Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Andita menarik napas panjang.
Ia memungut botol sabun yang menggelinding ke sudut kamar mandi, lalu meletakkannya kembali ke rak. Tangannya sedikit gemetar, karena ia sedang menahan sesuatu yang lebih berat, kelelahan yang tidak boleh terlihat.
"Bu," katanya pelan, hampir berbisik. "Ayo kita buat ini mudah. Bu Diana mau air sehangat apa? Kalau gosokan tanganku terlalu kasar, Bu Diana bisa menggosok sendiri, saya tunggu di luar."
Bu Diana mendengus keras. "Huh! Tak usah bernegosiasi denganku! cepat keluar dari rumah ini skalian!"
Andita keluar dari kamar mandi dengan tetap membiarkan terbuka. walau keluar, dia tetap mengawasi.
Di dalam, Bu Diana menggerutu, bergumam sambil menggosok tubuhnya dengan kesusahan. Saat dirasa perlu, Andita masuk, membantu menyiram tubuh Bu Diana yang masih tersisa sabun.
Andita menunduk. Ia mematikan air, lalu menutup tubuh Bu Diana dengan handuk. Gerakannya rapi, terlatih. Tidak ada sentuhan berlebihan. Tidak ada paksaan.
Bu Diana hanya diam, tatapannya kosong, tapi rahangnya masih mengeras. Sejujurnya, dia kesal, tapi dia sendiri sadar, tak bisa apa-apa tanpa bantuan dengan kondisi begini.
****
Malam datang perlahan, menyelimuti rumah besar itu dengan cahaya lampu kuning yang hangat tapi terasa dingin.
Tama baru pulang ketika jam dinding menunjukkan hampir pukul sembilan. Ia melepas sepatunya di depan pintu, belum sempat melangkah jauh ketika suara ibunya memanggil dari kamar.
"Tam! Tama! Kamu udah pulang, Tam?"
Nada itu... Tama mengenalnya terlalu baik.
Ia masuk ke kamar utama. Bu Diana terbaring rapi di ranjang elektrik, rambutnya kuncir seadanya, wajahnya pucat dengan ekspresi menderita yang dibuat-buat.
"Ada apa, Ma?" tanya Tama sambil duduk di kursi dekat ranjang.
Bu Diana langsung menghela napas panjang, seolah menahan tangis. "Mama hampir tidak selamat hari ini."
Alis Tama berkerut. "Maksud Mama?"
"Perawatmu itu," kata Bu Diana, suaranya bergetar. "Dia menyiram Mama dengan air panas. Lalu menggosok kulit Mama sampai perih."
Tama terdiam.
Bu Diana mengangkat lengannya. "Lihat! Lihat tangan Mama!"
Tama mendekat. Ia memperhatikan lengan yang ditunjuk. Kulitnya bersih. Tidak merah. Tidak melepuh. Bahkan tampak lebih lembap dari biasanya.
"Ma…," ucap Tama pelan.
"Sekarang kamu tidak percaya Mama?" potong Bu Diana cepat. "Mama ini korban, Tam!"
"Aku bukan tidak percaya," jawab Tama, suaranya lelah tapi tertahan. "Aku cuma… tidak melihat bekasnya."
"Karena dia pintar!" Bu Diana meninggi. "Dia tahu caranya menyiksa orang tanpa meninggalkan bekas."
Tama menghela napas panjang, lalu mengusap pelipisnya. "Ma, Mama tahu kan Mama sering bereaksi berlebihan saat dirawat?"
"Kamu bilang Mama bereaksi berlebihan? Jadi Mama bohong, gitu?"
"Tidak," jawab Tama cepat. "Aku nggak bilang gitu. Mama tenang dong."
"Tenang?" Bu Diana tertawa pahit. "Pecat saja dia! Mama tidak mau lihat wajahnya lagi."
Tama menunduk sejenak. "Aku belum dapat pengganti, Ma. Enggak bisa main pecat-pecat begitu."
"Ya kamu usahain dong, Tam!"
"Aku minta Mama sabar," ucap Tama pelan. "Sedikit lagi."
Bu Diana memalingkan wajah. "Mama sudah terlalu sabar. Kalau lebih sabar lagi, bisa-bisa Mama yang mati!"
Pintu kamar diketuk pelan.
"Permisi," suara Andita terdengar dari balik pintu.
Tama menoleh. "Masuk."
Andita masuk membawa alat tensi dan nampan kecil berisi obat. Wajahnya tenang seperti biasa, meski keningnya tertutup poni tipis yang sedikit menutupi benjolan kecil.
"Waktunya cek dan minum obat, Bu."
Bu Diana langsung melengos. "Mama tidak mau dirawat dia."
"Ma," kata Tama, "ini obat malam loh."
"Bukan sama dia!"
Andita berhenti melangkah. Ia berdiri di dekat pintu, menunduk sopan.
"Masuk aja, Dit," suruh Tama.
"Iya, Mas."
Kata itu, 'Mas' membuat Bu Diana langsung tersentak.
"Mas?!" hardiknya. "Mas kamu bilang?! Kamu sadar diri tidak? Dia itu majikanmu!"
Andita terkejut, tapi tetap menunduk. "Maaf, Bu."
"Panggil anakku Tuan!" bentak Bu Diana."Kamu tuh harus tau batasan!"
Tama mengangkat tangan."Ma, udahlah."
"Tidak bisa! Mama mau dia tahu posisi!" Bu Diana memotong, melirik Andita tak suka. "Jangan genit!"
Andita menarik napas, lalu mengangguk. "Baik, Bu. Saya akan panggil tuan Tama mulai sekarang."
Nada suaranya netral. Tidak dibuat-buat.
Namun Bu Diana justru mendengus lebih keras. "Tuh kan! Sengaja begitu karena ada kamu."
Tama menutup mata sejenak. "Udahlah, Ma."
Ia menoleh ke Andita. "Dita, cek saja cepat."
Andita mengangguk. Ia mendekat, memasang manset tensimeter tanpa bicara. Tangannya tenang, profesional. Bu Diana meringis, tapi tidak berteriak.
"Sudah," kata Andita pelan setelah selesai. "Tensi Ibu stabil."
"Obatnya," ucap Tama.
Andita menyerahkan nampan. "Ini obat rutin malam."
Tama mengambilnya. "Kamu bisa keluar dulu."
Andita menunduk. "Baik."
Ia berbalik, melangkah keluar dengan langkah yang tetap rapi.
Begitu pintu tertutup, Tama duduk di sisi ranjang. "Ma, minum obat dulu."
Bu Diana menepis. "Mama tidak mau."
"Ma... Ini buat kesehatan Mama juga."
"Kamu lebih percaya dia daripada Mama? Gimana kalau obat itu racun?"
Tama menghela napas. "Enggak, Ma. Ini obat dari dokter."
Beberapa menit berlalu dalam keheningan tegang sebelum akhirnya Bu Diana menelan obat itu dengan wajah masam. Setelah wanita terlelap, Tama baru keluar dan masuk ke ruang kerjanya.
Tama duduk di kursi belakang meja. Kepalanya berdenyut setiap kali memikirkan sang Mama. Ia lalu mengambil gawainya memanggil Dita.
"Dit! Ke ruang kerja saya."
Tak lama, suara pintu diketuk terdengar.
"Masuk!"
Dita muncul, "Tuan memanggil saya?"
Tama memberi isyarat Dita untuk mendekat. Gadis itu mendekat sampai depan meja. Cahaya lampu memperlihatkan benjolan kecil di kening gadis itu.
"Kening kamu kenapa?" tanya Tama spontan.
Andita terkejut, segera menutupinya dengan telapak tangannya. "Tidak apa-apa, Tuan. Saya tidak sengaja kejedot pintu kamar mandi tadi," jawabnya nyengir.
Tama melihatnya dengan tatapan yang penuh pengertian. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi, sudah lama ia memasang kamera pengawas di beberapa ruangan utama rumah, bukan untuk mengawasi caregiver, tapi untuk memastikan ibunya mendapatkan perawatan yang tepat. Walau dia tak melihat langsung, tapi dia tau itu perbuatan Bu Diana.
"Kamu tidak perlu berbohong padaku, Dita," ucapnya dengan lembut. "Aku tahu apa yang terjadi. Dan aku sangat minta maaf karena Mama seperti ini."
Andita menurunkan pandangannya, tangannya masih menutupi benjol di keningnya. "Tidak apa-apa, Tuan. Saya sudah terbiasa. Pasien yang mengalami stroke seringkali emosinya tidak stabil. Saya mengerti Bu Diana mungkin merasa takut dan tidak nyaman dengan keadaannya."
"Kamu sudah melakukan segalanya sesuai prosedur. Aku tau.”
"Semua yang saya lakukan berdasarkan apa yang diajarkan selama pelatihan dan anjuran dokter Bu Diana."
Tama mengangguk, rasa terima kasih yang dalam terasa di setiap bagian tubuhnya. "Aku percaya padamu, Dita. Dan aku sangat berterima kasih kamu masih bersedia tinggal meskipun Mama terus mengeluh macam-macam. Jika kamu merasa sudah tidak bisa lagi… katakan saja padaku. Aku akan tetap membayar hakmu penuh."
Andita menggeleng perlahan. "Saya masih bisa bertahan, Tuan. Saya senang di sini, pekerja di sini ramah-ramah dan baik, dan makanan di sini juga enak," katanya sambil tertawa kecil.
Tawa kecil itu menyalur ke Tama juga, "Syukurlah kalau kamu betah dan nyaman di sini. Aku pusing sebenarnya, Mama terus rewel, berapa kali pun aku ganti Caregiver, tidak ada yang benar, tetap tidak ada yang bisa menaklukkan Mama."
"Saya mungkin jadi yang terakhir, Tuan."
Tama terkekeh pelan dengan jawaban Andita yang sangat percaya diri itu. "Kamu percaya diri sekali."
"Ah, di jauh lebih baik dari pada pulang ke kampung."
"Kenapa?"
"Umm, ada orang yang saya hindari, Tuan."
Tama mengangguk pelan, tapi dia juga tak ingin bertanya lebih jauh tentang pribadi Andita.
"Ya sudah, kalau kamu betah dan pas banget ada yang kamu hindari di kampung. Jadi, aku enggak perlu cemas mikir ganti orang lagi."
Andita tersenyum kecil, "Iya, Tuan."
"Kamu bisa istirahat."
"Baik."
Andita keluar dari ruang kerja Tama dan berjalan menuju dapur, ingin mengambil segelas air putih karena tenggorokan terasa kering. Di sana, mbak Sari pembantu rumah yang sudah bekerja selama tiga tahun, sedang membersihkan meja makan.
"Kamu sudah makan belum, Dita?" tanya mbak Sari dengan suara ramah, melihat wajah Andita yang sedikit lesu.
"Belum, Mbak Sari. Nanti saja setelah saya bersihkan alat-alatnya."
Mbak Sari menghela napas. "Bu Diana memang begitu, nak. Dia takut kehilangan Tuan Tama, jadi setiap orang perempuan yang datang ke rumah selalu dianggap sebagai ancaman. Semua caregiver sebelumnya juga mengalami hal yang sama."
Andita duduk di kursi kayu di sudut dapur, memegang gelas air putihnya dengan kedua tangan. "Begitu ya? Kayaknya sulit banget hidup Ibuk ya?"
"Yah, namanya juga orang tua kesepian. Bu Diana sudah terlalu lama merasa sendiri setelah Bapak meninggal. Tuan Tama sibuk kerja, jadi dia merasa seperti tidak ada yang peduli padanya kecuali jika dia membuat masalah."
Dita merenung, dia jadi makin kasihan dengan majikannya itu.
Di kamar utama, Bu Diana masih terbaring di ranjangnya, matanya menatap langit-langit yang tinggi. Pikirannya sedang sibuk merencanakan cara baru untuk membuat Andita pergi. Ia tidak bisa menerima bahwa seorang gadis muda seperti itu bisa benar-benar ingin merawatnya tanpa ada maksud tersembunyi.
"Wanita ular ini licin banget. Aku harus singkirkan dia," bisiknya pelan, bibirnya sedikit mengerut dalam keseriusan, "Tapi, gimana caranya?"