Daniel merupakan seorang agen rahasia yang sedang menjalani misinya untuk mencari para pengkhianat negara termasuk keturunan mereka. Dalam menjalankan misinya, tanpa sengaja ia menolong seorang gadis bercadar yang sedang dihadang oleh para penjahat saat gadis itu hendak pulang ke rumahnya. Tanpa Daniel ketahui jika gadis bercadar itu adalah targetnya yang selama ini ia cari. Apakah Daniel tega membunuh gadis itu demi misinya ataukah ia harus mengkhianati agen nya sendiri demi cintanya? ikuti cerita mereka penuh dengan misteri dan setiap adegannya sangat menegangkan...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Syok
Setelah melakukan sholat istiqharah sepekan lebih, akhirnya Alea memantapkan pilihannya untuk menerima pinangan Daniel. Keduanya bertemu di salah satu Cafe. Alea tidak datang sendirian. Ia diawasi oleh seseorang yang merupakan kepercayaan ayahnya yaitu pak Tio. Pak Tio mengawasi dari jauh.
"Bagaimana jawabanmu?" tanya Daniel tidak sabar.
"Sebelum aku menerima pinanganmu, aku harus memberitahumu tentang keluargaku. Aku tidak mau ada kebohongan diantara kita", Alea menghela nafas sesaat. Daniel mendengarnya dengan baik.
"Sebenarnya kedua orangtuaku bukan meninggal kecelakaan namun mereka meninggal karena dibunuh", ucap Alea membuat Daniel tampak terkejut.
"Di bunuh? apa alasan mereka mati terbunuh?" tanya Daniel masih berharap Alea bukan targetnya.
"Aku tidak bisa memberitahumu soal itu. Tapi aku janji aku akan memberitahumu suatu hari nanti. Aku ingin kita menikah langsung di kantor urusan agama karena aku tidak punya wali. Walaupun aku punya wali tapi masih terlalu kecil", ucap Alea.
"Tidak masalah. Aku tidak ingin membuatmu sedih. Aku sudah mualaf dan aku punya sertifikatnya. Aku sudah mengurus surat-surat dokumen pribadiku yang dibutuhkan nanti", ucap Daniel.
"Alhamdulillah. Kalau begitu aku siap menjadi istrimu tuan Daniel", ucap Alea membuat Daniel tersipu.
"Kalau begitu apakah aku bisa melihat wajahmu, calon nyonya Daniel?" tanya Daniel.
"Apakah harus sekarang?" ledek Alea.
"Harus. Apakah kamu tidak nyaman membuka cadarmu di sini?" Daniel mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Yah. Di sini banyak cctv. Apakah kamu rela wajahku dilihat oleh yang lain?" canda Alea.
"Tentu saja tidak mau. Bagaimana kalau kita ke mobil saja?" ajak Daniel.
"Baiklah. Tapi hanya sebentar. selebihnya nanti kalau sudah sah", timpal Alea.
"Astagfirullah. Mahal banget nih cewek", Daniel menggaruk kepalanya karena gemas dengan ulah Alea yang terlalu membatasinya. Walaupun begitu ia sangat suka dengan gadis yang penuh tantangan.
Beberapa menit kemudian, keduanya sudah berada di dalam mobil Alea. Daniel begitu gugup menunggu Alea membuka cadarnya. Ia berharap wajah Alea tidak cacat. Alea membuka simpul tali cadar secara perlahan. Jantungnya berdebar kencang begitu pula Daniel.
Mata Daniel langsung membulat penuh. Bukan karena kecantikan Alea yang sangat sempurna namun lebih kepada wajah Alea yang sangat dikenalnya sebagai targetnya.
"Bukankah dia adalah Niken?" batin Daniel penuh rasa kecewa.
"Sudah aku duga, gadis ini adalah gadis yang aku cari. Ya Tuhan. Bagaimana ini? aku terlanjur menyukai gadis ini. Apa yang harus aku lakukan padanya?" batin Daniel bergejolak dengan dirinya sendiri.
Tatapannya belum lepas menatap Alea yang sudah menutupi lagi wajahnya dengan cadar. Daniel yang merasa dadanya sesak langsung turun dari mobil itu. Ia mengepalkan kedua tangannya sambil menundukkan wajahnya di balik mobil Alea.
Alea merasa bingung dengan sikap Daniel yang langsung meninggalkannya tanpa mengomentari wajahnya." Apakah dia tidak menyukai wajahku? mengapa dia langsung keluar dari mobil? apa yang terjadi padanya? bukankah tadi dia begitu penasaran dengan wajahku?" gumam Alea tidak mengerti dengan perubahan sikap Daniel padanya dalam sekejap.
Daniel memejamkan matanya. Mengumpulkan keberanian untuk menghadapi Alea. Ia tidak ingin mengecewakan Alea. Jika harus memilih ia lebih memilih Alea daripada pekerjaannya atau penjara sekalipun.
"Aku cukup mendapatkan dokumen yang dibutuhkan bosku saja dan tidak perlu membunuh Alea dan adik kembarnya. Aku sangat mencintai gadis ini", batin Daniel lalu masuk lagi ke dalam mobil untuk menemui Alea.
Alea menatap wajah Daniel penuh tanya di benaknya. Daniel tersenyum lalu mengucapkan sesuatu padanya. "Maafkan aku meninggalkan kamu tadi secara tiba-tiba. Sebagai pria normal aku tidak bisa menahan diriku untuk...-"
"Hentikan....! jangan teruskan ucapanmu. Aku tahu yang ada di kepalamu. Cih.....! mesum sekali dia", gerutu Alea.
Daniel terpaksa berbohong agar tetap aman. Jika bisa ia ingin memeluk Alea dan menangis saat ini. Rencananya jadi kacau karena cintanya.
"Maafkan aku Alea...! mengapa harus kamu yang menjadi tujuanku dalam urusan pekerjaan sialan ini...!" umpat Daniel dalam hatinya.
"Ayo kita ke kantor agama untuk mengantar dokumen pribadi kita....!" ajak Daniel.
"Baiklah...!" Alea membawa mobilnya ditemani Daniel. Daniel sengaja tidak bawa mobil agar bisa bersama Alea.
"Aku sudah tidak sabar menikah denganmu Alea. Tapi ada yang ingin ku beritahu padamu sekaligus meminta bantuanmu", ucap Daniel.
"Tentang apa?" tanya Alea.
"Aku ingin keluar dari pekerjaanku sebagai agen rahasia karena aku ingin selalu dekat denganmu", ucap Daniel.
Alea tersenyum merasa tersanjung. "Benarkah..? berarti kamu ingin menetap di negara ini?" tanya Alea.
"Yah. Aku jatuh cinta pada negara ini terutama salah satu warganya yang paling cantik diantara wanita cantik yang ku temui", puji Daniel.
"Huhh....! gombal", cicit Alea malu-malu.
"Aku tidak suka membohongi orang yang kucintai. Karena baru kali ini aku jatuh cinta pada seorang wanita dan itu hanyalah kamu", ucap Daniel terlihat serius.
"Ok, aku percaya padamu calon tuan suami", balas Alea terkekeh. "Lalu apa permintaanmu selanjutnya?" tanya Alea.
"Aku pasti nanti menjadi seorang pria pengangguran walaupun aku masih punya simpanan uang dan beberapa properti yang aku punya di Amerika. Apakah ada pekerjaan yang bisa aku kerjakan di sini?" tanya Daniel.
"Kamu bisa membuka usaha di sini. Itu yang bisa kamu lakukan di sini karena kamu punya banyak aset bukan?" ucap Alea tanpa mengungkapkan bahwa ia juga memiliki perusahaan besar karena belum percaya penuh pada Daniel.
"Ide yang bagus. Aku senang dengan mobil. Apakah aku buka pabrik pembuatan mobil saja?" tanya Daniel.
"Boleh juga. Itu sangat bagus", ucap Alea. Sementara Daniel tahu kalau Alea punya perusahaan yang tidak langsung di kelola oleh gadis bercadar itu.
Tidak terasa mereka sudah tiba di depan kantor urusan agama. Keduanya turun menuju bagian pendaftaran pernikahan. Keduanya disambut baik oleh petugas di tempat itu. Setelah memeriksa beberapa dokumen yang dibutuhkan, petugas itu menanyakan beberapa hal penting pada calon mempelai itu.
"Kapan menikah nya, tuan Daniel, nona Alea?"
"Apakah bisa sekarang atau besok", sambar Daniel membuat petugas itu menatap Daniel lalu beralih pada Alea.
"Kenapa sangat buru-buru?" tanya petugas itu.
"Karena aku masih punya tugas penting yang harus aku kerjakan", ucap Daniel membuat petugas itu paham.
Apakah kalian menikah di gedung atau di rumah?" tanya petugas itu lagi.
"Di sini saja pak karena saya tidak punya kedua orangtua dan tidak ada wali lain yang berhubungan darah dengan saya kecuali adik kembar saya yang masih dibawah umur", ucap Alea.
"Baiklah. Kalau begitu kalian cukup butuh dua orang saksi pernikahan kalian", ucap petugas itu.
"Baik. Aku akan membawa saksi besok", ucap Alea dan Daniel merasa sangat lega karena urusannya akan dipercepat.