NovelToon NovelToon
SURAT DARI BATAVIA

SURAT DARI BATAVIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu / Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
​Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
​Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Langit yang Berbeda

16 Oktober 1930. Pukul 19.00 waktu Batavia.

Kampung Kwitang, Batavia Centrum.

Langit di atas Kwitang berwarna ungu lebam, sisa dari senja yang mendung. Aroma tanah basah bercampur dengan bau kertas tua dan tinta cetak menguar kuat di udara.

Raden Mas Arya duduk di sebuah kamar loteng sempit di lantai dua sebuah toko buku kecil. Pemiliknya, Babah Ong, adalah simpatisan pergerakan yang diam-diam sering menyelundupkan buku-buku terlarang dari Eropa untuk dibaca para pemuda bumiputra.

"Raden, ini kopi dan singkong rebus," suara Babah Ong terdengar dari balik pintu kayu, meletakkan nampan di lantai. "Lampu minyaknya jangan terlalu terang. Tetangga sebelah agak cerewet, takut dia lapor PID."

"Terima kasih, Bah. Saya akan hati-hati," jawab Arya pelan.

Arya membuka jendela nako sedikit. Dari celah itu, dia bisa melihat aliran Sungai Ciliwung yang keruh membelah Batavia. Di kejauhan, lampu-lampu gas jalanan mulai dinyalakan oleh petugas kota, menciptakan pendar kuning yang suram.

Arya merasa sangat kesepian.

Teman-temannya banyak yang ditangkap pasca penahanan Soekarno Desember tahun lalu. Pergerakan sedang tiarap. PNI (Partai Nasional Indonesia) sedang dalam tekanan hebat. Dan dia? Dia hanyalah buronan yang bersembunyi di loteng toko buku, ditemani mesin tik besi yang beratnya minta ampun.

Arya memandang mesin tik Remington itu. Benda itu adalah satu-satunya jendelanya menuju kewarasan. Jendela menuju wanita bernama Alina.

Dia memasukkan kertas. Jari-jarinya gatal ingin menyapa. Tapi dia ragu. Apakah "Nona Masa Depan" itu ada di sana?

Arya mengetik perlahan.

16 Oktober 1930.

Saya sudah pindah. Kwitang ramai sekali, bahkan di malam hari. Suara lonceng trem uap terdengar jelas dari sini. Saya bersembunyi di atas toko buku tua milik kawan Tionghoa.

Nona Alina, apakah kau ada di sana?

Arya menunggu. Dia menatap kertas itu lekat-lekat, berdoa agar tuas huruf itu bergerak membalas.

16 Oktober 2024. Pukul 19.00 WIB.

Kawasan Kwitang, Jakarta Pusat.

Suara klakson Metromini dan deru motor ojek online memekakkan telinga. Asap knalpot mengepul, bercampur dengan aroma Gulai Kambing yang terkenal di pinggir jalan Kwitang.

Alina berdiri di trotoar, memegang ponselnya yang menampilkan peta digital. Dia tidak berada di museum malam ini. Dia nekat membawa mesin tik itu pulang ke kos-kosannya, tapi sebelum pulang, dia mampir ke sini.

"Titik koordinatnya di sekitar sini," gumam Alina.

Dia mencari lokasi yang dideskripsikan Arya dalam "surat" pendek yang baru saja muncul di mesin tik portabel yang dia bawa di dalam tas ranselnya (Alina merasa seperti orang gila membawa mesin tik besi seberat 5 kg ke mana-mana, tapi dia takut melewatkan pesan Arya).

Alina berhenti di depan sebuah ruko tua yang kini menjadi tempat fotokopi dan percetakan undangan. Bangunannya bergaya Art Deco yang sudah pudar, catnya mengelupas, tertutup spanduk "TERIMA CETAK YASIN & SKRIPSI".

"Ini tempatnya," bisik Alina.

Dulu ini toko buku Babah Ong. Sekarang tempat fotokopi.

Alina masuk ke dalam. Bau kertas dan tinta toner menyambutnya—bau yang sama dengan masa lalu, hanya beda teknologi.

"Mbak, mau fotokopi?" tanya mas-mas penjaga yang sedang merokok di depan mesin Canon besar.

"Enggak, Mas. Cuma mau lihat-lihat. Dulu ini toko buku ya?"

"Wah, nggak tahu Mbak. Saya nyewa baru 5 tahun. Tapi kata orang tua sini, emang dulu gudang buku jaman londo."

Alina menyentuh tembok yang terkelupas. Dia membayangkan Arya ada di lantai dua gedung ini, 94 tahun yang lalu. Mungkin tepat di atas kepalanya saat ini, di dimensi waktu yang berbeda, Arya sedang menatap jalanan yang sama.

Alina segera mencari tempat duduk di warung kopi tenda di seberang jalan. Dia memesan es teh manis, lalu mengeluarkan mesin tiknya di atas meja kayu yang lengket. Pengunjung lain menatapnya aneh—seorang wanita muda dengan dandanan modern mengetik di mesin tik antik di pinggir jalan.

Alina tidak peduli. Dia melihat pesan Arya yang tadi belum sempat dibalas.

Aku di sini, Arya. Aku sedang duduk di seberang tempat persembunyianmu. Di masaku, toko buku Babah Ong sudah jadi tempat fotokopi—mesin penyalin kertas otomatis.

Kwitang masih ramai. Tapi trem uap sudah tidak ada. Gantinya jutaan sepeda motor.

Di tahun 1930, Arya tersentak kaget melihat balasan itu muncul.

Kau di seberang jalan?

Sayang sekali saya tidak bisa melambaikan tangan. Kalau saya buka jendela lebar-lebar, patroli mungkin melihat.

Tapi rasanya hangat... mengetahui ada seseorang yang menemani saya, meski tak terlihat.

Alina tersenyum, matanya berkaca-kaca. Dia mengetik balasan di tengah hiruk pikuk Jakarta.

Aku menemanimu. Selalu. Langit kita sama, Arya. Bulan yang kau lihat malam ini, adalah bulan yang sama yang kulihat sekarang.

Bulan sepotong? Seperti sabit?

Alina mendongak ke langit Jakarta yang penuh polusi cahaya. Samar-samar, dia melihat bulan sabit pucat di balik gedung tinggi.

Iya. Bulan sabit.

Koneksi itu terasa begitu nyata. Dua orang kesepian di bawah bulan yang sama.

Alina... boleh saya bertanya tentang nasib seseorang?

Alina ragu sejenak. Butterfly effect. Tapi jarinya bergerak sendiri.

Siapa?

Ir. Soekarno. Bung Karno.

Sejak Desember tahun lalu dia ditahan di Penjara Banceuy, lalu dipindah ke Sukamiskin. Kabarnya dia akan diadili bulan-bulan ini.

Banyak kawan yang putus asa. Mereka bilang pergerakan sudah mati. PNI akan dibubarkan. Apakah... apakah Bung Karno akan selamat? Apakah dia akan terlupakan?

Pertanyaan itu menghantam Alina.

Di tahun 2024, nama Soekarno ada di mana-mana. Di nama bandara, di nama jalan, di uang kertas, di buku sejarah SD sampai Universitas. Dia adalah Proklamator. Bapak Bangsa.

Tapi bagi Arya di tahun 1930, Soekarno hanyalah seorang insinyur muda berusia 29 tahun yang sedang meringkuk di sel sempit yang bau pesing, menunggu vonis hakim kolonial yang tidak adil.

Alina menyadari betapa beratnya beban ketidakpastian yang dipikul Arya dan generasinya. Mereka berjuang dalam gelap, tanpa tahu apakah fajar akan benar-benar terbit.

Alina menarik napas panjang. Dia ingin memberikan harapan itu. Dia ingin Arya tahu bahwa perjuangannya tidak sia-sia.

Dengarkan aku baik-baik, Arya.

Bung Karno tidak akan terlupakan. Dia akan diadili, ya. Dia akan membacakan pembelaan yang mengguncang dunia, namanya "Indonesia Menggugat".

Dia akan dipenjara, dibuang, dan diasingkan berkali-kali. Bengkulu, Ende, Flores...

Mesin tik Arya bergerak cepat, mencetak kata demi kata yang membuat napas pemuda itu tertahan.

Tapi dia tidak akan patah. Lima belas tahun dari sekarang, di sebuah pagi bulan Agustus yang cerah... Bung Karno akan berdiri di depan mikrofon.

Dan dia akan menjadi orang pertama yang membaca teks Proklamasi Kemerdekaan kita.

Dia akan menjadi Presiden Pertama Republik Indonesia.

Di loteng Kwitang tahun 1930, Arya jatuh terduduk dari kursinya.

Dia membaca kalimat terakhir itu berulang-ulang.

Presiden Pertama.

Air mata Arya tumpah membasahi pipinya yang tuntas. Bahunya berguncang hebat. Bukan karena sedih, tapi karena ledakan rasa haru yang tak tertahankan.

Selama ini, mereka sering diejek sebagai pemimpi. "Inlander gila yang mau melawan Kerajaan Belanda".

Tapi Alina... Nona dari masa depan ini... baru saja memberinya kepastian. Bahwa mimpi itu nyata. Bahwa "Indonesia" bukan sekadar utopia di kepala mereka.

Dengan tangan gemetar, Arya kembali ke mesin tik.

Alina... Kau tidak tahu apa arti kata-katamu itu bagi saya malam ini.

Rasanya... rasanya seluruh lelah dan takut saya hilang.

Jika benar begitu akhirnya... maka biarlah saya mati besok atau lusa. Asalkan Indonesia itu benar-benar ada.

Alina membaca balasan itu dengan hati nyeri.

Jangan bicara soal mati, Arya. Kamu harus ada di sana. Kamu harus melihat Bung Karno jadi Presiden. Kamu harus melihat bendera Merah Putih berkibar.

Arya tersenyum pahit di tahun 1930.

Sejarah milik para pemenang, Alina. Tapi jalan menuju ke sana dibangun di atas tulang-belulang orang-orang seperti saya yang mungkin tak bernama.

Tapi tak apa. Asal kau ada di masa depan itu, menikmati kemerdekaan itu... saya rela jadi tulang-belulang itu.

"Bodoh," isak Alina di warung kopi Kwitang 2024. Orang-orang di sekitarnya mulai menatapnya kasihan, mengira dia baru diputus pacar.

"Kamu nggak boleh jadi tulang belulang," bisik Alina pada mesin tik itu. "Aku bakal cari cara nyelamatin kamu."

Tiba-tiba, ketikan Arya berubah nada. Lebih cepat. Lebih waspada.

Alina, saya harus pergi sebentar. Saya melihat mobil hitam berhenti di depan toko buku. Pria kulit putih turun. Dia memakai jas hujan abu-abu.

Van Heutz.

Jantung Alina mencelos.

Sembunyi, Arya! Matikan lampunya!

Saya akan naik ke atap. Hujannya deras, semoga dia tidak melihat.

Simpan mesin tik ini, Alina. Jangan sampai rusak. Ini satu-satunya benang yang mengikat kita.

Sampai jumpa.

Alina menunggu balasan lagi, tapi tidak ada.

Dia segera membereskan barang-barangnya, memasukkan mesin tik berat itu ke tas ransel. Dia berlari menuju halte Transjakarta.

Di dalam bus yang dingin, Alina membuka ponselnya lagi. Dia mencari data tentang "Toko Buku Babah Ong Kwitang 1930".

Tidak ada hasil spesifik.

Tapi dia menemukan satu artikel sejarah tentang "Penggerebekan Kwitang Oktober 1930".

Artikel itu menyebutkan bahwa PID melakukan penyisiran di toko-toko buku Tionghoa. Beberapa buku disita. Tapi tidak ada laporan penangkapan aktivis bernama Arya.

"Dia selamat lagi," Alina menghela napas lega.

Tapi kemudian, matanya menangkap sebuah foto tua di artikel itu. Foto jalanan Kwitang tahun 1930-an.

Di pojok foto yang buram itu, terlihat sebuah toko dengan papan nama "Boekhandel Ong". Dan di jendela lantai duanya... ada siluet seseorang yang sedang menatap ke bawah. Ke arah jalan.

Ke arah tempat Alina duduk tadi di masa depan.

Alina men-zoom foto itu sampai pecah. Siluet itu samar, tapi Alina merasa yakin. Itu Arya.

Dan di tangan siluet itu, terlihat dia memegang selembar kertas putih. Kertas surat mereka.

Alina memeluk ponselnya di dada. Jarak 94 tahun terasa begitu jauh, namun malam ini, di bawah bulan sabit yang sama, mereka terasa begitu dekat.

Alina sadar dia sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada hantu. Jatuh cinta pada sejarah yang seharusnya tidak boleh dia sentuh.

...****************...

...Bersambung......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Semoga sesuai perkiraan polisi tidak "curiga"
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.

Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Masa lalu yang berontak terhadap masa depan.
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
bagus, buat kalian yang suka baca buku ini rekomendasi bagus.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
gantian sarsinah yg cemburu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Waduh pertarungan versi 1931 dan masa depan... disini kayak Alina bisa merubah yang terjadi di tahun itu atau antisipasi mungkin dari catatan masa depannya.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Sedikit saya udah bisa menangkap alur ini cerita Arya Alina ini. saya penasaran jadi lanjut lgi ya kak👍
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Wahh, ....sarsinah auto terlonjak kaget,takut dan rasa tak percaya🤭.

hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.



kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Oohhhoooiii ....ingin membolak balik sejarah ,namun semua berjalan tak sesuai keinginan.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
aduh rumit rumit wes kna Remington 😁
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
padahal nggak nyata tapi sakitnya kayak nyata ya Alina.
Ai Emy Ningrum
bagus bnget ceritanya..breath taking story..
Ai Emy Ningrum: /Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
apakah akan see Arya again😁
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
perempuan itu sungguh kuat ,teguh dan berani, meski terluka dan butuh waktu untuk membalut nya ,tapi hidupnya akan selalu baik2 saja.
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
semakin menarik next kaka
tanty rahayu: siap ka 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
lanjut kaTant
tanty rahayu: tencuhh loh ka mampir lagi
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
menjemput kematian rancangan sendiri....
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
tanty rahayu: iya juga ya... 🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
di saat dua orang cerdas bersatu walaupun berbeda tahun
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
sejatinya cinta
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
atas nama cinta tidak ada yg salah klo harus mengakui nya Alina 🥲
Lintang Edgar
memang sehot itu lelaki jawa 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!