Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makanan
Alesaa dan Axel datang menghampir Naura dan Kael yang masih sibuk melihat-lihat isi goa.
"Nih, makanlah," gadis itu menyodorkannya sepotong kue lapis kepada Naura dan juga membaginya kepada Kael.
"Kue apaan ini?" Kael yang merasa lapar memgambilnya, lalu memakannya.
"Aku bawa dari rumah," jawab Alesaa berbohong. Naura yang tidak menaruh curiga ikut memakannya, dan saat bersamaan, Manda dan Jhony datang menghampiri, begitu juga dengan Gita dan Kenny yang menyusul dari belakang.
"Kalian lagi apa?" tanya Gita dengan rasa penasaran.
"Nih, kue legit, aku ada bawa banyak." Alessa membagi satu persatu kue dari dalam box transparan yang dipegangnya.
Mereka mengambilnya, lalu memakannya, dan seperti merasa ada sesuatu yang aneh dilidah mereka, rasa tak nyaman.
"Kok perutku mules ya siap makan ini," Kael merasa perutnya tak nyaman.
"Iya, aku kebelet pipis," Naura juga merasakan tak nyaman pada perutnya.
"Ke toilet, yuk." ajak Kael, lalu menarik pergelangan tangan sang kekasih, lalu menuju keluar pintu goa.
Setibanya ditoilet, terlalu panjang antrian yang harus menunggu, membuat Kael merah padam dan tak dapat menunggu lama.
"Ra, aku gak nahan, rasanya udah kebelet diujung." Kael terlihat bergidik menahan rasa tak nyamannya.
"Aku juga, kita ke hutan jati saja," saran gadis tersebut, dan hal itu diamini oleh Kael yang sudah tak lagi dapat menahan rasa sesaknya.
Keduanya memutuskan untuk pergi buang hajat dibawah pohon jati sekitar goa istana.
Saat dalam perjalanan, Kael memungut kantong kresek yang ia temukan, dan ketika menemukan pohon jati yang lebih besar dari pohon lainnya, keduanya memutuskan untuk membuang hajat disana.
Kael yang sudah sesak langsung menampung kotorannya pada kantong kresek, dan melemparkannya dengan asal kesembarang arah.
Saat bersamaan, ada sekelompok makhluk ghaib berwujud Siluman Kerbau yang sedang bermusyawarah dibawah pohon jati yang tumbuh dengan sangat rimbun disekitar goa istana.
Hal itu mereka lalukan untuk membahas tugas mereka malam ini, sebab beberapa petapa memerintahkan mereka untuk mengirimkan santet ke beberapa orang yang sedang mereka tuju.
Wuuuuussssh
Byaaaaaaar
Kantong kresek berisi pup milik Kael mendarat tepat diatas kepala Siluman Kerbau yang saat ini sedang memimpin rapat.
Sontak saja hal itu membuat mereka tersentak kaget dan memicu kemarahan yang tak terkendali.
"Kurang ajar. Siapapun pelakunya, buat ia merasakan sakit perut yang tidak dapat diobati oleh siapapun!" ucap Siluman Kerbau dengan penuh amarah. Ia menyingkirkan kantong kresek dari kepalanya yang sudah membuatnya kotor dan berbau.
"Baik Raja, kami akan melaksanakannya." jawab salah satu Siluman Kerbau, dan membuatnya bergerak melesat mencari sosok yang sudah membuang pup sembarangan.
Sementara itu, Kael dan Naura bergegas pergi meninggalkan lokasi. "Kael, tadi permisi sama pemilik hutan--gak?" tanya Naura dengan nada mengingatkan.
"Enggak, gak sempat," sabutnya dengan polos.
Naura terdiam sejenak, lalu menatap pemuda tersebut." Waduuuuh, semoga saja tidak ada masalah," ucapnya sembari berjalan menuju goa.
Kael tak menyahut, baginya hal itu tak perlu difikirkan, dan menyusul langkah gadis tersebut.
sementara itu, Gita dan Kenny merasakan perut mereka juga sedang bergolak, sedangkan Manda dan Jhony sudah sedari tadi ke toilet, dan hal ini membuat Gita menatap Alessa dengan wajah penuh selidik. "Kau memberi kami obat pencahar pada kue ini--ya?" tanya Gita, tatapannya mulai tak senang, sembari menahan sakitnya.
Alessa mengerutkan keningnya. "Heeei, meskipun aku jahil, tak sampai hati aku memberi kalian obat pencahar," ia membela diri, sebab merasa tak memberi obat tersebut.
"Awas, Loe!" ancam Gita dengan telunjuk tangannya yang ia arahkan ke wajah Alesaa, dan dengan memegangi perutnya setengah berlari menuju toilet umun dan disusul oleh Kenny.
Sedangkan Alessa dan juga Axel saling pandang. "Kok jadi begini, sih?" ujarnya dengan kesal. "Kan cuma bercanda."
Axel mengangkat kedua bahunya, dan bersikap tak ambil peduli.
Saat bersamaan, Nathan dan Sena datang dari arah belakang.
Akan tetapi, pemuda itu terkejut saat melihat ada sosok makhluk bertubuh tinggi dan berbulu hitam dengan dua bola mata merah menyala, gigi taring mencuat dari sudut mulutnya.
Sedangkan pada selangka Alessa, terdapat satu Sosok Siluman Ular berwarna hitam yang bersembunyi didalam rahimnya, tetapi kepalanya keluar menjulur dan menatap Nathan dengan tajam.
"Hah!" pemuda itu menahan tubuh Sena agar tak melangkah maju.
"Ada apa?" tanya Sena dengan rasa penasaran akan sikap Nathan yang menghalangi jalannya.
"Ada yang salah dalam diri Axel dan juga Alessa, ini sangat bahaya, kemana yang lainnya?" Nathan mulai merasakan hatinya cemas. Ia semakin gelisah ketika tak menemukan ke enam rekan lainnya.
"Ada apa? Ada masalah--kah?" Sena ikut cemas dengan melihat wajah Nathan yang gelisah.
"Alessa dan juga Axel...," ucapan Nathan terhenti saat melihat Naura berlari menuju ke arahnya.
"Nath, Nath, gawat," ucapnya dengan nafas yang tersengal.
"Ada apa?"
"K-Kael, Kael sakit perut, ia gak bisa jalan, sekarang masih sandaran dibawah pohon Jati," sahut Naura dengan dadanya yang bergemuruh.
"Hah!" Nathan dan Sena tersentak kaget lalu bergegas bergerak keluar dari mulut goa.
"Tunjukin tempatnya." Nathan menarik tangan gadis tersebut, untuk menunjukkan dimana tempat Kael mengalami masalah.
Ketiganya menuruni anak tangga, lalu menuju sisi kanan dinding luar goa.
Mereka berpapasan dengan para petapa yang mulai berdatangan, sebab malam nanti adalah malam satu Suro, sehingga membuat mereka sedikit terhambat.
"Dimana?" tanya Nathan lagi, saat mereka menerobos hutan jati.
"Itu, disana." tunjuk Naura ke arah sebatang pohon jati yang cukup besar.
Sesaat Nathan terhenti langkahnya, dimana ia melihat seekor Siluman Kerbau sedang menduduki perut Kael, sehingga membuat pemuda itu tak dapat bangkit.
Perutnya terasa sakit, tetapi ia tak dapat untuk buang air, wajahnya pucat menahan sakit.
Saat bersamaan, sebuah bisikan terdengar ditelinga Nathan. "Pergi, pergi tinggalkan Hutan Alas Purwo, malapetaka akan datang menghantam, pergilah, selamatkan diri kalian," suara bisikan tersebut terdengar begitu jelas, mmebuat Nathan bergidik ngeri, tetapi hatinya berseberangan.
Ia bukan mengabaikan pesan tersebut, tetapi rekan-rekannya harus kembali pulang bersamanya, ia tidak mungkin meninggalkan mereka disini, itu terlalu egois.
Nathan setengah berlari menghampiri Kael yang terus meringis kesakitan.
Saat tiba dibawah pohon nan rindang tersebut, pemuda itu memohon pada sang Siluman Kerbau, agar melepaskan Kael dengan sukarela.
"Maaf, tolong lepaskan sahabat saya, jika ada salahnya, maka maafkanlah." Nathan mengatupkan kedua tangannya meminta agar sosok itu berbaik laku untuk membebaskan Kael.
"Tidak akan pernah! Dia sudah berlaku kurang ajar, dan tidak sopan santun!" Siluman itu menolaknya.
"Maaf, tolong maafkan kami," Nathan mencoba bernegosiasi. Sedangkan Sena dan Naura saling pandang satu sama lainnya. Mereka dilanda kebingungan, mengapa Nathan berbicara sendiri.
kasihan yaa para keluarga nya yg kebingungan mencari keberadaan mereka semuanya 😔
Semoga Naura dan Kael serta Nathan bisa menemukan kitab kuno itu, sehingga mereka bisa bebas dari hutan Alas Purwo.. 🙏