Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadilah Kekasihku
Lima Tahun Kemudian, Istana Brussels Belgia
"Astaghfirullah ... AKIRA!" seru Arsyanendra saat melihat putra sulungnya bermain American Football bersama Sahran dan Brayden, tanpa baju. Arsyanendra tidak menyangka jika putranya mentattoo badannya bahkan saingan dengan Opanya, Alessandro Moretti.
Akira Léopold
"Hai Daddy!" salam Akira sambil Salim dan mencium pipi Arsyanendra.
"Hai Daddy ... Gundulmu! Itu apaan di badan dan tangan kamu, hah! Lima tahun tidak pulang malah ... saingan dengan Opa Ale!" amuk Arsyanendra sambil mengeplak bahu putranya.
Akira hanya nyengir sementara Sahran dan Brayden cekikikan melihat putra mahkota Belgia itu kena amuk. Akira pulang saat Arsyanendra masih keliling dunia untuk kunjungan kenegaraan selama enam bulan. Akira memang lulus lebih cepat setahun dari jadwal karena memang dia ngebut belajarnya. Tidak ada perlakuan khusus di akademi militer dalam bidang akademis tapi Akira tetap dikawal pengawal kerajaan.
"Aku gabut, Daddy."
"Ya Allaaahhh!" Arsyanendra memegang pelipisnya. Tak lama Violet pun datang dan melihat putra sulungnya. "Vi, kamu tahu soal ini?" Selama ini Akira memang lebih sering pakai kaus lengan panjang atau kemeja juga lengan panjang guna menutup tattoo nya dari sang ayah. Bahkan saat kelulusan dan keluarga Belgia datang, Akira tidak menunjukkan tattoonya.
Violet hanya menatap Arsyanendra polos. "Tahu apa?"
"Ini! Tattoo!" jawab Arsyanendra kesal.
"Tahu," jawab Violet kalem lalu menghampiri putranya yang langsung salim dan mencium pipi ibunya.
Arsyanendra menganga. "Kamu tahu?"
"Yup. Akira minta ijin untuk buat tattoo. Karena saat itu dia sudah delapan belas tahun, aku ijinkan. Tapi ...." Violet menatap tajam ke Akira. "Habis ini sudah! Tidak boleh tambah lagi! Masa bandel kamu sudah selesai!"
Akira tersenyum. "Siap Mommy."
Arsyanendra menggelengkan kepalanya. "Violet sayangku, kita harus berbicara serius ini."
"Arsya, King Father juga ada Tattoo. Jadi kamu tidak bisa bilang tidak boleh. Contohnya saja ada."
Arsyanendra menghela nafas panjang. "Kita harus bicara banyak!"
***
"Karena Daddy kamu ada tattoo, Akira pun memberikan alasan yang masuk akal, Sya. Jadi Akira waktu minta ijin ke Violet dan Mommy, ya kami kasih. Akira tahu konsekuensinya dan dia sudah besar ... Jadi kami berikan tanggung jawab lah!" jawab Zinnia saat Arsyanendra mengadu ke ibunya.
"Jadi ... Selama lima tahun anak ini pulang dengan kaus lengan panjang termasuk musim panas pun, diam-diam dia juga buat ... Tattoo? Ya ampun ...." Arsyanendra merasa tensinya naik. "Aku butuh aspirin!" Pria bermata biru itu lalu berdiri dan meminta pelayan mengambilkan aspirin.
Akira tersenyum karena dibela Oma kesayangannya.
"Tapi Akira, seperti kata mommy kamu, sudah ya tattoo nya. Jangan ditambah lagi!" Zinnia menatap tajam ke cucunya.
"Iya Oma."
"Kamu sudah memutuskan masuk mana Akira? Angkatan darat, laut atau udara?" tanya Avaro yang baru saja tiba di Belgia dari Arab Saudi.
"Aku ambil angkatan laut, Oom. Bagaimana kabar Arab Saudi? Katanya Sahran mau dijadikan putra mahkota kerajaan Arab Saudi?" Akira menatap Oom dan tantenya.
"Maunya jaddunnya Sahran tapi aku dan Sabira, tidak terlalu setuju. Sahran kan masih masuk Belgia dan masih ada keponakannya Bira yang lain serta masih bisa masuk ke jajaran Emir terpilih," jawab Avaro.
"Aku tidak mau jadi Emir di Arab Saudi, mas," jawab Sahran. "Aku lebih suka di Belgia."
"Sahran juga masih kecil kan jadi tidak seharusnya memikirkan itu. Dia baru mau masuk high school," timpal Sean. "Opa sih berharap kalau Sahran di Belgia karena dia membawa nama Léopold. Macam Brayden yang membawa nama Richard. Memang Brayden masuk di urutan kesekian raja Inggris tapi memang sesuai dengan nama ayah."
"Tapi kalau Sahran memang dipilih secara suara terbanyak di Saudi Arabia, kita tidak bisa menolak lho, Sean. Mau tidak mau ... Resiko menikah dengan penguasa apalagi Sabira kan putri sulung raja Arab Saudi dan kebetulan tidak memiliki anak laki-laki," ucap Zinnia.
"Iya mommy, Abi tidak mau poligami demi mendapatkan anak laki-laki. Kata Abi, dia sudah memilih Umi, jadi tetap bersama Umi till Jannah," senyum Sabira.
"Alhamdulillah ayahmu tidak poligami, Bira," ucap Richard Carrington yang datang bersama dengan Alisha Léopold dan dua anaknya, Brayden dan Anette. Pangeran Inggris itu memang ingin berlibur musim panas di Belgia.
"Iya mas Richard. Alhamdulillah Abi sangat teguh dengan prinsipnya."
Semua anggota keluarga Léopold bersama dengan menantu dan cucunya berada di ruang tengah. Sudah menjadi tradisi usai makan malam, semua berkumpul untuk mengobrol. Sean dan Zinnia mewajibkan acara mengobrol sambil minum teh atau kopi usai makan malam kalau tidak ada acara kerajaan. Bagi mereka, kumpul-kumpul seperti ini demi mengetahui kabar anak, menantu dan cucunya.
"Nicholas sudah diplot buat pengganti Louis ya?" tanya Sean ke Richard.
"Iya Papa ... Nico akan menjadi pengganti Louis. Cuma ya itu ... Entah kenapa selalu ribut dengan Brayden." Richard melirik ke arah putranya yang sedang membuat tugas kuliahnya.
"Tidak ribut sama Nico itu ... Nggak seru!" jawab Brayden cuek.
"Kamu kapan masuk tugas?" tanya Arsyanendra sambil minum aspirin ke Akira.
"Minggu depan. Aku masih di darat dulu sebelum mendapatkan jadwal deploy kapal militer yang mana," jawab Akira sambil mencari-cari toko bunga yang menjual bunga favorit Amina dari ponselnya.
"Kamu kata James daftar Hell Week?" tanya Avaro.
Akira mendongakkan wajahnya dari ponselnya. "Oom Varo kok bocorin rahasia sih!"
Sontak semua orang menoleh ke Akira.
"Kalau tidak gitu, kamu akan terus melihat ponselmu! Tidak sopan Akira!" tegur Zinnia.
Akira menyimpan ponselnya. "Maaf semuanya tapi aku sedang mencari toko bunga. Aku mau menemui Amina besok."
"Oooohhhhh ...." Semua orang disana pun maklum.
"Tapi ... Beneran kamu mau ikut Hell Week?" tanya Sean cemas.
"Iya. Oom James nawarin jadi ya aku Hayuk saja. Oom Jordan dan Oom Rylee juga mau ikut katanya."
"Astaga para adrenalin junkie!" gerutu Sean.
***
Sebuah Sekolah Dasar Swasta di Brussels
Amina sedang membereskan semua buku dan tugas para muridnya setelah mereka keluar kelas. Hari ini dirinya merasa senang karena semua murid-muridnya heboh bercerita tentang sejarah yang dibacanya sebelumnya. Amina memang menjadi guru sejarah Eropa untuk SD dan dia membuat tugas satu anak, belajar satu sejarah dari negara-negara Eropa.
Dia merasa senang saat anak didiknya melakukan tugasnya dengan baik. Amina membelakangi pintu ruang kelasnya dan dia tidak memperhatikan sekelilingnya karena sibuk dengan pekerjaannya.
"Amina ...."
Amina tertegun mendengar suara yang selalu menemaninya selama ini. Gadis itu pun menoleh dan melihat Akira berdiri disana dengan buket bunga mawar dan bunga lainnya berwarna pink serta putih.
Buket bunga dari Akira
"Akira ...." senyum Amina.
"Mina ... aku sudah pulang," ucap Akira sambil memberikan buket bunga itu. "Maaf, tidak ada sedap malam."
Amina tersenyum sambil menerima buket bunga itu. "Kapan datang?"
"Kemarin ...." Akira pun maju mendekati Amina. "Jadilah kekasihku."
Amina menatap Akira gugup. "Anda salah minum obat, My Prince?"
***
Yuhuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu