Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
“sah?”
“sah!”
Mata Delaney Harper terpejam erat. Tidak ada jalan untuk mundur sekarang.
Setelah apa yang ia lakukan pada Callum—mengikat pria itu dengan pernikahan palsu—Delaney tak pernah berharap hidupnya akan berjalan mulus. Akan selalu ada konsekuensi yang harus ia hadapi.
Terlebih lagi, mereka telah mengucapkan janji pernikahan di hadapan para saksi, penghulu, dan Tuhan. Callum kini adalah suaminya. Fakta itu tak terbantahkan.
“Silakan tukarkan cincin.”
Delaney menatap sang penghulu, lalu ke arah Lauren yang datang membawa cincin. Wajah wanita itu berseri-seri.
Semua harapannya telah terwujud. Ia berhasil menyingkirkan Delaney dengan cara yang lebih kejam, dan kini ia bahkan mendapatkan Callum dengan statusnya yang luar biasa tinggi.
“Ulurkan tanganmu,” ujar Callum dengan suara dingin.
Delaney terkejut, lalu secara refleks mengulurkan tangannya. Tangannya gemetar, lembap oleh keringat, namun terasa dingin. Cincin itu akan mengikat mereka sepenuhnya.
Callum menjalankan bagiannya. Dengan gerakan cepat, ia menyematkan cincin di jari Delaney. Lalu pria itu mengulurkan tangannya.
Delaney terdiam. Ia tak punya pilihan. Dengan cepat, ia melakukan hal yang sama.
Cincin yang dipilih Delaney bersama Jovan kini melingkari jari Callum. Tampak sama sekali tidak cocok. Bukan karena cincin perak itu murahan, melainkan karena jari Callum jauh lebih besar dibanding jari Jovan.
Bahkan, cincin itu hanya masuk setengahnya.
Delaney menelan ludah dengan susah payah. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.
“Aku minta maaf,” bisiknya lirih.
“Hm.”
Namun Callum tetap acuh tak acuh. Tak ada reaksi apa pun. Ia segera menarik tangannya setelah Delaney selesai. Mereka menunggu prosesi berikutnya. Sungkeman, mungkin? Karena Callum sendiri tak benar-benar paham tentang pernikahan—dan bagaimana seharusnya menjalaninya.
“Tuan, mana adegan ciumannya?”
Hah?
Dalam sekejap, Delaney dan Callum menoleh ke arah sumber suara itu. Keduanya tertegun.
Di sana, di sebelah Elara, duduk seorang pria tampan mengenakan setelan mahal. Ia tersenyum manis sambil mengedipkan mata.
“Ciuman?” tanya sang penghulu.
“Benar, Pak. Ciuman,” jawab Rayhan dengan cepat, sama sekali tak peduli pada tatapan tajam Callum yang hampir membunuhnya. “Biasanya setelah ijab kabul ada ciuman, kan? Supaya terasa sakral. Kami jauh-jauh datang ke sini bukan cuma untuk melihat tukar cincin saja. Sekali-sekali berikan adegan manis, dong.”
“Sial.”
Delaney melongo. Bukan hanya karena mendengar umpatan pelan Callum, tetapi juga karena ia sama sekali tidak mengenal pria itu. Siapa dia? Teman Callum?
“Ahem!” Sang penghulu berdeham canggung. Sementara itu, beberapa tamu tersenyum diam-diam. Termasuk Elara, yang sebelumnya membisikkan rencananya ke telinga Rayhan. Anak ini memang sekutu terbaik.
“Kalau begitu… itu terserah pada pengantinnya. S–silakan, Anda boleh mulai,” lanjut pria paruh baya itu, yang sebenarnya cukup terkejut karena bukan mempelai pria yang lebih dulu meminta hal ini.
Delaney dan Callum saling bertatapan. Seolah berkomunikasi lewat mata.
Haruskah mereka berciuman?
Setidaknya, iya. Dalam pernikahan mana pun, dalam tradisi apa pun, setelah mengucapkan janji suci, pengantin diwajibkan berciuman. Itu adalah bukti cinta dan janji untuk hidup bahagia bersama.
Namun… mereka tidak saling mencintai, bukan? Baik Callum maupun Delaney sama-sama terpaksa menikah. Apa mereka tetap harus berciuman?
“Jangan malu-malu, Cal. Kenapa sih harus malu dengan istrimu sendiri?” Rayhan kembali memprovokasi.
Sial dua kali!
Ingin memaki keras-keras, Callum hanya bisa mengatupkan rahangnya. Bibir Reynald benar-benar perlu dijahit.
Awas saja. Setelah acara ini selesai, Callum akan membereskan pria itu.
“T–Tuan…?”
Callum menatap Delaney. Lebih tepatnya, ia menatap bibir kecil wanita itu. Mengabaikan kenyataan bahwa semua orang sedang memperhatikan, ia akan mencium istrinya. Anggap saja ini bagian dari rencana. Rencana untuk menipu semua orang dengan berpura-pura saling mencintai.
Callum meraih belakang kepala Delaney. Wanita itu sedikit tersentak, lalu Callum memiringkan wajahnya dan—
Cup.
Semua terjadi begitu cepat. Delaney bahkan membeku di tempat.
Callum benar-benar mencium dirinya?
Ya Tuhan. Meski ini bukan ciuman pertamanya—ia kesal mengingat Jovan telah merebut ciuman pertamanya—tetap saja rasanya berbeda. Lebih lembut, lebih intim, dan ada sensasi asing yang membuat jantung Delaney berdebar kencang. Wajahnya yang pucat seketika memerah.
Ia menatap Callum lebih saksama. Ekspresi pria itu tetap sama. Datar.
“Cium tanganku.”
“Apa?” tanya Delaney setengah berbisik.
Callum menghela napas. “Cium tanganku. Aku suamimu, ingat?”
“A–ah, y–ya.” Dengan wajah merah dan jantung berdebar, Delaney meraih tangan Callum dan menciumnya dengan lembut. Sebuah balasan atas ciuman di bibir tadi.
Suamiku, katanya? Delaney merasa perasaannya melayang tak menentu.
“Bagus.”
Delaney menunduk. Ucapan Rayhan justru membuatnya semakin malu. Sementara itu, Callum melirik sahabatnya yang dengan berani mengabadikan momen itu lewat kamera ponsel. Ciuman pertamanya.
Sialan, teman!
Delaney menoleh ketika seseorang menggenggam lengannya. “Ayo, Sayang.”
Itu Clara.
“Kita mau ke mana, Mom?”
Clara tersenyum lembut pada menantunya. “Kamu harus berganti pakaian. Setelah ini akan ada resepsi. Kuharap kamu tidak terlalu lelah,” bisiknya, sambil melirik perut Delaney dan menuntunnya pergi.
Ah. Delaney mengangguk.
Ia pun berdiri dan turun dari panggung. Di belakangnya, Callum mengikuti setelah mendengar ucapan ibunya dan melihat ayahnya mengangguk memberi isyarat. Pria itu hanya berharap semuanya segera berakhir. Semua ini merepotkan—melelahkan tubuh dan mengacaukan pikirannya.
Pengantin pria dan wanita berjalan ke lantai atas, meninggalkan para tamu yang mulai sibuk bergosip.
“Bukankah seharusnya Jovan? Kenapa malah Callum yang jadi pengantin pria?” tanya seorang wanita glamor dengan gaun merah darah berbelahan dada rendah. Ia tampak seperti istri rekan kerja George Harper.
“Aku juga tidak tahu,” jawab temannya.
“Jangan-jangan rumor itu benar?” kini giliran seorang pria di sebelah wanita glamor itu yang berbicara.
“Gosip apa?”
“Katanya Jovan kabur dari pernikahan. Dan Callum jadi penggantinya.”
“Apa?! Jadi itu benar?”
Beberapa orang di meja yang sama mulai berbisik-bisik, penuh spekulasi. Gosip itu pun menyebar ke meja lain. Ruangan yang tadinya tenang kini mulai riuh.
Kabar yang sempat mereda setelah pernyataan George Harper—bahwa pengantin pria diganti karena Delaney tidak mencintai Jovan—kini berbalik arah sepenuhnya.
Seperti pepatah, bangkai yang ditutup rapat pun lama-lama akan tercium. Fakta bahwa Delaney ditinggalkan Jovan mulai diketahui rekan-rekannya.
George Harper yang melihat situasi itu mulai cemas.
“Jadi, Callum dijebak?”
“Atau jangan-jangan Delaney yang memaksanya?”
“Bisa jadi. Ingat, Elara Westwood itu sahabat Delaney. Ini pasti rencana untuk menutupi kegagalan pernikahan mereka. Lihat saja wajah pengantin prianya—masam dan jelas terpaksa.”
Setidaknya, itulah yang didengar pria paruh baya itu.
“George?”
George menoleh ke arah Ethan Westwood. Pria itu memberinya tatapan seolah berkata, Tenanglah.
“Meskipun mereka bergosip, mereka tidak akan berani membicarakannya terang-terangan. Callum tidak akan tinggal diam jika ada yang menyakiti anggota keluarganya. Putrimu sekarang adalah bagian dari keluarga kami,” ujar CEO Westwood Corp dengan tegas. “Kalau ada yang berani melawan Nyonya Westwood, silakan saja.”
George mengangguk. Bantuan keluarga Westwood sangat berarti baginya.
“Oh, jadi Callum hanya suami pengganti.”
Suara itu membuat George dan Ethan terkejut. Tubuh mereka menegang.
Saka—pria yang dikenal sebagai rival bisnis Callum—berbicara lantang dengan seringai mengejek, membuat suasana semakin tegang. Seolah ia baru saja menemukan kelemahan lawannya.
“Kasihan sekali.”
“Yang lebih menyedihkan itu kamu.” Nada dingin terdengar dari belakang Saka.
Itu Callum, yang datang bersama Delaney. Saat Callum menatapnya tajam tanpa rasa gentar, Delaney justru menunduk sedih mendengar hinaan para tamu.
Delaney tahu semuanya akan berakhir seperti ini. Namun tetap saja, hatinya belum siap. Selain sedih, ia juga marah. Mengapa Callum harus terseret? Mengapa Callum harus menjadi suami pengganti? Dan mengapa di depan orang lain Callum tampak begitu baik—membela keluarganya—sementara di hadapannya, pria itu begitu dingin dan tak peduli, seperti sebelumnya?
“Kau datang tanpa undangan. Apa kau tidak punya rasa malu, hah?”
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰
seruuu banget thor😄
callum kok dingin ky es balok banget sih