Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.
Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.
Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.
Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6. menemui dokter Tina
Bella melanjutkan mengetik di mesin pencari Google sebelum menekan tombol enter. Ia sedang melakukan riset tentang klinik-klinik yang menyediakan sampel sperma. Dibandingkan meminta sperma dari pria sembarangan, pilihan itu terasa jauh lebih aman. Ia bahkan bisa membayangkan betapa canggung dan berantakannya percakapan semacam itu jika ia melakukannya secara langsung.
“Bolehkah aku pulang sekarang?” rengek Ruby.
Ruby sedang duduk di atas tempat tidur Bella, sementara Bella sendiri duduk di depan komputer di meja kamarnya. Ruby sebenarnya membantunya melakukan riset, meskipun semangatnya jelas mulai menurun.
Bella telah memberitahu cukup banyak orang tentang rencananya. Cepat atau lambat, mereka pasti akan menunggu kabar kehamilannya. Ia tahu, ia tak bisa mundur sekarang.
“Tidak. Aku masih butuh bantuanmu.”
Ruby mendesah. “Kenapa kamu tidak mengadopsi anak saja seperti orang normal?”
“Karena adopsi membutuhkan waktu lama. Kadang bahkan bertahun-tahun. Dan prosesnya juga tidak selalu mudah,” jawab Bella.
"Apakah kamu benar-benar ingin melanjutkan ini? Ini bisa menghabiskan banyak uang, sperma itu tidak murah," katanya.
'Kecuali kalau itu dari orang mabuk,' pikir Bella.
"Aku punya uang tabungan, aku berencana membuka kafe baru jadi aku harus menundanya. Lagipula, aku berlibur setiap tahun, aku bisa menggunakan uang tabunganku itu," kata Bella.
Ruby memalingkan wajah, jelas tak sepenuhnya setuju. Bella bisa melihat tanda-tanda kantuk di wajah sahabatnya saat Ruby kembali menatap layar laptopnya. Ia hanya menggeleng pelan, lalu kembali fokus pada penelitiannya.
Ia telah menghubungi banyak klinik, tetapi sebagian besar tampak mencurigakan. Beberapa lainnya menawarkan pilihan yang sangat terbatas. Yang paling mengecewakan, hampir tidak ada informasi detail tentang para donor.
Bella ingin tahu seperti apa kemungkinan rupa bayinya kelak. Ia juga ingin memastikan tidak ada penyakit genetik yang perlu ia khawatirkan. Ia tidak sedang main-main. Baginya, ini bukan sekadar keputusan impulsif, ini adalah masa depan.
Ponsel Bella bergetar di atas meja, tepat di samping keyboard.
Nama saudaranya muncul di layar. Ia sudah menduga panggilan ini akan datang. Leo biasanya hanya menelepon saat butuh bantuan menjaga anak, jadi panggilan ini jelas bukan tanpa alasan.
Bella dan Leo adalah saudara kembar, tetapi kepribadian mereka bertolak belakang. Ia mengangkat telepon dan menekan tombol jawab.
“Hai,” ucap Bella kesal. “Kenapa kamu menelepon?”
“Hai, Kak. Ibu meneleponku kemarin. Katanya kamu mampir ke rumah,” jawab Leo sinis.
“Apa tepatnya yang dia katakan?” tanya Bella sambil menyandarkan punggung ke kursinya.
Ia tahu percakapan ini tidak akan singkat. Leo selalu menikmati kesempatan untuk mengorek luka lama.
“Kau ingin mendapatkan donor sperma,” kata Leo. “Tentu saja dia menyampaikannya sambil marah. Aku harus mendengarkan ocehannya selama tiga belas menit sebelum akhirnya paham apa maksudnya. Karena kamu, sekarang kamu resmi jadi kekecewaan terbesar keluarga.”
Bella memutar mata.
“Kenapa kamu tidak menyuruh pria sembarangan untuk menghamilimu?” lanjut Leo mengejek.
“Karena aku bukan meja samping tempat tidur berjalan sepertimu,” balas Bella.
Leo tertawa terbahak-bahak.
Tak lama kemudian, suara tangisan bayi terdengar di latar belakang. Tangisan Hagia semakin keras, menusuk telinga melalui sambungan telepon.
“Sepertinya aku membangunkannya,” gumam Leo.
Bella bisa mendengar langkah kaki Leo saat ia berjalan menghampiri bayinya. Tak lama kemudian, terdengar suara Leo menyanyikan lagu pengantar bayi, dan mencoba menenangkan Hagia yang masih menangis.
“Percayalah,” kata Leo di sela-sela tangisan putrinya, “suatu saat kamu akan bilang menyesal ingin punya anak. Bagaimana kalau mereka kembar? Sudah cukup banyak anak kembar di keluarga ini, kau dan aku contohnya. Apa kamu sanggup merawat mereka?”
Hagia baru berusia lima bulan, tetapi bagi Bella, bayi itu terlihat terlalu cerdas untuk usianya.
“Ya, aku sudah mengambil keputusan,” kata Bella.
Ia lelah menghadapi orang-orang yang terus menganggapnya tidak mampu melakukan ini. Keputusan itu bukan impulsif, ia sudah memikirkannya matang-matang.
Di seberang sana, tangisan Hagia mulai mereda.
“Kau tahu, aku masih sakit hati karena harus mendengarnya dari Ibu," ujar Leo.
“Jangan tersinggung,” balas Bella. “Kau juga tidak pernah menganggap serius apa pun.”
Leo tertawa kecil. “Jujur saja, kalau aku tidak mendengarnya langsung dari Ibu, aku pasti mengira ini cuma lelucon. Tapi kamu tetap bisa memberitahuku. Aku bisa membantumu.”
Bella mengernyit. “Bagaimana mungkin kau bisa membantuku?”
“Pertama-tama,” kata Leo sambil tertawa, “aku kenal beberapa pria yang bersedia menghamilimu secara gratis.”
“Serius?” Bella menukas cepat.
“Aku bercanda,” katanya. “Tapi aku memang pernah berkencan dengan seorang wanita. Dia dokter, bekerja di klinik yang membantu wanita hamil termasuk ibu tunggal. Bahkan selebriti pun berobat di sana. Aku bisa memberimu nomor teleponnya. Mungkin dia bisa membantumu, memberi diskon atau semacamnya.”
“Itu… bagus sekali,” kata Bella. “Terima kasih.”
“Aku akan mengirimkan nomornya setelah bicara dengannya dulu,” ujar Leo.
“Terima kasih lagi,” gumam Bella.
“Sampai nanti. Aku harus menyiapkan botol susu untuk Hagia,” katanya sebelum menutup telepon.
Panggilan berakhir.
Bella tersenyum tipis. Setidaknya sekarang ia selangkah lebih dekat pada mimpinya. Ia hanya berharap bisa mempercayai Leo untuk satu hal ini.
Di ranjang, Ruby sudah tertidur lelap, laptopnya masih terbuka di samping tubuhnya. Bella mengambil selimut dari lemari dan menutupinya dengan hati-hati.
Ia kembali ke sofa, menunggu kabar dari Leo sambil menonton episode terbaru drama favoritnya. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar di atas meja kopi.
Bella segera meraihnya. Sebuah pesan dari Leo muncul di layar berisi sebuah nomor telepon disertai pesan singkat.
(Aku sudah bicara dengannya tentangmu. Dia ingin bicara langsung denganmu. Kamu bisa menghubunginya mulai sekarang sampai jam sepuluh malam. Oh ya, namanya Martina Fetra, panggil saja Dokter Tina.)
Bella langsung duduk tegak di sofa. Ia melirik jam di dinding. Sudah pukul sembilan malam.
Sekarang atau tidak sama sekali, pikirnya. Ia mematikan televisi agar tidak ada gangguan, lalu menghubungi nomor yang dikirim Leo.
Panggilan itu disetel ke pengeras suara. Dari kamar tidur, Ruby muncul sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Ia memang terkadang menginap, meski jarang melakukannya di hari kerja.
Bella harus menelepon beberapa kali sebelum akhirnya panggilan itu dijawab. Dokter Tina tampaknya benar-benar sibuk.
“Halo, Dokter Tina,” suara seorang wanita terdengar di ujung sana.
“Halo,” jawab Bella cepat. “Nama saya Isabella Harper. Leo memberikan nomor Anda pada saya.”
“Oh, ya,” sahut dokter itu. “Dia sempat menyebutkan namamu. Katanya kamu tertarik melakukan inseminasi dan sedang mencari donor sperma.”
Bella menghela napas kecil. Leo benar-benar tidak tahu memilih kata, batinnya.
“Benar. Apakah Anda bisa membantu saya?”
“Tentu. Klinik kami memang menangani hal-hal seperti itu,” jawab Dokter Tina. “Kenapa kamu tidak datang ke kantor saya besok pagi? Akan lebih baik jika kita berbicara langsung.”
Bella duduk bersila di sofa, tanpa sadar menggigit ibu jarinya karena gugup. “Ya, itu… itu akan sangat baik.”
Di sampingnya, Ruby mengacungkan kedua ibu jari dengan wajah penuh semangat.
“Saya akan mengirimkan alamat klinik dan jam pertemuan kita,” lanjut Dokter Tina.
“Terima kasih banyak,” jawab Bella.
“Sampai jumpa besok,” ujar dokter itu sebelum menutup panggilan.
Bella menurunkan ponselnya perlahan. Ia resmi selangkah lebih dekat untuk menjadi seorang ibu.
“Jadi… ini benar-benar terjadi,” kata Ruby sambil duduk di sebelahnya.
Bella masih menggigit ibu jarinya, matanya menatap kosong ke depan. “Iya,”
Perasaannya campur aduk. Sebagian dirinya masih ragu, keputusan ini diambil terlalu cepat tanpa perencanaan panjang. Ada ketakutan dan kegelisahan yang menempel di dadanya.
Namun saat ia membayangkan menggendong bayinya sendiri, kehangatan menyebar di hatinya.
Dan pada saat itu, Bella yakin ini adalah keputusan yang benar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bella mondar-mandir dengan panik di dalam rumahnya. Janjinya dengan Dokter Tina pukul delapan pagi, dan sejak bangun tadi jantungnya tak berhenti berdebar.
Ia sudah menelepon Bernard untuk memberi tahu bahwa ia akan datang terlambat dan memintanya membuka kafe lebih dulu. Meski sudah diatur, rasa gugup itu tetap tak berkurang.
Ia berlari kecil dari satu ruangan ke ruangan lain, memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal seperti tas, dompet, ponsel, berkas yang bahkan ia sendiri tidak yakin akan dibutuhkan.
Langkahnya tiba-tiba terhenti. Bella menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
“Semua akan baik-baik saja,” gumamnya pada diri sendiri, mencoba menenangkan gemetar di dadanya.
Ia mengambil kunci mobil dari gantungan di dekat pintu depan, mengunci pintu rumah, lalu naik lift menuju lantai bawah.
Sesampainya di mobil, Bella langsung mengetik alamat klinik ke GPS sebelum menyalakan mesin dan mulai berkendara.
Tangannya gemetar di atas kemudi. Detak jantungnya terasa terlalu keras di telinga. Rasanya seperti pertama kali mengemudi, padahal ia sudah melakukannya ribuan kali. Ia tidak pernah menyangka bahwa merencanakan kehamilan bisa membuatnya setegang ini.
Tak lama kemudian, ia tiba di klinik.
Bangunan itu jauh dari kesan rumah sakit pada umumnya. Tidak ramai, tidak bising, dan tidak dipenuhi orang lalu-lalang. Begitu masuk, Bella mencium aroma bahan kimia yang tidak terlalu menusuk, tidak membuat mual seperti kebanyakan klinik.
Ia berjalan menuju meja resepsionis.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya seorang resepsionis sambil mendongak dari layar komputer dengan senyum ramah. Tanda nama di seragamnya bertuliskan Chiara.
“Saya ada janji dengan Dokter Martina,” kata Bella. “Apakah beliau sudah ada?”
“Baik, silakan ikut saya, Bu,” jawab Chiara.
Resepsionis lain segera menggantikan posisinya di meja, sementara Chiara memandu Bella menyusuri lorong panjang yang tenang.
Mereka berhenti di pintu terakhir, dengan papan nama bertuliskan Dr. Tina.
Chiara menunjuk ke arah pintu itu sambil tersenyum, lalu berlalu pergi. Bella mengangkat tangannya untuk mengetuk, namun ragu sejenak.
Setelah ini, tidak ada jalan mundur. Pikirannya dipenuhi daftar pro dan kontra, namun sisi positifnya jauh lebih banyak. Ia sudah memikirkannya, mengulanginya berkali-kali.
Apa hal terburuk yang bisa terjadi?
Dengan satu tarikan napas, Bella mengetuk pintu. Beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka. Dokter Tina berdiri di hadapannya.
Dokter Tina adalah seorang wanita paruh baya dengan rambut pirang kusam yang diikat rapi menjadi ekor kuda. Ia mengenakan kacamata baca dan jas laboratorium putih yang tampak selalu disetrika dengan sempurna.
Sepasang mata gelapnya menatap Bella sejenak, seolah tengah mencocokkan wajahnya dengan gambaran yang selama ini hanya ia dengar lewat cerita.
“Aku sudah menunggumu,” ujarnya akhirnya.
Bella tersenyum gugup, rasa gelisahnya semakin terasa.
“Silakan masuk,” kata Dokter Tina sambil memberi isyarat agar Bella melangkah ke dalam.
Bella memasuki ruangan dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuhnya. Dokter Tina menutup pintu di belakang mereka, lalu berjalan menuju meja kerjanya.
“Silakan duduk,”
Ia mengambil tempat di kursi kantor besar di balik meja, kedua tangannya bertumpu tenang di atas permukaan kayu. Bella menarik kursi di depannya dan duduk.
“Jadi, kau saudara perempuan Leo,” kata Dokter Tina membuka percakapan.
“Ya. Sayangnya,” gumamnya pelan.
Dokter Tina mengangguk. “Aku menerima pesan darinya selama hampir sebulan. Baru tadi malam dia benar-benar menjelaskan situasinya.”
Bella menahan diri untuk tidak mendesah. Leo memang terkenal mudah bergaul dengan wanita, ia hanya tak menyangka pengaruhnya sejauh itu.
“Baik, kembali ke topik,” lanjut Dokter Tina. “Kami memiliki beberapa sampel sperma yang saat ini tersedia.”
Ia membuka laci meja dan mengeluarkan beberapa map tebal, lalu menyusunnya rapi di atas meja.
“Di dalam map-map ini terdapat informasi lengkap tentang para donor kami,” jelasnya. “Mulai dari ciri fisik, latar belakang kepribadian, riwayat kesehatan keluarga, hingga kecenderungan genetik.”
Dokter Tina mendorong salah satu map ke arah Bella. “Semua data yang mungkin Anda perlukan ada di sana.”
Bella menerima map itu dengan kedua tangan, jantungnya kembali berdebar.
“Biasanya kami meminta klien untuk membayar penuh beserta uang muka. Namun dalam kasus Anda, saya bersedia membuat pengecualian. Kita bisa mengatur potongan harga khusus.”
“Terima kasih,” kata Bella.
"Setelah Anda membeli sperma, ada prosedur yang harus Anda lalui terlebih dahulu. Kami ingin melakukan beberapa tes pada Anda, untuk melihat apakah Anda mampu mengandung bayi. Jika tidak, kami akan mengembalikan seluruh uang Anda, kecuali biaya tes." Ia melanjutkan penjelasannya.
Dokter itu kemudian mendorong berkas-berkas tersebut ke arah perempuan di hadapannya.
"Kami memiliki informasi rinci tentang para donatur kami. Semua informasi yang Anda butuhkan ada di dalam berkas-berkas ini."
Ia bangkit dari kursinya dan melirik jam tangannya. "Saya akan meninggalkan Anda, saya ada pasien lain sekarang, tapi saya akan kembali secepat mungkin," lanjutnya. Ia memberinya senyum kecil untuk meyakinkan sebelum akhirnya berjalan keluar dari ruangan.
Bella bertanya dalam hati, mengapa ada orang yang mau meninggalkan orang asing sendirian di kantor mereka. Saat itulah perhatiannya tertuju pada sebuah kamera kecil di sudut ruangan. Ia menepis pikiran tersebut.
Bella kemudian menggeser berkas-berkas itu lebih dekat ke arahnya, lalu membuka berkas yang pertama.
Usia: 32
Warna mata: hijau
Tinggi: 1,67
Warna rambut: pirang
Warna kulit: cerah
Ia merasa dirinya semakin dekat dengan kelahiran bayinya.
Saat ini, Bella hanya perlu memutuskan apakah bayinya akan berambut pirang atau tidak, bertubuh tinggi atau pendek.
Tangannya mengusap perutnya sendiri, seolah-olah ia sudah benar-benar mengandung.