NovelToon NovelToon
Transmigrasi Alea : Kehidupan Kedua Sang Ratu Mafia

Transmigrasi Alea : Kehidupan Kedua Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Reinkarnasi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rs_31

Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putri Yang Tak Di Akui.

Saat masuk ke dalam kamar, Ara tertegun dan menghentikan langkahnya. Matanya menatap ke segala penjuru ruangan. Ia terdiam, merasa heran. Bukankah Ara adalah putri bungsu keluarga Kalandra? Namun kenapa kamarnya justru begitu sempit?

“Apa benar ini kamar Ara?” tanya Alea.

Alea berjalan perlahan menyusuri setiap sudut ruangan itu, hingga akhirnya ia menghentikan langkahnya dan duduk di ujung ranjang. Tatapannya berkeliling, seolah masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Gila, ini kamar lebih kecil dari kamar pembantu,” gumam Alea pelan.

Bagaimana tidak, kamar itu hanya berukuran sekitar 4×4 meter. Untuk ukuran kamar anak orang kaya, rasanya mustahil Ara tidur di tempat seperti ini. Namun kenyataannya justru terbalik. Ara benar-benar tinggal di ruangan kecil itu selama ini.

“Astaga, kalau begini ceritanya, gue harus cepat-cepat keluar dari mansion Kalandra. Gue bakal beli apartemen sendiri. Kalau bisa, penthouse paling mahal,” kata Alea dengan nada menggebu-gebu, sembari mengepalkan kedua tangannya dan mencengkeram seprai dengan erat.

“Ara, lo lihat sendiri kan? Gimana sikap dan akhlak keluarga lo. Mereka bahkan enggak nanya bagaimana kondisi lo,” lanjut Alea, bibirnya terangkat membentuk senyum pahit.

Alea tak pernah menyangka kehidupan Ara akan sesedih ini. Selama ini, Ara ternyata hanyalah putri Kalandra di atas nama.

“Bahkan mereka lebih memilih jaga perasaan Vania, adik angkat lo, ketimbang lo, anak kandung mereka sendiri, Ra.”

Karena merasa lelah, Alea langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menarik selimut tipis itu, lalu perlahan menutup mata hingga akhirnya tertidur dengan pulas.

Malam harinya, seluruh keluarga Kalandra sudah berkumpul di ruang makan, kecuali Ara.

Andrian Kalandra, kepala keluarga Kalandra, menoleh ke arah istrinya, Laras Kalandra.

“Ma, Papa dengar dari Bi Wati tadi, anak itu katanya sudah pulang?” tanya Andrian pada istrinya.

Laras mengangguk singkat. “Iya, katanya tadi sore,” jawabnya.

Mendengar jawaban istrinya, Andrian langsung memanggil pelayan yang ada di sana.

“Bi Wati, tolong panggil Ara,” kata Andrian dengan setengah berteriak.

Bi Wati yang mendengar perintah tuannya segera berjalan menaiki tangga menuju kamar Ara.

Tok tok tok.

“Non Ara,” panggil Bi Wati.

Insting Alea yang memang tajam dan selalu waspada membuatnya langsung membuka mata saat mendengar suara Bi Wati.

“Iya, Bi. Ada apa?” tanya Ara dengan suara serak.

“Non Ara dipanggil oleh Tuan,” jawab Bi Wati.

“Di mana?”

“Ruang makan.”

“Iya, Bi. Ara turun sekarang.”

Setelah menjawab ucapan Bi Wati, Ara langsung bangun dari tidurnya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka, lalu keluar kamar dan melangkah ke ruang makan untuk menghampiri keluarganya.

“Ck, lama banget sih lo,” kata Kenzi dengan kesal, menatap Ara dengan pandangan sinis.

“Ya kalau mau, makan aja duluan. Gue enggak nyuruh lo nungguin gue, kan?” timpal Ara sambil menghempaskan ponselnya ke atas kursi.

Andrian yang mendengar perdebatan Kenzi dan Ara langsung menghentikan mereka berdua.

“Diam kalian berdua,” bentak Andrian, menatap tajam Ara dan Kenzi.

“Dan kamu, Ara, yang sopan. Dia itu kakak kamu,” lanjutnya dengan nada penuh peringatan.

Ara menatap Andrian sembari tersenyum sinis. “Kakak? Ya? kok gue baru denger dia kakak gue,” jawab Ara.

Bukan Ara tidak ingin mengakui Kenzi sebagai kakaknya. Hanya saja sikap Kenzi padanya sama sekali tidak mencerminkan seorang kakak. Lebih terlihat seperti musuh.

“Ara, jaga bicara kamu. Dia itu kakak kamu. Suka tidak suka, kamu harus menghormatinya,” bentak Andrian.

“Ya, ya, ya,” jawab Ara akhirnya.

Bukan karena mengalah. Ara hanya malas berdebat dengan mereka semua. Lagipula malam ini Ara tidak ingin menyia-nyiakan makanan enak yang tersaji di atas meja. Biasanya, Ara bahkan dilarang makan bersama mereka dan hanya bisa makan bergabung dengan para pelayan didapur.

Ruang makan itu kembali sunyi. Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring.

Ara baru saja hendak menyuapkan makanan kemulutnya. Namun, gerakannya terhenti saat mendengar suara lembut Vania.

“Eh, Kak Ara sekarang makan di sini?” tanya Vania tiba-tiba, menoleh ke arahnya dengan wajah polos.

Semua mata langsung tertuju pada Ara.Vania tersenyum kecil, seolah benar-benar penasaran.

“Aku kira Kak Ara masih belum boleh makan bareng. Soalnya biasanya Kak Ara makannya di belakang sama Bi Wati.”

Kalimat itu terdengar ringan.Bahkan nyaris seperti perhatian.Namun di telinga Ara, kata-kata itu terdengar jauh lebih tajam.

Sendok di tangannya terhenti.

Laras menoleh ke arah Vania. “Vania,” tegurnya pelan. Bukan marah, hanya sekadar formalitas.

“Enggak apa-apa, Ma,” sahut Vania cepat. “Aku cuma takut Kak Ara enggak nyaman. Kan Kak Ara, beda aturannya.”

Beda aturannya? Padahal yang putri Kalandra itu Ara bukan Vania, tapi justru yang di perlakukan tidak adik itu Ara.

Ara tersenyum tipis, ingin rasanya dia tertawa sekencang-kencangnya, memaki Vania dan keluarga Kalandra yang minim akhlak itu.

" Ayo lanjutkan dramanya Vania sampai kamu puas," bathin Ara dalam hati.

Di otaknya sudah tersusun banyak rencana untuk membungkam mulut mereka semua.

Andrian mengangguk pelan. “Benar juga. Kamu seharusnya makan di belakang dengan bi Wati. Mulai sekarang harus jaga jarak dan sadar diri.”

Kenzi terkekeh kecil. “Nanti juga balik lagi makan sama pelayan.”

" Dia itu tidak pantas makan bersama kita Kenzi, kamu kan tahu itu," timpal Kenzo dengan nada mengejek.

“Tidak pantas?” tanya Ara sambil tersenyum mengerikan.

Tatapannya menyapu mereka satu per satu tanpa rasa gentar.

“Dengar, ya. Mau seberapa tidak suka kalian sama gue, itu enggak akan pernah mengubah apa pun. Termasuk status gue sebagai putri Kalandra,” lanjut Ara dengan suara dingin.

“Apa maksud Kakak?” tanya Vania akhirnya, nadanya terdengar polos.

Ara terkekeh pelan. “Maksud gue, mau seberapa besar lo berkuasa dan bertingkah di sini, tetap saja status lo cuma anak pungut. Bukan putri Kalandra.”

Ruangan itu membeku.

“Jadi yang seharusnya sadar diri itu lo, Vania Kalandra,” bentak Ara tanpa menurunkan tatapannya.

Semua orang di ruang makan melotot menatap Ara dengan tatapan permusuhan.

“Dan kamu harus ingat, Ara,” ujar Andrian tajam. “Bagi kami, Vania itu adalah satu-satunya putri kami.”

Laras, Kenzo, dan Kenzi mengangguk bersamaan, seolah membenarkan ucapan Andrian.

“Jangan harap kami bisa mengakui kamu sebagai adik bungsu kami,” kata Kenzo dingin.

“Lagian lo itu cuma anak pembawa sial, Ara,” timpal Kenzi tanpa ragu.

Ara tersenyum tipis. “Ya, ya, ya. Terserah kalian saja. Gue enggak peduli.”

Tanpa satu pun dari mereka sadari, tangan Ara bergerak pelan di bawah meja. Layar ponselnya menyala, merekam setiap ucapan yang barusan terlontar.

“Tunggu saja kalian semua,” gumam Ara dalam hati.

“Permainan baru saja dimulai.”

Jarumnya menekan layar, mengirim rekaman itu pada seseorang.

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Tinta_Hitam: cus lanjut baca. jangan kupa saran dan keritikannya ya guys
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!