Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Tanpa pikir panjang.
Inara langsung melesat keluar dari dalam kamar. Hingga berlari di anak tangga.
Yang membuat semua pelayan begitu terkejut. Dengan apa yang di lakukan oleh nona muda mereka tersebut.
" Nona hati - hati. Kenapa anda berlari seperti itu? Itu sangat berbahaya. Bagaimana jika anda jatuh ketika menuruni tangga." seorang pelayan terlihat khawatir dan menghentikan pergerakan Inara yang terlihat tengah dalam keadaan terburu - buru itu.
" Kakek bi. Kakekku dalam keadaan kritis. Dan aku harus segera menuju kerumah sakit sekarang."
" Apa!? Kakek nona dalam keadaan kritis? " kejut sang pelayan ketika mendengar kabar berita itu.
Bukan hanya Inara. Para pelayan di sana pun juga sangat menghormati kakek Johan. Bahkan seluruh keluarga Candra karena terkenal akan kebaikan serta kerendah hatian mereka terhadap sesama. Tanpa memandang kasta yang terbentang di antara mereka.
" Iya bi. Jadi aku mohon bantu aku untuk menyiapkan sopir yang bisa mengantarkanku segera kesana sekarang."
" I.. Iya nona. Saya akan meminta sopir segera menyiapkan mobil untuk anda sekarang."
Pelayan itu segera bergerak cepat.
Sama seperti halnya Inara yang panik dan khawatir. Pelayan itu pun juga terlihat mengeluarkan raut wajah yang sama.
Hingga tak perlu menunggu waktu yang lama. Mobil beserta sopir pun sudah siap sedia untuk Inara tumpangi.
" Nona mobilnya sudah siap "
" Terima kasih bi." ucap tulus Inara kepada sang pelayan.
Gadis berambut panjang itu hendak melangkah pergi. Sampai suara bariton seorang pria tiba - tiba terdengar , yang membuat gerakan Inara langsung terhenti di tempat.
" Kau akan pergi kemana di pagi buta begini? "
Inara menoleh ke asal sumber suara. Dan sejenak memberikan kode kepada pelayan. Agar tak memberitahukan keadaan penting yang saat ini sedang ia alami.
Mengerti akan kode yang di berikan Inara melalui tatapan mata. Pelayan itu pun bungkam. Dan memilih berlalu pergi dari tempat Inara serta Brian berada.
" Aku akan pergi kerumah keluargaku."
" Pergi kerumah keluargamu? " kening Brian terlihat sedikit berkerut dalam.
Mengingat selama menikah , Inara tak pernah sekali pun berkunjung kerumah keluarganya lagi. Karena gadis itu yang sibuk mengikuti kegiatan ini dan itu. Dengan niatan untuk membahagiakan hati suaminya. Agar ia mendapat predikat istri yang baik dan sempurna di mata Brian.
Namun siapa yang menyangka. Jika semua hal yang selama ini ia lakukan hanyalah sebuah hal sia - sia belaka.
Pria itu tetap saja tak bisa mencintainya. Dan lebih memilih tenggelam serta balik ke masa lalu bukan mau melupakan masa lalu. Dan hidup bahagia dengan menata masa depan cerah dengannya.
" Ya.. Memangnya ada masalah akan hal itu? "
Brian sempat tertegun sejenak.
Ucapan ketus yang baru saja Inara keluarkan. Begitu terasa aneh dan mengganjal di telinga serta hati Brian , yang selama ini selalu mendengar dan melihat sikap Inara yang manis, lembut dan penurut jika berada di depannya.
Tapi kini..
Sorot mata gadis itu terlihat kesal. Bahkan terlihat seperti ingin mencabiknya hidup - hidup sekarang.
Ada apa dengannya?
Apa dia ada salah makan hari ini?
Pikir Brian dalam hati. Ketika melihat sikap Inara yang tak biasa.
" Tidak ada. Aku hanya bertanya saja."
" Ya sudah kalau begitu. Aku pergi."
Inara melanjutkan langkah. Dan berniat memasuki mobil yang kini sudah ada tepat didepannya.
Namun lagi - lagi gerakan gadis itu harus terhenti lagi, akibat teriakan Brian yang memanggilnya.
" Tunggu.. "
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra