Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Tamu dari Leiden
24 Oktober 2024. Pukul 10.00 WIB.
Ruang Rapat VIP, Museum Sejarah Jakarta.
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi museum, menciptakan pilar-pilar cahaya yang menyinari partikel debu yang menari di udara. Namun, bagi Alina, udara di ruangan itu terasa berat dan mencekik.
Di hadapannya, duduk seorang pria tua berusia sekitar 70 tahunan. Penampilannya sangat rapi khas akademisi Eropa: setelan jas tweed abu-abu, kacamata berbingkai emas, dan rambut putih yang disisir klimis ke belakang.
Dia adalah Profesor Hendrik de Vries dari Universitas Leiden.
Yang membuat perut Alina mulas bukan gelarnya, melainkan kemiripan wajahnya. Garis rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan mata biru pucat yang tajam itu... Alina pernah melihat versi mudanya di arsip foto museum. Itu adalah wajah yang sama dengan Inspektur Van Heutz, Kepala PID Batavia tahun 1930 yang memburu Arya.
"Nona Alina," sapa Prof. Hendrik dengan bahasa Indonesia yang fasih namun berlogat Belanda kental. "Kepala Museum bilang Anda adalah kurator terbaik untuk periode pergerakan nasional 1930-an. Aangenaam (Senang bertemu Anda)."
Alina memaksakan senyum profesional sambil menjabat tangan pria tua itu. Tangan itu dingin dan kering.
"Suatu kehormatan, Profesor. Saya sudah membaca jurnal-jurnal Anda tentang kolonialisme etis."
"Ah, itu masa lalu," Hendrik melambaikan tangan, lalu membuka tas kulit usang yang dibawanya. "Hari ini saya datang bukan sebagai akademisi, tapi sebagai seorang cucu yang ingin berdamai dengan dosa leluhur."
Hendrik mengeluarkan sebuah kotak kayu jati berukir dari dalam tasnya. Baunya seperti kayu manis tua dan kertas lapuk.
"Kakek saya, Van Heutz, adalah pria yang keras. Dia percaya dia melakukan hal yang benar demi Ratu Wilhelmina. Tapi di akhir hayatnya, dia sering mengigau tentang 'hantu' di Batavia," cerita Hendrik sambil membuka kotak itu.
Alina menahan napas. "Hantu?"
"Ya. Dia terobsesi pada satu kelompok pemuda yang selalu berhasil lolos dari penyergapannya. Terutama satu orang."
Hendrik mengambil sebuah buku harian tebal bersampul kulit hitam yang sudah retak-retak termakan usia.
"Ini jurnal pribadi kakek saya selama bertugas di Batavia, tahun 1929 sampai 1931. Belum pernah dipublikasikan. Saya ingin menghibahkannya ke museum ini sebagai sumber sejarah alternatif."
Alina menerima buku itu dengan tangan gemetar. Dia membukanya perlahan. Tulisan tangan Van Heutz miring, tajam, dan ditekan kuat dengan tinta hitam.
Alina membalik halaman secara acak, mencari bulan Oktober 1930.
Matanya tertuju pada entri tanggal 21 Oktober 1930—sehari setelah Arya lolos dari razia rumah candu di timeline yang baru.
> 21 Oktober 1930.
> Lagi-lagi dia lolos. Si Rubah Kecil itu, Raden Mas Arya. Pasukanku sudah mengepung rumah candu di Glodok dari empat penjuru. Tidak mungkin ada tikus yang bisa keluar.
> Tapi saat kami mendobrak masuk, dia sudah hilang. Hanya ada api yang menyala dan botol arak pecah.
> Bagaimana dia tahu? Siapa yang memberitahunya? Aku mulai curiga ada pengkhianat di dalam PID. Atau... dia punya 'telinga' yang bisa mendengar langkah kami sebelum kami melangkah.
Jantung Alina berdegup kencang membaca tulisan itu. Dia punya telinga yang bisa mendengar langkah kami.
Van Heutz tidak tahu bahwa "telinga" itu adalah seorang wanita yang duduk di masa depan, membaca Wikipedia di dalam ruangan ber-AC.
"Menarik, bukan?" tanya Hendrik, mengamati ekspresi Alina. "Kakek saya sangat frustrasi. Dia menyebut Arya sebagai 'De Geest'—Si Hantu."
"Ini... ini dokumen yang luar biasa, Prof," kata Alina, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ini membuktikan betapa licinnya pergerakan bawah tanah saat itu."
"Benar. Tapi Nona Alina..." Hendrik mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapan mata birunya menajam, persis seperti kakeknya. "Ada satu hal lagi yang membuat saya bingung. Dan saya butuh keahlian Anda untuk menganalisisnya."
Hendrik merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop plastik pelindung arsip. Di dalamnya, terdapat secarik kertas yang sudah sangat kuning, rapuh, dan tepinya hangus terbakar.
"Polisi menemukan ini di sisa kebakaran kecil di rumah candu Glodok, malam itu. Kertas ini tercecer dari tas si buronan saat dia melarikan diri."
Alina menatap kertas itu.
Darahnya serasa membeku. Ruangan VIP itu mendadak terasa berputar.
Itu adalah kertas HVS modern yang sudah menua paksa selama 94 tahun. Seratnya berbeda dengan kertas Eropa tahun 1930-an. Tapi yang lebih mengerikan adalah tulisan yang tertera di sana.
Tulisan ketikan mesin tik. Font Remington Portable No. 3.
Dan kalimatnya...
> Aku menemanimu. Selalu. Langit kita sama, Arya.
> Bulan yang kau lihat malam ini, adalah bulan yang sama yang kulihat sekarang.
Itu tulisan Alina.
Itu adalah pesan yang dia ketik empat hari yang lalu di pinggir jalan Kwitang.
Alina merasa mual. Dia melihat kata-katanya sendiri, yang diketik di tahun 2024, kini terbaring di atas meja tahun 2024 sebagai artefak berusia hampir satu abad.
Paradoks waktu menghantam logikanya. Kertas ini... kertas ini sudah ada di dalam kotak penyimpanan keluarga Van Heutz di Belanda selama Alina belum lahir, selama Alina tumbuh dewasa, dan bahkan saat Alina mengetiknya kemarin lusa.
"Aneh, kan?" ujar Hendrik. "Bahasa Melayu-nya... sangat puitis. Bahkan terlalu modern untuk ejaan Van Ophuijsen tahun 1930. Lihat, dia menulis 'Bulan' bukan 'Boelan'. Dia menulis 'Aku' bukan 'Hamba' atau 'Saya'."
Hendrik menatap Alina penuh selidik.
"Menurut Anda, Nona Alina... apakah ini kode sandi? Atau surat cinta dari wanita simpanan?"
Alina menelan ludah yang terasa pahit. Dia harus berbohong. Dia harus melindungi rahasia ini.
"Mungkin... mungkin ini puisi, Prof," jawab Alina dengan suara serak. "Para pemuda zaman itu suka bersajak. Dan soal ejaan... mungkin penulisnya seorang reformis bahasa yang ingin mendobrak aturan ejaan kolonial."
"Hmm. Teori yang menarik," gumam Hendrik, meski terlihat belum puas. "Kakek saya punya teori lain. Dia percaya Arya punya informan wanita yang sangat cerdas. Dia menyebut wanita ini 'Vrouwe van de Toekomst'—Wanita Masa Depan. Tentu saja itu ejekan sarkasme."
Alina meremas tangannya di bawah meja. Sarkasme itu ternyata kebenaran harfiah.
"Oh ya, Nona Alina," Hendrik melihat sekeliling ruangan. "Saya dengar museum ini baru mendapat sumbangan mesin tik antik. Remington Portable, kalau tidak salah? Kebetulan sekali, kakek saya mencatat bahwa dia mencurigai surat ini diketik dengan mesin jenis itu."
Mata Alina membelalak. Bahaya.
Mesin tik itu ada di Ruang Konservasi, hanya satu lantai di bawah mereka. Jika Hendrik melihatnya... jika dia seorang ahli (dan dia sepertinya ahli), dia bisa mencocokkan jenis typeface (font) mesin tik itu. Setiap mesin tik punya "sidik jari" unik—cacat kecil pada huruf tertentu yang membedakannya dari mesin lain.
Dan mesin tik Alina punya cacat pada huruf 'A' yang kadang agak miring ke kiri.
Alina melirik kertas tua di meja itu. Huruf 'A' pada kata 'Arya'... sedikit miring ke kiri.
"Ah, mesin tik itu... sedang diperbaiki, Prof," bohong Alina cepat. "Rusak parah. Ada di bengkel restorasi di Bandung."
"Sayang sekali," Hendrik tampak kecewa. "Padahal saya ingin melihatnya."
"Mungkin kunjungan berikutnya, Prof."
"Baiklah," Hendrik tersenyum, lalu menyimpan kembali kertas tua itu ke dalam tasnya. "Saya akan meninggalkan jurnal ini di sini. Tapi kertas surat ini... saya masih ingin menelitinya di hotel. Ada aura aneh pada kertas ini yang membuat saya penasaran."
Pertemuan itu berakhir sepuluh menit kemudian.
Begitu Prof. Hendrik keluar dari pintu utama museum, Alina langsung berlari kencang menuju Ruang Konservasi. Dia mengunci pintu, mematikan CCTV, dan menyambar mesin tik Remington-nya.
Benda ini tidak aman di sini.
Van Heutz—dan sekarang cucunya—sedang memburu jejak Alina, tanpa mereka sadari.
Alina memasukkan kertas baru. Dia harus memperingatkan Arya. Dia harus memberitahu Arya bahwa surat cinta mereka telah menjadi barang bukti musuh.
> Arya! Jawab! Ini darurat!
Hening.
Alina menunggu dengan napas memburu.
Satu menit. Dua menit.
TAK.
Balasan muncul.
> Ada apa, Alina? Kau membuat saya kaget. Saya sedang rapat persiapan Kongres.
>
> Arya, kau ceroboh! Surat kita... surat tentang 'Bulan' itu... kau menjatuhkannya saat lari dari Glodok!
>
Di tahun 1930, Arya meraba saku jasnya. Kosong. Wajahnya memucat.
> Maafkan saya. Malam itu kacau sekali. Apinya besar... saya pikir kertas itu terbakar habis.
>
> Tidak terbakar, Arya! Van Heutz menemukannya!
> Dan dengarkan ini... cucunya, Prof. Hendrik, baru saja datang ke museumku di tahun 2024. Dia membawa kertas itu! Kertas itu ada di sini, sekarang, di atas mejaku, tapi versi yang sudah tua dan hangus!
>
Mesin tik itu diam lama sekali. Arya sedang mencoba mencerna konsep paradoks itu.
> Jadi... Van Heutz membacanya?
>
> Ya. Dan dia curiga. Dia tahu kau punya 'informan'. Dia semakin terobsesi menangkapmu.
> Arya, jejak kita nyata. Apa pun yang kita tulis, bisa jadi bukti yang memberatkanmu di masa lalu, atau membahayakanku di masa depan.
>
> Alina... apa cucu Van Heutz itu menyakitimu?
>
Pertanyaan itu membuat Alina tertegun. Di tengah bahaya yang mengancam nyawanya sendiri, Arya malah mengkhawatirkan Alina.
> Tidak. Dia hanya akademisi tua. Tapi dia cerdas. Dia mulai curiga pada mesin tik ini.
> Kita harus lebih hati-hati. Mulai sekarang, bakar setiap surat setelah kau baca. Jangan simpan satu pun. Mengerti?
>
> Siap, Nona Komandan.
> Tapi Alina...
>
> Apa?
>
> Ada satu hal yang membuat saya sedikit senang di tengah berita buruk ini.
>
> Apa itu? Kau gila ya?
>
> Fakta bahwa surat 'cinta' kita disimpan oleh keluarga Van Heutz selama 94 tahun.
> Itu artinya, cinta kita mengalahkan kebencian mereka. Kata-kata manis itu bertahan lebih lama daripada imperium kolonial mereka.
>
Alina tertawa kecil, air mata frustrasi menetes di pipinya. Arya selalu bisa menemukan sudut pandang romantis dalam situasi paling mengerikan sekalipun.
> Kau benar-benar penyair gila, Raden Mas Arya.
> Sudahlah. Kembali rapat. Ingat, tanggal 28 Oktober tinggal 4 hari lagi. Jangan sampai tertangkap.
>
> Baik. Saya akan bakar surat ini sekarang.
> Jaga dirimu dari si cucu Belanda itu.
>
Mesin tik berhenti.
Alina menyandarkan punggungnya yang pegal. Dia menatap mesin tik itu dengan pandangan baru. Benda ini bukan sekadar alat komunikasi. Benda ini adalah artefak berbahaya yang diincar dua generasi Van Heutz.
Alina mengambil tas besarnya. Dia memutuskan untuk membawa pulang mesin tik itu ke apartemennya. Museum tidak lagi aman.
Saat dia berjalan keluar dari museum, dia berpapasan dengan Pak Jono.
"Lho, Mbak Alina? Kok bawa tas berat? Mesin tiknya dibawa pulang?"
"Iya, Pak. Mau saya lembur di rumah. Lebih tenang," jawab Alina singkat.
Alina tidak menyadari, di seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam terparkir. Kaca jendelanya turun sedikit.
Profesor Hendrik de Vries duduk di dalamnya, mengamati Alina yang keluar membawa tas berat yang bentuknya sangat khas.
Hendrik memegang ponselnya, berbicara dalam bahasa Belanda.
"Ya. Dia membawanya. Gadis itu menyembunyikan sesuatu. Naluri kakek saya benar... ada misteri di museum ini yang belum terpecahkan."
Hendrik menutup teleponnya. Matanya yang biru dingin menatap punggung Alina yang menghilang di tengah hujan Jakarta.
Perburuan belum selesai. Di tahun 1930, Van Heutz memburu Arya. Di tahun 2024, De Vries mulai memburu Alina.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan