Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas yang Terjangkau
Pagi di California seharusnya membawa ketenangan, namun bagi Zeus Sterling, getaran ponsel di atas nakasnya pada pukul lima pagi adalah suara ledakan yang meruntuhkan sisa-sisa tidurnya. Dengan mata yang masih berat, ia meraih benda pipih itu.
Satu notifikasi muncul di layar terkunci. Sebuah nama yang kini ia benci lebih dari apa pun.
@Nomella_K liked your photo.
Jantung Zeus seakan berhenti berdetak sesaat sebelum berpacu kencang karena amarah. Itu bukan akun utamanya yang penuh dengan kepalsuan hangat. Itu adalah notifikasi dari akun @Zzzz. Akun lama miliknya. Akun yang berisi fragmen-fragmen dirinya yang paling hancur dan dingin.
"Sialan," desis Zeus, suaranya parau dan bergetar karena emosi yang meluap.
Ia bangkit dari tempat tidur dengan gerakan kasar. Di matanya, like dari Nomella bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Baginya, itu adalah cara gadis Manhattan itu tertawa di atas luka-lukanya. Seolah-olah Nomella sedang berbisik di telinganya: Aku menemukanmu, Zeus. Aku tahu rahasiamu, dan kau tidak bisa lari.
"Kau ingin bermain-main denganku, hah?" Zeus meninju dinding apartemennya, tidak peduli dengan rasa sakit di buku jarinya. "Kau pikir kau cukup kuat untuk menggali kuburanku sendiri?"
Kemarahan itu membakar habis sisi "Zayn" yang biasanya ia latih setiap pagi. Saat ia bersiap berangkat ke kampus, tidak ada lagi latihan senyum di depan cermin. Yang ada hanyalah tatapan predator yang telah disudutkan. Ia sudah memperingatkan Nomella di parkiran kemarin. Ia sudah memberikan batasan. Namun gadis itu tetap melangkah masuk, dengan lancang menyentuh wilayah yang paling suci sekaligus paling gelap dalam hidupnya.
Nomella Kamiyama tiba di kampus dengan perasaan yang tidak menentu. Semalam, saat ia sedang melakukan riset mendalam di apartemennya, jarinya tidak sengaja mengetuk layar dua kali saat sedang menatap foto Zeus dan Zayn di arena balap. Ia langsung membatalkan like itu dalam hitungan detik, namun ia tahu, bagi pria seperti Zeus, jejak digital itu pasti sudah terbaca.
Ia memarkirkan Mercedes-Benz putihnya di sudut Timur parkiran kampus—area yang selalu tenang karena jauh dari lobi utama, tempat yang ia pilih agar bisa menenangkan diri sebelum masuk kelas.
Begitu Nomella membuka pintu mobil dan melangkah keluar, udara di sekitarnya seolah membeku.
Brak!
Pintu mobilnya dibanting menutup oleh sebuah tangan kekar sebelum Nomella sempat berbalik. Dalam hitungan detik, punggungnya sudah menghantam bodi mobil yang keras. Sebelum ia sempat berteriak, sebuah tangan besar sudah mencengkeram lehernya.
Nomella terbelalak. Wajah di depannya bukan lagi Zeus yang narsis. Bukan juga Zeus yang hangat. Ini adalah monster yang terbangun dari duka. Mata Zeus berkilat menakutkan, rahangnya terkatup begitu rapat hingga wajahnya tampak seperti pahatan batu yang kejam.
"Kau... benar-benar... lancang," desis Zeus tepat di depan wajah Nomella. Cengkeramannya di leher Nomella tidak sampai mencekik hingga hilang napas, namun cukup kuat untuk membuat Nomella merasa tak berdaya dan merinding ketakutan.
"Zeus... lepaskan..." suara Nomella keluar dengan susah payah. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia tidak pernah membayangkan sisi gelap Zeus bisa sebrutal ini.
"Aku sudah memperingatkanmu kemarin, Nomella. Jangan menggali emosiku. Jangan menyentuh duniaku," suara Zeus terdengar sangat tenang namun mematikan. "Rupanya peringatanku tidak berharga di matamu, ya? Kau lebih suka mengintip lewat celah pintu yang sudah kukunci rapat?"
Parkiran itu sangat sepi. Hanya ada desis angin yang menerpa pohon-pohon palem. Nomella, sang gadis ambisius yang selalu punya jawaban untuk segala hal, kini merasa kecil dan rapuh. Ia menyadari satu hal yang fatal: ia telah memprovokasi seseorang yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan.
"Lepaskan aku... kumohon..." Nomella merintih.
Zeus melepaskan tangannya dari leher Nomella, namun ia tidak mundur. Sebelum Nomella bisa bernapas lega, Zeus menarik kedua tangan gadis itu ke belakang punggungnya dengan satu tangan, mengunci tubuh Nomella dengan keras hingga dada mereka bersentuhan.
Nomella mengenakan dress selutut berwarna broken white hari itu. Kejadian berikutnya berlangsung begitu cepat, melampaui logika paling gila yang pernah Nomella bayangkan.
Tiba-tiba, ia merasakan tangan Zeus menyelinap di balik kain dress-nya. Nomella menegang seketika. Seluruh saraf di tubuhnya seolah meledak karena syok. Ia ingin berteriak sekuat tenaga, namun lidahnya kelu.
Pikirannya berputar liar—jika ia berteriak dan orang-orang datang, skandal ini akan menghancurkan reputasi kesempurnaan yang ia bangun selama bertahun-tahun.
"Ah!" Nomella meringis, tubuhnya gemetar hebat. Ia merasakan jari-jari Zeus menyentuh bagian paling sensitif dari dirinya dengan gerakan yang kasar namun penuh penekanan.
Zeus menundukkan kepalanya, berbisik tepat di telinga Nomella yang kini sudah pucat pasi. "Mulutmu kau pakai saja untuk mendesah, Nomella. Dan pikiranmu... coba kau pikirkan hal-hal yang enak saja. Berhenti memikirkan hidupku. Berhenti mencoba menjadi pahlawan di dalam kegelapanku."
Dunia seolah runtuh bagi Nomella. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak tepat di tempat ia biasanya merasa paling berkuasa. Kehinaan itu terasa lebih menyakitkan daripada sentuhan Zeus. Ia ingin memaki, ingin menampar laki-laki gila ini, tapi suaranya hanya tertahan di tenggorokan bersama isak tangis yang tertahan.
Hanya dalam hitungan detik yang terasa seperti selamanya, Zeus menarik tangannya keluar. Tanpa rasa bersalah, ia meraih kotak tisu dari dalam mobil Nomella melalui kaca jendela yang terbuka setengah, mengelap tangannya dengan santai seolah baru saja menyelesaikan tugas kotor yang menjengkelkan.
Zeus menatap Nomella yang masih mematung, bersandar pada mobilnya dengan tubuh yang lemas dan tatapan mata yang linglung.
"Jangan pernah lancang lagi, Nomella," ujar Zeus dingin. Ia melempar tisu bekas itu ke dalam mobil Nomella, lalu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tegap, meninggalkan Nomella dalam kesunyian yang memekakkan telinga.
Nomella masih berdiri di sana, kakinya terasa seperti jeli. Ia merosot perlahan hingga terduduk di aspal parkiran. Tangannya gemetar hebat saat ia menyentuh bibir bawahnya yang pecah sedikit karena gigitannya sendiri.
Brengsek.
Pikiran itu terus berputar di kepalanya. Ia baru saja dilecehkan secara mental dan fisik oleh pria yang ia pikir bisa ia 'selamatkan'. Kesempurnaan yang selama ini ia banggakan terasa kotor. Ia merasa seperti orang bodoh yang masuk ke dalam kandang singa tanpa membawa senjata.
Namun di tengah rasa syok dan kehinaan itu, satu hal mulai tumbuh di hati Nomella. Bukan lagi rasa ingin tahu, tapi sebuah dendam yang dingin. Ia menatap punggung Zeus yang menghilang di balik tikungan gedung kampus.
"Kau pikir kau sudah menang, Zeus?" bisik Nomella dengan suara yang serak dan penuh kebencian. "Kau baru saja memberikan alasan bagiku untuk benar-benar menghancurkanmu."
Nomella bangkit berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya, merapikan dress-nya yang kusut, dan menghapus air matanya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun melihatnya hancur. Ia adalah Nomella Kamiyama, dan jika Zeus ingin bermain kotor, ia akan menunjukkan bagaimana cara membakar seluruh panggung teater pria itu hingga menjadi abu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰