Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Makan Malam Itu
Makan malam itu telah usai, tetapi jejaknya tertinggal terlalu dalam untuk sekadar dilupakan. Aruna duduk di kursi penumpang mobil ayahnya, menatap jalanan malam Jakarta yang berkilau oleh lampu kota. Gedung-gedung tinggi berdiri angkuh di kiri dan kanan, seperti saksi bisu kegelisahan yang berputar di dalam kepalanya.
Tangannya terlipat rapi di pangkuan, tetapi jemarinya dingin. Ia tidak berbicara sejak mobil meninggalkan rumah keluarga Maheswara. Bukan karena tidak ingin, melainkan karena terlalu banyak hal yang berdesakan di pikirannya.
Surya Pramesti mengemudi dengan tenang. Wajahnya tetap fokus ke jalan, tetapi sesekali matanya melirik ke arah putri sulungnya lewat kaca spion. Ia mengenal Aruna cukup baik untuk tahu bahwa diamnya bukan tanda baik-baik saja.
“Capek, nak?” tanyanya akhirnya, suaranya lembut dan hati-hati.
Aruna menggeleng pelan. “Gak, yah.”
Jawaban itu jujur secara fisik, tapi tidak dengan hatinya.
Wening yang duduk di sebelah Aruna ikut menoleh. “Kamu mau istirahat dulu di rumah? Ibu bisa bikinin teh hangat.”
“Gak usah, bu. Aruna baik-baik aja.”
Sekali lagi, itu setengah kebohongan.
Sepanjang perjalanan, bayangan makan malam itu terus berputar di benaknya. Cara Ardian berbicara tentang janji lama. Nada suara ayahnya yang terdengar menahan beban. Dan tatapan Revan, tenang, dingin, tetapi terlalu lama untuk disebut netral.
Aruna menelan ludah. Ia ingat betul bagaimana enam tahun lalu, ia berdiri di depan Revan dengan hati yang rapuh. Bagaimana suara itu bergetar saat mengungkapkan perasaan. Dan bagaimana penolakan itu, meski disampaikan dengan sopan, meninggalkan bekas yang lama sembuhnya.
Ia pikir dirinya sudah selesai dengan semua itu. Ternyata tidak.
Mobil berhenti di depan lobi apartemen. Aruna turun, berpamitan singkat, lalu naik ke unitnya tanpa banyak bicara. Ia menutup pintu perlahan, menyandarkan punggung ke sana, dan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan.
“Aku sudah berubah,” gumamnya pelan. “Aku bukan Aruna yang dulu.”
Namun hatinya tidak sepenuhnya yakin.
Di sisi lain kota, Revan berdiri di depan jendela kamarnya. Jas yang ia kenakan saat makan malam masih melekat di tubuhnya. Ia bahkan belum sempat mengganti pakaian. Lampu kamar redup, hanya cahaya kota yang memantul di kaca jendela.
Hujan tipis mulai turun. Revan menyandarkan satu tangan ke bingkai jendela, menatap ke luar tanpa benar-benar melihat apa pun. Dadanya terasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika.
“Malam yang merepotkan,” gumamnya.
Ia tidak mengira pertemuan itu akan berdampak seperti ini. Aruna seharusnya hanya bagian kecil dari masa lalunya. Seorang junior kampus yang pernah menyatakan perasaan, lalu menghilang dari hidupnya.
Namun perempuan yang duduk di seberang meja makan tadi malam bukan sosok itu.
Aruna yang sekarang berbeda. Tenang. Dewasa. Jarak di matanya bukan jarak malu, melainkan jarak sadar. Tidak ada harapan. Tidak ada usaha menarik perhatiannya. Bahkan ketika ia berbicara, suaranya stabil, profesional, seolah Revan hanyalah kenalan lama yang kebetulan ditemui kembali. Dan entah kenapa, itu mengganggunya.
Revan menghela napas, lalu meraih ponselnya. Nama Viona memenuhi layar. Beberapa pesan masuk belum ia buka. Ia mengunci layar kembali.
“Nanti,” katanya lirih.
Untuk pertama kalinya, pikirannya tidak langsung tertuju pada perempuan yang selama ini mengisi hidupnya. Bayangan Aruna dengan gaun sederhana, senyum tipis, dan sikap tenang justru lebih sering muncul.
“Ini tidak masuk akal,” gumamnya, sedikit kesal pada dirinya sendiri.
Ia selalu tahu apa yang ia inginkan. Ia tidak pernah ragu. Ia tidak pernah membiarkan masa lalu memengaruhi langkahnya. Namun malam ini, perasaan itu terasa tidak rapi.
Aruna tiba di apartemennya hampir tengah malam. Unit itu sunyi dan dingin. Ia menyalakan lampu sudut ruangan, meletakkan tas di sofa, lalu duduk perlahan. Sepatunya belum dilepas, tetapi ia tidak peduli.
Ia memejamkan mata. Revan.
Nama itu muncul begitu saja, tanpa diundang. Membawa kenangan yang sudah lama ia simpan rapat. Perasaan hangat yang dulu pernah tumbuh, lalu mati perlahan karena kenyataan yang terlalu pahit.
“Aku sudah melewati ini,” bisiknya. “Aku tidak akan kembali.”
Ia berdiri, berjalan ke dapur, menuang segelas air, lalu meminumnya perlahan. Jantungnya masih berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Ia telah membangun hidup yang stabil. Karier yang mapan. Hati yang, meski tidak sepenuhnya utuh, cukup kuat untuk berdiri sendiri.
Ia tidak ingin semua itu runtuh hanya karena janji lama yang dibuat orang lain.
Pagi datang terlalu cepat. Aruna bangun dengan wajah tenang, seolah malam sebelumnya tidak meninggalkan bekas apa pun. Ia bersiap seperti biasa, mengenakan pakaian kerja berwarna netral, rambut diikat rapi, riasan tipis profesional.
“Fokus,” ucapnya pada bayangannya di cermin. “Ini cuma urusan keluarga.”
Namun tubuhnya tahu ia berbohong.
Di kantor, ia bekerja tanpa kesalahan. Rapat berjalan lancar. Dokumen ia selesaikan tepat waktu. Tidak ada satu pun rekan kerja yang menyadari bahwa pikirannya sesekali melayang ke arah yang tidak seharusnya.
Sementara itu, di kantor Maheswara & Partners, Revan duduk di ruang kerjanya dengan tumpukan berkas di meja. Ia membaca satu halaman kontrak berulang kali, tetapi isi kalimatnya tidak benar-benar masuk.
Tok. Tok. Tok.
“Pak Revan, jam dua nanti ada meeting dengan klien baru,” ujar sekretarisnya.
“Ya,” jawab Revan cepat. “Siapkan saja.”
Begitu pintu tertutup, Revan berdiri dan berjalan ke jendela. Hujan kembali turun tipis, membasahi kaca.
Ia merogoh ponselnya. Pesan dari ayahnya masuk. “Kita perlu bicara serius tentang Aruna.”
Revan menatap layar itu lama. Jantungnya berdegup lebih cepat dari yang ia inginkan.
Pesan berikutnya menyusul. “Tentang perjodohan. Papa butuh jawaban kamu.”
Revan menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari bahwa keputusan ini tidak sesederhana menolak atau menerima. Karena apa pun pilihannya, akan ada seseorang yang terluka.
Dan untuk pertama kalinya pula, ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah Aruna benar-benar sudah ia tinggalkan di masa lalu atau justru baru sekarang kisah mereka dimulai.
Revan menurunkan ponselnya perlahan. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bukan marah, bukan takut, melainkan ragu. Keraguan yang berbahaya bagi seseorang yang selalu yakin pada setiap langkahnya.
Di waktu yang hampir bersamaan, Aruna menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia menatap layar komputer yang buram oleh pantulan cahaya lampu kantor. Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram ujung meja. Entah kenapa, hatinya terasa tidak tenang.
Seolah-olah sesuatu sedang bergerak diam-diam menuju dirinya. Sesuatu yang tidak bisa ia hindari. Sesuatu yang bernama Revan Maheswara.
Dan tanpa mereka sadari, malam makan malam itu hanyalah permulaan. Permulaan dari cerita yang akan memaksa mereka berhadapan, bukan sebagai masa lalu, melainkan sebagai pilihan yang tidak lagi bisa ditunda.
❤️Like & follow ya, supaya gak ketinggalan kelanjutannya.
kisahnya semakin seru kak 👍👍👍