jendela. Arlan sudah pergi sebelum fajar menyingsing, meninggalkan keheningan yang menyesakkan dan aroma kopinya yang masih tertinggal tipis di dapur.
Tidak ada kata pamit yang manis, hanya sebuah pesan singkat yang ditinggalkan di atas meja makan: “Ada meeting pagi. Vitaminmu sudah aku taruh di samping gelas. Diminum.”
Kira menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, perhatian kecil Arlan selalu berhasil meluluhkan hatinya, namun di sisi lain, pengakuan Arlan semalam terasa seperti racun yang menyebar perlahan. Arlan mengaku cemburu, Arlan mengaku takut kehilangan, tapi Arlan tetap tidak memberikan kepastian. Pria itu ingin Kira tetap berada dalam jangkauannya, namun tetap membiarkan status mereka menggantung di awang-awang.
"Kamu benar-benar pengecut, Lan," bisik Kira pada bayangannya sendiri di cermin kamar mandi. Matanya merah dan kantong matanya menghitam. Ia tampak seperti wanita yang baru saja kehilangan arah, dan memang begitulah kenyataannya.
Di sisi lain kota, di sebuah kantor arsitek yang elegan dengan pemandangan gedung pencakar langit, Arlan duduk mematung di kursi kerjanya. Di depannya, draf proyek besar sudah menanti, namun pikirannya tertahan pada momen di pintu apartemen Kira semalam. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Kira, getaran napasnya, dan air mata yang membasahi kemejanya.
Ia tahu ia egois. Sangat egois. Namun bagi Arlan, Kira adalah satu-satunya bagian dari hidupnya yang tidak boleh berantakan. Ia bisa menangani bangunan yang miring, klien yang marah, atau kerugian finansial, tapi ia tidak tahu bagaimana cara menangani hidupnya jika Kira benar-benar pergi dan mencintai pria lain.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.
"Masuk," ucap Arlan, berusaha mengembalikan suara dingin dan profesionalnya.
Pintu terbuka, menampakkan Clarissa. Wanita itu tidak memakai blazer kantornya yang kaku hari ini. Ia mengenakan terusan berwarna biru muda yang lembut, namun ekspresi wajahnya tidak selembut biasanya. Ia tidak tersenyum.
"Arlan, kita perlu bicara. Bukan soal proyek, tapi soal kita," ucap Clarissa tanpa basa-basi. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi di depan meja Arlan.
Arlan meletakkan pulpennya. Ia tahu momen ini akan datang, namun ia tidak menyangka akan secepat ini. "Soal apa, Cla?"
Clarissa menarik napas panjang, menatap Arlan dengan tatapan yang sangat jernih. "Kemarin di galeri seni... aku bukan orang bodoh, Lan. Aku melihat caramu menatap Kira. Itu bukan tatapan seorang sahabat yang khawatir. Itu adalah tatapan seorang pria yang dunianya sedang runtuh karena wanitanya sedang bersama orang lain."
Arlan terdiam. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa Clarissa salah paham, tapi lidahnya terasa kelu.
"Dan semalam," lanjut Clarissa, suaranya sedikit bergetar, "kamu membatalkan makan malam kita dengan alasan mendadak ada urusan kantor. Tapi aku tahu kamu pergi ke apartemen Kira, kan? Aku menelepon kantormu, dan mereka bilang kamu sudah pulang sejak sore."
"Cla, aku bisa jelaskan..."
"Nggak perlu, Lan. Penjelasanmu hanya akan menjadi kebohongan yang menyakiti kita berdua," potong Clarissa. Ia tersenyum getir. "Selama dua minggu ini, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa mungkin kamu memang tipe pria yang dingin. Tapi ternyata aku salah. Kamu tidak dingin. Kamu hanya memberikan seluruh hangatmu untuk satu orang, dan orang itu bukan aku."
Arlan menundukkan kepalanya. Rasa bersalah mulai menggerogoti dadanya. Clarissa adalah wanita yang baik, sangat baik. Ia tidak pantas dijadikan pelarian atau tameng untuk rasa takut Arlan.
"Aku minta maaf, Cla. Kamu nggak pantas mendapatkan ini," ucap Arlan rendah.
"Ya, aku memang tidak pantas mendapatkan ini. Jadi, aku memutuskan untuk berhenti. Kita cukup sampai di sini, Arlan. Carilah keberanianmu, atau kamu akan menyesal seumur hidup melihat Kira menikah dengan orang seperti Raka hanya karena kamu terlalu pengecut untuk mengakui perasaanmu."
Clarissa berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berbalik sekali lagi. "Dan satu hal lagi... Kira itu tulus. Jangan hancurkan dia hanya karena kamu tidak tahu cara mencintai dengan benar."
Setelah Clarissa pergi, ruangan itu terasa sangat luas dan hampa. Arlan menyandarkan punggungnya di kursi, memejamkan mata. Ia baru saja kehilangan seorang wanita yang luar biasa, namun anehnya, yang ia rasakan bukanlah rasa kehilangan, melainkan rasa lega yang aneh bercampur dengan rasa takut yang semakin menjadi-jadi.
Sore harinya, Kira sedang berada di kantornya, mencoba menyelesaikan revisi desain untuk klien saat resepsionis meneleponnya.
"Mbak Kira, ada tamu di bawah. Namanya Mbak Clarissa."
Jantung Kira seolah berhenti berdetak. Clarissa? Di sini? Apakah wanita itu datang untuk melabraknya? Apakah Arlan menceritakan apa yang terjadi semalam? Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kira turun ke lobi.
Ia menemukan Clarissa sedang duduk di sofa lobi sambil menyesap teh. Begitu melihat Kira, Clarissa berdiri. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya ada kelelahan yang sama seperti yang dirasakan Kira.
"Hai, Kira. Bisa bicara sebentar? Di kedai kopi sebelah saja agar lebih santai," ajak Clarissa.
Kira mengangguk patuh. Mereka berjalan berdampingan dalam keheningan yang canggung menuju kedai kopi di samping gedung kantor. Setelah memesan minuman, Clarissa langsung membuka pembicaraan.
"Aku sudah putus dengan Arlan tadi pagi," ucapnya tanpa basa-basi.
Kira tersedak air mineralnya. "Apa? Tapi... kenapa? Bukannya kalian... maksudku, Arlan bilang kamu orang yang tepat."
Clarissa tertawa kecil, sebuah tawa yang penuh dengan ironi. "Dia bilang begitu karena dia ingin meyakinkan dirinya sendiri, Kira. Bukan karena itu kenyataannya. Arlan itu arsitek, dia suka membangun struktur yang kuat untuk menutupi pondasi yang rapuh. Dan pondasi rapuhnya adalah ketakutannya untuk kehilangan kamu."
Kira terdiam, meremas ujung bajunya.
"Kira, aku datang ke sini bukan untuk marah. Aku datang karena aku melihat diriku dalam dirimu. Kita berdua sama-sama mencintai pria yang sama, tapi bedanya, kamu punya kunci ke hatinya, sementara aku bahkan tidak pernah diizinkan mengetuk pintunya," lanjut Clarissa.
"Clarissa, aku nggak bermaksud merusak hubungan kalian. Aku benar-benar mencoba menjauh, aku bahkan mulai berkencan dengan orang lain," bela Kira lirih.
"Itu masalahnya. Kamu menjauh, dia mengejar. Dia mengejar, kamu lari. Sampai kapan kalian mau main petak umpet begini? Kalian sudah sebelas tahun bersama. Itu waktu yang lebih dari cukup untuk tahu bahwa kalian tidak bisa hidup tanpa satu sama lain."
Clarissa meraih tangan Kira di atas meja, menggenggamnya sebentar. "Arlan itu bodoh kalau soal perasaan. Dia pikir dengan menjagamu sebagai sahabat, dia menyelamatkan hubungan kalian. Padahal sebenarnya, dia sedang membunuhmu perlahan-lahan dengan ketidakpastian."
"Aku takut, Cla. Kalau kami mencoba dan gagal, aku nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Arlan adalah segalanya buatku," aku Kira jujur, air mata mulai menggenang di matanya.
"Kegagalan terbesar bukan saat kalian mencoba lalu putus, Kira. Kegagalan terbesar adalah saat kalian melihat satu sama lain di pelaminan dengan orang lain, lalu bertanya-tanya 'bagaimana jika dulu kita berani?'. Jangan sampai itu terjadi padamu."
Clarissa berdiri, ia tampak jauh lebih ringan sekarang. "Aku akan kembali ke London minggu depan. Ada proyek keluarga yang harus kuurus. Aku harap, saat aku kembali nanti untuk berkunjung, aku melihat undangan pernikahan kalian, bukan berita bahwa kalian sudah tidak saling bicara lagi."
Setelah Clarissa pergi, Kira duduk terpaku di kedai kopi itu selama satu jam. Kata-kata Clarissa berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Jangan sampai kalian melihat satu sama lain di pelaminan dengan orang lain.
Kira merogoh ponselnya. Ia membuka blokir notifikasi dari Arlan. Ada belasan panggilan tak terjawab dari pria itu sejak siang tadi.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama Arlan kembali muncul.
Kira menarik napas panjang dan mengangkatnya.
"Halo, Lan?"
"Ra? Kamu di mana? Aku di depan kantormu, tapi resepsionis bilang kamu sedang keluar.
Aku... aku perlu bicara. Penting. Tolong jangan matikan HP-mu lagi," suara Arlan terdengar panik, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada pria sedingin dia.
"Aku di kedai kopi sebelah, Lan."
"Tunggu di sana. Jangan bergerak. Aku ke sana sekarang."
Hanya butuh dua menit sampai Arlan muncul di pintu kedai kopi. Ia tampak berantakan, dasinya sudah longgar, dan kemejanya kusut. Begitu matanya menangkap sosok Kira, ia langsung melangkah lebar dan duduk di depan gadis itu.
"Clarissa sudah bicara padamu?" tanya Arlan langsung.
"Iya. Dia baru saja pergi."
Arlan mengusap wajahnya kasar. "Aku sudah mengacaukan segalanya, ya? Aku menyakitinya, aku menyakitimu, dan aku mempermalukan diriku sendiri."
Kira menatap Arlan dalam-dalam. "Kenapa kamu nggak jujur dari awal, Lan? Kenapa harus pakai Clarissa? Kenapa harus pakai sabotase kencanku?"
Arlan menatap mata Kira, dan kali ini, tidak ada lagi tembok es di sana. Yang ada hanyalah kejujuran yang telanjang. "Karena aku takut mendengar jawabanmu, Ra. Selama kita jadi sahabat, aku punya alasan untuk selalu ada di sampingmu. Tapi kalau aku bilang aku cinta kamu, dan kamu nggak merasakan hal yang sama... aku harus pergi. Dan aku nggak sanggup membayangkan duniaku tanpa kamu."
Kira merasakan dadanya sesak, tapi kali ini sesak yang melegakan. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh jemari Arlan yang gemetar di atas meja.
"Lan, kamu tahu nggak kenapa aku nggak pernah bisa serius dengan pria mana pun selama sebelas tahun ini?"
Arlan menggeleng pelan.
"Karena setiap kali aku bersama mereka, aku selalu mencari kamu di dalam diri mereka. Dan aku nggak pernah menemukannya. Karena Arlan cuma ada satu, dan dia cukup bodoh untuk nggak sadar kalau sahabatnya sendiri sudah jatuh cinta padanya sejak malam pensi SMA kita."
Arlan mematung. Matanya membelalak. "Ra... kamu..."
"Iya, Lan. Aku juga mencintaimu. Bodoh, kan?" Kira tertawa sambil menangis.
Di tengah kedai kopi yang mulai ramai oleh orang-orang pulang kantor, Arlan menarik tangan Kira dan mencium punggung tangannya lama. Tidak ada lagi kata sahabat. Sore itu, di bawah temaram lampu kedai kopi, sebuah babak baru dimulai. Namun, mereka belum tahu bahwa pengakuan ini barulah awal dari ujian yang sesungguhnya. Karena mencintai sahabat sendiri berarti harus siap menghadapi perubahan besar dalam dinamika keluarga dan lingkungan mereka.