gimana kalo cowok pas-pasan kebelet cinta sama bosnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laba Naik, Gosip Ikut Naik
Dua bulan berlalu sejak kekacauan kecil di proyek logistik itu, dan tanpa banyak orang sadari, grafik kinerja tim Bima bergerak naik dengan cara yang tidak lazim. Bukan naik perlahan dan rapi seperti yang biasa disukai Wiratama Trading, melainkan melonjak zig-zag, sempat turun tajam, lalu melesat lebih tinggi dari titik awal. Angka laba yang dihasilkan bahkan melampaui capaian tim yang sebelumnya dianggap paling stabil.
HR kembali berada dalam posisi sulit yang sama, hanya dengan level frustrasi yang lebih tinggi. Di satu sisi, catatan keterlambatan Bima masih konsisten seperti jam rusak yang setia. Di sisi lain, laporan keuangan menunjukkan hasil yang terlalu besar untuk diabaikan.
Bima sendiri tampak sama seperti sebelumnya—lesu, sedikit linglung, dan seperti orang yang pikirannya tidak pernah sepenuhnya berada di kantor. Ia duduk di kursinya sambil menatap layar tanpa benar-benar membaca apa pun, matanya setengah terbuka, bahunya turun seperti orang yang baru bangun dari perjalanan jauh.
Susi kembali meliriknya dari samping. Kali ini ekspresinya bukan heran, melainkan campuran jengah dan penasaran.
“Semalam berapa ronde?” tanyanya datar.
Bima menoleh pelan, mengernyit sebentar, lalu tersenyum kecil seolah pertanyaan itu adalah pengakuan terselubung.
“Kenapa sih kamu sekarang perhatian banget sama aku?” katanya santai.
“Kamu ngefans ya sama aku yang calon direktur?”
“Atau… kamu jatuh cinta?”
Vino yang berdiri tepat di belakang Bima, membawa map laporan, hampir menjatuhkan isinya. Ia terdiam dengan mata membesar, lalu cepat-cepat pura-pura mengecek ponsel, berharap tidak dianggap ikut terlibat dalam percakapan itu.
Susi menatap Bima dengan wajah kecut yang nyaris refleks.
“Matamu lah,” katanya singkat sambil menyodorkan segelas kopi ke meja Bima.
Bima menerima kopi itu dengan senyum puas. Baginya, nada ketus Susi sama sekali tidak terdengar sebagai penolakan, melainkan bukti bahwa ia cukup penting untuk memancing reaksi.
“Perempuan kuat memang selalu defensif di awal,” gumamnya pelan sebelum menyesap kopi.
Susi memutar kursinya menghadap komputer, menekan tombol keyboard lebih keras dari biasanya. Dalam hati, ia menyesal telah membuka percakapan apa pun dengan Bima sejak awal.
Siang itu, setelah jam makan siang berlalu dan suasana kantor kembali sedikit lebih lengang, sebuah undangan rapat kecil tersebar di kalender internal. Alina Wiratama memanggil tim Bima untuk evaluasi kinerja dua bulan terakhir.
Bima membaca undangan itu tiga kali. Jantungnya bedetak lebih cepat, bukan karena gugup, melainkan karena bangga. Dalam kepalanya, rapat itu sudah berubah menjadi simbol pengakuan.
“Ini dia,” katanya pada Vino dengan senyum lebar. “Momen saya diakui sistem.”
Vino hanya mengangguk kecil, memilih tidak menanggapi. Ia sudah belajar bahwa antusiasme Bima sering kali tidak sejalan dengan realitas rapat.
Ruang rapat itu tidak besar, tetapi cukup formal. Alina duduk di ujung meja, punggungnya tegak, tablet di depannya, ekspresinya datar seperti biasa. Beberapa anggota tim Bima duduk berjejer, sementara Bima memilih kursi yang menurutnya “strategis”—cukup dekat untuk terlihat, cukup jauh untuk tidak ditegur langsung.
Bima duduk dengan dada sedikit dibusungkan. Ia menunggu namanya dipanggil, membayangkan momen ketika Alina akan menatapnya dan berkata sesuatu yang setidaknya mendekati pujian.
Namun kalimat pertama yang keluar justru membuat wajahnya sedikit mengeras.
“Vino,” kata Alina dingin. “Berikan laporanmu.”
Bima berkedip. Senyumnya tertahan di tengah jalan.
“Oh,” gumamnya pelan. “Bukan saya.”
Vino berdiri dan mulai menjelaskan laporan dengan nada tenang dan sistematis. Grafik ditampilkan, angka dibacakan, dan proyeksi disampaikan dengan bahasa yang rapi. Selama itu, Alina mendengarkan tanpa menela, hanya sesekali menganguk kecil.
Bima duduk diam, wajahnya masam. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia tidak menyela, tidak memberi komentar, dan tidak melontarkan analogi aneh. Ia hanya mendengarkan, dan entah bagaimana, ia merasa tetap dilibatkan.
Setelah Vino selesai, Alina mengangkat pandangan dan mulai berbicara. Kalimat-kalimatnya lebih panjang dari biasanya, tetap dingin dan faktual, tetapi ada alur penjelasan yang lebih detail. Ia menjabarkan keputusan-keputusan yang diambil, alasan di baliknya, dan dampaknya bagi perusahaan.
Bima mendengarkan dengan saksama. Ia tidak merasa dipuji, tetapi untuk pertama kalinya ia merasa diperlakukan sebagai bagian dari pembahasan, bukan gangguan.
Saat rapat ditutup, Alina berdiri tanpa ekspresi tambahan.
“Terima kasih,” katanya singkat. “Lanjutkan.”
Bima menatap punggungnya saat Alina keluar ruangan. Ada rasa hangat aneh di dadanya, perasaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata konyol seperti biasanya.
Beberapa hari setelah rapat itu, suasana kantor berubah dengan cara yang sulit diukur oleh laporan. Gosip mulai menyebar, bergerak cepat dari meja ke meja, dari pantry ke ruang fotokopi.
Gosip absurd soal “CEO dan karyawan kontrak” menjadi bahan utama. Sumbernya tidak jelas, tetapi semua orang sepakat pada satu hal: tatapan Bima saat rapat terakhir terlalu sering mengarah ke Alina.
Bima menikmati gosip itu dengan cara khasnya. Ia menyangkal di depan umum, tetapi selalu menambahkan satu dua kalimat yang justru memperkaya cerita.
“Ah, gosip itu,” katanya sambil tertawa.
“Biasa. Kalau orang berbakat dekat sama pemimpin visioner, pasti dikira ada apa-apa.”
Alina sama sekali tidak bereaksi. Ia tidak menegur, tidak mengklarifikasi, bahkan tidak terlihat terganggu. Baginya, gosip itu tidak relevan dan tidak memengaruhi kinerja.
Ironisnya, humor kantor justru meningkat. Orang-orang bekerja dengan suasana lebih ringan, tertawa lebih sering, dan angka produktivitas menunjukkan tren naik. HR kembali pusing, kali ini bukan karena keterlambatan, melainkan karena dinamika sosial yang sulit dikendalikan.
Di rumah, Ratih Prameswari menyambut Bima dengan tatapan sinis khasnya. Ia mendengar gosip itu dari grup arisan, yang entah bagaimana selalu lebih cepat daripada email kantor.
“Kamu jangan kebanyakan nonton drama Cina,” kata Ratih ketus.
“Jadi halu terus kerjanya.”
Bima tertawa kecil sambil meletakkan tasnya.
“Halu sama drama Cina itu awal dari pembentukan identitas,” jawabnya enteng.
Ratih mendengus, lalu berbalik ke dapur. Namun di balik sikap galaknya, ada rasa bangga yang tidak ia akui—anak tirinya kini dibicarakan orang, bukan sebagai pengangguran atau masalah, melainkan sebagai sosok aneh yang entah bagaimana punya tempat di perusahaan besar.
Bima berdiri di ruang tamu, menatap kosong sejenak. Di kepalanya, satu hal mulai jelas: ia masih menyebalkan, masih telat, masih absurd—tetapi kini, dunia di sekitarnya mulai menyesuaikan diri.
Dan jauh di lantai 32, Alina Wiratama menatap laporan terbaru dengan ekspresi tetap dingin. Namun di balik keteguhan itu, ia menyadari satu fakta yang tidak ia tulis di mana pun: kehadiran Bima Pradana telah mengubah ritme yang selama ini ia anggap ideal.
Eksperimen itu tidak hanya berjalan.
Ia mulai berkembang ke arah yang tidak bisa sepenuhnya ia kendalikan.